INICIAR SESIÓN"Tutup pintunya, Maya. Duduk di depan saya," perintah Anton saat tiba di dalam ruang kerjanya.
Maya memutar badannya perlahan, mendorong pintu jati itu hingga terkunci rapat dengan bunyi klik pelan yang memicu kembali debar di dadanya.
Dengan tungkai yang masih terasa lemas, ia melangkah mendekati meja kerja Anton lalu menduduki salah satu kursi kulit di hadapan pria tersebut.
"Om, tolong aku, Om. Aku beneran takut dipenjara," bisik Maya dengan suara parau yang amat rapuh.
Namun, Anton tak langsung menjawab, melainkan menyilangkan jemari tangannya di atas meja seraya menatap lurus ke dalam sepasang mata Maya yang sembap.
Sorot mata kelam sang pengacara kondang itu terasa begitu pekat dan peka, menelusuri raut wajah pucat Maya tanpa menyisakan celah.
"Sebelum saya bicara soal bantuan, saya mau tahu cerita yang sebenarnya dulu," tutur Anton datar namun sarat akan penekanan.
"Ceritakan ke saya gimana kronologi kecelakaan malam itu, Maya. Jangan ada satu pun detail yang kamu tutupi dari saya," lanjut Anton tegas.
Maya menelan ludahnya yang terasa pahit, mencoba mengingat kembali malam kelam yang merenggut nyawa suaminya dan memutus jalan hidupnya.
Kedua tangannya saling mencengkeram erat di atas pangkuan, mencoba menahan emosi yang kembali membuncah di dalam dada.
"Malam itu hujan deras banget, Om. Kami baru saja selesai dari acara syukuran dan mau pulang ke rumah," cicit Maya mengawali ceritanya.
"Di jalanan yang sepi itu, tiba-tiba ada truk besar dari arah berlawanan yang hilang kendali dan langsung hantam mobil kami," sambung Maya dengan suara bergetar.
Napas Maya tersengal pelan saat bayangan pecahan kaca dan guncangan hebat malam itu kembali melintas di ingatan secara dramatis.
"Posisiku saat itu di sebelah kiri, Om. Benturan keras itu kena sisi kanan mobil duluan, jadi posisi aku relatif aman dari himpitan," jelas Maya seraya menahan isak tangisnya.
"Aku berhasil merangkak keluar dari pecahan jendela, terus aku lari ke pinggir jalan buat cari bantuan warga sekitar."
Anton mendengarkan penjelasan itu dalam diam yang mencekik, matanya tak sedikit pun berkedip memperhatikan setiap gerak-gerik raut wajah Maya.
"Lalu gimana dengan Riko?" tanyakan Anton pendek, menuntut kelanjutan fakta dari kecelakaan tragis keponakannya itu.
Maya menggelengkan kepala dengan linangan air mata yang kembali membasahi pipinya yang lebam.
"Waktu bantuan datang dan kami dibawa ke rumah sakit, dokter bilang Mas Riko udah meninggal di tempat karena luka dalam yang parah," isak Maya pecah.
Ia mendongak menatap Anton dengan binar keputusasaan yang begitu dalam.
"Aku bersumpah, Om. Aku nggak pernah ada niat membunuh Mas Riko! Walaupun saat itu kami hanya dijodohkan oleh ayahnya Mas Riko, tapi nggak ada sedikit pun niat di hatiku buat bunuh dia!" seru Maya meyakinkan.
Anton menghembuskan napas panjang, bersandar santai ke punggung kursi kulitnya tanpa melepaskan pandangan mata dari sosok Maya.
Pria dewasa itu mengambil sebuah pena mahal dari atas meja, memutarnya secara perlahan di antara jemarinya yang kokoh.
"Pernyataan kamu itu bernilai di mata kamu, Maya. Tapi di mata hukum dan polisi? Ceritanya bisa beda total," ujar Anton dingin.
Maya tersentak mendengar tanggapan yang terkesan sangat menyudutkan itu.
"M-maksud Om Anton gimana?" bisik Maya patah-patah.
Anton menegakkan posisinya kembali, menopang kedua siku di atas meja dan menatap Maya dari jarak yang cukup rapat.
"Kalau Kak Desi beneran laporin kamu pakai pengacara lain, dia bisa pakai pasal pembunuhan berencana atau minimal kelalaian yang sebabkan kematian," papar Anton rinci.
"Ancamannya nggak main-main, Maya. Kamu bisa dijerat hukum penjara belasan tahun, bahkan sampai dua puluh tahun kalau terbukti salah."
Seluruh persendian Maya seketika meluruh mendengar angka belasan tahun yang meluncur begitu tenang dari bibir pengacara ternama itu.
"T-tapi aku kan selamat karena kebetulan, Om! Aku nggak salah apa-apa!" protes Maya dengan nada panik yang tak tertahankan.
Anton menggelengkan kepala pelan, menggariskan kenyataan pahit yang kini membayangi nasib wanita muda di depannya.
