Se connecterMaya melepaskan pegangan tangannya pada pakaian ganti itu dengan tergesa-gesa, melangkah mundur satu tapak untuk menjauhkan diri dari Anton.
"Ma-maaf, Om... aku ganti baju dulu di dalam," bisik Maya pelan seraya menundukkan wajahnya dalam-dalam.
Anton mengamati raut wajah Maya yang memerah pasrah, lalu menarik kembali tangannya dengan gerakan yang teratur dan tenang.
"Kamar mandi ada di sebelah kanan. Jangan lupa kunci pintunya dari dalam," balas Anton datar seraya berbalik melangkah keluar kamar.
Pria itu sempat menghentikan langkahnya sebentar di ambang pintu, menoleh sedikit tanpa menatap mata Maya.
"Setelah ini langsung tidur. Besok pagi tugas kamu sudah menunggu di bawah," sambungnya tegas sebelum akhirnya menutup pintu kamar itu rapat-rapat.
Dua hari berlalu dengan amat cepat di bawah atap megah milik Anton yang sunyi.
Maya mulai terbiasa dengan rutinitas barunya sebagai seorang pelayan, menyapu lantai marmer hingga mengelap perabotan mahal milik Anton.
Selama empat puluh delapan jam ini, Anton memperlakukannya secara professional, dingin, jarang bicara, namun tidak pernah berbuat kasar atau menuntut macam-macam.
Pagi itu, hujan deras mengguyur kota, menyisakan hawa dingin yang menusuk hingga ke dalam ruang tamu utama.
Maya sedang berlutut di lantai, mengelap vas bunga kaca besar di dekat meja konsol ketika deru mesin mobil asing terdengar di luar gerbang.
Tak lama berselang, suara bel rumah berbunyi nyaring, disusul ketukan pintu yang terlampau keras dan kasar untuk ukuran seorang tamu sopan.
"Sebentar, aku bukakan!" seru Maya pelan seraya berdiri dan bergegas melangkah menuju pintu depan.
Maya mengira itu mungkin kurir yang membawa barang pesanan Anton atau salah satu staf kantor firma hukum milik pria itu.
Namun, begitu daun pintu kayu jati itu terbuka lebar, seluruh darah di tubuh Maya seakan berhenti mengalir seketika.
Di hadapannya berdiri Desi—ibu dari mendiang suaminya, dengan raut wajah yang dipenuhi amarah murka dan mata melotot tajam.
"Oh! Jadi kamu ngumpet di sini selama ini, hah?!" bentak Desi sambil melayangkan tatapan penuh kebencian.
Maya kaget bukan main saat melihat sosok Desi berdiri kokoh di ambang pintu rumah megah ini.
Namun jauh di dalam hatinya, Maya memang tahu ibu mertuanya itu pasti bakal datang menuntut balas entah kapan, walau ia sama sekali tak menyangka akan bertatap muka secepat ini, di pagi hari yang dingin ini.
"I-Ibu... kenapa Ibu bisa ada di sini?" cicit Maya dengan suara yang hampir tenggelam oleh suara hujan dan rasa takut yang mendadak membuhul di dadanya.
Desi melipat kedua tangannya di dada, melayangkan pandangan penuh jijik ke arah wanita muda yang tampak begitu rapuh di depannya.
"Kenapa? Kamu kaget saya bisa temukan kamu di rumah adik ipar saya sendiri, hah?!" seru Desi meluapkan ludah kekesalannya.
"Bu, tolong dengarkan penjelasan Maya dulu, Bu... Maya sama sekali nggak ada niat—"
"Tutup mulut kamu! Kamu pikir saya sudi dengar kebohongan dari bibir perempuan pembawa sial kayak kamu?!" potong Desi dengan nada melengking yang menggema di seluruh lorong depan.
Keributan besar di ruang tamu itu memancing langkah kaki tegas dari arah tangga lantai dua.
Anton yang mengenakan kemeja putih dengan lengan digulung sebatas siku melangkah turun dengan tenang namun memancarkan aura mengintimidasi.
"Ada apa ini ribut-ribut di rumah saya pagi-pagi begini, Kak?" tanya Anton dingin.
