เข้าสู่ระบบIstri mana yang bisa akur bila seatap dengan mertua? Yang jelas bukan aku! Di mata mertuaku, apa pun yang kulakukan selalu salah. Suamiku, Mas Bram, bahkan ikut mencaci karena termakan hasutan ibunya. Segala perbuatan keji mereka selama ini kutahan kuat-kuat. Sampai puncaknya ketika Mas Bram berniat menikah lagi hanya karena penampilanku yang kumal semenjak menjadi ibu rumah tangga, tak secantik saat masih gadis. Penolakanku justru membuat mereka tega memisahkanku dari anakku, juga membuatku menjadi janda paling malang. Cukup sudah kalian menginjak-injakku! Kini saatnya aku tunjukkan pada kalian siapa diriku yang sebenarnya.
ดูเพิ่มเติม***
"Astaga! Aku terlambat!" Bus pergi tepat saat perempuan dengan blouse biru dan celana kulot khaki itu mencapai halte. Kila menahan umpatan di ujung bibirnya. Ia melirik Jam di pergelangan tangannya, pukul 7 pagi. Jika memesan ojek online sekarang, setidaknya 50.000 rupiah akan melayang. Jumlah yang cukup menyakitkan untuk seseorang yang baru tiga hari lalu menerima tagihan kontrakan! "Mau bagaimana lagi?!" Kila menepuk pipinya. Dengan enggan, akhirnya dikeluarkan ponselnya dari dalam tas. Namun sebelum aplikasi itu terbuka, sebuah bus lain terlihat dari kejauhan. Kila menatap nomor rute di kaca depan dan menghela napas lega. "Wah, untung saja!" Kila segera naik begitu pintu otomatis bus terbuka, menyambut udara AC yang langsung mendinginkan kulitnya yang gerah. Beruntung, di antara barisan penumpang yang padat pagi ini, masih tersisa satu kursi kosong di baris tengah. Rupanya pagi ini belum sepenuhnya buruk. Kila bergegas mengambil tempat di sana. Tepat di samping kursi itu, duduk seorang pria berbaju hitam yang sedang fokus membaca buku. "Permisi," sapa Kila. Pria itu mengangkat wajahnya lalu tersenyum ketika Kila mendekatinya. Kila terdiam sesaat. "Ah... Raynar?" Pria itu tampak sama terkejutnya. Pandangannya sempat berhenti di rambut Kila yang sedikit berantakan sebelum akhirnya tersenyum kecil. "Kila? Benar?" "Ya, hehehe." Kila segera duduk, berusaha terlihat santai meski entah kenapa tawanya terdengar sedikit canggung duduk di samping Raynar. "Dari mana? Kok naik bus?" "Habis dari Solo kemarin, cari beberapa barang antik di Pasar Triwindu," jawab Raynar sambil menutup bukunya. "Tapi mobilku mendadak rewel di sana dan harus masuk bengkel. Jadi, terpaksa deh pulang naik bus." "Oh, pantesan," sahut Kila manggut-manggut paham. Memang, Raynar punya mobil VW jadul berwarna kuning. Raynar tersenyum lalu kembali fokus ke bukunya. Ujung siku pria itu tak sengaja menyentuh lengan Kila seiring guncangan bus. Kila buru-buru menjauhkan lengannya. Raynar adalah pemilik toko barang antik di dekat tempatnya bekerja. Setiap kali Kila melewati toko itu, mereka kadang saling menyapa singkat. Kila belum pernah masuk ke dalam toko yang kelihatannya menyeramkan itu. Dari luar etalasenya gelap, penuh benda-benda tua yang membuatnya tak pernah benar-benar berani masuk. Tapi pemiliknya… ternyata tidak seseram tokonya. Bus masih bergerak. Mereka diam. Tidak ada topik , dan justru itu membuat jarak di antara mereka terasa lebih sempit. Kila mengusap