Share

Bab 5

Penulis: Fairy Nirmala
last update Tanggal publikasi: 2026-09-01 12:03:20

Suara ombak terus bergulung di antara mereka. Nania masih menatap Adam, menunggu dia berkata bahwa semua ini hanya lelucon. Namun, ekspresi bersalahnya mematahkan harapan itu.

"Aku benar-benar minta maaf," ucap Adam lirih. Jemarinya terkepal erat, seperti sedang mengumpulkan keberanian untuk mengakui semuanya.

"Awalnya selendangmu kusimpan di dalam tas." Adam menunjuk ransel yang tergeletak di dekat kursi lipat. "Kupikir itu tempat yang paling aman."

Nania mengikuti arah telunjuknya. Pikirannya mulai dipenuhi firasat buruk ketika melihat noda biru di bibir tas itu.

"Botol cat airku bocor." Adam mengembuskan napas panjang. "Waktu kubuka, sebagian cat mengenai selendangmu."

Dada Nania mencelus. Selendang itu selalu dijaga baik-baik selama bertahun-tahun, tetapi justru rusak saat berada di tangan orang yang baru dikenal. 

"Aku panik." Adam menundukkan kepala. "Aku pikir kalau langsung dicuci, nodanya masih bisa hilang."

Tatapan Nania mulai beralih ke laut yang membentang luas, merasa sudah bisa menebak bagaimana akhir cerita itu.

"Selendangnya kubawa ke dekat air. Tiba-tiba angin bertiup kencang. Pegangan aku lepas."

Nania membayangkan kain lembut itu melayang jauh. 

Adam menatap laut dengan mata kosong. "Aku lari mengejarnya. Ujung kainnya sudah hampir kuraih, tapi ombak datang duluan.”

"Hampir?" ulang Nania. Hatinya sakit.

"Aku masuk ke laut. Sialnya, aku jatuh." Adam menekuk lengannya. "Lihat."

Baru sekarang Nania menyadari goresan panjang membentang dari lengan bawah hingga siku Adam. Luka itu sudah mengering, tetapi masih tampak merah dan terbuka.

"Jatuh kena batu saat mengejar. Perihnya baru terasa sekarang."

Nania juga baru lihat, celana pendek Adam masih basah hingga hampir selutut, sementara lutut kanannya dipenuhi pasir dan lecet kecil.

Ia benar-benar mengejarnya.

Kesadaran itu membuat kemarahan Nania kehilangan arah. Ia masih sedih, tetapi sulit menyalahkan seseorang yang sudah berusaha sekuat tenaga.

"Aku benar-benar minta maaf." Adam kembali mengulang kalimat itu. "Aku akan menggantinya."

Nania menggeleng pelan. "Nggak perlu."

"Aku bisa mencari yang lebih bagus." Adam berbicara cepat. "Atau memesan kain yang sama persis."

"Itu nggak bisa diganti dengan apa pun." Suara Nania bergetar. "Nggak akan pernah."

Adam terdiam. Wajahnya perlahan kehilangan warna.

Terpaksa Nania membalikkan badan karena matanya mulai berkaca-kaca.

"Aku tahu kamu pasti marah, tapi izinkan aku…”

"Aku nggak marah." Nania menyela tanpa menoleh. "Kamu nggak sengaja."

Adam menghentikan langkah. Anehnya, Nania malah ikut berhenti lalu menatap wajah pria itu. Wajah yang nelangsa dan penuh rasa bersalah. 

Akhirnya, Nania menunjuk sebuah warung kecil di dekat gerbang masuk pantai. "Tunggu di pondok sana, ya. Aku beli obat.”

Beberapa menit kemudian, mereka duduk bersebelahan di pondok. 

Adam membuka botol antiseptik dengan satu tangan. Ia mencoba menuangkannya ke kapas, tetapi cairan bening itu justru tumpah ke telapak tangan.

"Shit!" umpatnya. Ia menunduk malu, buru-buru membersihkan tangan yang belepotan. 

Nania menghela napas. Ternyata lelaki ini sungguh ceroboh.

"Sini." Dia mengambil alih botol obat. "Kalau begini, lukamu keburu sembuh sendiri sebelum berhasil kamu obati."

Adam terkekeh canggung.

Dengan hati-hati, Nania mengoleskan obat di siku pria itu yang terluka. Dari jarak sedekat ini, ia bisa melihat wajah Adam tampak pucat dan bagaimana rahangnya mengeras menahan perih.

"Terima kasih," kata Adam menatapnya dengan sungguh-sungguh. "Izinkan aku tetap bertanggung jawab, Nania."

Nania menurunkan pandangan ke kapas yang kini memerah oleh sisa darah. Tenggorokannya terasa sesak ketika kembali mengingat wajah ibunya.

