Masuk“Maaf, belum ada kamar untuk dua hari ke depan.”
Nania meringis saat menatap kepergian sepasang turis yang singgah ke Vila Nirmala untuk mencari penginapan.
Mengapa saat ada rezeki yang mau mampir, malah tidak bisa disambut?
Nania menoleh ke ruang tengah. Ray sudah sibuk bercengkrama dengan tamu-tamunya. Ada 8 orang. Pria dan wanita. Sebagian dari mereka adalah turis asing yang entah dari mana asalnya.
Tadi Nania berhasil memaksa Ray berjanji bahwa ini terakhir kali mereka memberi fasilitas gratis pada orang-orang kurang penting yang seharusnya membayar.
Joko, anak Pak Miko yang juga bekerja rangkap, membantu sekelompok teman Ray memasukkan barang-barang ke masing-masing kamar.
Nania melirik jam dinding. Sudah pukul empat sore. Mereka check in terlalu sore, ribut bukan main, dan belum apa-apa sudah mengotori vila dengan sampah bungkus kudapan.
Sebenarnya Nania ingin menanyakan sesuatu pada Sekar, tapi masih ragu. Ia hanya berdiri di sebelah meja resepsionis tanpa suara. Tapi kemudian alis Nania berkerut saat melihat gadis itu senyum-senyum sendiri.
“Kamu kenapa senyum-senyum gitu?”
Makin ditanya, Sekar makin terkikik dan mengapit lengan Nania dengan heboh.
Sekar menunjuk nama seseorang di laptop. Adam Perkasa Mulya.
“Pak Adam ganteng banget, Kak!”
“Orang yang tadi check-in pagi-pagi?” tanya Nania basa basi. Dia ingat betul nama itu. Sama dengan nama yang ada di kartu nama tadi subuh.
Sekar mengangguk bersemangat. “Iya benar. Kakak sudah lihat?”
“Sekilas. Tadi subuh juga ada dia di pantai.” Hanya itu informasi yang ia bisa berikan pada Sekar. Selebihnya ia simpan sendiri.
“Ngapain Kak Nania ke pantai subuh-subuh?” tanya Sekar bingung.
“Memangnya aneh, ya? Buktinya Adam yang ganteng itu juga ngelakuin hal yang sama.”
Sekar terkikik lagi. ”Yang kubilang tadi betul ‘kan, Kak? Manisnya dia, cakepnya, luar biasa!” ucap resepsionis itu menggebu-gebu.
“Biasa aja deh, perasaan.” Nania memutar bola mata.
“Kak, badannya tuh sexy…”
“Sstt! Sudah!” tegur Nania.
Bibir Sekar mencebik.
“Ada yang lebih penting yang perlu aku tanyain. Tadi, aku lihat Adam pegang selendangku. Mungkin dia pungut pas aku nggak sadar itu terjatuh.”
“Hah?” Dari ekspresi bingungnya, hampir pasti dapat disimpulkan bahwa Sekar tidak tahu apa-apa tentang selendang.
“Dia ada nitipin ke kamu, nggak?” tanya Nania harap-harap cemas.
“Nggak. Mungkin dibawa sama orangnya.”
Nania menggerutu gusar. “Aduh. Pemberian Ibu jangan sampai hilang. Kenangannya nggak bisa dibeli dengan uang.”
“Kata Mas Adam, dia mau ke pantai. Mungkin masih di sana sekarang.”
Dalam hati, Nania mempertimbangkan berbagai hal sekaligus.
“Nanti, kalau dia balik ke sini, aku tanyain barangnya Kakak.”
“Makasih, Sekar. Oh, satu lagi. Jangan bilang ke dia, aku pemilik vila.”
“Kenapa?”
“Pokoknya jangan. Mungkin aku akan ke pantai juga. Bisa jadi aku yang ketemu dia duluan.”
“Aaah, mau ikut!”
“Enggak sekarang.” Nania tertawa. “Kamu kerja aja yang bener.”
Nania beranjak meninggalkan Sekar.
Ia tidak langsung pergi ke pantai. Hampir dua jam dilaluinya sembari melakukan berbagai kegiatan.
Menata taman di samping vila. Mengumpulkan rumput kering dan dedaunan untuk membuat pupuk kompos. Memanen bunga kenanga dan melati yang dapat dijadikan pewangi ruangan alami.
Sampai Sekar menggodanya dari jendela.
“Tadi ada yang bilang gak mau orang tahu dia pemilik vila. Jadi, ini lagi menyamar jadi apa? Tukang kebun?”
“Oh, iya ya?” Nania menepuk dahi sendiri.
Sebenarnya ia mengulur waktu karena merasa janggal jika sengaja pergi mencari seorang lelaki ke suatu tempat, hanya untuk menanyakan selendang.
