Compartilhar

Bab 4

last update Data de publicação: 2026-09-01 12:02:39

“Maaf, belum ada kamar untuk dua hari ke depan.”

Nania meringis saat menatap kepergian sepasang turis yang singgah ke Vila Nirmala untuk mencari penginapan. 

Mengapa saat ada rezeki yang mau mampir, malah tidak bisa disambut?

Nania menoleh ke ruang tengah. Ray sudah sibuk bercengkrama dengan tamu-tamunya. Ada 8 orang. Pria dan wanita. Sebagian dari mereka adalah turis asing yang entah dari mana asalnya. 

Tadi Nania berhasil memaksa Ray berjanji bahwa ini terakhir kali mereka memberi fasilitas gratis pada orang-orang kurang penting yang seharusnya membayar.

Joko, anak Pak Miko yang juga bekerja rangkap, membantu sekelompok teman Ray memasukkan barang-barang ke masing-masing kamar. 

Nania melirik jam dinding. Sudah pukul empat sore. Mereka check in terlalu sore, ribut bukan main, dan belum apa-apa sudah mengotori vila dengan sampah bungkus kudapan.

Sebenarnya Nania ingin menanyakan sesuatu pada Sekar, tapi masih ragu. Ia hanya berdiri di sebelah meja resepsionis tanpa suara. Tapi kemudian alis Nania berkerut saat melihat gadis itu senyum-senyum sendiri. 

“Kamu kenapa senyum-senyum gitu?”

Makin ditanya, Sekar makin terkikik dan mengapit lengan Nania dengan heboh. 

Sekar menunjuk nama seseorang di laptop. Adam Perkasa Mulya. 

“Pak Adam ganteng banget, Kak!”

“Orang yang tadi check-in pagi-pagi?” tanya Nania basa basi. Dia ingat betul nama itu. Sama dengan nama yang ada di kartu nama tadi subuh.

Sekar mengangguk bersemangat. “Iya benar. Kakak sudah lihat?”

“Sekilas. Tadi subuh juga ada dia di pantai.” Hanya itu informasi yang ia bisa berikan pada Sekar. Selebihnya ia simpan sendiri.

“Ngapain Kak Nania ke pantai subuh-subuh?” tanya Sekar bingung. 

“Memangnya aneh, ya? Buktinya Adam yang ganteng itu juga ngelakuin hal yang sama.”

Sekar terkikik lagi. ”Yang kubilang tadi betul ‘kan, Kak? Manisnya dia, cakepnya, luar biasa!” ucap resepsionis itu menggebu-gebu.

“Biasa aja deh, perasaan.” Nania memutar bola mata. 

“Kak, badannya tuh sexy…”

“Sstt! Sudah!” tegur Nania.

Bibir Sekar mencebik. 

“Ada yang lebih penting yang perlu aku tanyain. Tadi, aku lihat Adam pegang selendangku. Mungkin dia pungut pas aku nggak sadar itu terjatuh.”

“Hah?” Dari ekspresi bingungnya, hampir pasti dapat disimpulkan bahwa Sekar tidak tahu apa-apa tentang selendang. 

“Dia ada nitipin ke kamu, nggak?” tanya Nania harap-harap cemas. 

“Nggak. Mungkin dibawa sama orangnya.”

Nania menggerutu gusar. “Aduh. Pemberian Ibu jangan sampai hilang. Kenangannya nggak bisa dibeli dengan uang.”

“Kata Mas Adam, dia mau ke pantai. Mungkin masih di sana sekarang.”

Dalam hati, Nania mempertimbangkan berbagai hal sekaligus. 

“Nanti, kalau dia balik ke sini, aku tanyain barangnya Kakak.”

“Makasih, Sekar. Oh, satu lagi. Jangan bilang ke dia, aku pemilik vila.”

“Kenapa?”

“Pokoknya jangan. Mungkin aku akan ke pantai juga. Bisa jadi aku yang ketemu dia duluan.”