"Masalahnya, nggak ada saksi mata lain di tempat kejadian malam itu. Cuma ada kamu yang selamat tanpa luka berarti, sementara suami kamu tewas di tempat," jelas Anton datar.
"Konstruksi hukum kayak gitu sangat mudah diplintir oleh pihak Kak Desi di persidangan nanti," lanjut Anton menembus pertahanan batin Maya.
"Hasil akhirnya bisa dipastikan, persidangan ini bisa dimenangkan dengan mudah oleh pihak Kak Desi, dan kamu bakal langsung dijebloskan ke sel."
Tubuh Maya seketika gemetar hebat seraya memegang dadanya yang mendadak sesak luar biasa mendengar vonis mengerikan itu.
Bayangan dinginnya lantai penjara, jeruji besi yang mengurung seumur hidupnya, serta stempel pembunuh yang melekat seumur hidup membuat jiwanya terguncang parah.
"Nggak... nggak mau, Om! Aku nggak bersalah! Aku masih berhak buat lanjutin hidup saya!" jerit Maya memohon.
Ia bangkit dari duduknya, merangkak kecil di samping meja dan berlutut tepat di dekat kaki kursi kerja milik Anton.
"Tolongin aku, Om Anton. Aku mohon tolong lindungi aku dari Ibu Desi," cicit Maya seraya menengadahkan wajahnya yang sembap.
Anton menundukkan wajahnya, menatap Maya yang berlutut pasrah di bawah kakinya dengan sorot mata kelam yang tak tertebak.
"Keputusan untuk lanjut melapor atau nggak itu tetap ada di tangan Kak Desi sebagai ibu kandung Riko, Maya," kata Anton dengan nada tanpa simpati.
"Saya ini cuma paman mendiang suami kamu. Saya nggak punya alasan kuat buat pasang badan membela kamu di depan keluarga saya sendiri."
Maya menggelengkan kepalanya dengan kuat, air matanya menetes mengenai sepatu kulit mengkilap yang dikenakan Anton.
Keputusasaan yang begitu pekat telah mematikan sisa rasa takut dan rasa malunya sebagai seorang wanita sebatang kara di dunia ini.
"Aku yakin Om Anton pasti bisa bantu aku. Om kan punya firma hukum besar, Om punya kuasa buat batalin semua itu!" seru Maya terdesak.
Anton tak bergeming, pria itu hanya mengamati bibir mungil Maya yang bergetar hebat saat menahan sesak.
"Kenapa saya harus repot-repot mempertaruhkan reputasi saya cuma demi membela pelayan di rumah ini?" bisik Anton dengan nada suara amat rendah dan dalam.
Maya menelan ludahnya dengan susah payah, menatap lurus ke dalam sepasang mata kelam sang duda yang memancarkan aura dominasi mutlak.
"Aku bersedia kerjain apa aja, Om... apa aja yang Om mau!" tegas Maya dengan suara bergetar penuh kepasrahan.
"Asalkan Om mau berdiri di pihak aku dan selamatin aku dari penjara. Aku janji bakal turuti semua perintah Om!"
Cahaya matahari pagi menyusip tipis dari sela-sela tirai tinggi di lantai satu, membiaskan sinar ke atas marmer dingin kediaman Anton.Suasana rumah megah itu kembali sepi, hanya terdengar gemercik air dan denting halus peralatan dapur saat Maya sibuk menyiapkan sarapan.Tubuh Maya masih terasa remuk. Setiap gerak kecil yang ia buat mengirimkan rasa perih dan pegal yang tersisa dari kejadian semalam di kamar utama.Wajahnya yang pucat merona merah tiap kali ingatan tentang cara Anton mendominasinya kembali melintas di benaknya.Ia mengenakan pakaian kasual yang tertutup rapat hingga batas leher, berusaha menyembunyikan setiap bercak kebiruan yang ditinggalkan pria itu di kulit mulusnya.Dengan jemari yang sedikit gemetar, Maya menata piring berisi omelet dan sepoci kopi hitam panas di atas meja makan kayu jati yang panjang.Saat ia menaruh cangkir terakhir, suara langkah kaki yang berat dan teratur terdengar mendekat dari arah tangga.Anton muncul dengan kemeja abu-abu yang lengannya
Maya menelan ludah, sementara tubuhnya masih gemetar di pelukan Anton.Napas pria itu hangat dan berat di ceruk lehernya, sementara bibir kasarnya terus menyesap kulit mulus yang berdenyut di bawahnya.Anton tampak tidak buru-buru.Ia justru menikmati setiap reaksi kecil yang lolos dari tubuh Maya, desahan tertahan, getaran di paha, dan cara jari-jari mungil itu mencengkeram kemeja putihnya seolah mencari pegangan.“Om… ah…”Anton mengangkat wajahnya sebentar.Matanya menggelap, penuh rasa lapar, tapi penuh kendali.Ia menunduk lagi dan merebut bibir Maya dalam ciuman yang dalam dan dominan.Lidahnya mendorong masuk tanpa meminta izin, mengeksplorasi, menghisap, dan menggigit pelan bibir bawah Maya sampai wanita itu tersengal.Ciuman itu bukan lembut. Ia menuntut.Anton menekan tubuh Maya ke dinding kamar, satu lututnya menyisip di antara paha Maya, memaksa gaun sutra merah itu tersingkap sedikit lebih tinggi.Tangan kekarnya turun ke punggung Maya, mencari ritsleting gaun. Dengan sat