Desi menoleh ke arah Anton, lalu merubah raut wajahnya menjadi penuh harap seraya menunjuk-nunjuk wajah Maya yang memucat pasi.
"Anton! Bagus kamu turun! Bisa-bisanya perempuan gatal ini malah sembunyi dan jadi pembantu di rumah kamu!" seru Desi histeris.
"Saya datang ke sini memang sengaja cari kamu, Anton. Kamu kan punya firma hukum besar, kamu punya banyak pengacara hebat!" lanjut Desi mendekati Anton.
"Saya mau minta tolong sama kamu buat seret perempuan ini ke penjara! Dia yang udah bikin anak saya mati di malam pertama mereka!"
Mendengar kata penjara meluncur dari mulut kakak iparnya, Maya seketika hilang tumpuan dan merosot jatuh bersimpuh di atas lantai dingin.
Ia merangkak mendekati kaki Desi, mencengkeram ujung kain gaun mertuanya dengan kedua tangan yang bergetar hebat penuh keputusasaan.
"Ibu, Maya mohon, Bu... jangan penjarakan Maya! Maya nggak bohong, kecelakaan itu murni musibah, bukan salah Maya, Bu!" isak Maya pecah seketika.
"Maya udah nggak punya siapa-siapa lagi, Bu. Tolong kasihanin Maya, jangan jebloskan Maya ke penjara," mohonnya dengan napas tersengal-sengal.
"Lepasin tangan kotor kamu dari baju saya!" bentak Desi penuh rasa jijik.
Tanpa belas kasih, Desi mengayunkan kakinya dan menendang dada Maya hingga tubuh wanita malang itu menghempas lantai marmer cukup keras.
"Aghh!" ringis Maya kesakitan, memegangi dadanya seraya terbatuk-batuk kecil di atas lantai.
"Kamu tuh nggak tahu diri! Sudah membunuh Riko, sekarang mau sok suci minta dikasihani!" maki Desi lagi, menunjuk wajah Maya yang makin tak berdaya.
"Anton, tunggu apa lagi?! Panggil polisinya sekarang dan jebloskan dia ke penjara! Dia nggak berhak hidup bebas setelah anakku mati!"
Maya hanya bisa terisak tanpa daya, meringkuk kecil di lantai sambil menatap Anton dengan tatapan memelas yang amat sangat.
Di hadapannya, Anton berdiri menjulang bak tembok kokoh, memperhatikan tubuh Maya yang tak berdaya di bawah kendali kakak iparnya sendiri.
Sorot mata kelam Anton memancarkan kedalaman yang tak tertembus, rahang tegasnya mengeras menahan gejolak emosi yang tersimpan rapi.
"Kak Desi," panggil Anton dengan nada suara yang sangat tenang. "Soal tuduhan dan tuntutan hukum itu, biarkan saya yang urus dan pertimbangkan dari sudut pandang hukum firma saya," ujar Anton tanpa beban.
"Tapi sekarang, Kakak sebaiknya pulang dulu. Saya tidak suka ada kegaduhan dan kekerasan di dalam rumah saya sendiri," sambung Anton tegas.
Desi mendengus kasar, tampak sangat tidak puas dengan respons dingin dan lambat dari adik iparnya yang berpengaruh itu.
"Tapi Anton, perempuan ini harus dihukum secepatnya!" tegur Desi lagi dengan nada menuntut.
"Saya bilang pulang sekarang, Kak Desi. Biarkan saya bicara dan menginterogasi Maya secara pribadi dulu," potong Anton tanpa memberi ruang bantahan.
Melihat aura dominasi Anton yang tak tergoyahkan, Desi akhirnya menghentakkan kakinya kesal dan membalikkan badan dengan raut wajah gusar.
"Awas ya kalau kamu malah melindungi dia! Saya tunggu kabar penahanannya dari kamu besok!" ancam Desi seraya melangkah keluar rumah dengan kasar.
Pintu depan terbanting, menyisakan keheningan pekat yang kembali merayap ke seluruh sudut ruangan besar tersebut.
