Share

Chapt. 6

Author: Miss E
last update publish date: 2026-08-31 10:48:40

Jam menunjukkan angka tujuh malam.

Maya berdiri di tengah kamar tamunya yang luas, baru saja menyela sisa-sisa tetesan air di tubuhnya usai mandi malam.

Rambut panjangnya yang masih setengah basah terurai berantakan di atas bahunya yang polos dan terbuka.

Hanya selembar handuk putih tebal yang membebat ketat dada hingga sebatas paha mulusnya, memperlihatkan lekuk tubuh rapuhnya yang begitu terbuka.

Klik.

Suara engsel pintu yang terdorong tanpa ketukan terdengar memecah sunyinya ruangan.

"Aaa!" jerit Maya spontan seraya menutupi dadanya dengan kedua tangan, refleks berbalik membelakangi pintu.

Namun, di detik berikutnya, ingatan tentang perjanjian terlarang di ruang kerja Anton tadi siang langsung menghantam kesadarannya.

Darah di tubuhnya serasa berdesir dingin, mengingatkannya bahwa kepemilikan atas raga ini bukan lagi mutlak miliknya.

Maya menelan ludah dengan susah payah, berbalik pelan seraya menundukkan wajahnya yang terasa membakar.

"Ada... ada apa, Om?" bisik Maya dengan suara bergetar pelan.

Anton berdiri tegak di ambang pintu, tampil sangat memikat dengan kemeja hitam yang lengannya tergulung rapi.

Pria itu melangkah masuk tanpa terburu-buru, menutup pintu di belakangnya seraya mengunci tatapannya rapat-rapat pada sosok Maya.

Pria dewasa itu menatap Maya secara intens, menyusuri setiap inci penampilan wanita muda itu dari ujung kaki hingga ujung kepala.

Tatapan sepasang mata kelam yang begitu mendominasi itu membuat Maya merinding hebat, hingga tanpa sadar ia kembali menelan ludahnya.

"Saya cuma mau serahkan ini buat kamu pakai malam ini," tutur Anton dengan suara baritonnya yang amat rendah dan serak.

Pria itu mengulurkan sebuah goodie bag kertas berwarna hitam elegan berlogo merek busana ternama di hadapan Maya.

Maya menatap tas itu sejenak dengan ragu sebelum akhirnya menjulurkan tangannya yang gemetaran untuk menerimanya.

"Malam ini jam delapan akan ada pesta pertemuan penting dengan beberapa kolega bisnis saya," lanjut Anton seraya bersedekap dada.

"Dan tugas pertama kamu dari perjanjian kita adalah menemani saya ke sana malam ini, sebagai pasangan saya," sambung Anton tanpa cela.

Maya menatap Anton dengan binar mata terkejut, tak menyangka tugas pertamanya bukan berada di atas ranjang kamar ini.

Dengan jemari yang canggung, Maya membuka tas tersebut dan menarik keluar selembar busana dari dalam bungkus kainnya.

Seketika itu juga, sepasang mata Maya membesar tatkala jemarinya menyentuh kain sutra halus berwarna merah menyala.

Itu adalah sebuah gaun malam yang sangat mewah, namun memiliki potongan dada yang begitu rendah dan terbuka.

Maya menatap potongan gaun itu dengan napas tersengal pelan, membayangkan betapa terbukanya bagian dadanya jika gaun ini melekat di tubuhnya.

"Om... gaun ini... terbuka banget," cicit Maya pelan seraya menelan ludahnya untuk kesekian kali.

Anton menyipitkan matanya sedikit, memperhatikan raut wajah canggung dan rona merah di pipi wanita di depannya.

"Gaun itu pas buat tubuh kamu, dan memang itu yang saya mau kamu pakai malam ini," balas Anton dingin tanpa memberi ruang negosiasi.

Pria itu mengambil satu langkah lebih dekat, memangkas jarak di antara mereka hingga aroma parfum maskulinnya menguar tajam.

"Dengar baik-baik, Maya. Di pesta nanti, ada banyak mata yang bakal mengawasi kita berdua," jelas Anton dengan raut wajah sangat serius.

"Tugas kamu cuma berdiri di samping saya, tersenyum, dan ikuti semua pergerakan saya di sana."

Maya mendongak menatap rahang tegas Anton, mendengarkan setiap instruksi yang meluncur dari bibir pria berkuasa tersebut.

"Jangan kaku dan jangan pernah jawab dengan detail kalau ada yang tanya soal latar belakang kamu," tambah Anton menekan kata per kata.

"Sebagian besar tamu yang datang di pesta itu sebenarnya musuh tersembunyi saya di dunia bisnis dan hukum."

Penjelasan itu membuat beban di dada Maya terasa kian menggelembung berat, membayangkan intrik di balik kemewahan pesta tersebut.

