LOGIN“Tuan?!” Kiara refleks berlari menghampiri, dan itu menjadi kesalahan terbesar pagi itu. Kedua lengannya terlepas dari dada demi menepuk-nepuk punggung Arvino.
“Tuan pelan-pelan aja minumnya!” serunya panik. Bagian atas dress itu bergeser turun beberapa senti. Belahan dada Kiara terlihat sepenuhnya di bawah cahaya pagi yang menembus jendela besar. “Kiara!” Arvino terbatuk sekali lagi sambil menutup mata dengan satu tangan. “Tutup dadamu!” “Iya, iya, ini“Kiara!” panggil Arvino tegas. Kiara menoleh dan menatap Arvino sambil mengedipkan kedua kelopak matanya. “Iya, Tuan?” sahutnya polos. “Daripada mikirin bunga, lihat dirimu!” tegur Arvino sambil mengernyitkan alis. Ucapan itu membuat Kiara langsung mengerutkan kening. Ia menatap dirinya sendiri sekilas sebelum kembali memandang pria di sampingnya. “Memangnya aku kenapa?” tanyanya bingung. “Ada remah roti tuh,” jawab Arvino singkat. “Di mana?” Kiara buru-buru mengangkat tangan, berusaha mencari remah yang dimaksud. “Di situ,” tunjuk Arvino dengan dagunya. Kiara mengusap pipinya dengan punggung tangan. Salah sisi. “Udah?” tanyanya sambil menoleh penuh harap. “Belum,” jawab Arvino datar. “Sini?” Kiara kembali mengusap dagunya. Masih salah. Arvino mengerang pelan. Melihat tingkah gadis itu yang tak kunjung menemukan letak remah roti, kesabarannya hampir hab
Arvino meletakkan pisaunya. Dentingan logam di tepi piring terdengar jelas di ruang makan yang mendadak lengang. “Duduk!” ucapnya tanpa menoleh. Kiara tidak bergerak. Air matanya masih menetes ke taplak putih, dan ia buru-buru mengusap pipi dengan punggung tangan supaya tidak ketahuan. “Kiara. Duduk,” ulang Arvino dengan suara tegas. “Iya, Tuan.” Suara Kiara serak dan nyaris tidak terdengar. Kiara menarik kursi di sebelah Arvino dengan hati-hati, lalu duduk di tepinya. Jas hitam itu terlalu besar untuk bahunya, sehingga lengan bajunya menutupi sampai ujung jari. Di depannya terhampar piring porselen berpinggiran emas, deretan garpu dan pisau yang tidak ia tahu fungsinya, serta serbet kain yang dilipat berbentuk kipas. Semuanya terlihat terlalu bagus untuk disentuh. Gadis itu tak berani mengangkat kepalanya. Kedua tangannya bertaut di atas paha. Arvino menyesap kopinya dan melirik
“Tuan?!” Kiara refleks berlari menghampiri, dan itu menjadi kesalahan terbesar pagi itu. Kedua lengannya terlepas dari dada demi menepuk-nepuk punggung Arvino. “Tuan pelan-pelan aja minumnya!” serunya panik. Bagian atas dress itu bergeser turun beberapa senti. Belahan dada Kiara terlihat sepenuhnya di bawah cahaya pagi yang menembus jendela besar. “Kiara!” Arvino terbatuk sekali lagi sambil menutup mata dengan satu tangan. “Tutup dadamu!” “Iya, iya, ini aku tutup!” Kiara cepat-cepat menyilangkan kedua lengannya, tetapi dadanya yang penuh terlalu besar untuk disembunyikan oleh dua lengan kecil. Ia menarik napas gugup sebelum mengeluh, “Duh, nggak bisa, Tuan! Bajunya kekecilan!” Arvino berdecak keras. Ia menyambar jas hitam yang tersampir di sandaran kursi, lalu melemparkannya ke arah Kiara tanpa menatap. “Pakai ini!” perintahnya. Kiara menangkap jas itu dan memakainya cepat-cepat. Bahunya tenggelam dalam kain yang
Arvino menghentikan kalimatnya dan menggertakkan gigi. “Pokoknya lepas!” “Terus perutnya gimana? Tadi Tuan kayak nahan sakit perut.” Kiara menarik diri dan menggeser telapak tangannya turun ke perut Arvino. Ujung jarinya menekan otot perut yang keras dan berlekuk. “Keras banget, Tuan. Ini sakit nggak kalau aku tekan? Kenapa nggak ngomong aja kalau lagi sakit?” “Kiara, aku bilang berhenti!” bentak Arvino. “Coba Tuan balik badan. Siapa tahu di punggung juga sakit!” usul Kiara dengan penuh kesungguhan. Tanpa menunggu persetujuan, Kiara memegang pinggang Arvino dan memutar tubuh pria itu dengan penuh semangat. Arvino yang kehilangan keseimbangan akibat lantai licin ikut berputar setengah lingkaran. Handuk putih di pinggangnya ikut bergeser, makin lama makin turun. Arvino merasakan kain itu melorot. Refleks, tangannya menyambar ujung handuk dan menahannya tepat sebelum semuanya jatuh. Kiara membeku. Matanya turun mengikuti
Arvino menyibakkan selimutnya dan turun dari ranjang dengan langkah cepat. Ia melangkahi tubuh Kiara tanpa menoleh sedikit pun, dengan satu tangan menutupi bagian depan celananya. Pintu kamar mandi ia buka, pemuda itu masuk, lalu menguncinya dari dalam. Suara shower terdengar menyala deras. Waktunya dia menuntaskan hasrat pagi yang ON tiba-tiba. Sedangkan di luar kamar, Kiara terbangun karena sesuatu yang aneh. Perempuan berkulit putih itu membuka mata perlahan. Beberapa detik ia bingung berada di mana, tetapi ingatan semalam kembali dan ia tersenyum kecil. Tidak ada preman. Tidak ada mommy club. Tidak ada tangan kasar yang mencengkeram bahunya. Hanya karpet empuk dan selimut yang wangi.Gadis itu menggeliat panjang dan merentangkan kedua lengan. Kaosnya ikut tertarik naik, tetapi ia tidak peduli. Ia menguap lebar tanpa menutup mulut, lalu menoleh ke samping dan mendapati ranjang di atasnya sudah kosong. “Tuan?” panggilnya dengan suara serak
“Aku yang matiin,” sahut Arvino dari kegelapan. “Hah? Kenapa dimatiin, Tuan?” tanya Kiara kebingungan. “Supaya kamu tidur.” Suara Arvino terdengar sedikit lebih berat dari biasanya. “Besok kita berangkat pagi. Jangan sampai kamu bangun kesiangan.” Kiara meraba-raba karpet, mencari tabung salepnya. “Tapi aku belum selesai olesin obatnya, Tuan. Masih ada yang di punggung.” “Besok saja,” jawab Arvino singkat. “Nanti sembuhnya lama,” keluh Kiara. “Kiara.” Nada Arvino turun satu tingkat, dan itu cukup untuk membuat Kiara terdiam. “Tidur sekarang!” “Iya, Tuan.” Kiara akhirnya menemukan tabung itu di dekat kaki sofa, lalu memeluknya. “Tapi gelap banget. Aku takut nabrak sesuatu.” Arvino tidak menjawab. Beberapa detik kemudian, lampu tidur kecil di sisi ranjang menyala dan memancarkan cahaya kuning redup. Cahaya itu hanya cukup untuk menerangi sepetak lantai tempat Kiara d