"Itu hadiah terakhir dari ibuku." Matanya mulai memanas. “Setelah Ibu meninggal, aku selalu pakai selendangnya kalau lagi kangen.” Air mata pun jatuh bercucuran. "Makanya ... itu nggak mungkin bisa tergantikan."

Adam mengacak rambutnya frustasi. Beberapa menit berlalu dalam kesunyian. Nania menangis tanpa suara.

“Subuh tadi, waktu pertama kali lihat kamu lagi sedih, maaf kalau aku cuma bisa bantu sedikit.”

Nania mengangkat wajah yang tertunduk. Adam menatapnya lekat. 

“Di vila juga. Aku tahu kamu nggak baik-baik aja. Dalam hati, rasanya pengen melakukan sesuatu yang lebih menolong. Tapi, aku malah jadi nambahin kesedihan kamu.”

Mendengar nada penyesalan dalam suara lelaki itu, dan mengetahui bahwa orang asing bisa melihat kegelisahannya dengan amat jelas, Nania jadi serba salah. 

Benarkah ada lelaki yang begitu peka dan peduli seperti ini? 

Jika benar pun, Nania sudah memutuskan untuk mengubur segala perasaan negatif yang belakangan ini merajalela di benaknya.

Ia ingin percaya pada Ray dan masih bisa menahan kegundahan seorang diri. Lagipula perlakuan Ray tadi yang memanjakannya sudah membuat hatinya lebih tenang. Ia tidak membutuhkan bantuan siapa pun.

Adam masih menatapnya, intens. Bukan, tatapan itu bukan jenis yang semacam punya maksud tertentu. Ketulusannya terlihat jelas. Polos dan tidak berdaya, mirip anak kecil. 

Nania mengeringkan air mata di pipi. Dia tidak ingin berlama-lama lagi di situasi aneh ini. 

“Aku nggak kenapa-kenapa. Makasih. Sudah, ya. Aku pamit duluan.”

Adam tidak mencegah Nania yang hendak pergi. Ia hanya tertunduk menyesal. 

Ponsel Nania berbunyi. Sekar menelepon.

“Iya halo, ada apa Sekar?” sambutnya menyapa.

“Kak, tolong cepat kembali ke vila! Sekarang!”

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Wave of Love   Bab 53

    Mobil bergemuruh halus melewati jalan kecil menuju vila. Sementara itu, di dalam mobil, hanya ada keheningan. Ray menggenggam kemudi erat-erat, matanya lurus menatap aspal basah. Di sampingnya, Nania memilih membuang pandang ke luar jendela. Bayangan pepohonan melintas cepat, persis seperti kerumunan pikiran yang berlarian di kepalanya. Mereka tidak bicara sejak awal mula perjalanan pulang dari rumah Pak Wira. Tapi Nania tahu, Ray selalu mencuri pandang. ​Mesin akhirnya mati di pelataran vila. Ray melepas sabuk pengaman, keluar, lalu memutar cepat. ​Pintu sisi penumpang terbuka. Ray berdiri di sana, mengulurkan tangan.​Nania melempar tatapan ragu. Sudah berapa lama Ray tak membukakan pintu mobil untuknya? Bulan? Tahun? Atau mungkin ia sudah lupa kapan terakhir kali lelaki itu bersikap perhatian seperti ini. Gestur sederhana itu justru terasa asing, dan suasana jadi makin canggung. ​"Makasih," bisik Nania. Ia menolak menggapai jemari Ray dan memilih bangkit sendiri.​Langkah perta

  • Wave of Love   Bab 52

    Rumah Pak Wira, almarhum Pak RT, masih ramai oleh tamu yang turut bersimpati atas kepergiannya. Nania dan Ray datang secara khusus untuk menjenguk Bu Rosita, istri Pak Wira. Wanita malang itu jatuh sakit setelah mengalami kehilangan yang begitu menyakitkan. Sementara Ray duduk di ruang tamu dengan sanak saudara Pak Wira, Nania masuk ke kamar Bu Rosita. Aroma bunga kantil menguar di sekitar ruangan. Nania melangkah perlahan menembus tirai pintu kamar. ​Di atas pembaringan, Bu Rosita terbaring lemah. Selimut tipis membungkus tubuhnya yang kian menggecil. Sepertinya kesedihan telah mengikis habis sisa-sisa tenaga dari raganya.Rambut wanita tua itu—yang kini hampir seluruhnya memutih—terurai berantakan di atas bantal. Wajahnya pucat pasi. Kedua matanya sembap, bengkak, serta memerah karena terus-menerus menguras air mata sejak kemarin. ​Melihat pemandangan itu, dada Nania serasa diremas. Rasa iba membuncah begitu kuat di relung hatinya. ​Begitu menyadari kehadiran Nania, tangis

