Compartilhar

Bab 2

last update Data de publicação: 2026-09-01 12:01:14

Cukup dengan memandang halaman depan Vila Nirmala yang bersih dan asri, senyum kecil terbit di bibir Nania. Apalagi ada Laila yang semangat menyambutnya setelah pulang dari pantai. 

Laila, si kuda poni yang manja, tertambat pada pohon di pekarangan. Sudah bertahun-tahun Nania memeliharanya. Hewan bersurai hitam legam itu adalah hadiah terindah dari Ayahnya dulu.

“Apa kabarmu hari ini, Laila?” tanya Nania penuh senyum.

Terlihat akrab, hidung Laila langsung menyentuh pipi Nania.

“Selalu bahagia seperti biasa, kan? Nanti ikut Pak Miko ke pantai, ya. Jangan lupa makan, yang banyak,” lanjut wanita itu mengelus punggung Laila, lalu beranjak masuk ke vila. 

Dia naik tangga hendak pergi ke kamar untuk mengambil ponsel yang belum disentuhnya sejak semalam. 

“Ray pasti masih tidur,” gumamnya. 

Pintu kamar pun dibuka pelan-pelan, hanya cukup lebar untuk Nania menyelinap masuk. Kamar itu masih berbau alkohol bercampur parfum maskulin yang samar. 

Pandangan Nania menemukan benda yang dicari. Ponselnya tergeletak di atas nakas, tepat di samping gelas berisi air putih yang tinggal setengah. Merasa haus, ia meneguknya habis, lalu kemudian buru-buru menaruh gelasnya hingga menimbulkan suara keras.

Nania tercekat.

Ray terbangun. Rambutnya berantakan, wajahnya kusut, sementara sebelah lengannya menutupi mata dari cahaya yang masuk melalui celah tirai.

“Ngapain?”

"Aku cuma ambil ponsel.” Nania berusaha menjaga suaranya tetap datar.

Ray mengembuskan napas panjang, lalu duduk setengah bersandar di kepala ranjang. "Kamu nggak lihat aku lagi tidur?"

"Lihat," jawabnya mengambil ponselnya.

"Terus kenapa berisik?" Ray mengusap wajahnya berkali-kali. Nada bicaranya makin tinggi. "Aku baru bisa tidur subuh. Kepalaku sakit. Semalam aku kebanyakan minum. Yang aku mau sekarang cuma istirahat.”

"Aku juga pengin tidur," kata Nania dengan tangan terlipat di depan dada.

Ray mendengus pendek. "Ya tidur."

Nania tersenyum dingin.

"Aku nggak bisa. Kalau kamu kurang tidur, itu salah kamu sendiri. Tapi kalau aku yang kurang tidur, itu karena kamu!”

“Lho, kenapa nyalahin aku?” Sorot Ray kesal. Tidak terima.

“Aku capek mikirin kamu!”

Ray mengibaskan tangan dan terkekeh rendah. “Kalau itu tentang hal yang belakangan ini kamu tanya terus, stop, Nania. Kamu yang terlalu curiga. Aku nggak main gila di luar. Oke?”

“Aku nggak boleh curiga, dan kamu bebas berkeliaran di luar, gitu? Jarang pulang, terus menerus mabuk!”

Ray hanya menatapnya dengan sengit. 

“Boleh nggak kamu berhenti egois seperti ini? Tolonglah, Ray. Seenggaknya lakukan sebagai kado ulang tahun pernikahan kita?” sambung Nania kemudian.

Mendengar itu, sontak Ray tersentak kaget, ekspresinya berubah. 

“Lupa kan kamu? Dulu kita selalu rayain anniversary dengan bahagia. Sekarang itu udah nggak penting lagi buat kamu!” serang Nania menyuarakan kekecewaannya.

“Nania….”

“Nggak perlu minta maaf. Aku muak.” Dengan sengaja, Nania meninggalkan suaminya yang masih tergagap mencoba memanggilnya. 

Setelah keluar kamar, ia baru menyadari dadanya terasa sesak.

Akhirnya dia memutuskan untuk berdiri beberapa saat di lorong lantai dua, membiarkan embusan angin pagi menyentuh wajahnya. Dihirupnya napas dalam-dalam, berusaha menguatkan diri.

Sinar mentari yang menyilaukan membuatnya tersadar bahwa ia harus memulai aktivitas hari ini, meski enggan. 

Rasanya ingin bersembunyi dari segala urusan, tapi dia tidak hidup untuk dirinya sendiri. Di bawah, para pekerja sudah menunggunya untuk brief pagi. Ia akhirnya turun ke lantai 1 dengan langkah yang sedikit limbung.

“Pak Miko, Sekar, ayo kumpul dulu.” Nania memanggil dua karyawan utama. Pak Miko pekerja rangkap serba bisa, dan Sekar si resepsionis.

