FAZER LOGINKeheningan pekat seketika membungkus ruang kerja serba kayu jati itu.
Maya masih berlutut di lantai dingin, menengadahkan wajahnya yang sembap dengan sepasang mata membiru menatap pria tegap di hadapannya.
Anton tak segera menjawab penawaran pasrah itu.
Ia perlahan bangkit dari kursi kulit mewahnya, melangkah memutari meja hingga kini berdiri tepat menjulang di depan tubuh mungil Maya.
Pria itu menyilangkan kedua tangannya di dada, menunduk menatap keponakan menantunya yang seperti domba pasrah di ujung tanduk.
"Kamu bilang bersedia kerjakan apa aja asalkan saya mau berdiri di pihak kamu, kan?"
Suara bariton Anton mengalun begitu rendah, sarat akan tekanan intim yang membuat bulu kuduk Maya seketika meremang.
Pria dewasa itu membungkuk sedikit, memangkas jarak di antara wajah mereka hingga aroma parfum maskulin berselimut kayu cendana menusuk tajam ke indra penciuman Maya.
"Penjara itu dingin, Maya. Dan di mata hukum, kamu sama sekali nggak punya posisi tawar buat membela diri," bisik Anton lambat.
Maya menelan ludahnya yang terasa sepahit empedu, dadanya kempas-kempis menahan sesak yang merajam.
“Aku tahu itu tahu, Om. Makanya aku mohon, tolong bantu aku keluar dari ancaman Ibu Desi," cicit Maya terputus-putus.
Anton mengulurkan satu jarinya, menyentuh dagu Maya yang gemetaran lalu mengusap sisa air mata di pipi pucat wanita muda itu.
Sentuhan kulit yang hangat namun penuh dominasi itu terasa membakar, mengirimkan getaran aneh yang menjalar liar hingga ke perut bawah Maya.
"Saya bisa dengan mudah bungkam Kak Desi dan tim pengacaranya lewat kekuasaan firma hukum saya," tutur Anton serak.
"Saya bisa pastikan laporan itu musnah dan kamu bebas murni tanpa tersentuh hukum sedikit pun," sambung Anton menatap lurus bibir Maya.
Binar harapan yang sempat mencetus di sepasang mata Maya seketika sirna tatkala ibu jari Anton perlahan mengusap bibir bawahnya yang memar.
"Tapi tentu aja nggak ada perlindungan yang gratis di dunia ini, Maya," gumam Anton dengan nada yang makin membebankan rasa takut.
"Sebagai gantinya... saya mau bayaran yang setimpal atas pertaruhan reputasi yang bakal saya ambil."
Maya mengatupkan bibirnya rapat-rapat, dadanya bergemuruh hebat menantikan harga yang akan dijatuhkan pria kaya di depannya ini.
"Apa... apa bayaran yang Om mau?" tanya Maya terbata-bata dengan nada ketakutan yang kian kentara.
"Aku bakal kerja lebih keras di rumah ini. Atau nggak usah digaji sepeser pun aku bersedia, Om.”
Anton tertawa kecil, sebuah kekehan dingin tanpa humor yang menggema di sudut ruangan.
"Saya nggak butuh tenaga kamu buat sapu atau ngepel rumah ini, Maya," potong Anton memotong kepolosan wanita di depannya. "Uang saya lebih dari cukup buat bayar lusinan pelayan profesional."
Pria itu berlutut dengan satu kaki, menyejajarkan posisinya hingga mata mereka bertatap secara lurus dari jarak hanya beberapa sentimeter.
"Syarat dari saya cuma satu," ucap Anton tanpa ragu, memutus semua harapan suci yang dimiliki wanita di bawahnya. "Mulai malam ini, kamu harus serahkan diri kamu sepenuhnya ke saya, dan jadi pemuas nafsu saya kapan pun saya menginginkannya."
Kata-kata itu menghantam kesadaran Maya bagai gumpalan petir yang menyambar tepat di dada.
Darah di dalam tubuhnya serasa membeku seketika, meninggalkan rasa dingin dan kehampaan yang luar biasa meremukkan jiwa.
"Om... Om Anton bercanda, kan?" bisik Maya dengan suara parau yang menahan jeritan histria.
"Saya pernah bilang kalau saya nggak suka bercanda di ruang kerja saya, Maya," balas Anton dengan raut wajah sangat serius.
Pria itu menatap lekuk leher jenjang Maya dan kain baju basah yang masih mencetak bentuk tubuh mungil wanita tersebut.
"Kamu yang bilang sendiri tadi, kamu bersedia kerjakan apa aja asal saya ada di pihak kamu," tagih Anton menekan kata per kata.
Pertempuran batin yang teramat dahsyat membakar habis logika dan perasaan Maya di detik itu juga.
Di satu sisi, harga dirinya sebagai seorang wanita hancur berkeping-keping; ia akan dijadikan pemuas nafsu oleh paman mendiang suaminya sendiri.