lengannya, memastikan detak jantungnya. Ini terlalu dekat. Di sampingnya ada seorang laki-laki—situasi yang biasanya langsung membuat tubuhnya menegang, mual, atau panik. Namun, kali ini semuanya terasa normal. Tidak ada yang bergejolak dari dalam dirinya. Bus melewati beberapa blok jalanan kota yang mulai ramai. Kila melirik jam tangannya. Lima belas menit lagi ia akan terlambat masuk kerja. "Kamu sudah terlambat masuk kerja?" tanya Raynar tiba-tiba. Kila tersentak kecil. "Hah? Hm… semoga tidak." Ia buru-buru mengecek ponselnya. Tidak ada notifikasi apa pun, setidaknya kalau ada email masuk ia bisa cepat meresponnya. Kila bersandar kembali di kursi. Di sampingnya, Raynar juga memandang ke luar jendela. Cahaya pagi menyorot wajahnya sesaat—Kila menyadari, tenyata Raynar memiliki warna mata yang berbeda. Perbedaannya cukup terlihat karena tersorot cahaya matahari yang menembus kaca jendela bus. Garis muka, hidungnya yang mancung dan rahangnya yang tegas mengatakan dia orang yang rupawan. Raynar menoleh, dan tatapan mereka bertemu. Kila cepat-cepat mengalihkan pandangan. "Kita hampir sampai," kata Raynar, tersenyum kecil. Kila tersadar dan segera berdiri, menyampirkan tali tasnya ke bahu. Raynar mengikuti di belakangnya. Bus berhenti tepat di depan halte. Suasana di sana cukup padat, memaksa mereka ikut mengantre menunggu penumpang lain turun satu per satu. Kila menghela napas pelan. Setidaknya sudah sampai. Tapi jam di kepalanya terus berdetak lebih cepat dari biasanya, entah tinggal berapa menit lagi, yang dia jelas akan terlambat! Ternyata Raynar berjalan lebih dulu di depannya. Kila bingung berapa panjangnya kaki pria itu, hingga langkahnya lebih cepat padahal pria itu ada di belakangnya tadi. "Aku duluan, selamat bekerja." Raynar berhenti di depan tokonya. "Selamat bekerja..." Kila melambaikan tangannya kepada Raynar sambil akhirnya berlari-lari kecil. Pintu masuk kantornya sudah nampak, dan jam di atas pintu itu menunjukkan angka kalau Kila tidak telat! "Ah…," Kila menghela napas lega, akhirnya mulai berjalan santai. Beberapa karyawan juga ada yang baru datang, mereka juga sama tampak tergesa-gesa seperti Kila. "Selamat pagi, Kila," sapa petugas keamanan saat ia melewati pintu detektor. "Selamat pagi," balas Kila sambil tersenyum kecil, lalu memakai kartu lanyard ID karyawannya. Ia pun buru-buru menuju lift. Saat tangannya hampir menyentuh tombol, seseorang lebih dulu menekannya. Kila menoleh, lalu menelan napasnya. Ternyata Pak Aksara. Pria 180 cm itu berdiri di sampingnya—membuat Kila begitu kecil di bawah bayangannya. Pria itu hanya menatap lurus ke depan dengan ekspresi datar seperti biasa. "Ah… ma-maaf, Pak!" Kila refleks mundur setengah langkah. Resahnya mulai menggeliat, pagi ini mulai terasa membebaninnya. "Kamu sibuk?" Tanya Aksara tiba-tiba. Kila diam, menunduk, dan memandangi sepatu bosnya itu. "Saya harus mempersiapkan bahan rapat siang ini," jawabnya pelan. "Oh." Aksara tidak bertanya lagi. Tak lama, denting lift berbunyi. Ketika pintunya terbuka, mereka melangkah masuk bersamaan. Kila sengaja mengambil posisi di sudut paling belakang, berdiri sedikit