Nania mencuci tangan di kran taman. Hampir mengurungkan niatnya.
Namun, ketika matanya mengarah ke langit, ia baru sadar. Warna langit senja hari ini sungguh memukau. Oranye kemerahan.
Sekalian saja.
Nania pergi ke Sky Beach, hanya membawa ponsel.
Sepanjang jalan ponselnya merekam pemandangan yang paling disukainya. Matahari terbenam.
Di pantai, para pengunjung melakukan hal yang sama, yaitu memotret langit. Tidak ada yang rela keindahan di depan mata terlewat begitu saja.
“Cantiknya!” Nania tersenyum lebar.
Ia berhasil mendapatkan beberapa foto sunset yang menakjubkan.
Ponsel Nania masih terangkat tinggi-tinggi ketika seorang lelaki berdiri di sebelahnya.
Adam. Ia ikut mengangkat sesuatu dan memposisikannya sampai sejajar dengan ponsel Nania.
Kanvas berukuran sedang yang telah terisi dengan lukisan.
Pria ini aneh. Mendekat dengan berani, hanya untuk bercanda. Ia menunjuk layar ponsel Nania, lalu lukisannya sendiri.
“Bagusan mana, ini atau ini?” tanya Adam. Ia menyengir, seolah mereka telah berteman lama.
“Ini. Punyaku disembunyiin aja.” Nania menunjuk kanvas Adam, lalu menyimpan ponselnya ke dalam saku.
Adam terbahak, dan tawanya itu menular.
Mereka berpandangan beberapa detik sebelum masing-masing menunduk malu.
Untung ada lukisan yang bisa dijadikan topik pembicaraan. Sapuan kuasnya begitu rapi.
“Aku boleh lihat?” tanya Nania, tidak dapat menyembunyikan rasa penasarannya.
Adam memindahkan kanvas ke tangan Nania. Kain tebal yang ditopang dengan rangka kayu ringan.
Karya seni di permukaan kanvas bukan hanya lukisan matahari terbenam. Ada tiga gambar berbeda yang disusun vertikal dari atas ke bawah.
"Kolase langit hari ini," kata Adam.
Ia mulai dengan menunjuk bagian paling atas. "Pagi tadi mendung. Abu-abu kebiruan, tapi menurutku tetap cantik."
Ujung jarinya bergeser ke bagian berikutnya. "Lalu siang. Terlalu terang sampai bikin mata silau."
Nania memperhatikan setiap sisi yang berbeda-beda. Bagian siang didominasi biru cerah dengan semburat putih tipis.
Bagian sore dipenuhi gradasi jingga, merah muda, dan sedikit ungu yang baru saja mereka saksikan bersama. Warna-warna itu sungguh mirip dengan aslinya.
"Yang ini belum selesai." Adam menunjuk ruang kosong di bagian paling bawah kanvas. Bidang itu masih putih bersih, belum tersentuh cat sedikit pun. "Aku masih tunggu langit malam."
Nania mengangkat alis. "Jadi, mau tunggu di sini sampai gelap, sampai lukisannya lengkap?"
Adam mengangguk ceria. "Iya. Langit berubah terus ‘kan? Sayang kalau yang diingat cuma satu waktu. Yang cantik bukan cuma sunset. Pagi, siang, malam, semua punya daya tarik sendiri."
“Wow.” Nania mengembalikan mahakarya pada pemiliknya. “Good luck untuk lukisan malam ini. Pasti nanti hasilnya bagus banget.”
“Makasih.”
Senyum pemuda itu dihiasi lesung pipi. Dua belah. Ekspresi riang yang begitu menakjubkan hingga menghangatkan hati Nania.
Adam berdiri membelakangi laut, membiarkan angin memainkan rambutnya yang hitam legam dan tebal hingga beberapa helai jatuh berantakan di dahi. Posturnya jangkung dengan bahu bidang yang membuat kaus sederhana yang dikenakannya tetap tampak berkelas.
Gelagatnya tidak pernah berusaha menarik perhatian, tetapi ada pesona alami yang membuat siapa pun tanpa sadar ingin memandangnya lebih lama.
Dua orang perempuan yang berjalan melewati mereka menoleh kembali ke belakang untuk memperhatikan Adam terang-terangan. Nania tidak heran.
Benar kata Sekar, Adam tampan. Apalagi jika dilihat dari jarak sedekat ini.
Meski begitu, bukan ketampanannya yang Nania kagumi.
Nania takjub dengan cara pria asing itu menceritakan keindahan langit, menghargai setiap perubahan warnanya, dan mengabadikannya menjadi sebuah karya seni.
