INICIAR SESIÓN“Ada apa, Sekar?”
“Pak Miko dan Joko tersetrum di taman!”
Nania membeku di tempatnya berdiri, beberapa langkah dari gerbang pantai.
“Apa?”
“Mesin air mancur, Kak. Kabelnya rusak. Joko tadi coba perbaiki, lalu dia tersetrum. Pak Miko mau menolong, tapi ikut terkena aliran listrik.”
Nania melangkah dengan tergesa-gesa. “Sekar, sekarang mereka bagaimana?”
“Pak Miko masih sadar, tapi lemas. Joko pingsan, Kak.” Suara Sekar bergetar di seberang sana.
“Tunggu. Aku segera sampai.”
Nania memutuskan sambungan dan mulai berlari secepat yang ia bisa menuju vila. Napasnya memburu sementara pikirannya dipenuhi kemungkinan buruk.
Lalu, ia teringat Ray. Saat ini suaminya pasti sedang sibuk, tapi ia butuh pertolongan.
Nania pun langsung menelepon suaminya. Tidak diangkat.
Tiga kali Nania mencoba. Tetap tidak ada hasil.
Tidak punya waktu untuk terus mencari Ray, Nania memacu derap kaki.
Begitu tiba di vila, Nania melihat Sekar berjongkok dekat dua lelaki yang sedang lemas di dekat air mancur.
“Ya Tuhan ….”
Pak Miko duduk bersandar di bawah pohon dengan wajah pucat. Sementara Joko tergeletak di rerumputan.
“Joko!” Nania segera mendekat.
“Kak .…” Sekar langsung berdiri dan menyeka air matanya. “Aku sudah matikan listriknya. Sepertinya tadi konsletnya parah. Aku takut mereka kenapa-kenapa.”
Nania menatap mesin air mancur itu. Kabel yang terkelupas tampak tergeletak di sisi kolam.
“Joko, Joko! Kamu dengar aku?” Nania berlutut di samping pemuda itu. Tidak ada jawaban.
“Sekar, aku harus bawa mereka ke klinik.”
Nania berdiri dan melihat sekeliling. Mobil Ray jelas sedang dipakai, tapi mobil Nania sendiri pun ternyata tidak ada.
“Mobilku di mana?”
“Teman-teman Bang Ray yang pakai,” jawab Sekar. “Aku juga bingung harus minta bantu siapa.”
Astaga. Tidak ada satu pun kendaraan yang bisa Nania gunakan untuk membawa Pak Miko dan Joko ke klinik.
Lalu terdengar suara langkah dari arah pagar.
“Nania!”
Adam mendekat, sepertinya tahu ada yang salah. “Ada apa?”
Jemari Nania terpaut gelisah. Ia terpaksa menjelaskan dari awal.
“A-aku pemilik vila ini.” Ia memulai.
“Aku tahu,” jawab Adam.
Dalam hati, Nania tidak menyangka, tapi ia fokus untuk lanjut bicara.
“Pak Miko dan Joko, karyawanku, tersetrum mesin air.”
Wajah pria itu langsung berubah panik. Ia segera bantu memeriksa keadaan mereka.
“Sudah diputus aliran listriknya?”
“Sudah,” jawab Sekar.
Adam menyeka wajah Joko dengan air segar. Pemuda itu akhirnya bergerak dan membuka mata.
“Ahh, sakit ….”
Nania menenangkannya. “Joko, ada Kakak di sini.”
Pandangannya jatuh pada telapak tangan Joko yang terkena luka bakar.
Nania terkesiap, seketika tubuhnya menegang.
“Ya ampun .…”
Napasnya tercekat karena syok melihat bekas di tangan remaja itu. Orang yang sudah ia anggap sebagai adik sendiri.
Lukanya besar dan melepuh. Jari-jarinya tertekuk kaku.
Joko terus mengerang kesakitan.
Wajah Nania memucat. Adam segera menyadarinya.
“Nania, sudah, jangan lihat.” Bergerak cepat, Adam membalikkan tubuh Nania agar membelakangi Joko.
“Tarik napas.”
“Aku-”
“Tenang dulu,” kata Adam sambil memegang kedua bahunya. “Kita bawa mereka ke klinik sekarang.”
“Mobilku nggak ada,” bisik Nania, suaranya serak. “Semua mobil dipakai.”
Adam menatapnya. “Pakai mobilku.”
Nania tidak berpikir panjang lagi. Ia mengangguk. “Tolong kami.”
Dua kata yang penuh permohonan.
Adam langsung melepaskan tangannya. Ia pergi ke mobilnya yang terparkir di luar pagar. Secepat kilat, mobil itu mundur agar lebih dekat dengan taman.
Nania baru tersadar betapa mewah kendaraan yang dipakai Adam. Merk mahal, keluaran terbaru. Jarang ada mobil seperti itu yang singgah di pesisir pantai ini.