menjauh demi menjaga jarak amannya. Pintu lift menutup perlahan, mengurung mereka dalam kotak keheningan. "Kamu belum jawab pertanyaanku minggu lalu." Suara pria itu menggema berat di sekitar dinding lift. Kila diam. Telapak tangannya mulai terasa dingin. "Aku masih menunggu jawabanmu," lanjut Aksara tanpa menoleh. Atmosfer di dalam lift terasa makin mencekam bagi Kila. Ia berusaha tenang, tapi kembali bersumpah tidak akan pernah menjawab apa pun. Jelas, minggu lalu adalah kesalahan terbesar dalam hidupnya! Kila terkesiap. Tiba-tiba menyadari tangan Aksara bergerak, berniat menyentuh tangannya. Panik itu menjalar seketika, Kila melipat tangannya segera menghindari kontak fisik itu. Jantungnya berdetak cepat, matanya menatap lekat angka-angka lantai di atas pintu. Dalam hati, dia berharap setengah mati agar pintu lift sialan itu segera terbuka. Ding! Begitu pintu lift terbuka, Kila buru-buru melesat mendahului atasannya itu tanpa menoleh lagi. Kila Damaya, seorang sekretaris. Di umurnya yang menginjak 26 tahun ini, ia tidak memiliki pacar, bahkan tidak sedang menyukai siapa pun. Padahal, hampir setiap minggu kedua orang tuanya selalu menanyakan kapan dirinya akan membawa calon suami atau minimal seorang kekasih ke rumah. Dari kejauhan, tampak Pak Aksara berjalan ke arah meja kerjanya. Kila refleks menunduk, mencoba membuat tubuhnya tenggelam di balik sekat meja agar terhindar dari kontak mata dengan bosnya itu. Kila tahu, dia tidak mungkin bisa menghindari Aksara. Tapi dirinya benar-benar menyesali kejadian minggu lalu. Sebuah kesalahan membuatnya terbebani! "Hei, gimana kamu sudah siapin bahan buat rapat nanti?" Lina tiba-tiba menepuk pundaknya dari belakang. Kila hampir saja meloncat dari kursinya. "Astaga, kamu mengejutkanku!" Kila menepuk lengan Lina, teman sekantornya yang bekerja di bagian HRD. "Su-sudah selesai dari kemarin, sih. Tapi aku mau cek lagi materi presentasiku," tambah Kila sambil menyalakan komputernya yang ternyata sudah selesai diperbaiki. "Eh, jam berapa meetingnya?" "Benar-benar ganteng Pak Aksa," gumam Lina yang ternyata tidak mendengarkan Killa. Tatapannya justru teralih ke arah ruang kerja Pak Aksara yang berdinding kaca transparan. Dari kubikel, sang bos memang bisa dengan mudah mengawasi para pekerja dari balik jendela-jendela besar itu. "Hm?" Kila pun menyahut sekenanya. Ia berpura-pura sibuk membuka bahan presentasi untuk mengalihkan gugupannya. "Eh, tau kan ada gosip kalau dia lagi punya hubungan spesial sama seseorang. Sepertinya salah satu staf di kantor ini." Kila seketika menoleh. Matanya melebar, menatap Lina. "Go-gosip?" "Iya, minggu lalu sempat bikin heboh, kan? Beberapa orang melihat ada bekas cupang di leher Pak Aksara," bisik Lina misterius. CUPANG? Kila membesarkan matanya lagi. Jantungnya seolah merosot ke perut. Ternyata bekas gigitan itu terlihat orang?! "Ba… bagaimana bisa menggosipkan Pak Aksara punya hubungan spesial dengan orang kantor ini?" Kila mencoba menormalkan suaranya yang mulai bergetar. "Entahlah, namanya juga gosip. Lagian kamu tahu sendiri kan, minggu kemarin Pak Aksara stay terus dan suka lembur karena dia baru saja