Namun, Maya sadar betul bahwa ia tidak berada di posisi yang sanggup menawar atau menolak perintah Anton sedikit pun.

Maya menganggukkan kepalanya dengan pelan, membiarkan kepasrahan mengambil alih sisa-sisa daya juangnya.

"Aku paham, Om, aku bakal nurutin apa kata Om nanti di sana," bisik Maya dengan suara pasrah yang amat lembut.

Ia mencengkeram kain gaun merah itu di dadanya, mencoba mengalihkan pandangan dari sorot mata kelam yang terus menguncinya.

"Kalau gitu, aku permisi dulu buat ganti baju dan pakai gaun ini, Om," pamit Maya canggung seraya menunjuk ke arah pintu kamar mandi.

Mendengar ucapan itu, alis tebal Anton perlahan terangkat sebelah, menggariskan kurva keheranan yang sarat akan sindiran terselubung.

Pria itu tak bergeming sedikit pun dari posisinya, justru menatap tajam ke arah simpulan handuk putih yang membebat ketat dada Maya.

"Kenapa harus ke kamar mandi?" tanya Anton serak dengan nada suara yang mendadak berubah amat dalam.

Maya tersentak kaget, menatap Anton dengan pandangan bingung yang dipenuhi rasa gugup luar biasa.

"Maksud... maksud Om gimana?" cicit Maya patah-patah seraya merapatkan pegangannya pada gaun di dadanya.

Anton maju satu langkah lagi, berdiri tepat di hadapan Maya hingga wanita itu bisa merasakan hawa panas memancar dari dada tegap sang duda.

Pria itu menundukkan wajahnya perlahan, memangkas jarak di antara bibir mereka hingga hembusan napas hangatnya menyapu lembut permukaan kulit leher Maya.

"Bukankah setelah ini saya juga bakal lihat seluruh tubuh kamu tanpa selembar kain pun, Maya?" bisik Anton tepat di depan telinga Maya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Janda Perawan Kesayangan Om Anton   Chapt. 8

    Maya menelan ludah, sementara tubuhnya masih gemetar di pelukan Anton.Napas pria itu hangat dan berat di ceruk lehernya, sementara bibir kasarnya terus menyesap kulit mulus yang berdenyut di bawahnya.Anton tampak tidak buru-buru.Ia justru menikmati setiap reaksi kecil yang lolos dari tubuh Maya, desahan tertahan, getaran di paha, dan cara jari-jari mungil itu mencengkeram kemeja putihnya seolah mencari pegangan.“Om… ah…”Anton mengangkat wajahnya sebentar.Matanya menggelap, penuh rasa lapar, tapi penuh kendali.Ia menunduk lagi dan merebut bibir Maya dalam ciuman yang dalam dan dominan.Lidahnya mendorong masuk tanpa meminta izin, mengeksplorasi, menghisap, dan menggigit pelan bibir bawah Maya sampai wanita itu tersengal.Ciuman itu bukan lembut. Ia menuntut.Anton menekan tubuh Maya ke dinding kamar, satu lututnya menyisip di antara paha Maya, memaksa gaun sutra merah itu tersingkap sedikit lebih tinggi.Tangan kekarnya turun ke punggung Maya, mencari ritsleting gaun. Dengan sat

  • Janda Perawan Kesayangan Om Anton   Chapt. 7

    "Ta-tapi, Om. Aku... aku belum siap kalau sekarang. Pesta... pesta bukannya udah mau mulai?" tanya Maya dengan gagap.Anton tak langsung menjawab. Jemari tangannya yang kokoh terangkat, menyapu helai rambut basah Maya yang menempel di leher jenjangnya.Sentuhan kasar namun perlahan itu mengirimkan gelombang sengatan dingin yang menjalar lurus ke tulang belakang Maya."Saya tahu kapan harus menagih hak saya, Maya," bisik Anton serak, hingga hembusan napas hangatnya menyapu permukaan kulit pipi Maya yang membara."Ganti pakaian kamu. Saya tunggu di bawah dalam waktu lima belas menit. Jangan membuat saya menunggu."Tanpa menunggu balasan, Anton berbalik dan melangkah keluar kamar, meninggalkan pintu yang sengaja dibiarkan sedikit terbuka.Maya merosot pelan di tepi ranjang, lalu meremas kain sutra di pangkuannya sambil berusaha menata detak jantungnya yang bergemuruh liar.Tiga puluh menit kemudian, sebuah mobil sedan hitam mewah meluncur membelah jalanan kota yang masih dibasahi sisa ai