'Siapa dia sebenarnya?’
Setelah Adam turun, ia membuka pintu depan untuk Nania. “Kamu masuk duluan. Biar aku yang bantu mereka.”
Nania menuruti arahannya. Ia gelisah karena tidak berbuat apa-apa, hanya duduk dan menunggu saja.
Dengan bantuan Sekar, Adam membimbing Pak Miko menuju mobil. Setelah itu ia membantu Joko masuk ke kursi belakang.
Tangan Nania gemetar ketika memasang sabuk ppengaman
Adam menutup pintu, lalu bergegas ke kursi pengemudi. Begitu mesin menyala, mobil langsung meninggalkan halaman vila.
Nania menatap jalan di depan dengan jantung berdegup tak karuan.
Rentetan pertanyaan dan kemungkinan buruk bermunculan di benaknya.
Separah apa efek setrum itu? Bagaimana nasib Joko setelah ini?
Di kursi belakang, Joko dipeluk oleh sang Ayah.
Nania memperhatikan mereka.
Joko tersedu-sedu. Tangan kirinya menggenggam tangan kanannya yang terluka, sementara matanya terpejam menahan rasa sakit.
“Jangan digerakkan terlalu banyak, Joko,” kata Adam dari balik kemudi.
“Sakit, sakit sekali!”
Pak Miko tiba-tiba ikut menangis.
“Maafkan Bapak, Jo. Andai Bapak saja yang betulkan mesin itu.”
Joko menggeleng. “Bukan salah Bapak.”
Pak Miko mengusap wajahnya.
“Ibumu di kampung pasti sedih kalau tahu kamu begini, Nak.”
Kalimat itu membuat dada Nania makin sesak. Ia berusaha menahan air matanya yang juga akan tumpah.
Adam sesekali melirik ke arahnya.
Pada satu kesempatan, pandangan mereka bertemu.
Lelaki itu tidak berkata apa-apa, tapi tatapannya seakan bicara.
’Jangan takut. Ada aku.'
“Ada apa, Sekar?”“Pak Miko dan Joko tersetrum di taman!”Nania membeku di tempatnya berdiri, beberapa langkah dari gerbang pantai.“Apa?”“Mesin air mancur, Kak. Kabelnya rusak. Joko tadi coba perbaiki, lalu dia tersetrum. Pak Miko mau menolong, tapi ikut terkena aliran listrik.”Nania melangkah dengan tergesa-gesa. “Sekar, sekarang mereka bagaimana?”“Pak Miko masih sadar, tapi lemas. Joko pingsan, Kak.” Suara Sekar bergetar di seberang sana.“Tunggu. Aku segera sampai.”Nania memutuskan sambungan dan mulai berlari secepat yang ia bisa menuju vila. Napasnya memburu sementara pikirannya dipenuhi kemungkinan buruk.Lalu, ia teringat Ray. Saat ini suaminya pasti sedang sibuk, tapi ia butuh pertolongan. Nania pun langsung menelepon suaminya. Tidak diangkat.Tiga kali Nania mencoba. Tetap tidak ada hasil.Tidak punya waktu untuk terus mencari Ray, Nania memacu derap kaki. Begitu tiba di vila, Nania melihat Sekar berjongkok dekat dua lelaki yang sedang lemas di dekat air mancur.“Ya Tuha
Suara ombak terus bergulung di antara mereka. Nania masih menatap Adam, menunggu dia berkata bahwa semua ini hanya lelucon. Namun, ekspresi bersalahnya mematahkan harapan itu."Aku benar-benar minta maaf," ucap Adam lirih. Jemarinya terkepal erat, seperti sedang mengumpulkan keberanian untuk mengakui semuanya."Awalnya selendangmu kusimpan di dalam tas." Adam menunjuk ransel yang tergeletak di dekat kursi lipat. "Kupikir itu tempat yang paling aman."Nania mengikuti arah telunjuknya. Pikirannya mulai dipenuhi firasat buruk ketika melihat noda biru di bibir tas itu."Botol cat airku bocor." Adam mengembuskan napas panjang. "Waktu kubuka, sebagian cat mengenai selendangmu."Dada Nania mencelus. Selendang itu selalu dijaga baik-baik selama bertahun-tahun, tetapi justru rusak saat berada di tangan orang yang baru dikenal. "Aku panik." Adam menundukkan kepala. "Aku pikir kalau langsung dicuci, nodanya masih bisa hilang."Tatapan Nania mulai beralih ke laut yang membentang luas, merasa sud
