Share

Bab 3

Author: Fairy Nirmala
last update Petsa ng paglalathala: 2026-09-01 12:01:56

Ray mendudukkan Nania di kasur. 

“Sakit, Ray. Kamu jahat.” Nania menggosok pergelangan tangannya yang merah. 

Ray mengacak rambutnya frustasi. 

“Oke, aku salah karena bersikap kasar. Tapi tolong, kamu jangan mulai berani membangkang seperti ini, Nia! Dulu kamu nggak pernah melawan setiap kali aku memutuskan sesuatu.”

Ada rasa getir yang mengalir di dada Nania. “Kalau yang kamu lakukan masuk akal, aku nggak pernah protes.”

Ray terdiam, tidak bisa memberi sanggahan. 

Nania tersenyum hambar. “Makin lama kamu cuma mikirin dunia kamu aja. Perasaan dan kepentingan aku jadi hal paling terakhir yang kamu pikirin.”

Ray mendekati Nania dengan gerakan cepat. Tangan kekarnya mengepal erat. Untuk sesaat, Nania pikir suaminya itu akan menyakitinya lagi. Terserah. Ia tidak gentar. 

“Kamu bahkan lupa ulang tahun pernikahan kita!” sambung Nania sendu.

Sorot mata Ray seketika hilang ketegasan. Ia mengusap tengkuk dengan gelisah.

“Kemarin? Ya, aku terlewat.” Akhirnya Ray mengaku.

Nania menggeleng lemah. “Dulu kamu nggak pernah lupa. Kamu selalu bilang tanggal itu lebih penting daripada ulang tahunmu sendiri.”

“Aku tahu.”

“Tapi sekarang?” 

“Maaf.... aku bisa jelasin.” Ray memegang kedua lengan Nania dengan sangat hati-hati. 

“Kerjaan di restoran bikin aku kewalahan terus, Sayang. Aku stres karena capek. Semua ini nggak ada hubungannya dengan kamu, tapi kamu kena imbasnya.”

Nania memejamkan mata sesaat. Penjelasan itu terdengar nyata, tapi mirip dengan alasan-alasan yang pernah ia terima sebelumnya.

“Maafkan aku, Nania.”

Kali ini suaranya jauh lebih lembut. Amarah yang sempat membakar wajahnya menguap begitu saja.

Nania masih diam.

“Maafin aku, ya?” ulangnya.

Tatapan Ray begitu dalam hingga membuat Nania sulit mempertahankan benteng yang susah payah ia bangun. Laki-laki itu memang selalu tahu kapan harus meredakan suasana.

“Aku janji nggak akan bikin kamu kecewa lagi.”

“Janji yang sama seperti sebelumnya?” singgung Nania pahit.

Ray menelan ludah. “Aku akan berusaha lebih keras.”

Nania menghela napas panjang. Ia ingin tetap marah, meluapkan semua kekecewaan yang selama ini dipendam. Namun setiap kali mendengar suaminya berbicara selembut itu, hatinya selalu goyah.

Entah karena terlalu cinta, atau karena ia terlalu ingin mempercayai bahwa Ray tidak mungkin sengaja berbuat salah.

Di dalam benak Nania, muncul wajah almarhum ayahnya.

"Di masa depan, Ray yang akan menggantikan Ayah untuk jagain kamu. Dia pemuda paling baik yang pernah Ayah kenal. Ayah percaya sama dia."

Kalimat itu masih melekat jelas meski bertahun-tahun telah berlalu. Ayahnya selalu menatap Ray dengan kebanggaan yang tidak pernah ia tunjukkan kepada laki-laki lain.

Nania menggigit bibirnya. ‘Pilihan Ayah nggak akan salah kan?’

Tatapan Ray turun ke bibir Nania yang bulat dan ranum itu. 

“Nania, aku…” Ray mendadak mengecupnya. 

Nania terkesiap. Saat Ray melakukan itu, pintu kamar mengayun terkena angin. 

Ternyata mereka lupa menutup rapat pintunya. Sedangkan tangan Ray sudah menangkup wajah Nania dan menariknya mendekat.

“Aku rindu, Sayang,” bisik lelaki itu dengan nafas yang memberat.