dipindahkan ke sini. Makanya pas ada bekas kayak gitu di lehernya, orang-orang langsung mikir kejadiannya pasti pas dia lagi lembur-lemburnya!" Lina melipat tangan di dada. Ia mendadak diam dan menatap Kila lekat-lekat. Kila membalas tatapan itu dengan wajah gugup. Jantungnya berdebar-debar ekstrem. Jangan-jangan… "Tapi ya... yang pasti pelakunya bukan kamu, sih!" Lina tiba-tiba tertawa renyah, lalu melenggang pergi meninggalkan Kila yang masih membeku. Kila memaksakan diri ikut tertawa hambar. Begitu Lina menjauh, ia langsung menelungkupkan kepala ke atas meja kerjanya. "Haaah…!" Kila tahu dirinya telah bertindak sangat bodoh karena kurang hati-hati! Betapa tajamnya mata orang-orang di kantor ini. Kila bahkan sama sekali tidak menyadari... kalau ia sampai meninggalkan bekas itu di tubuh bosnya! Aksara Kalandra. Pria itu jelas sangat menawan, gagah, mapan, dan usianya juga lebih dari cukup untuk membangun rumah tangga. Sayangnya, Kila sama sekali tidak berminat membangun hubungan dengan bosnya itu! ***Di pusara yang berhiaskan rumput jepang Lidya menangis sejadi-jadinya. Hari ini tepat satu bukan kepergian Santoso dan hari pertama Lidya diperbolehkan keluar dari rumah sakit. Kondisi yang sangat parah membuat dirinya sering drop."Pi, aku menyesal. Sangat menyesal. Andai waktu itu aku mendengar kata Kak Sonia, pasti semua ini nggak akan kayak gini.""Pi, kenapa harus pergi dengan cara gini? Kenapa papi perginya nggak bawa aku sekalian aja?"Air mata Lidya mengalir deras tanpa jeda. Mata dan hidungnya merah. Suaranya pun terdengar parau. Dari jarak satu meter Sonia hanya diam membisu seraya menatap sendu adik bungsunya yang meratapi kepergian lelaki tercintanya."Sudah, Lid. Papi sudah tenang di sana. Nggak sakit lagi." Sonia akhirnya menghampiri tubuh ringkih adiknya yang memeluk pusara Santoso.Lidya yang tak sesehat dulu jelas membuat Sonia khawatir. Apalagi bagian kepalanya yang bocor akibat jatuh dari tangga sebulan yang lalu itu."Lepasin aku, Kak. Aku mau disini nemenin papi."
Rumah kediaman Santoso yang biasanya lengang, kini ramai didatangi oleh para pelayat. Pagi hari, jenazah Santoso dibawa pulang, karena atas keinginan Shanti otopsi diberhentikan, mengingat Shanti tak ingin jenazah suaminya itu melewati lima waktu sholat. Shanti tak ingin jenazah suaminya itu masih merasakan siksa dunia.Sanak saudara, klien, dan rekan kerja Santoso dulu turut hadir memberi doa sebelum Santoso dikebumikan. Dalam keramaian para pelayat yang datang, belum tampak batang hidung Ratna dan Devina. Mereka baru pagi ini terbang ke Jogja setelah semalam diberitahu oleh Arjuna.Pukul sebelas siang, Ratna dan Devina sampai juga di rumah duka. Shanti memeluk tubuh Ratna dengan erat."Maaf jika aku membawa sial, Mi. Kalau aku tidak ada mungkin papi masih ada," sesal Ratna seraya berbisik pada Shanti."Ini takdir Yang Maha Kuasa. Kamu bukan pembawa sial. Melalui kamu, Allah menyadarkan mami dari maruknya harta dan tahta."Tapi, Mi ….""Sudah, Ratna. Kamu tidak perlu terus-terusan me