“Aaah, mau ikut!”

“Enggak sekarang.” Nania tertawa. “Kamu kerja aja yang bener.”

Nania beranjak meninggalkan Sekar. 

Ia tidak langsung pergi ke pantai. Hampir dua jam dilaluinya sembari melakukan berbagai kegiatan. 

Menata taman di samping vila. Mengumpulkan rumput kering dan dedaunan untuk membuat pupuk kompos. Memanen bunga kenanga dan melati yang dapat dijadikan pewangi ruangan alami. 

Sampai Sekar menggodanya dari jendela. 

“Tadi ada yang bilang gak mau orang tahu dia pemilik vila. Jadi, ini lagi menyamar jadi apa? Tukang kebun?”

“Oh, iya ya?” Nania menepuk dahi sendiri.

Sebenarnya ia mengulur waktu karena merasa janggal jika sengaja pergi mencari seorang lelaki ke suatu tempat, hanya untuk menanyakan selendang. 

Nania mencuci tangan di kran taman. Hampir mengurungkan niatnya. 

Namun, ketika matanya mengarah ke langit, ia baru sadar. Warna langit senja hari ini sungguh memukau. Oranye kemerahan. 

Sekalian saja.

Nania pergi ke Sky Beach, hanya membawa ponsel. 

Sepanjang jalan ponselnya merekam pemandangan yang paling disukainya. Matahari terbenam.

Di pantai, para pengunjung melakukan hal yang sama, yaitu memotret langit. Tidak ada yang rela keindahan di depan mata terlewat begitu saja. 

“Cantiknya!” Nania tersenyum lebar. 

Ia berhasil mendapatkan beberapa foto sunset yang menakjubkan.

Ponsel Nania masih terangkat tinggi-tinggi ketika seorang lelaki berdiri di sebelahnya.

Adam. Ia ikut mengangkat sesuatu dan memposisikannya sampai sejajar dengan ponsel Nania. 

Kanvas berukuran sedang yang telah terisi dengan lukisan. 

Pria ini aneh. Mendekat dengan berani, hanya untuk bercanda. Ia menunjuk layar ponsel Nania, lalu lukisannya sendiri. 

“Bagusan mana, ini atau ini?” tanya Adam. Ia menyengir, seolah mereka telah berteman lama.

“Ini. Punyaku disembunyiin aja.” Nania menunjuk kanvas Adam, lalu menyimpan ponselnya ke dalam saku.

Adam terbahak, dan tawanya itu menular.

Mereka berpandangan beberapa detik sebelum masing-masing menunduk malu.

Untung ada lukisan yang bisa dijadikan topik pembicaraan. Sapuan kuasnya begitu rapi. 

“Aku boleh lihat?” tanya Nania, tidak dapat menyembunyikan rasa penasarannya. 

Adam memindahkan kanvas ke tangan Nania. Kain tebal yang ditopang dengan rangka kayu ringan. 

Karya seni di permukaan kanvas bukan hanya lukisan matahari terbenam. Ada tiga gambar berbeda yang disusun vertikal dari atas ke bawah.

"Kolase langit hari ini," kata Adam. 

Ia mulai dengan menunjuk bagian paling atas. "Pagi tadi mendung. Abu-abu kebiruan, tapi menurutku tetap cantik."

Ujung jarinya bergeser ke bagian berikutnya. "Lalu siang. Terlalu terang sampai bikin mata silau."

Nania memperhatikan setiap sisi yang berbeda-beda. Bagian siang didominasi biru cerah dengan semburat putih tipis.

Bagian sore dipenuhi gradasi jingga, merah muda, dan sedikit ungu yang baru saja mereka saksikan bersama. Warna-warna itu sungguh mirip dengan aslinya. 

"Yang ini belum selesai." Adam menunjuk ruang kosong di bagian paling bawah kanvas. Bidang itu masih putih bersih, belum tersentuh cat sedikit pun. "Aku masih tunggu langit malam."