Sementara Maya masih meringkuk pasrah di lantai marmer, bahunya naik turun menahan isak tangis ketakutan yang teramat dalam atas ancaman penjara tadi.
Suara langkah sepatu Anton perlahan mendekat, berhenti tepat di samping tubuh mungil Maya yang bergetar hebat.
Pria itu menunduk dan menatap Maya yang benar-benar tak berdaya di bawah kendali nasib buruknya sendiri.
"Berdiri, Maya," perintah Anton dengan nada bariton yang begitu berat dan rendah.
Maya mendongak perlahan dengan mata yang sembap dan pipi yang masih dibasahi oleh linangan air mata segar.
"Om, tolong aku, Om. A-aku takut dipenjara," bisik Maya dengan suara parau yang amat rapuh.
Namun, Anton tidak mengulurkan tangannya untuk membantu Maya berdiri, melainkan berbalik memunggungi wanita muda tersebut.
"Ikut saya ke ruang kerja sekarang," bisik Anton dingin seraya melangkah pergi menuju ruangan pribadinya.
"Kita bicara soal harga yang harus kamu bayar kalau mau saya bebaskan dari ancaman penjara itu."
Cahaya matahari pagi menyusip tipis dari sela-sela tirai tinggi di lantai satu, membiaskan sinar ke atas marmer dingin kediaman Anton.Suasana rumah megah itu kembali sepi, hanya terdengar gemercik air dan denting halus peralatan dapur saat Maya sibuk menyiapkan sarapan.Tubuh Maya masih terasa remuk. Setiap gerak kecil yang ia buat mengirimkan rasa perih dan pegal yang tersisa dari kejadian semalam di kamar utama.Wajahnya yang pucat merona merah tiap kali ingatan tentang cara Anton mendominasinya kembali melintas di benaknya.Ia mengenakan pakaian kasual yang tertutup rapat hingga batas leher, berusaha menyembunyikan setiap bercak kebiruan yang ditinggalkan pria itu di kulit mulusnya.Dengan jemari yang sedikit gemetar, Maya menata piring berisi omelet dan sepoci kopi hitam panas di atas meja makan kayu jati yang panjang.Saat ia menaruh cangkir terakhir, suara langkah kaki yang berat dan teratur terdengar mendekat dari arah tangga.Anton muncul dengan kemeja abu-abu yang lengannya
Maya menelan ludah, sementara tubuhnya masih gemetar di pelukan Anton.Napas pria itu hangat dan berat di ceruk lehernya, sementara bibir kasarnya terus menyesap kulit mulus yang berdenyut di bawahnya.Anton tampak tidak buru-buru.Ia justru menikmati setiap reaksi kecil yang lolos dari tubuh Maya, desahan tertahan, getaran di paha, dan cara jari-jari mungil itu mencengkeram kemeja putihnya seolah mencari pegangan.“Om… ah…”Anton mengangkat wajahnya sebentar.Matanya menggelap, penuh rasa lapar, tapi penuh kendali.Ia menunduk lagi dan merebut bibir Maya dalam ciuman yang dalam dan dominan.Lidahnya mendorong masuk tanpa meminta izin, mengeksplorasi, menghisap, dan menggigit pelan bibir bawah Maya sampai wanita itu tersengal.Ciuman itu bukan lembut. Ia menuntut.Anton menekan tubuh Maya ke dinding kamar, satu lututnya menyisip di antara paha Maya, memaksa gaun sutra merah itu tersingkap sedikit lebih tinggi.Tangan kekarnya turun ke punggung Maya, mencari ritsleting gaun. Dengan sat
"Ta-tapi, Om. Aku... aku belum siap kalau sekarang. Pesta... pesta bukannya udah mau mulai?" tanya Maya dengan gagap.Anton tak langsung menjawab. Jemari tangannya yang kokoh terangkat, menyapu helai rambut basah Maya yang menempel di leher jenjangnya.Sentuhan kasar namun perlahan itu mengirimkan gelombang sengatan dingin yang menjalar lurus ke tulang belakang Maya."Saya tahu kapan harus menagih hak saya, Maya," bisik Anton serak, hingga hembusan napas hangatnya menyapu permukaan kulit pipi Maya yang membara."Ganti pakaian kamu. Saya tunggu di bawah dalam waktu lima belas menit. Jangan membuat saya menunggu."Tanpa menunggu balasan, Anton berbalik dan melangkah keluar kamar, meninggalkan pintu yang sengaja dibiarkan sedikit terbuka.Maya merosot pelan di tepi ranjang, lalu meremas kain sutra di pangkuannya sambil berusaha menata detak jantungnya yang bergemuruh liar.Tiga puluh menit kemudian, sebuah mobil sedan hitam mewah meluncur membelah jalanan kota yang masih dibasahi sisa ai
