LOGIN"Map sudah di tangan Tuan Ken." Mateo menyampaikannya lewat earpiece. Davin mengangguk lalu menatap Alsava dan Adrian serius. "Bagus. Kita langsung bergerak sekarang,” ucapnnya ke Mateo. Mateo langsung melaporkannya ke Tuan Ken. Mobil van hitam itu berhenti di balik tembok belakang markas. Adrian duduk di kursi tengah, memeluk tasnya. Alsava di sampingnya, jaket gelap menutupi bahunya. "Nona, kamu tidak harus ikut masuk," bisik Adrian. "Aku harus, Om." Alsava kekeh. Bahkan semangatnya sudah menyala jauh sebelum mereka bergerak. "Ayahmu pasti tidak mau kamu terluka." "Ayah juga tidak mau pembunuhnya dibiarkan bebas." Alsava menatap lurus ke depan. "Om Davin, rutenya?" Davin membuka sketsa yang digambar Ken. "Lewat pintu servis, naik tangga darurat, lalu koridor timur. Titik Marveen ada di ujungnya." "Berapa penjaga?" tanya Alsava lagi. "Kalau pengiriman berjalan lancar, hampir tidak ada. Tuan Ken akan membuat mereka sibuk,” balas Davin sambil melirik kearah luar. Memastikan b
“Apa yang harus ku lakukan?” Balas Asisten Lee setelah dia menjauh dan berada ditempat aman. Dia langsung membalas pesan Mateo. “Akan ada orang kita yang datang ke markas. Kenali dia dan serahkan berkas itu padanya. Tetaplah disitu dan lakukan tugasmu dengan baik. Jangan ada yang sadar kalau Raka adalah tangan kanan Tuan Ken.” Mateo membalasnya setelah beberapa detik. “Bagaimana aku mengenali orang yang kau kirim?” tanya Asisten Lee memastikan. Dia tidak boleh salah mengenali atau nyawa banyak orang akan menjadi taruhannya. “Kode. Dia akan memberimu kode.” Asisten Lee mengerti. Dia tak membalas lagi. Dia langsung kembali ke tugasnya sekaligus mempersiapkan berkas yang akan diserahkannya ke orang yang dikirim Mateo. “Aku tetap disini, menjadi Raka dan menjalankan tugas dari Tiger Dark. Bisa jadi aku akan dikirim untuk menyerang pasukan Tuan. Ini menarik, justru aku bisa melumpuhkan mereka dari dalam.” Asisten Lee tersenyum, senyum penuh kelicikan.**"Cuaca hari ini cerah ya, B
“Datanglah ke tempat ini dan langsung menuju ke titik ini lewat jalur ini.” Ken menunjuk rute yang sudah dipelajarinya sampai hafal. “Disini, kalian akan bertemu langsung dengan Marveen.”Semua melongok ke titik yang Marveen tunjuk. Davin mengangguk, meskipun dia tidak ingat pasti, tapi Nyonya Aileen juga pernah datang langsung ke titik itu dan menemukan Marveen tanpa melewati para penjaga berlapis.“Aku akan membiarkan Marveen percaya bahwa dia masih memegang kendali atas diriku. Kalian bergerak, masuk ke Markasnya. Aku juga akan membuat Marveen sibuk dengan drama pengiriman, membuat orang-orang disekitarnya dia turunkan untuk mengurus masalah ekspedisi. Aku akan membuat dia sendirian menghadapi kalian.”“Lalu?” Alsava juga menyela“Kita putus satu per satu jalur yang dia gunakan.” Ken menatap mereka satu persatu dengan wajah serius. “Kita harus pastikan dia tidak bisa lari kemana-mana!”“Aku butuh orang-orangmu Tuan Ken.” Davin menyela lagi.“Tentu. Aku akan memerintahkan orang-ora
"Ken sedang membangun perangkap dari dalam, dengan cara mengajak kerjasama kembali dengan Marveen. Ken mengambil kepercayaan Marveen, dia sengaja membuat Marveen merasa aman.” Alsava menjelaskan rencana yang sedang dijalankan Ken di markas Tiger Dark. “Dan kau yakin?” Adrian sanksi. Alsava mengangguk. “Karena aku melihat sendiri apa yang Ken lakukan.” “Bahkan orang-orang Ken sudah menyusup ke jaringan Tiger Dark.” Davin menambahi. “Ken sedang mempersiapkan kehancuran Marveen dengan mencari semua bukti kejahatannya.” Adrian menyandarkan tubuhnya.“Kalau begitu... semuanya mulai masuk akal.” “Memangnya apa yang tidak masuk akal?” Ketiganya menoleh ke arah pintu. Ken berdiri di ambang pintu. Tatapannya langsung tertuju kepada Adrian. “Sepertinya aku datang di waktu yang tepat.” Alsava tersenyum kecil. Menyambut kedatangan suaminya dengan perasaan lega. Kalau Ken telah kembali, artinya semua rencana mereka telah berhasil. “Ken.” Ken berjalan mendekat. “Siapa tamu kita ini sayang
“Jadi, apa sebenarnya yang papa tinggalkan untukku?”Pertanyaan Alsava membuat Adrian terdiam beberapa detik.“Aku tahu itu berupa aset. Tapi aset yang seperti apa Om?” lanjut Alsava mencecar. Selain penasaran, dia juga heran kenapa Ayahnya sampai kepikiran membagi aset kekayaannya dan sebagian diserahkan ke Adrian. Apakah Ayahnya sudah tahu apa yang akan terjadi setelah beliau tiada?“Bukan aset biasa, Alsava. Nilainya cukup besar untuk mengubah seluruh hidupmu,” jawab Adrian membuat Alsava menyerngit kaget.Alsava menatap Adrian dengan serius.“Seberapa besar?”Adrian menarik napas pelan. “Cukup besar untuk membuatmu tidak perlu memikirkan uang lagi seumur hidup.”Alsava terdiam.“Dan Marveen juga mengincar aset itu. Karena aset itu bukan hanya kekayaan tapi juga koneksi dan jaringan yang bisa membuat Marveen makin kuat dan menguasai segalanya.”“Itulah sebabnya Anda diminta menghilang?” Davin memperjelas status yang terjadi.“Benar Tuan Davin. Sebab aset itu harus diserahkan pada p
“Tuan, ada dua kabar yang harus Tuan dengar segera,” ujar Mateo begitu Ken masuk ke mobilnya. Ken mengatur napas. Dia tak mau terburu-buru mendengar laporan apapun sebelum dia tenang. “Katakan!”“Asisten Lee berhasil menemukan bukti keterlibatan Marveen atas kematian Tuan Cavan. Bukti sudah diamankan.”Ken terkesiap. Dia bukan kaget soal dokumen itu, karena dia sudah menduga kalau kematian Tuan Cavan alias Mertuanya itu memang ulah Marveen. Tapi sampai Asisten Lee menemukan dan mengamankan bukti itu, tentu itu adalah usaha yang tidak mudah yang sudah Asisten Lee lakukan.“Bergerak! Bantu Asisten Lee mengamankan bukti itu. Nyawanya akan dalam bahaya kalau sampai ada yang menyadari pergerakannya.”“Mengerti Tuan. Setelah ini saya akan langsung mengirim orang dan berkoordinasi dengan Asisten Lee.” Mateo mengangguk patuh. Kinerjanya juga tak perlu diragukan lagi.“Lalu apa laporan kedua?” Ken meminta Mateo melanjutkan laporannya. Sebelum menjawab, Mateo melirik Tuannya dari balik spion.