Nania mengangkat alis. "Jadi, mau tunggu di sini sampai gelap, sampai lukisannya lengkap?"

Adam mengangguk ceria. "Iya. Langit berubah terus ‘kan? Sayang kalau yang diingat cuma satu waktu. Yang cantik bukan cuma sunset. Pagi, siang, malam, semua punya daya tarik sendiri."

“Wow.” Nania mengembalikan mahakarya pada pemiliknya. “Good luck untuk lukisan malam ini. Pasti nanti hasilnya bagus banget.”

“Makasih.”

Senyum pemuda itu dihiasi lesung pipi. Dua belah. Ekspresi riang yang begitu menakjubkan hingga menghangatkan hati Nania. 

Adam berdiri membelakangi laut, membiarkan angin memainkan rambutnya yang hitam legam dan tebal hingga beberapa helai jatuh berantakan di dahi. Posturnya jangkung dengan bahu bidang yang membuat kaus sederhana yang dikenakannya tetap tampak berkelas.

Gelagatnya tidak pernah berusaha menarik perhatian, tetapi ada pesona alami yang membuat siapa pun tanpa sadar ingin memandangnya lebih lama. 

Dua orang perempuan yang berjalan melewati mereka menoleh kembali ke belakang untuk memperhatikan Adam terang-terangan. Nania tidak heran. 

Benar kata Sekar, Adam tampan. Apalagi jika dilihat dari jarak sedekat ini.

Meski begitu, bukan ketampanannya yang Nania kagumi.

Nania takjub dengan cara pria asing itu menceritakan keindahan langit, menghargai setiap perubahan warnanya, dan mengabadikannya menjadi sebuah karya seni.

Ditambah lagi, seni lukis Adam benar-benar menarik, seperti hasil kerja seorang seniman profesional. 

“Eh,” panggil Nania, sebelum ia terlalu terpesona dan lupa tujuan utamanya.

“Ya?”

Nania berdeham, agak bingung bagaimana kalimat yang sopan untuk menanyakan keberadaan benda miliknya. 

Adam mengulurkan telapak tangan yang lebar. “Omong-omong, namaku Adam.”

Mereka bersalaman. Suasana kaku pun kembali mencair. 

“Aku Nania.”

Nania melihat dengan jelas gurat kebahagiaan yang terpancar di wajah Adam ketika pria itu berhasil mengetahui namanya. Seolah-olah ia sudah menunggu momen ini sejak lama. 

Adam memandangnya lekat-lekat. 

Namun, sorot matanya tiba-tiba gamang. Ia kemudian menyapukan pandangan ke sekeliling, seperti memeriksa keadaan sekitar.

Tidak ada siapa-siapa di dekat mereka. Pengunjung pantai lain sedang mengerumuni Laila si kuda poni. 

“Kamu sendiri aja? Aku takut salah, tapi kamu yang tadi ada di Vila Nirmala, kan?”

Nania mengangguk. “Iya,” jawabnya singkat. 

“Oke.” Adam ikut mengangguk singkat. Bibirnya terbuka lagi, tapi mengurungkan niat untuk bicara lebih banyak.

“Oh iya, jaket kamu ….”

Adam menggeleng singkat. “Nggak apa-apa. Kamu simpan aja dulu.”

Lalu Nania mengumpulkan keberanian untuk bertanya tentang benda miliknya. 

“Kalau … selendang aku? Sepertinya jatuh. Kamu ada lihat?”

Mendengar itu, seketika Adam terlihat gelisah. 

“I-iya, selendang kamu!” serunya panik. “A-aku mau minta maaf soal itu.”

Melihat gelagat Adam, Nania jadi gusar. 

“Tadinya aku bawa ke sini. Tapi … sekarang sudah ….”

“Maksudnya apa?” Nania menggigit bibirnya. 

“Sudah hanyut di laut.”

Kedua bola mata Nania terbelalak ngeri.

Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App

Último capítulo

  • Wave of Love   Bab 6

    “Ada apa, Sekar?”“Pak Miko dan Joko tersetrum di taman!”Nania membeku di tempatnya berdiri, beberapa langkah dari gerbang pantai.“Apa?”“Mesin air mancur, Kak. Kabelnya rusak. Joko tadi coba perbaiki, lalu dia tersetrum. Pak Miko mau menolong, tapi ikut terkena aliran listrik.”Nania melangkah dengan tergesa-gesa. “Sekar, sekarang mereka bagaimana?”“Pak Miko masih sadar, tapi lemas. Joko pingsan, Kak.” Suara Sekar bergetar di seberang sana.“Tunggu. Aku segera sampai.”Nania memutuskan sambungan dan mulai berlari secepat yang ia bisa menuju vila. Napasnya memburu sementara pikirannya dipenuhi kemungkinan buruk.Lalu, ia teringat Ray. Saat ini suaminya pasti sedang sibuk, tapi ia butuh pertolongan. Nania pun langsung menelepon suaminya. Tidak diangkat.Tiga kali Nania mencoba. Tetap tidak ada hasil.Tidak punya waktu untuk terus mencari Ray, Nania memacu derap kaki. Begitu tiba di vila, Nania melihat Sekar berjongkok dekat dua lelaki yang sedang lemas di dekat air mancur.“Ya Tuha

  • Wave of Love   Bab 5

    Suara ombak terus bergulung di antara mereka. Nania masih menatap Adam, menunggu dia berkata bahwa semua ini hanya lelucon. Namun, ekspresi bersalahnya mematahkan harapan itu."Aku benar-benar minta maaf," ucap Adam lirih. Jemarinya terkepal erat, seperti sedang mengumpulkan keberanian untuk mengakui semuanya."Awalnya selendangmu kusimpan di dalam tas." Adam menunjuk ransel yang tergeletak di dekat kursi lipat. "Kupikir itu tempat yang paling aman."Nania mengikuti arah telunjuknya. Pikirannya mulai dipenuhi firasat buruk ketika melihat noda biru di bibir tas itu."Botol cat airku bocor." Adam mengembuskan napas panjang. "Waktu kubuka, sebagian cat mengenai selendangmu."Dada Nania mencelus. Selendang itu selalu dijaga baik-baik selama bertahun-tahun, tetapi justru rusak saat berada di tangan orang yang baru dikenal. "Aku panik." Adam menundukkan kepala. "Aku pikir kalau langsung dicuci, nodanya masih bisa hilang."Tatapan Nania mulai beralih ke laut yang membentang luas, merasa sud

  • Wave of Love   Bab 4

    “Maaf, belum ada kamar untuk dua hari ke depan.”Nania meringis saat menatap kepergian sepasang turis yang singgah ke Vila Nirmala untuk mencari penginapan. Mengapa saat ada rezeki yang mau mampir, malah tidak bisa disambut?Nania menoleh ke ruang tengah. Ray sudah sibuk bercengkrama dengan tamu-tamunya. Ada 8 orang. Pria dan wanita. Sebagian dari mereka adalah turis asing yang entah dari mana asalnya. Tadi Nania berhasil memaksa Ray berjanji bahwa ini terakhir kali mereka memberi fasilitas gratis pada orang-orang kurang penting yang seharusnya membayar.Joko, anak Pak Miko yang juga bekerja rangkap, membantu sekelompok teman Ray memasukkan barang-barang ke masing-masing kamar. Nania melirik jam dinding. Sudah pukul empat sore. Mereka check in terlalu sore, ribut bukan main, dan belum apa-apa sudah mengotori vila dengan sampah bungkus kudapan.Sebenarnya Nania ingin menanyakan sesuatu pada Sekar, tapi masih ragu. Ia hanya berdiri di sebelah meja resepsionis tanpa suara. Tapi kemudi

