MasukCukup dengan memandang halaman depan Vila Nirmala yang bersih dan asri, senyum kecil terbit di bibir Nania. Apalagi ada Laila yang semangat menyambutnya setelah pulang dari pantai.
Laila, si kuda poni yang manja, tertambat pada pohon di pekarangan. Sudah bertahun-tahun Nania memeliharanya. Hewan bersurai hitam legam itu adalah hadiah terindah dari Ayahnya dulu.
“Apa kabarmu hari ini, Laila?” tanya Nania penuh senyum.
Terlihat akrab, hidung Laila langsung menyentuh pipi Nania.
“Selalu bahagia seperti biasa, kan? Nanti ikut Pak Miko ke pantai, ya. Jangan lupa makan, yang banyak,” lanjut wanita itu mengelus punggung Laila, lalu beranjak masuk ke vila.
Dia naik tangga hendak pergi ke kamar untuk mengambil ponsel yang belum disentuhnya sejak semalam.
“Ray pasti masih tidur,” gumamnya.
Pintu kamar pun dibuka pelan-pelan, hanya cukup lebar untuk Nania menyelinap masuk. Kamar itu masih berbau alkohol bercampur parfum maskulin yang samar.
Pandangan Nania menemukan benda yang dicari. Ponselnya tergeletak di atas nakas, tepat di samping gelas berisi air putih yang tinggal setengah. Merasa haus, ia meneguknya habis, lalu kemudian buru-buru menaruh gelasnya hingga menimbulkan suara keras.
Nania tercekat.
Ray terbangun. Rambutnya berantakan, wajahnya kusut, sementara sebelah lengannya menutupi mata dari cahaya yang masuk melalui celah tirai.
“Ngapain?”
"Aku cuma ambil ponsel.” Nania berusaha menjaga suaranya tetap datar.
Ray mengembuskan napas panjang, lalu duduk setengah bersandar di kepala ranjang. "Kamu nggak lihat aku lagi tidur?"
"Lihat," jawabnya mengambil ponselnya.
"Terus kenapa berisik?" Ray mengusap wajahnya berkali-kali. Nada bicaranya makin tinggi. "Aku baru bisa tidur subuh. Kepalaku sakit. Semalam aku kebanyakan minum. Yang aku mau sekarang cuma istirahat.”
"Aku juga pengin tidur," kata Nania dengan tangan terlipat di depan dada.
Ray mendengus pendek. "Ya tidur."
Nania tersenyum dingin.
"Aku nggak bisa. Kalau kamu kurang tidur, itu salah kamu sendiri. Tapi kalau aku yang kurang tidur, itu karena kamu!”
“Lho, kenapa nyalahin aku?” Sorot Ray kesal. Tidak terima.
“Aku capek mikirin kamu!”
Ray mengibaskan tangan dan terkekeh rendah. “Kalau itu tentang hal yang belakangan ini kamu tanya terus, stop, Nania. Kamu yang terlalu curiga. Aku nggak main gila di luar. Oke?”
“Aku nggak boleh curiga, dan kamu bebas berkeliaran di luar, gitu? Jarang pulang, terus menerus mabuk!”
Ray hanya menatapnya dengan sengit.
“Boleh nggak kamu berhenti egois seperti ini? Tolonglah, Ray. Seenggaknya lakukan sebagai kado ulang tahun pernikahan kita?” sambung Nania kemudian.
Mendengar itu, sontak Ray tersentak kaget, ekspresinya berubah.
“Lupa kan kamu? Dulu kita selalu rayain anniversary dengan bahagia. Sekarang itu udah nggak penting lagi buat kamu!” serang Nania menyuarakan kekecewaannya.
“Nania….”
“Nggak perlu minta maaf. Aku muak.” Dengan sengaja, Nania meninggalkan suaminya yang masih tergagap mencoba memanggilnya.
Setelah keluar kamar, ia baru menyadari dadanya terasa sesak.
Akhirnya dia memutuskan untuk berdiri beberapa saat di lorong lantai dua, membiarkan embusan angin pagi menyentuh wajahnya. Dihirupnya napas dalam-dalam, berusaha menguatkan diri.
Sinar mentari yang menyilaukan membuatnya tersadar bahwa ia harus memulai aktivitas hari ini, meski enggan.
Rasanya ingin bersembunyi dari segala urusan, tapi dia tidak hidup untuk dirinya sendiri. Di bawah, para pekerja sudah menunggunya untuk brief pagi. Ia akhirnya turun ke lantai 1 dengan langkah yang sedikit limbung.