Ditambah lagi, seni lukis Adam benar-benar menarik, seperti hasil kerja seorang seniman profesional.
“Eh,” panggil Nania, sebelum ia terlalu terpesona dan lupa tujuan utamanya.
“Ya?”
Nania berdeham, agak bingung bagaimana kalimat yang sopan untuk menanyakan keberadaan benda miliknya.
Adam mengulurkan telapak tangan yang lebar. “Omong-omong, namaku Adam.”
Mereka bersalaman. Suasana kaku pun kembali mencair.
“Aku Nania.”
Nania melihat dengan jelas gurat kebahagiaan yang terpancar di wajah Adam ketika pria itu berhasil mengetahui namanya. Seolah-olah ia sudah menunggu momen ini sejak lama.
Adam memandangnya lekat-lekat.
Namun, sorot matanya tiba-tiba gamang. Ia kemudian menyapukan pandangan ke sekeliling, seperti memeriksa keadaan sekitar.
Tidak ada siapa-siapa di dekat mereka. Pengunjung pantai lain sedang mengerumuni Laila si kuda poni.
“Kamu sendiri aja? Aku takut salah, tapi kamu yang tadi ada di Vila Nirmala, kan?”
Nania mengangguk. “Iya,” jawabnya singkat.
“Oke.” Adam ikut mengangguk singkat. Bibirnya terbuka lagi, tapi mengurungkan niat untuk bicara lebih banyak.
“Oh iya, jaket kamu ….”
Adam menggeleng singkat. “Nggak apa-apa. Kamu simpan aja dulu.”
Lalu Nania mengumpulkan keberanian untuk bertanya tentang benda miliknya.
“Kalau … selendang aku? Sepertinya jatuh. Kamu ada lihat?”
Mendengar itu, seketika Adam terlihat gelisah.
“I-iya, selendang kamu!” serunya panik. “A-aku mau minta maaf soal itu.”
Melihat gelagat Adam, Nania jadi gusar.
“Tadinya aku bawa ke sini. Tapi … sekarang sudah ….”
“Maksudnya apa?” Nania menggigit bibirnya.
“Sudah hanyut di laut.”
Kedua bola mata Nania terbelalak ngeri.
Mobil bergemuruh halus melewati jalan kecil menuju vila. Sementara itu, di dalam mobil, hanya ada keheningan. Ray menggenggam kemudi erat-erat, matanya lurus menatap aspal basah. Di sampingnya, Nania memilih membuang pandang ke luar jendela. Bayangan pepohonan melintas cepat, persis seperti kerumunan pikiran yang berlarian di kepalanya. Mereka tidak bicara sejak awal mula perjalanan pulang dari rumah Pak Wira. Tapi Nania tahu, Ray selalu mencuri pandang. Mesin akhirnya mati di pelataran vila. Ray melepas sabuk pengaman, keluar, lalu memutar cepat. Pintu sisi penumpang terbuka. Ray berdiri di sana, mengulurkan tangan.Nania melempar tatapan ragu. Sudah berapa lama Ray tak membukakan pintu mobil untuknya? Bulan? Tahun? Atau mungkin ia sudah lupa kapan terakhir kali lelaki itu bersikap perhatian seperti ini. Gestur sederhana itu justru terasa asing, dan suasana jadi makin canggung. "Makasih," bisik Nania. Ia menolak menggapai jemari Ray dan memilih bangkit sendiri.Langkah perta
Rumah Pak Wira, almarhum Pak RT, masih ramai oleh tamu yang turut bersimpati atas kepergiannya. Nania dan Ray datang secara khusus untuk menjenguk Bu Rosita, istri Pak Wira. Wanita malang itu jatuh sakit setelah mengalami kehilangan yang begitu menyakitkan. Sementara Ray duduk di ruang tamu dengan sanak saudara Pak Wira, Nania masuk ke kamar Bu Rosita. Aroma bunga kantil menguar di sekitar ruangan. Nania melangkah perlahan menembus tirai pintu kamar. Di atas pembaringan, Bu Rosita terbaring lemah. Selimut tipis membungkus tubuhnya yang kian menggecil. Sepertinya kesedihan telah mengikis habis sisa-sisa tenaga dari raganya.Rambut wanita tua itu—yang kini hampir seluruhnya memutih—terurai berantakan di atas bantal. Wajahnya pucat pasi. Kedua matanya sembap, bengkak, serta memerah karena terus-menerus menguras air mata sejak kemarin. Melihat pemandangan itu, dada Nania serasa diremas. Rasa iba membuncah begitu kuat di relung hatinya. Begitu menyadari kehadiran Nania, tangis