  • Wave of Love   Bab 3

    Ray mendudukkan Nania di kasur. “Sakit, Ray. Kamu jahat.” Nania menggosok pergelangan tangannya yang merah. Ray mengacak rambutnya frustasi. “Oke, aku salah karena bersikap kasar. Tapi tolong, kamu jangan mulai berani membangkang seperti ini, Nia! Dulu kamu nggak pernah melawan setiap kali aku memutuskan sesuatu.”Ada rasa getir yang mengalir di dada Nania. “Kalau yang kamu lakukan masuk akal, aku nggak pernah protes.”Ray terdiam, tidak bisa memberi sanggahan. Nania tersenyum hambar. “Makin lama kamu cuma mikirin dunia kamu aja. Perasaan dan kepentingan aku jadi hal paling terakhir yang kamu pikirin.”Ray mendekati Nania dengan gerakan cepat. Tangan kekarnya mengepal erat. Untuk sesaat, Nania pikir suaminya itu akan menyakitinya lagi. Terserah. Ia tidak gentar. “Kamu bahkan lupa ulang tahun pernikahan kita!” sambung Nania sendu.Sorot mata Ray seketika hilang ketegasan. Ia mengusap tengkuk dengan gelisah.“Kemarin? Ya, aku terlewat.” Akhirnya Ray mengaku.Nania menggeleng lemah.

  • Wave of Love   Bab 2

    Cukup dengan memandang halaman depan Vila Nirmala yang bersih dan asri, senyum kecil terbit di bibir Nania. Apalagi ada Laila yang semangat menyambutnya setelah pulang dari pantai. Laila, si kuda poni yang manja, tertambat pada pohon di pekarangan. Sudah bertahun-tahun Nania memeliharanya. Hewan bersurai hitam legam itu adalah hadiah terindah dari Ayahnya dulu.“Apa kabarmu hari ini, Laila?” tanya Nania penuh senyum.Terlihat akrab, hidung Laila langsung menyentuh pipi Nania.“Selalu bahagia seperti biasa, kan? Nanti ikut Pak Miko ke pantai, ya. Jangan lupa makan, yang banyak,” lanjut wanita itu mengelus punggung Laila, lalu beranjak masuk ke vila. Dia naik tangga hendak pergi ke kamar untuk mengambil ponsel yang belum disentuhnya sejak semalam. “Ray pasti masih tidur,” gumamnya. Pintu kamar pun dibuka pelan-pelan, hanya cukup lebar untuk Nania menyelinap masuk. Kamar itu masih berbau alkohol bercampur parfum maskulin yang samar. Pandangan Nania menemukan benda yang dicari. Ponse

  • Wave of Love   Bab 1

    ‘Pegang janjiku. Aku, suamimu, akan memastikan kamu bisa selalu hidup bahagia. Aku akan mengusahakan itu, Nania. Yang perlu kamu lakukan hanya percaya padaku.’Dalam pelukan hangat Ray, di malam pertama mereka menjadi sepasang suami istri, Nania Kailani mempercayai janji itu tanpa ragu.Begitu sungguh ingin dia terus berpegang pada janji suci suaminya.Akan tetapi, Nania tidak bisa mengabaikan perubahan sikap dan gelagat aneh yang pria itu tunjukkan belakangan ini. Ray mulai sering pulang telat, bahkan tidak pulang sama sekali. Tidak sekali dua kali pria itu bahkan tidak memberinya penjelasan satu kalimat pun.Ulang tahun pernikahan mereka yang kelima kemarin terlewat begitu saja tanpa perayaan apa-apa. Mereka bahkan tidak saling bertukar ucapan, karena Ray baru pulang pukul tiga subuh dengan tubuh berbau alkohol menyengat.“Aku cuma ngumpul sama teman-teman di restoran.” Itu jawaban yang selalu sama, setiap kali Nania bertanya. “Jangan mencurigaiku seolah kamu tidak mengenal suamimu

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status