Santoso mengalihkan pandangannya ke arah Lidya yang tertunduk takut."Benar apa yang dikatakan mami kamu, Lidya?" tanya Santoso dengan lantang.Hening tanpa jawaban. Tak dijawab langsung membuat emosi Santoso membuncah."Lidya, jawab papi!" teriak Santoso. Emosi yang tak terkontrol membuat Santoso drop seketika. Tangan kanannya memegang dada."Aaauuu …," pekiknya bersamaan dengan jatuhnya tubuh berbobot cukup besar itu ke lantai. Arjuna yang tidak begitu memperhatikan Santoso kalah cepat menyambut tubuh papinya itu."Mas!" pekik Shanti."Papi …," teriak Lidya histeris.Arjuna memapah tubuh Santoso dan merebahkannya di sofa.Napas Santoso tersengal-sengal menahan sesak."Ngapain kamu bengong, Lidya. Cepat telepon dokter!" desak Shanti yang panik."Sini aku telpon, mana nomor hape dokternya," ucap Arjuna."Aku nggak hapal, Mas." Lidya berlari menuju lantai dua untuk mengambil ponselnya yang ada di kamar.Namun, saat dirinya berhasil mengambil ponsel dan menuruni anak tangga kurang hati-
"Mami dan Mas Arjuna pasti nggak tahu 'kan kalau papi sakit parah.""Jantung 'kan?""Bukan," bantah Lidya."Lalu apa, Lid. Kamu daritadi setengah-setengah aja ngomongnya. Bikin makin panik," sungut Shanti yang sudah mulai kesal."Papi, sakit kanker paru-paru kata dokter, Mi."Shanti dan Arjuna saling menoleh heran."Kamu jangan asal ngomong ya? Mana mungkin papi kena kanker," protes Shanti. Menurut Shanti, suaminya itu tampak seperti biasanya. Tak ada tanda jika suaminya memginap penyakit yang berbahaya itu."Sudah, sekarang kamu balik ke Jogja, biar aku temui papi besok. Dan, cukup bersikap lancang sama Ratna. Dia itu hanya korban dan kamu tidak punya hak mencampuri semua ini."Lidya bangkit dari duduknya, lalu berdiri berhadapan dengan Arjuna."Tanpa Mas suruh pun aku akan pulang. Tak sudi tinggal disini dengan orang seperti mas dan mami. Egois!"Lidya menyentak dengan kasar saat membuka pintu dan menghempaskannya dengan keras saat menutupnya kembali."Biarkan saja, Ar. Lidya meman
Bram menarik napas dalam-dalam, dirinya cukup shock karena Bapak Willyanto. Sikap Bapak Willyanto yang tegas tanpa banyak sapaan basa-basi hampir membuat Bram kehilangan kata-kata yang sudah dirancang di hari sebelumnya. Kemudian, dia berdehem seraya memperbaiki duduknya serta jas yang dikenakannya.
"Hai, Mas …," sapa Laura manja.Bram yang tengah fokus menatap layar monitor, tersentak kaget."Kamu!" Bram langsung bangkit dari duduknya. Matanya menatap Laura dengan tajam.Saking marahnya, Bram langsung mendorong tubuh istri sirinya itu."Apaan sih, Mas? Aku ini istri kamu, kenapa kamu marah?"Laura
Menghilangkan rasa salah tingkahnya, Galang pun menyeruput minuman teh dingin yang ada di meja. Untung saja Ratna tidak begitu fokus pada gerak-gerik Galang."Bukan siapa-siapa saya, Bu. Cuma orang biasa, sehari-hari cuma ngonten, Bu.""Oh ya? Keren dong berarti, di upload dimana kontennya?" tanya Rat
Ratna bergeming sejenak mendengar ucapan Meisha."Perusahaan Farmasi?" tanya Ratna keheranan."Iya, Bu. Ada Katanya Perusahaan Farmasi Didara.""Kerjasama dalam bentuk apa?""Ibu bisa ke kantor? Kebetulan tadi orangnya ngasih proposal sama juga ninggalin kartu nama," jelas Meisha singkat."Nanti saya kab






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
ความคิดเห็น