"Ta-tapi, Om. Aku... aku belum siap kalau sekarang. Pesta... pesta bukannya udah mau mulai?" tanya Maya dengan gagap.Anton tak langsung menjawab. Jemari tangannya yang kokoh terangkat, menyapu helai rambut basah Maya yang menempel di leher jenjangnya.Sentuhan kasar namun perlahan itu mengirimkan gelombang sengatan dingin yang menjalar lurus ke tulang belakang Maya."Saya tahu kapan harus menagih hak saya, Maya," bisik Anton serak, hingga hembusan napas hangatnya menyapu permukaan kulit pipi Maya yang membara."Ganti pakaian kamu. Saya tunggu di bawah dalam waktu lima belas menit. Jangan membuat saya menunggu."Tanpa menunggu balasan, Anton berbalik dan melangkah keluar kamar, meninggalkan pintu yang sengaja dibiarkan sedikit terbuka.Maya merosot pelan di tepi ranjang, lalu meremas kain sutra di pangkuannya sambil berusaha menata detak jantungnya yang bergemuruh liar.Tiga puluh menit kemudian, sebuah mobil sedan hitam mewah meluncur membelah jalanan kota yang masih dibasahi sisa ai
Jam menunjukkan angka tujuh malam.Maya berdiri di tengah kamar tamunya yang luas, baru saja menyela sisa-sisa tetesan air di tubuhnya usai mandi malam.Rambut panjangnya yang masih setengah basah terurai berantakan di atas bahunya yang polos dan terbuka.Hanya selembar handuk putih tebal yang membebat ketat dada hingga sebatas paha mulusnya, memperlihatkan lekuk tubuh rapuhnya yang begitu terbuka.Klik.Suara engsel pintu yang terdorong tanpa ketukan terdengar memecah sunyinya ruangan."Aaa!" jerit Maya spontan seraya menutupi dadanya dengan kedua tangan, refleks berbalik membelakangi pintu.Namun, di detik berikutnya, ingatan tentang perjanjian terlarang di ruang kerja Anton tadi siang langsung menghantam kesadarannya.Darah di tubuhnya serasa berdesir dingin, mengingatkannya bahwa kepemilikan atas raga ini bukan lagi mutlak miliknya.Maya menelan ludah dengan susah payah, berbalik pelan seraya menundukkan wajahnya yang terasa membakar."Ada... ada apa, Om?" bisik Maya dengan suara
Keheningan pekat seketika membungkus ruang kerja serba kayu jati itu.Maya masih berlutut di lantai dingin, menengadahkan wajahnya yang sembap dengan sepasang mata membiru menatap pria tegap di hadapannya.Anton tak segera menjawab penawaran pasrah itu.Ia perlahan bangkit dari kursi kulit mewahnya, melangkah memutari meja hingga kini berdiri tepat menjulang di depan tubuh mungil Maya.Pria itu menyilangkan kedua tangannya di dada, menunduk menatap keponakan menantunya yang seperti domba pasrah di ujung tanduk."Kamu bilang bersedia kerjakan apa aja asalkan saya mau berdiri di pihak kamu, kan?"Suara bariton Anton mengalun begitu rendah, sarat akan tekanan intim yang membuat bulu kuduk Maya seketika meremang.Pria dewasa itu membungkuk sedikit, memangkas jarak di antara wajah mereka hingga aroma parfum maskulin berselimut kayu cendana menusuk tajam ke indra penciuman Maya."Penjara itu dingin, Maya. Dan di mata hukum, kamu sama sekali nggak punya posisi tawar buat membela diri," bisik
"Tutup pintunya, Maya. Duduk di depan saya," perintah Anton saat tiba di dalam ruang kerjanya.Maya memutar badannya perlahan, mendorong pintu jati itu hingga terkunci rapat dengan bunyi klik pelan yang memicu kembali debar di dadanya.Dengan tungkai yang masih terasa lemas, ia melangkah mendekati meja kerja Anton lalu menduduki salah satu kursi kulit di hadapan pria tersebut."Om, tolong aku, Om. Aku beneran takut dipenjara," bisik Maya dengan suara parau yang amat rapuh.Namun, Anton tak langsung menjawab, melainkan menyilangkan jemari tangannya di atas meja seraya menatap lurus ke dalam sepasang mata Maya yang sembap.Sorot mata kelam sang pengacara kondang itu terasa begitu pekat dan peka, menelusuri raut wajah pucat Maya tanpa menyisakan celah."Sebelum saya bicara soal bantuan, saya mau tahu cerita yang sebenarnya dulu," tutur Anton datar namun sarat akan penekanan."Ceritakan ke saya gimana kronologi kecelakaan malam itu, Maya. Jangan ada satu pun detail yang kamu tutupi dari s







