Chapter: Chapter 7: Feromon yang Meledak"Jangan! Hentikan!" pekikku tertahan.Aku terbangun dengan tubuh gemetar hebat di atas ranjang beludru hitam.Keringat dingin membasahi seluruh leher dan pelipisku secara perlahan.Luka cambukan perak di punggungku langsung berdenyut kasar.Rasa sakitnya menusuk hingga ke saraf terdalam.Aku mencengkeram dadaku, berjuang mencari pasokan udara di dalam kegelapan kamar sayap barat yang sunyi.Tiba-tiba, rasa panas menjalar hebat dari kelenjar di samping leherku.Aroma vanila yang teramat manis menguar deras dari kulitku, memenuhi seluruh ruangan.Aku baru saja melepaskan feromon Level satu secara tidak sengaja akibat kepanikan yang luar biasa.Efek pelepasan biologis pasif ini langsung merusak lingkungan fisik di sekitarku secara nyata.Sekuntum mawar putih di dalam vas kaca samping ranjang mendadak layu, kelopak-kelopaknya mengering dan gugur dalam hitungan detik.Di luar koridor, suara nampan logam jatuh berdentang keras di atas lantai marmer.Bunyi tubuh pelayan wanita menyusul, ambr
Last Updated: 2026-06-08
Chapter: Chapter 6: Taman yang BerbahayaSuhu sore di taman mawar putih terasa sedingin es.Bekas luka cambukan besi perak di punggungku masih berdenyut perih di balik gaun katun putih ini.Serum penyembuh instan dari Kawanan Bloodmoon kemarin memang memaksa kulitku menutup rapat.Namun, sisa nyeri di ujung sarafku masih terus berdenyut kasar setiap kali aku bergerak bebas.Aku mengulurkan tangan, menyentuh sekuntum mawar putih yang dingin.Pikiranku kembali melayang pada kejadian mengerikan di perpustakaan istana kemarin sore.Cengkeraman kasar Bastian pada leher belakangku dan kilasan trauma penjara bawah tanah masih membekas kuat.Aku menarik napas sedalam mungkin, berusaha menenangkan detak jantungku yang terus berdegup kencang."Kelopak mawar tidak akan bisa menyembuhkan ketakutan di dalam matamu, Alana." Sebuah suara dingin memecah keheningan dari arah belakang.Aku tersentak hebat hingga merobek kelopak mawar putih yang kupegang.Aroma peppermint segar dan es yang sangat tajam langsung menyerbu indra penciumanku tanpa
Last Updated: 2026-06-08
Chapter: Chapter 5: Pisau di Bawah Bantal"Nona Alana, saya membawakan makanan hangat untuk Anda," ucap seorang pelayan paruh baya sembari mendorong pintu kayu kamarku.Dia meletakkan nampan perak berisi sup kaldu daging dan segelas susu hangat di atas meja dekat jendela."Tunggu sebentar, saya lupa membawakan handuk bersih untuk kompres Anda," kata pelayan itu tergesa-gesa.Pintu kamar dibiarkan sedikit terbuka saat pelayan itu melangkah kembali ke koridor luar.Aku memanfaatkan kesempatan singkat itu dengan cepat.Di atas nampan perak, sebuah pisau logam kecil berkilau tajam di bawah cahaya lilin.Dengan jari gemetar, aku menyambar pisau itu dan menyembunyikannya di dalam lipatan lengan gaun katun putihku.Logam dingin itu langsung menyentuh kulit lenganku, menyembunyikan ancaman di balik kain longgar.Pelayan itu kembali membawa handuk, meletakkannya di samping baskom, lalu membungkuk sopan sebelum keluar.Begitu suara kunci pintu berputar dari luar, aku mengembuskan napas panjang yang terasa menyumbat tenggorokan.Aku mel
Last Updated: 2026-06-08
Chapter: Chapter 4: Raja yang TerbangunSeretan kasar dua pengawal membuat luka di punggungku yang robek akibat cambukan besi kembali berdenyut perih."Jalan lebih cepat, Omega sisa!" gertak pengawal berkulit gelap di sebelah kananku sembari mencengkeram erat bahuku."Lepaskan aku. Aku bisa berjalan sendiri tanpa bantuan tangan kotormu," desisku dingin dengan pandangan yang menantang mereka."Diam dan jangan membuat Alpha Tertinggi menunggu lebih lama lagi!" bentak pengawal bertubuh raksasa di sebelah kiriku.Aku mengatupkan rahang rapat-rapat, menolak keras untuk menunjukkan rasa sakit atau air mata di depan para penjaga ini.Kami melangkah melewati koridor panjang menuju pintu ganda Aula Besar yang dilapisi emas hitam kuno.Saat pintu kayu itu terbuka lebar, aroma kayu bakar bercampur bau darah kering langsung menyergap indra penciumanku.Itu adalah aroma feromon dominan milik Xavier Bloodmoon, sang Alpha Tertinggi yang memimpin Kawanan Bloodmoon.Puluhan pasang mata serigala di dalam ruangan besar itu langsung tertuju pa
Last Updated: 2026-06-08
Chapter: Chapter 3: Mimpi Buruk & Pelukan Gelap"Jangan! Hentikan!" pekikku.Aku terbangun dengan napas pendek. Dadaku naik turun dengan cepat.Keringat dingin membasahi seluruh leher dan pelipisku.Aku meraba permukaan kasur beludru hitam di bawahku dengan jari gemetar.Mimpi buruk itu masih terasa sangat nyata.Penjara bawah tanah yang dingin milik Raja Buangan terasa baru saja mengurungku beberapa detik lalu.Aku menarik napas panjang, menolak untuk menyerah pada rasa takut.Luka cambuk di punggungku berdenyut kencang saat aku mencoba menegakkan tubuh.Rasa perih menusuk langsung ke saraf terdalamku.Aku mengatupkan rahang, menahan erangan yang hampir lolos dari bibirku.Cairan hangat berbau besi merembes perlahan dari celah perban yang membungkus punggungku.Pengaruh serum penyembuh instan tadi siang terasa mulai memudar, menyisakan denyutan kasar di kulitku yang robek.Aku bersandar pada kepala ranjang, memeluk lututku erat-erat di dalam kegelapan kamar perawatan sayap barat.Pintu kamar perawatan sayap barat hancur terdorong
Last Updated: 2026-06-08
Chapter: Chapter 2: Luka yang DisentuhBastian menendang pintu kamar perawatan sayap barat hingga jebol.Suara benturan kayu ek terdengar keras memenuhi koridor istana yang sepi.Dia menggendongku melewati ambang pintu dengan langkah lebar."Letakkan dia di ranjang, Tuan Muda! Kami sudah menyiapkan ramuannya," ucap seorang pelayan wanita paruh baya dengan panik.Dua pelayan muda di belakangnya gemetar memegang baskom perunggu berisi air hangat."Keluar," desis Bastian tanpa mengalihkan pandangan dari wajahku."Tapi, Tuan, luka di punggungnya harus segera dibersihkan agar tidak infeksi—""Kau tuli?" potong Bastian tajam."Tinggalkan baskom itu dan pergi sebelum aku merobek tenggorokanmu!" bentak Bastian lagi.Para pelayan itu memucat mendengar ancaman putera mahkota Kawanan Bloodmoon.Mereka meletakkan baskom dengan tangan gemetar, lalu berlari tergesa-gesa keluar dari kamar.Pintu kamar yang rusak ditutup rapat, menyisakan keheningan yang menyesakkan di antara kami berdua.Bastian meletakkan tubuhku di atas kasur beludru h
Last Updated: 2026-06-08