‘Aku akan pulang nanti malam. Kepala desa meninggal kemarin. Orang-orang mencariku. Mereka memintaku untuk jadi kepala desa yang baru. Nania, aku mohon pengertianmu. Sebaiknya jangan ada orang luar yang tahu masalah kita. Reputasi vila dan dirimu sendiri juga harus dijaga.'Pesan dari Ray itu bagaikan duri tajam yang menusuk ke dalam kulit. Merusak suasana hati yang susah payah dibangun Nania selama berhari-hari.Layar ponselnya masih menyala, menampilkan kalimat-kalimat manipulatif yang seolah menempatkan Ray di posisi paling bijaksana. Padahal, di balik kata-kata "reputasi vila dan dirimu sendiri," terselip ancaman terselubung. 'Jangan berani macam-macam.' Begitu kan maksudnya? Nania melempar ponselnya ke atas tempat tidur, lalu memijit pelipisnya yang mendadak berdenyut nyeri. Di luar, angin sore berhembus pelan menyapu halaman vila yang luas, membawa aroma pinus yang biasanya menenangkan. Namun hari ini, udara terasa pengap bagi Nania.Bagaimana mungkin pria itu begitu mudah m
“Adam, ini ….” Nania betul-betul kehilangan kata-kata. Dan kegembiraan mengusai dirinya. Ia mengeluarkan satu per satu benda di dalam kotak dengan ekspresi semringah. Pertama-tama, ia mengamati tiga lembar foto lukisan Adam. Nania di tengah bingkai alami ranting cemara laut, memakai kalung dengan rantai panjang. Nania memeluk Laila si kuda poni, memakai cincin di jari manis. Dan figur wajah Nania dari samping, lengkap dengan anting berbentuk oval. Hasil cetakan fotonya berkualitas tinggi dan tajam, sehingga tampak jelas betapa detilnya lukisan Adam. Entah bagaimana, Nania di dalam lukisan terlihat lebih sensual dan misterius, tapi tetap elegan. “Hasil pekerjaan tanganmu, seperti keajaiban, Adam.” Nania memuji dengan suara lembut penuh kebahagiaan. Ia tersenyum, larut dalam perasaan kagum, memandangi lembaran berharga yang dipegangnya. Sementara itu, Adam tidak berkata apa-apa, hingga membuat Nania bingung. “Hei, kamu masih di sana?” tanya Nania. “Iya,” jawab Adam cepat.
Nania benci kenyataan bahwa ia masih terus memikirkan kelanjutan hubungannya dengan Ray. Pria bangsat itu.Beberapa orang menanyakan hal yang sama. Sekar, Rinna, dan Bu Intan. Ia tidak bisa memberikan jawaban tegas. Karena dirinya betul-betul masih bingung.Ia tidak bisa meramalkan apa yang terjadi nanti. Ia juga tidak tahu apa yang benar-benar ia inginkan untuk kelangsungan pernikahannya.Berpisah atau melanjutkan, dua-duanya membuat ia takut.Ketakutan untuk melanjutkan pernikahan begitu mencengkeram batinnya. Karena ia tahu betul bagaimana rasanya hidup dalam ketidakpastian bersama seseorang yang egois. Ia pasti harus terus-menerus makan hati, menghadapi kebohongan yang berulang. Ia tidak mau membiarkan jiwanya terkikis perlahan di dalam rumah tangga yang hampa tanpa rasa hormat dan cinta yang tulus. Menjalani hari-hari sebagai seorang istri di samping pria yang telah merusak kepercayaan adalah sebuah bentuk penyiksaan psikologis yang akan membunuhnya dari dalam.Namun, di sis
"Lihat apa, sih?" Nania memicingkan mata, berusaha menyembunyikan rasa penasarannya.Di layar ponsel Sekar yang disodorkan begitu dekat, terpampang sebuah foto potret Adam. Kualitas gambarnya tampak natural, diambil tanpa persiapan."Aku foto diam-diam waktu dia lagi sibuk melukis di halaman belakang," Sekar memberitahu sambil terkikik geli, matanya berbinar-binar penuh kekaguman.Di dalam foto itu, Adam tampak begitu fokus. Ia duduk di kursi taman vila dengan kanvas di hadapannya. Objek yang ia lukis adalah ... wajah Nania.Ada desir aneh yang mendadak mengalir di dada Nania melihat betapa unik dan indahnya karya seni itu. Latar belakang pemandangan pantai tertangkap dengan sempurna, sementara setiap goresan kuas tampak menakjubkan. Kelembutan sinar matahari pagi menyapu helaian rambut Nania, menciptakan pendar keemasan yang begitu hidup.Sosok Nania berdiri di antara ranting-ranting cemara laut. Di lehernya ada kalung batu permata yang berkilau. Koleksi perhiasan Bu Intan. Tern