  • Wave of Love   Bab 51

    ‘Aku akan pulang nanti malam. Kepala desa meninggal kemarin. Orang-orang mencariku. Mereka memintaku untuk jadi kepala desa yang baru. Nania, aku mohon pengertianmu. Sebaiknya jangan ada orang luar yang tahu masalah kita. Reputasi vila dan dirimu sendiri juga harus dijaga.'Pesan dari Ray itu bagaikan duri tajam yang menusuk ke dalam kulit. Merusak suasana hati yang susah payah dibangun Nania selama berhari-hari.Layar ponselnya masih menyala, menampilkan kalimat-kalimat manipulatif yang seolah menempatkan Ray di posisi paling bijaksana. Padahal, di balik kata-kata "reputasi vila dan dirimu sendiri," terselip ancaman terselubung. 'Jangan berani macam-macam.' Begitu kan maksudnya? ​Nania melempar ponselnya ke atas tempat tidur, lalu memijit pelipisnya yang mendadak berdenyut nyeri. Di luar, angin sore berhembus pelan menyapu halaman vila yang luas, membawa aroma pinus yang biasanya menenangkan. Namun hari ini, udara terasa pengap bagi Nania.​Bagaimana mungkin pria itu begitu mudah m

  • Wave of Love   Bab 50

    “Adam, ini ….” Nania betul-betul kehilangan kata-kata. Dan kegembiraan mengusai dirinya. Ia mengeluarkan satu per satu benda di dalam kotak dengan ekspresi semringah. Pertama-tama, ia mengamati tiga lembar foto lukisan Adam. Nania di tengah bingkai alami ranting cemara laut, memakai kalung dengan rantai panjang. Nania memeluk Laila si kuda poni, memakai cincin di jari manis. Dan figur wajah Nania dari samping, lengkap dengan anting berbentuk oval. Hasil cetakan fotonya berkualitas tinggi dan tajam, sehingga tampak jelas betapa detilnya lukisan Adam. Entah bagaimana, Nania di dalam lukisan terlihat lebih sensual dan misterius, tapi tetap elegan. “Hasil pekerjaan tanganmu, seperti keajaiban, Adam.” Nania memuji dengan suara lembut penuh kebahagiaan. Ia tersenyum, larut dalam perasaan kagum, memandangi lembaran berharga yang dipegangnya. Sementara itu, Adam tidak berkata apa-apa, hingga membuat Nania bingung. “Hei, kamu masih di sana?” tanya Nania. “Iya,” jawab Adam cepat.

  • Wave of Love   Bab 49

    Nania benci kenyataan bahwa ia masih terus memikirkan kelanjutan hubungannya dengan Ray. Pria bangsat itu.​Beberapa orang menanyakan hal yang sama. Sekar, Rinna, dan Bu Intan. Ia tidak bisa memberikan jawaban tegas. Karena dirinya betul-betul masih bingung.​Ia tidak bisa meramalkan apa yang terjadi nanti. Ia juga tidak tahu apa yang benar-benar ia inginkan untuk kelangsungan pernikahannya.​Berpisah atau melanjutkan, dua-duanya membuat ia takut.Ketakutan untuk melanjutkan pernikahan begitu mencengkeram batinnya. Karena ia tahu betul bagaimana rasanya hidup dalam ketidakpastian bersama seseorang yang egois. Ia pasti harus terus-menerus makan hati, menghadapi kebohongan yang berulang. Ia tidak mau membiarkan jiwanya terkikis perlahan di dalam rumah tangga yang hampa tanpa rasa hormat dan cinta yang tulus. Menjalani hari-hari sebagai seorang istri di samping pria yang telah merusak kepercayaan adalah sebuah bentuk penyiksaan psikologis yang akan membunuhnya dari dalam.​Namun, di sis

  • Wave of Love   Bab 48

    ​"Lihat apa, sih?" Nania memicingkan mata, berusaha menyembunyikan rasa penasarannya.​Di layar ponsel Sekar yang disodorkan begitu dekat, terpampang sebuah foto potret Adam. Kualitas gambarnya tampak natural, diambil tanpa persiapan.​"Aku foto diam-diam waktu dia lagi sibuk melukis di halaman belakang," Sekar memberitahu sambil terkikik geli, matanya berbinar-binar penuh kekaguman.​Di dalam foto itu, Adam tampak begitu fokus. Ia duduk di kursi taman vila dengan kanvas di hadapannya. Objek yang ia lukis adalah ... wajah Nania.Ada desir aneh yang mendadak mengalir di dada Nania melihat betapa unik dan indahnya karya seni itu. Latar belakang pemandangan pantai tertangkap dengan sempurna, sementara setiap goresan kuas tampak menakjubkan. Kelembutan sinar matahari pagi menyapu helaian rambut Nania, menciptakan pendar keemasan yang begitu hidup.Sosok Nania berdiri di antara ranting-ranting cemara laut. Di lehernya ada kalung batu permata yang berkilau. Koleksi perhiasan Bu Intan. Tern

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status