“Selamat pagi semua, seperti biasa, saya minta laporan dulu dong. Hari ini ada yang pesan kamar nggak ya?” tanyanya melirik Sekar. “Kalau ada yang kosong, saya butuh satu.”

Sekar membuka buku tamu. “Kamar kosong? Untuk siapa, Kak?” tanya Sekar. 

“Untuk saya sendiri.”

Sekar dan Pak Miko reflek saling bertukar pandang kebingungan, tapi tidak berani bertanya lebih lanjut.

Lalu Sekar menunjuk kolom di buku tamu yang dipenuhi catatan. 

“Kak, hari ini nggak ada kamar kosong.”

Nania mengernyit heran. Biasanya vila sepi di bulan September. Ia segera memeriksa catatan Sekar.

“Hm? Empat kamar kita, semuanya ada yang pesan?”

Sekar tampak ragu dan gelisah untuk menjawab pertanyaan itu. “S-sebenarnya, hanya satu tamu aja yang benar-benar tamu, Kak. Selebihnya, tiga kamar lagi, akan dipakai oleh teman-teman Bang Ray.”

“Waduh. Mereka pasti nggak bayar,” ceplos Pak Miko meringis.

Nania terkesiap, setengah tidak percaya dengan pendengarannya. 

“Betul, Kak. Kata Bang Ray, akan ada 8 orang temannya yang datang, dan….” Sekar menggantung kata-katanya.

“Semua gratis?” tanya Nania geram. Menebak kalimat resepsionisnya itu.

Percakapan berhenti saat mereka mendengar pintu terbuka di lantai 2. Sesaat kemudian, lelaki pemicu segala masalah itu melenggang turun. Sudah segar sehabis mandi. 

Sementara itu, amarah Nania sudah naik sampai ke ubun-ubunnya.

Nania berdiri tegak di tengah ruangan. Siap perang. 

“Ray. Aku perlu bicara,” ucapnya to the point.

“Ada apa lagi, sih?!” hardiknya. 

“Teman kamu yang mana lagi yang mau nginap di sini? Ada 8 orang? Ini benar, Ray?!”

Ray mendengus dan tersenyum miring seolah hal itu sesuatu yang konyol untuk dipermasalahkan. “Benar. Kenapa memangnya?”

“Coba jawab, mereka siapa?”

“Teman aku yang nggak kamu kenal. Sebagian dari mereka datang dari luar negeri.” Ray menumpukan pinggang di meja resepsionis. 

Wajah Nania panas menahan amarah. “Terus, kenapa gratis? Orang penting?”

Ray mulai tampak risau.

Sekar dan Pak Miko serta merta mundur menjauh beberapa meter dan berusaha tidak ketahuan sedang menguping.

“Ray, kita sering membahas ini. Tidak bisa gratis. Bisnis dan teman harus dibedakan."

Nania sudah kehilangan hitungan berapa kali kejadian serupa terulang.

Teman-teman Ray datang beberapa bulan sekali, menginap berhari-hari tanpa membayar apa pun, sementara seluruh biaya operasional tetap harus ditutup dari keuntungan yang semakin menipis. Sungguh merugikan. 

Dia harusnya tahu bagaimana cara berbisnis, tapi bagi istrinya itu, zonk!

Ray adalah seorang koki, pemilik Diamond Restaurant. Terkenal karena ketampanannya oleh warga sekitar. Tidak hanya itu, masakan-masakannya juga lezat dan selalu mendatangkan pengunjung. Hanya saja, dia terlalu murah hati, dan itu membuat usahanya susah berkembang.

“Aku benci sifat kamu yang terlalu royal. Pengeluaran kamu selalu minim timbal balik!” protes Nania dengan suara keras. membayangkan teman-teman urakan suaminya yang tidak tahu diri itu. Giliran Ray yang butuh bantuan, semua kabur.

Ray mencoba menghentikan rentetan kemarahan Nania. “Oke, oke! Kali ini aja. Aku sudah telanjur bilang ke mereka–”

“Selalu saja begini!” potong Nania keras. “Cukuplah, Ray!”

Mata Nania sudah berkaca-kaca. 

"Ayo kita bicara di atas," pungkas Ray. Ia melirik para karyawan yang masih berada di ruangan yang sama. Daritadi lelaki itu mati gaya. 

Nania tahu Ray sangat menjaga citranya di depan orang lain. Hampir tidak pernah ada pertengkaran yang diperlihatkan kepada tamu atau karyawan. Apa pun persoalannya, pria itu selalu memilih menyelesaikannya di ruang yang tertutup.

Tentu saja sekaligus menghindari kamera CCTV yang merekam seluruh aktivitas vila.

“Kenapa harus di atas?" tantang Nania. 

"Jangan banyak tanya. Ke atas! Sekarang!" Ray mendelik, bibirnya berdesis mengerikan. 