Jam menunjukkan angka tujuh malam.Maya berdiri di tengah kamar tamunya yang luas, baru saja menyela sisa-sisa tetesan air di tubuhnya usai mandi malam.Rambut panjangnya yang masih setengah basah terurai berantakan di atas bahunya yang polos dan terbuka.Hanya selembar handuk putih tebal yang membebat ketat dada hingga sebatas paha mulusnya, memperlihatkan lekuk tubuh rapuhnya yang begitu terbuka.Klik.Suara engsel pintu yang terdorong tanpa ketukan terdengar memecah sunyinya ruangan."Aaa!" jerit Maya spontan seraya menutupi dadanya dengan kedua tangan, refleks berbalik membelakangi pintu.Namun, di detik berikutnya, ingatan tentang perjanjian terlarang di ruang kerja Anton tadi siang langsung menghantam kesadarannya.Darah di tubuhnya serasa berdesir dingin, mengingatkannya bahwa kepemilikan atas raga ini bukan lagi mutlak miliknya.Maya menelan ludah dengan susah payah, berbalik pelan seraya menundukkan wajahnya yang terasa membakar."Ada... ada apa, Om?" bisik Maya dengan suara
Keheningan pekat seketika membungkus ruang kerja serba kayu jati itu.Maya masih berlutut di lantai dingin, menengadahkan wajahnya yang sembap dengan sepasang mata membiru menatap pria tegap di hadapannya.Anton tak segera menjawab penawaran pasrah itu.Ia perlahan bangkit dari kursi kulit mewahnya, melangkah memutari meja hingga kini berdiri tepat menjulang di depan tubuh mungil Maya.Pria itu menyilangkan kedua tangannya di dada, menunduk menatap keponakan menantunya yang seperti domba pasrah di ujung tanduk."Kamu bilang bersedia kerjakan apa aja asalkan saya mau berdiri di pihak kamu, kan?"Suara bariton Anton mengalun begitu rendah, sarat akan tekanan intim yang membuat bulu kuduk Maya seketika meremang.Pria dewasa itu membungkuk sedikit, memangkas jarak di antara wajah mereka hingga aroma parfum maskulin berselimut kayu cendana menusuk tajam ke indra penciuman Maya."Penjara itu dingin, Maya. Dan di mata hukum, kamu sama sekali nggak punya posisi tawar buat membela diri," bisik
"Tutup pintunya, Maya. Duduk di depan saya," perintah Anton saat tiba di dalam ruang kerjanya.Maya memutar badannya perlahan, mendorong pintu jati itu hingga terkunci rapat dengan bunyi klik pelan yang memicu kembali debar di dadanya.Dengan tungkai yang masih terasa lemas, ia melangkah mendekati meja kerja Anton lalu menduduki salah satu kursi kulit di hadapan pria tersebut."Om, tolong aku, Om. Aku beneran takut dipenjara," bisik Maya dengan suara parau yang amat rapuh.Namun, Anton tak langsung menjawab, melainkan menyilangkan jemari tangannya di atas meja seraya menatap lurus ke dalam sepasang mata Maya yang sembap.Sorot mata kelam sang pengacara kondang itu terasa begitu pekat dan peka, menelusuri raut wajah pucat Maya tanpa menyisakan celah."Sebelum saya bicara soal bantuan, saya mau tahu cerita yang sebenarnya dulu," tutur Anton datar namun sarat akan penekanan."Ceritakan ke saya gimana kronologi kecelakaan malam itu, Maya. Jangan ada satu pun detail yang kamu tutupi dari s