Nania tahu maksud dari kata rindu itu.

Ray memeluk erat, hangat dan menenangkan. Tidak dapat dipungkiri, Nania juga rindu. 

Kepalanya yang penat perlahan membaik. Ia membalas pelukan itu dengan ragu pada awalnya, lalu makin terlena. Aroma tubuh Ray selalu berhasil menghanyutkan Nania dalam pusaran rasa cinta. 

Dan tiba-tiba suara Pak Miko terdengar jelas. 

“Silakan, lewat sini, Pak Adam.”

Pak Miko berjalan melewati kamar Nania lebih dulu, menjinjing dua ransel Adam, sambil menunjuk kamar di sebelah. 

Selanjutnya Adam, lelaki jangkung itu menyusul, lagi-lagi tak sengaja melihat adegan yang tidak seharusnya ia lihat. Untungnya ia segera berlalu.

“Sayang…”

Nania panik. “Tunggu, Ray!”

Setengah berlari, Nania menutup pintu. Tak lupa, ia melepaskan jaket dan menggantungnya di sudut kamar. 

Ray yang tidak peka terhadap apa pun di luar sana, menyerang Nania dengan ciuman penuh hasrat.

Sambil melontarkan bujuk rayu bernada mesra, Ray menggendong dan membawa istrinya kembali ke ranjang.

“Kamu yang terbaik di hidup aku. Aku benar-benar bodoh sudah bikin kamu sedih. Nggak akan kuulangi lagi,” ikrar pria itu tanpa berpikir panjang.

Seketika, segala kerumitan di benak Nania terlupakan. 

“Ray!”

Nania terkejut saat bajunya dilepas dengan buru-buru. Ray terlihat betul-betul tidak dapat menahan diri.

Kepala Ray maju menyerang Nania yang terbaring dengan berbalut bra hitam. Lidahnya bermain di belahan dada Nania, naik ke leher, lalu kembali ke dada. 

“Sial. Lepaskan ini juga.” 

Jemari Ray mencari pengait bra di punggung Nania. Tidak butuh waktu lama, tangannya yang ahli berhasil melepas apa yang menghalangi. Akan tetapi, bibir Ray adalah yang paling ahli. 

Napas Nania memburu. Bibir Ray bergerak seenaknya di kedua puncak dadanya. Melakukan apapun hingga meninggalkan jejak merah di sana.

“Oh!” Nania terpekik ketika tiba-tiba bagian itu diremas teramat kuat. Suaminya itu mundur sejenak, menatap puas wajah Nania yang merona.

Lalu, Ray menanggalkan seluruh pakaiannya sendiri, kemudian rok Nania.

Tangan Ray mengusap celana dalam Nania dan tersenyum setelah menyadari betapa basah di bawah sana.

“Kamu juga kangen sama aku. Iya kan?”

Jawaban yang Nania berikan bukan dengan kata-kata. Ia menarik Ray kembali ke dekapannya dan memagut bibir pria itu.

Pusat gairah Ray menekan perut Nania sementara pria itu menikmati permainan lidah mereka. Nania meraih milik Ray, menggenggamnya erat, dan langsung dibalas pria itu kembali mencengkeram payudara Nania sama kuatnya.

Ketika mereka melepaskan ciuman dan saling menatap, Nania tahu Ray sudah tidak ingin menunggu lagi. 

Benar saja, Ray menarik celana dalam Nania yang elastis, mencari celah. Ia lalu masuk dengan satu hentakan tegas.

Nania otomatis melebarkan kakinya. Ray mengangguk senang dan menahan paha Nania dengan tangan agar posisi Nania tetap seperti itu.

“Oh! Pelan-pelan, Sayang.”

Ray malah bergerak makin liar. Maju, mundur. Maju lagi, masuk lebih dalam.

Otot dada Ray mengeras. Bahunya tegap dengan kedua lengan yang gagah. Perut kencangnya dihiasi urat-urat yang menonjol dan ikut bergerak setiap kali pinggul menghentak. Rambut cepak yang disemir cokelat tampak berkilau di bawah penerangan lampu kamar.