Namun di sisi lain, bayangan tembok penjara yang dingin, makian mertuanya, dan hukuman belasan tahun mendekam di balik sel besi terus menghantui pikirannya.
Jika ia menolak, besok pagi polisi pasti akan menyeretnya dan ia akan membusuk di dalam penjara tanpa ada yang peduli.
Maya menundukkan kepalanya dalam-dalam, membiarkan jemari tangannya meremas kuat-kuat ujung gaunnya sampai memutih.
Air matanya menetes deras, jatuh menimpa karpet mewah di antara lutut mereka berdua, mengiringi kehancuran sisa martabat yang ia pertahankan.
Anton tetap bergeming, memperhatikan pertikaian batin di raut wajah Maya dengan kesabaran seorang pemburu yang tahu mangsanya tak bisa lari.
"Saya nggak akan memaksa," bisik Anton tenang sambil bersiap berdiri kembali. "Kalau kamu nggak mau, kamu bisa paksa diri kamu buat siap-siap pakai baju tahanan besok pagi."
"Jangan, Om! Tolong jangan," jerit Maya panik, refleks memegang pergelangan tangan Anton yang terasa begitu tegap dan hangat.
Sentuhan tangan dingin Maya membuat Anton menghentikan gerakannya, menatap ke arah jemari kecil yang mencengkeram kemejanya itu. "Jadi gimana keputusan kamu, Maya? Waktu saya nggak banyak."
Maya terisak tanpa suara, tenggorokannya tersumbat oleh rasa hina dan ketakutan yang berbaur menjadi satu ramuan pahit.
Ia menutup matanya rapat-rapat, membayangkan nasib malangnya yang kini benar-benar telah terjebak di dalam sangkar emas milik sang duda.
"Aku... aku setuju, Om..." bisik Maya akhirnya meloloskan kata-kata terlarang itu.
Dengan bibir yang bergetar hebat dan linangan air mata yang membasahi pipi, Maya mendongak pelan menganggukkan kepalanya.
"Aku bakal lakuin apa aja yang Om minta, asalkan Om janji selamatin aku dari penjara," tuntas Maya pasrah.
Seringai tipis yang sarat akan kepuasan mendalam perlahan terbit di bibir tegas milik Anton.
Ia membelai pipi basah Maya dengan punggung jarinya, mengusap lembut namun terasa mengikat wanita muda itu dalam cengkeraman kekuasaannya. "Pilihan yang sangat bijak, Maya," gumam Anton serak.
Pria itu berdiri tegak, membiarkan aura dominasinya kembali menguasai seluruh sudut ruangan kerja yang hening tersebut.
"Sekarang kamu boleh keluar," perintah Anton dingin tanpa menyisakan nada empati. "Tapi ingat... mulai detik ini, tubuh dan jiwa kamu sudah sepenuhnya jadi milik saya."
Cahaya matahari pagi menyusip tipis dari sela-sela tirai tinggi di lantai satu, membiaskan sinar ke atas marmer dingin kediaman Anton.Suasana rumah megah itu kembali sepi, hanya terdengar gemercik air dan denting halus peralatan dapur saat Maya sibuk menyiapkan sarapan.Tubuh Maya masih terasa remuk. Setiap gerak kecil yang ia buat mengirimkan rasa perih dan pegal yang tersisa dari kejadian semalam di kamar utama.Wajahnya yang pucat merona merah tiap kali ingatan tentang cara Anton mendominasinya kembali melintas di benaknya.Ia mengenakan pakaian kasual yang tertutup rapat hingga batas leher, berusaha menyembunyikan setiap bercak kebiruan yang ditinggalkan pria itu di kulit mulusnya.Dengan jemari yang sedikit gemetar, Maya menata piring berisi omelet dan sepoci kopi hitam panas di atas meja makan kayu jati yang panjang.Saat ia menaruh cangkir terakhir, suara langkah kaki yang berat dan teratur terdengar mendekat dari arah tangga.Anton muncul dengan kemeja abu-abu yang lengannya
Maya menelan ludah, sementara tubuhnya masih gemetar di pelukan Anton.Napas pria itu hangat dan berat di ceruk lehernya, sementara bibir kasarnya terus menyesap kulit mulus yang berdenyut di bawahnya.Anton tampak tidak buru-buru.Ia justru menikmati setiap reaksi kecil yang lolos dari tubuh Maya, desahan tertahan, getaran di paha, dan cara jari-jari mungil itu mencengkeram kemeja putihnya seolah mencari pegangan.“Om… ah…”Anton mengangkat wajahnya sebentar.Matanya menggelap, penuh rasa lapar, tapi penuh kendali.Ia menunduk lagi dan merebut bibir Maya dalam ciuman yang dalam dan dominan.Lidahnya mendorong masuk tanpa meminta izin, mengeksplorasi, menghisap, dan menggigit pelan bibir bawah Maya sampai wanita itu tersengal.Ciuman itu bukan lembut. Ia menuntut.Anton menekan tubuh Maya ke dinding kamar, satu lututnya menyisip di antara paha Maya, memaksa gaun sutra merah itu tersingkap sedikit lebih tinggi.Tangan kekarnya turun ke punggung Maya, mencari ritsleting gaun. Dengan sat