“Nggak, aku nggak mau! Kamu naik aja sendiri!”

“Ah, gila kamu! Udah berani ngelawan? Maunya pakai cara keras, ya? Sini!” Dengan kejam, Ray meraih pergelangan tangan Nania dan menariknya menuju tangga.

“Lepasin!”

Ray menggeram. “Diam atau aku akan lebih kasar.” 

Wanita itu terisak. Terpaksa mengikuti suaminya karena tidak ingin melanjutkan keributan di luar. 

Baru beberapa anak tangga mereka naiki, seseorang memasuki pintu utama. Membuat mereka semua berbalik serempak. Sekar tergopoh-gopoh menghampiri orang itu. 

Sosok yang rasanya tidak asing bagi Nania. Dalam hati ia bertanya-tanya, apakah itu orang yang sama dengan orang yang tadi pagi meneriakinya di pantai. Orang yang jaketnya masih dia pakai.

Langkah Ray dan Nania terhenti. Keduanya melihat Sekar dan pria itu sedang membahas sesuatu. Tidak terlalu jelas terdengar, tapi sepertinya lelaki itu bertanya pada apakah ia boleh check-in lebih awal.

Namun bukan itu yang membuat matanya memicing. Selendangnya!

Selendang toskanya ada di dalam genggaman lelaki itu, entah bagaimana dan sejak kapan itu terjadi.

“Ayo, cepat! Sialan!” Ray kembali fokus. Pria itu benar-benar hilang kendali, dan membentak istrinya keras, seolah tidak peduli seluruh mata tertuju padanya.

Nania tertunduk, dan membiarkan dirinya diseret ke kamar.

Tanpa sadar di bawah sana ada satu tatapan yang tidak lepas dari bagaimana gadis itu diperlakukan.

Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App

Último capítulo

  • Wave of Love   Bab 6

    “Ada apa, Sekar?”“Pak Miko dan Joko tersetrum di taman!”Nania membeku di tempatnya berdiri, beberapa langkah dari gerbang pantai.“Apa?”“Mesin air mancur, Kak. Kabelnya rusak. Joko tadi coba perbaiki, lalu dia tersetrum. Pak Miko mau menolong, tapi ikut terkena aliran listrik.”Nania melangkah dengan tergesa-gesa. “Sekar, sekarang mereka bagaimana?”“Pak Miko masih sadar, tapi lemas. Joko pingsan, Kak.” Suara Sekar bergetar di seberang sana.“Tunggu. Aku segera sampai.”Nania memutuskan sambungan dan mulai berlari secepat yang ia bisa menuju vila. Napasnya memburu sementara pikirannya dipenuhi kemungkinan buruk.Lalu, ia teringat Ray. Saat ini suaminya pasti sedang sibuk, tapi ia butuh pertolongan. Nania pun langsung menelepon suaminya. Tidak diangkat.Tiga kali Nania mencoba. Tetap tidak ada hasil.Tidak punya waktu untuk terus mencari Ray, Nania memacu derap kaki. Begitu tiba di vila, Nania melihat Sekar berjongkok dekat dua lelaki yang sedang lemas di dekat air mancur.“Ya Tuh

  • Wave of Love   Bab 5

    Suara ombak terus bergulung di antara mereka. Nania masih menatap Adam, menunggu dia berkata bahwa semua ini hanya lelucon. Namun, ekspresi bersalahnya mematahkan harapan itu."Aku benar-benar minta maaf," ucap Adam lirih. Jemarinya terkepal erat, seperti sedang mengumpulkan keberanian untuk mengakui semuanya."Awalnya selendangmu kusimpan di dalam tas." Adam menunjuk ransel yang tergeletak di dekat kursi lipat. "Kupikir itu tempat yang paling aman."Nania mengikuti arah telunjuknya. Pikirannya mulai dipenuhi firasat buruk ketika melihat noda biru di bibir tas itu."Botol cat airku bocor." Adam mengembuskan napas panjang. "Waktu kubuka, sebagian cat mengenai selendangmu."Dada Nania mencelus. Selendang itu selalu dijaga baik-baik selama bertahun-tahun, tetapi justru rusak saat berada di tangan orang yang baru dikenal. "Aku panik." Adam menundukkan kepala. "Aku pikir kalau langsung dicuci, nodanya masih bisa hilang."Tatapan Nania mulai beralih ke laut yang membentang luas, merasa sud