Pemandangan sensual itu mungkin akan membuat Nania mimpi indah malam ini. 

Ya, betapa Nania masih sungguh mengagumi Ray. Masih membutuhkan Ray lebih dari apa pun. Ia tidak dapat membayangkan berpisah dengan pria ini. Mungkin itu artinya kehilangan segalanya. Tidak. Jangan sampai itu terjadi.

“Pegangan ke aku. Siap-siap, aku nggak akan pelan, Nania.”

Nania mengalungkan lengan di leher suaminya. Pusat gairahnya terasa panas. Kecepatan gesekan Ray tidak main-main. 

Desahan penuh kenikmatan mengiringi kata-kata yang Nania ucapkan sepenuh hati. “Ray, aku sayang kamu.”

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Wave of Love   Bab 53

    Mobil bergemuruh halus melewati jalan kecil menuju vila. Sementara itu, di dalam mobil, hanya ada keheningan. Ray menggenggam kemudi erat-erat, matanya lurus menatap aspal basah. Di sampingnya, Nania memilih membuang pandang ke luar jendela. Bayangan pepohonan melintas cepat, persis seperti kerumunan pikiran yang berlarian di kepalanya. Mereka tidak bicara sejak awal mula perjalanan pulang dari rumah Pak Wira. Tapi Nania tahu, Ray selalu mencuri pandang. ​Mesin akhirnya mati di pelataran vila. Ray melepas sabuk pengaman, keluar, lalu memutar cepat. ​Pintu sisi penumpang terbuka. Ray berdiri di sana, mengulurkan tangan.​Nania melempar tatapan ragu. Sudah berapa lama Ray tak membukakan pintu mobil untuknya? Bulan? Tahun? Atau mungkin ia sudah lupa kapan terakhir kali lelaki itu bersikap perhatian seperti ini. Gestur sederhana itu justru terasa asing, dan suasana jadi makin canggung. ​"Makasih," bisik Nania. Ia menolak menggapai jemari Ray dan memilih bangkit sendiri.​Langkah perta

  • Wave of Love   Bab 52

    Rumah Pak Wira, almarhum Pak RT, masih ramai oleh tamu yang turut bersimpati atas kepergiannya. Nania dan Ray datang secara khusus untuk menjenguk Bu Rosita, istri Pak Wira. Wanita malang itu jatuh sakit setelah mengalami kehilangan yang begitu menyakitkan. Sementara Ray duduk di ruang tamu dengan sanak saudara Pak Wira, Nania masuk ke kamar Bu Rosita. Aroma bunga kantil menguar di sekitar ruangan. Nania melangkah perlahan menembus tirai pintu kamar. ​Di atas pembaringan, Bu Rosita terbaring lemah. Selimut tipis membungkus tubuhnya yang kian menggecil. Sepertinya kesedihan telah mengikis habis sisa-sisa tenaga dari raganya.Rambut wanita tua itu—yang kini hampir seluruhnya memutih—terurai berantakan di atas bantal. Wajahnya pucat pasi. Kedua matanya sembap, bengkak, serta memerah karena terus-menerus menguras air mata sejak kemarin. ​Melihat pemandangan itu, dada Nania serasa diremas. Rasa iba membuncah begitu kuat di relung hatinya. ​Begitu menyadari kehadiran Nania, tangis

  • Wave of Love   Bab 51

    ‘Aku akan pulang nanti malam. Kepala desa meninggal kemarin. Orang-orang mencariku. Mereka memintaku untuk jadi kepala desa yang baru. Nania, aku mohon pengertianmu. Sebaiknya jangan ada orang luar yang tahu masalah kita. Reputasi vila dan dirimu sendiri juga harus dijaga.'Pesan dari Ray itu bagaikan duri tajam yang menusuk ke dalam kulit. Merusak suasana hati yang susah payah dibangun Nania selama berhari-hari.Layar ponselnya masih menyala, menampilkan kalimat-kalimat manipulatif yang seolah menempatkan Ray di posisi paling bijaksana. Padahal, di balik kata-kata "reputasi vila dan dirimu sendiri," terselip ancaman terselubung. 'Jangan berani macam-macam.' Begitu kan maksudnya? ​Nania melempar ponselnya ke atas tempat tidur, lalu memijit pelipisnya yang mendadak berdenyut nyeri. Di luar, angin sore berhembus pelan menyapu halaman vila yang luas, membawa aroma pinus yang biasanya menenangkan. Namun hari ini, udara terasa pengap bagi Nania.​Bagaimana mungkin pria itu begitu mudah m