"Ta-tapi, Om. Aku... aku belum siap kalau sekarang. Pesta... pesta bukannya udah mau mulai?" tanya Maya dengan gagap.Anton tak langsung menjawab. Jemari tangannya yang kokoh terangkat, menyapu helai rambut basah Maya yang menempel di leher jenjangnya.Sentuhan kasar namun perlahan itu mengirimkan gelombang sengatan dingin yang menjalar lurus ke tulang belakang Maya."Saya tahu kapan harus menagih hak saya, Maya," bisik Anton serak, hingga hembusan napas hangatnya menyapu permukaan kulit pipi Maya yang membara."Ganti pakaian kamu. Saya tunggu di bawah dalam waktu lima belas menit. Jangan membuat saya menunggu."Tanpa menunggu balasan, Anton berbalik dan melangkah keluar kamar, meninggalkan pintu yang sengaja dibiarkan sedikit terbuka.Maya merosot pelan di tepi ranjang, lalu meremas kain sutra di pangkuannya sambil berusaha menata detak jantungnya yang bergemuruh liar.Tiga puluh menit kemudian, sebuah mobil sedan hitam mewah meluncur membelah jalanan kota yang masih dibasahi sisa ai
Jam menunjukkan angka tujuh malam.Maya berdiri di tengah kamar tamunya yang luas, baru saja menyela sisa-sisa tetesan air di tubuhnya usai mandi malam.Rambut panjangnya yang masih setengah basah terurai berantakan di atas bahunya yang polos dan terbuka.Hanya selembar handuk putih tebal yang membebat ketat dada hingga sebatas paha mulusnya, memperlihatkan lekuk tubuh rapuhnya yang begitu terbuka.Klik.Suara engsel pintu yang terdorong tanpa ketukan terdengar memecah sunyinya ruangan."Aaa!" jerit Maya spontan seraya menutupi dadanya dengan kedua tangan, refleks berbalik membelakangi pintu.Namun, di detik berikutnya, ingatan tentang perjanjian terlarang di ruang kerja Anton tadi siang langsung menghantam kesadarannya.Darah di tubuhnya serasa berdesir dingin, mengingatkannya bahwa kepemilikan atas raga ini bukan lagi mutlak miliknya.Maya menelan ludah dengan susah payah, berbalik pelan seraya menundukkan wajahnya yang terasa membakar."Ada... ada apa, Om?" bisik Maya dengan suara
Keheningan pekat seketika membungkus ruang kerja serba kayu jati itu.Maya masih berlutut di lantai dingin, menengadahkan wajahnya yang sembap dengan sepasang mata membiru menatap pria tegap di hadapannya.Anton tak segera menjawab penawaran pasrah itu.Ia perlahan bangkit dari kursi kulit mewahnya, melangkah memutari meja hingga kini berdiri tepat menjulang di depan tubuh mungil Maya.Pria itu menyilangkan kedua tangannya di dada, menunduk menatap keponakan menantunya yang seperti domba pasrah di ujung tanduk."Kamu bilang bersedia kerjakan apa aja asalkan saya mau berdiri di pihak kamu, kan?"Suara bariton Anton mengalun begitu rendah, sarat akan tekanan intim yang membuat bulu kuduk Maya seketika meremang.Pria dewasa itu membungkuk sedikit, memangkas jarak di antara wajah mereka hingga aroma parfum maskulin berselimut kayu cendana menusuk tajam ke indra penciuman Maya."Penjara itu dingin, Maya. Dan di mata hukum, kamu sama sekali nggak punya posisi tawar buat membela diri," bisik
"Tutup pintunya, Maya. Duduk di depan saya," perintah Anton saat tiba di dalam ruang kerjanya.Maya memutar badannya perlahan, mendorong pintu jati itu hingga terkunci rapat dengan bunyi klik pelan yang memicu kembali debar di dadanya.Dengan tungkai yang masih terasa lemas, ia melangkah mendekati meja kerja Anton lalu menduduki salah satu kursi kulit di hadapan pria tersebut."Om, tolong aku, Om. Aku beneran takut dipenjara," bisik Maya dengan suara parau yang amat rapuh.Namun, Anton tak langsung menjawab, melainkan menyilangkan jemari tangannya di atas meja seraya menatap lurus ke dalam sepasang mata Maya yang sembap.Sorot mata kelam sang pengacara kondang itu terasa begitu pekat dan peka, menelusuri raut wajah pucat Maya tanpa menyisakan celah."Sebelum saya bicara soal bantuan, saya mau tahu cerita yang sebenarnya dulu," tutur Anton datar namun sarat akan penekanan."Ceritakan ke saya gimana kronologi kecelakaan malam itu, Maya. Jangan ada satu pun detail yang kamu tutupi dari s