  • Wave of Love   Bab 4

    “Maaf, belum ada kamar untuk dua hari ke depan.”Nania meringis saat menatap kepergian sepasang turis yang singgah ke Vila Nirmala untuk mencari penginapan. Mengapa saat ada rezeki yang mau mampir, malah tidak bisa disambut?Nania menoleh ke ruang tengah. Ray sudah sibuk bercengkrama dengan tamu-tamunya. Ada 8 orang. Pria dan wanita. Sebagian dari mereka adalah turis asing yang entah dari mana asalnya. Tadi Nania berhasil memaksa Ray berjanji bahwa ini terakhir kali mereka memberi fasilitas gratis pada orang-orang kurang penting yang seharusnya membayar.Joko, anak Pak Miko yang juga bekerja rangkap, membantu sekelompok teman Ray memasukkan barang-barang ke masing-masing kamar. Nania melirik jam dinding. Sudah pukul empat sore. Mereka check in terlalu sore, ribut bukan main, dan belum apa-apa sudah mengotori vila dengan sampah bungkus kudapan.Sebenarnya Nania ingin menanyakan sesuatu pada Sekar, tapi masih ragu. Ia hanya berdiri di sebelah meja resepsionis tanpa suara. Tapi kemudi

  • Wave of Love   Bab 3

    Ray mendudukkan Nania di kasur. “Sakit, Ray. Kamu jahat.” Nania menggosok pergelangan tangannya yang merah. Ray mengacak rambutnya frustasi. “Oke, aku salah karena bersikap kasar. Tapi tolong, kamu jangan mulai berani membangkang seperti ini, Nia! Dulu kamu nggak pernah melawan setiap kali aku memutuskan sesuatu.”Ada rasa getir yang mengalir di dada Nania. “Kalau yang kamu lakukan masuk akal, aku nggak pernah protes.”Ray terdiam, tidak bisa memberi sanggahan. Nania tersenyum hambar. “Makin lama kamu cuma mikirin dunia kamu aja. Perasaan dan kepentingan aku jadi hal paling terakhir yang kamu pikirin.”Ray mendekati Nania dengan gerakan cepat. Tangan kekarnya mengepal erat. Untuk sesaat, Nania pikir suaminya itu akan menyakitinya lagi. Terserah. Ia tidak gentar. “Kamu bahkan lupa ulang tahun pernikahan kita!” sambung Nania sendu.Sorot mata Ray seketika hilang ketegasan. Ia mengusap tengkuk dengan gelisah.“Kemarin? Ya, aku terlewat.” Akhirnya Ray mengaku.Nania menggeleng lemah.

  • Wave of Love   Bab 2

    Cukup dengan memandang halaman depan Vila Nirmala yang bersih dan asri, senyum kecil terbit di bibir Nania. Apalagi ada Laila yang semangat menyambutnya setelah pulang dari pantai. Laila, si kuda poni yang manja, tertambat pada pohon di pekarangan. Sudah bertahun-tahun Nania memeliharanya. Hewan bersurai hitam legam itu adalah hadiah terindah dari Ayahnya dulu.“Apa kabarmu hari ini, Laila?” tanya Nania penuh senyum.Terlihat akrab, hidung Laila langsung menyentuh pipi Nania.“Selalu bahagia seperti biasa, kan? Nanti ikut Pak Miko ke pantai, ya. Jangan lupa makan, yang banyak,” lanjut wanita itu mengelus punggung Laila, lalu beranjak masuk ke vila. Dia naik tangga hendak pergi ke kamar untuk mengambil ponsel yang belum disentuhnya sejak semalam. “Ray pasti masih tidur,” gumamnya. Pintu kamar pun dibuka pelan-pelan, hanya cukup lebar untuk Nania menyelinap masuk. Kamar itu masih berbau alkohol bercampur parfum maskulin yang samar. Pandangan Nania menemukan benda yang dicari. Ponse

  • Wave of Love   Bab 1

    ‘Pegang janjiku. Aku, suamimu, akan memastikan kamu bisa selalu hidup bahagia. Aku akan mengusahakan itu, Nania. Yang perlu kamu lakukan hanya percaya padaku.’Dalam pelukan hangat Ray, di malam pertama mereka menjadi sepasang suami istri, Nania Kailani mempercayai janji itu tanpa ragu.Begitu sungguh ingin dia terus berpegang pada janji suci suaminya.Akan tetapi, Nania tidak bisa mengabaikan perubahan sikap dan gelagat aneh yang pria itu tunjukkan belakangan ini. Ray mulai sering pulang telat, bahkan tidak pulang sama sekali. Tidak sekali dua kali pria itu bahkan tidak memberinya penjelasan satu kalimat pun.Ulang tahun pernikahan mereka yang kelima kemarin terlewat begitu saja tanpa perayaan apa-apa. Mereka bahkan tidak saling bertukar ucapan, karena Ray baru pulang pukul tiga subuh dengan tubuh berbau alkohol menyengat.“Aku cuma ngumpul sama teman-teman di restoran.” Itu jawaban yang selalu sama, setiap kali Nania bertanya. “Jangan mencurigaiku seolah kamu tidak mengenal suamimu

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status