“Maaf, belum ada kamar untuk dua hari ke depan.”Nania meringis saat menatap kepergian sepasang turis yang singgah ke Vila Nirmala untuk mencari penginapan. Mengapa saat ada rezeki yang mau mampir, malah tidak bisa disambut?Nania menoleh ke ruang tengah. Ray sudah sibuk bercengkrama dengan tamu-tamunya. Ada 8 orang. Pria dan wanita. Sebagian dari mereka adalah turis asing yang entah dari mana asalnya. Tadi Nania berhasil memaksa Ray berjanji bahwa ini terakhir kali mereka memberi fasilitas gratis pada orang-orang kurang penting yang seharusnya membayar.Joko, anak Pak Miko yang juga bekerja rangkap, membantu sekelompok teman Ray memasukkan barang-barang ke masing-masing kamar. Nania melirik jam dinding. Sudah pukul empat sore. Mereka check in terlalu sore, ribut bukan main, dan belum apa-apa sudah mengotori vila dengan sampah bungkus kudapan.Sebenarnya Nania ingin menanyakan sesuatu pada Sekar, tapi masih ragu. Ia hanya berdiri di sebelah meja resepsionis tanpa suara. Tapi kemudi
Ray mendudukkan Nania di kasur. “Sakit, Ray. Kamu jahat.” Nania menggosok pergelangan tangannya yang merah. Ray mengacak rambutnya frustasi. “Oke, aku salah karena bersikap kasar. Tapi tolong, kamu jangan mulai berani membangkang seperti ini, Nia! Dulu kamu nggak pernah melawan setiap kali aku memutuskan sesuatu.”Ada rasa getir yang mengalir di dada Nania. “Kalau yang kamu lakukan masuk akal, aku nggak pernah protes.”Ray terdiam, tidak bisa memberi sanggahan. Nania tersenyum hambar. “Makin lama kamu cuma mikirin dunia kamu aja. Perasaan dan kepentingan aku jadi hal paling terakhir yang kamu pikirin.”Ray mendekati Nania dengan gerakan cepat. Tangan kekarnya mengepal erat. Untuk sesaat, Nania pikir suaminya itu akan menyakitinya lagi. Terserah. Ia tidak gentar. “Kamu bahkan lupa ulang tahun pernikahan kita!” sambung Nania sendu.Sorot mata Ray seketika hilang ketegasan. Ia mengusap tengkuk dengan gelisah.“Kemarin? Ya, aku terlewat.” Akhirnya Ray mengaku.Nania menggeleng lemah.
Cukup dengan memandang halaman depan Vila Nirmala yang bersih dan asri, senyum kecil terbit di bibir Nania. Apalagi ada Laila yang semangat menyambutnya setelah pulang dari pantai. Laila, si kuda poni yang manja, tertambat pada pohon di pekarangan. Sudah bertahun-tahun Nania memeliharanya. Hewan bersurai hitam legam itu adalah hadiah terindah dari Ayahnya dulu.“Apa kabarmu hari ini, Laila?” tanya Nania penuh senyum.Terlihat akrab, hidung Laila langsung menyentuh pipi Nania.“Selalu bahagia seperti biasa, kan? Nanti ikut Pak Miko ke pantai, ya. Jangan lupa makan, yang banyak,” lanjut wanita itu mengelus punggung Laila, lalu beranjak masuk ke vila. Dia naik tangga hendak pergi ke kamar untuk mengambil ponsel yang belum disentuhnya sejak semalam. “Ray pasti masih tidur,” gumamnya. Pintu kamar pun dibuka pelan-pelan, hanya cukup lebar untuk Nania menyelinap masuk. Kamar itu masih berbau alkohol bercampur parfum maskulin yang samar. Pandangan Nania menemukan benda yang dicari. Ponse
‘Pegang janjiku. Aku, suamimu, akan memastikan kamu bisa selalu hidup bahagia. Aku akan mengusahakan itu, Nania. Yang perlu kamu lakukan hanya percaya padaku.’Dalam pelukan hangat Ray, di malam pertama mereka menjadi sepasang suami istri, Nania Kailani mempercayai janji itu tanpa ragu.Begitu sungguh ingin dia terus berpegang pada janji suci suaminya.Akan tetapi, Nania tidak bisa mengabaikan perubahan sikap dan gelagat aneh yang pria itu tunjukkan belakangan ini. Ray mulai sering pulang telat, bahkan tidak pulang sama sekali. Tidak sekali dua kali pria itu bahkan tidak memberinya penjelasan satu kalimat pun.Ulang tahun pernikahan mereka yang kelima kemarin terlewat begitu saja tanpa perayaan apa-apa. Mereka bahkan tidak saling bertukar ucapan, karena Ray baru pulang pukul tiga subuh dengan tubuh berbau alkohol menyengat.“Aku cuma ngumpul sama teman-teman di restoran.” Itu jawaban yang selalu sama, setiap kali Nania bertanya. “Jangan mencurigaiku seolah kamu tidak mengenal suamimu