  • Wave of Love   Bab 50

    “Adam, ini ….” Nania betul-betul kehilangan kata-kata. Dan kegembiraan mengusai dirinya. Ia mengeluarkan satu per satu benda di dalam kotak dengan ekspresi semringah. Pertama-tama, ia mengamati tiga lembar foto lukisan Adam. Nania di tengah bingkai alami ranting cemara laut, memakai kalung dengan rantai panjang. Nania memeluk Laila si kuda poni, memakai cincin di jari manis. Dan figur wajah Nania dari samping, lengkap dengan anting berbentuk oval. Hasil cetakan fotonya berkualitas tinggi dan tajam, sehingga tampak jelas betapa detilnya lukisan Adam. Entah bagaimana, Nania di dalam lukisan terlihat lebih sensual dan misterius, tapi tetap elegan. “Hasil pekerjaan tanganmu, seperti keajaiban, Adam.” Nania memuji dengan suara lembut penuh kebahagiaan. Ia tersenyum, larut dalam perasaan kagum, memandangi lembaran berharga yang dipegangnya. Sementara itu, Adam tidak berkata apa-apa, hingga membuat Nania bingung. “Hei, kamu masih di sana?” tanya Nania. “Iya,” jawab Adam cepat.

  • Wave of Love   Bab 49

    Nania benci kenyataan bahwa ia masih terus memikirkan kelanjutan hubungannya dengan Ray. Pria bangsat itu.​Beberapa orang menanyakan hal yang sama. Sekar, Rinna, dan Bu Intan. Ia tidak bisa memberikan jawaban tegas. Karena dirinya betul-betul masih bingung.​Ia tidak bisa meramalkan apa yang terjadi nanti. Ia juga tidak tahu apa yang benar-benar ia inginkan untuk kelangsungan pernikahannya.​Berpisah atau melanjutkan, dua-duanya membuat ia takut.Ketakutan untuk melanjutkan pernikahan begitu mencengkeram batinnya. Karena ia tahu betul bagaimana rasanya hidup dalam ketidakpastian bersama seseorang yang egois. Ia pasti harus terus-menerus makan hati, menghadapi kebohongan yang berulang. Ia tidak mau membiarkan jiwanya terkikis perlahan di dalam rumah tangga yang hampa tanpa rasa hormat dan cinta yang tulus. Menjalani hari-hari sebagai seorang istri di samping pria yang telah merusak kepercayaan adalah sebuah bentuk penyiksaan psikologis yang akan membunuhnya dari dalam.​Namun, di sis

  • Wave of Love   Bab 48

    ​"Lihat apa, sih?" Nania memicingkan mata, berusaha menyembunyikan rasa penasarannya.​Di layar ponsel Sekar yang disodorkan begitu dekat, terpampang sebuah foto potret Adam. Kualitas gambarnya tampak natural, diambil tanpa persiapan.​"Aku foto diam-diam waktu dia lagi sibuk melukis di halaman belakang," Sekar memberitahu sambil terkikik geli, matanya berbinar-binar penuh kekaguman.​Di dalam foto itu, Adam tampak begitu fokus. Ia duduk di kursi taman vila dengan kanvas di hadapannya. Objek yang ia lukis adalah ... wajah Nania.Ada desir aneh yang mendadak mengalir di dada Nania melihat betapa unik dan indahnya karya seni itu. Latar belakang pemandangan pantai tertangkap dengan sempurna, sementara setiap goresan kuas tampak menakjubkan. Kelembutan sinar matahari pagi menyapu helaian rambut Nania, menciptakan pendar keemasan yang begitu hidup.Sosok Nania berdiri di antara ranting-ranting cemara laut. Di lehernya ada kalung batu permata yang berkilau. Koleksi perhiasan Bu Intan. Tern

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status