  • Janda Perawan Kesayangan Om Anton   Chapt. 6

    Jam menunjukkan angka tujuh malam.Maya berdiri di tengah kamar tamunya yang luas, baru saja menyela sisa-sisa tetesan air di tubuhnya usai mandi malam.Rambut panjangnya yang masih setengah basah terurai berantakan di atas bahunya yang polos dan terbuka.Hanya selembar handuk putih tebal yang membebat ketat dada hingga sebatas paha mulusnya, memperlihatkan lekuk tubuh rapuhnya yang begitu terbuka.Klik.Suara engsel pintu yang terdorong tanpa ketukan terdengar memecah sunyinya ruangan."Aaa!" jerit Maya spontan seraya menutupi dadanya dengan kedua tangan, refleks berbalik membelakangi pintu.Namun, di detik berikutnya, ingatan tentang perjanjian terlarang di ruang kerja Anton tadi siang langsung menghantam kesadarannya.Darah di tubuhnya serasa berdesir dingin, mengingatkannya bahwa kepemilikan atas raga ini bukan lagi mutlak miliknya.Maya menelan ludah dengan susah payah, berbalik pelan seraya menundukkan wajahnya yang terasa membakar."Ada... ada apa, Om?" bisik Maya dengan suara

  • Janda Perawan Kesayangan Om Anton   Chapt. 5

    Keheningan pekat seketika membungkus ruang kerja serba kayu jati itu.Maya masih berlutut di lantai dingin, menengadahkan wajahnya yang sembap dengan sepasang mata membiru menatap pria tegap di hadapannya.Anton tak segera menjawab penawaran pasrah itu.Ia perlahan bangkit dari kursi kulit mewahnya, melangkah memutari meja hingga kini berdiri tepat menjulang di depan tubuh mungil Maya.Pria itu menyilangkan kedua tangannya di dada, menunduk menatap keponakan menantunya yang seperti domba pasrah di ujung tanduk."Kamu bilang bersedia kerjakan apa aja asalkan saya mau berdiri di pihak kamu, kan?"Suara bariton Anton mengalun begitu rendah, sarat akan tekanan intim yang membuat bulu kuduk Maya seketika meremang.Pria dewasa itu membungkuk sedikit, memangkas jarak di antara wajah mereka hingga aroma parfum maskulin berselimut kayu cendana menusuk tajam ke indra penciuman Maya."Penjara itu dingin, Maya. Dan di mata hukum, kamu sama sekali nggak punya posisi tawar buat membela diri," bisik

  • Janda Perawan Kesayangan Om Anton   Chapt. 4

    "Tutup pintunya, Maya. Duduk di depan saya," perintah Anton saat tiba di dalam ruang kerjanya.Maya memutar badannya perlahan, mendorong pintu jati itu hingga terkunci rapat dengan bunyi klik pelan yang memicu kembali debar di dadanya.Dengan tungkai yang masih terasa lemas, ia melangkah mendekati meja kerja Anton lalu menduduki salah satu kursi kulit di hadapan pria tersebut."Om, tolong aku, Om. Aku beneran takut dipenjara," bisik Maya dengan suara parau yang amat rapuh.Namun, Anton tak langsung menjawab, melainkan menyilangkan jemari tangannya di atas meja seraya menatap lurus ke dalam sepasang mata Maya yang sembap.Sorot mata kelam sang pengacara kondang itu terasa begitu pekat dan peka, menelusuri raut wajah pucat Maya tanpa menyisakan celah."Sebelum saya bicara soal bantuan, saya mau tahu cerita yang sebenarnya dulu," tutur Anton datar namun sarat akan penekanan."Ceritakan ke saya gimana kronologi kecelakaan malam itu, Maya. Jangan ada satu pun detail yang kamu tutupi dari s

  • Janda Perawan Kesayangan Om Anton   Chapt. 3

    Maya melepaskan pegangan tangannya pada pakaian ganti itu dengan tergesa-gesa, melangkah mundur satu tapak untuk menjauhkan diri dari Anton."Ma-maaf, Om... aku ganti baju dulu di dalam," bisik Maya pelan seraya menundukkan wajahnya dalam-dalam.Anton mengamati raut wajah Maya yang memerah pasrah, lalu menarik kembali tangannya dengan gerakan yang teratur dan tenang."Kamar mandi ada di sebelah kanan. Jangan lupa kunci pintunya dari dalam," balas Anton datar seraya berbalik melangkah keluar kamar.Pria itu sempat menghentikan langkahnya sebentar di ambang pintu, menoleh sedikit tanpa menatap mata Maya."Setelah ini langsung tidur. Besok pagi tugas kamu sudah menunggu di bawah," sambungnya tegas sebelum akhirnya menutup pintu kamar itu rapat-rapat.Dua hari berlalu dengan amat cepat di bawah atap megah milik Anton yang sunyi.Maya mulai terbiasa dengan rutinitas barunya sebagai seorang pelayan, menyapu lantai marmer hingga mengelap perabotan mahal milik Anton.Selama empat puluh delapa

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status