“Pak Miko, Sekar, ayo kumpul dulu.” Nania memanggil dua karyawan utama. Pak Miko pekerja rangkap serba bisa, dan Sekar si resepsionis.
“Selamat pagi semua, seperti biasa, saya minta laporan dulu dong. Hari ini ada yang pesan kamar nggak ya?” tanyanya melirik Sekar. “Kalau ada yang kosong, saya butuh satu.”
Sekar membuka buku tamu. “Kamar kosong? Untuk siapa, Kak?” tanya Sekar.
“Untuk saya sendiri.”
Sekar dan Pak Miko reflek saling bertukar pandang kebingungan, tapi tidak berani bertanya lebih lanjut.
Lalu Sekar menunjuk kolom di buku tamu yang dipenuhi catatan.
“Kak, hari ini nggak ada kamar kosong.”
Nania mengernyit heran. Biasanya vila sepi di bulan September. Ia segera memeriksa catatan Sekar.
“Hm? Empat kamar kita, semuanya ada yang pesan?”
Sekar tampak ragu dan gelisah untuk menjawab pertanyaan itu. “S-sebenarnya, hanya satu tamu aja yang benar-benar tamu, Kak. Selebihnya, tiga kamar lagi, akan dipakai oleh teman-teman Bang Ray.”
“Waduh. Mereka pasti nggak bayar,” ceplos Pak Miko meringis.
Nania terkesiap, setengah tidak percaya dengan pendengarannya.
“Betul, Kak. Kata Bang Ray, akan ada 8 orang temannya yang datang, dan….” Sekar menggantung kata-katanya.
“Semua gratis?” tanya Nania geram. Menebak kalimat resepsionisnya itu.
Percakapan berhenti saat mereka mendengar pintu terbuka di lantai 2. Sesaat kemudian, lelaki pemicu segala masalah itu melenggang turun. Sudah segar sehabis mandi.
Sementara itu, amarah Nania sudah naik sampai ke ubun-ubunnya.
Nania berdiri tegak di tengah ruangan. Siap perang.
“Ray. Aku perlu bicara,” ucapnya to the point.
“Ada apa lagi, sih?!” hardiknya.
“Teman kamu yang mana lagi yang mau nginap di sini? Ada 8 orang? Ini benar, Ray?!”
Ray mendengus dan tersenyum miring seolah hal itu sesuatu yang konyol untuk dipermasalahkan. “Benar. Kenapa memangnya?”
“Coba jawab, mereka siapa?”
“Teman aku yang nggak kamu kenal. Sebagian dari mereka datang dari luar negeri.” Ray menumpukan pinggang di meja resepsionis.
Wajah Nania panas menahan amarah. “Terus, kenapa gratis? Orang penting?”
Ray mulai tampak risau.
Sekar dan Pak Miko serta merta mundur menjauh beberapa meter dan berusaha tidak ketahuan sedang menguping.
“Ray, kita sering membahas ini. Tidak bisa gratis. Bisnis dan teman harus dibedakan."
Nania sudah kehilangan hitungan berapa kali kejadian serupa terulang.
Teman-teman Ray datang beberapa bulan sekali, menginap berhari-hari tanpa membayar apa pun, sementara seluruh biaya operasional tetap harus ditutup dari keuntungan yang semakin menipis. Sungguh merugikan.
Dia harusnya tahu bagaimana cara berbisnis, tapi bagi istrinya itu, zonk!
Ray adalah seorang koki, pemilik Diamond Restaurant. Terkenal karena ketampanannya oleh warga sekitar. Tidak hanya itu, masakan-masakannya juga lezat dan selalu mendatangkan pengunjung. Hanya saja, dia terlalu murah hati, dan itu membuat usahanya susah berkembang.
“Aku benci sifat kamu yang terlalu royal. Pengeluaran kamu selalu minim timbal balik!” protes Nania dengan suara keras. membayangkan teman-teman urakan suaminya yang tidak tahu diri itu. Giliran Ray yang butuh bantuan, semua kabur.
Ray mencoba menghentikan rentetan kemarahan Nania. “Oke, oke! Kali ini aja. Aku sudah telanjur bilang ke mereka–”
“Selalu saja begini!” potong Nania keras. “Cukuplah, Ray!”
Mata Nania sudah berkaca-kaca.
"Ayo kita bicara di atas," pungkas Ray. Ia melirik para karyawan yang masih berada di ruangan yang sama. Daritadi lelaki itu mati gaya.
Nania tahu Ray sangat menjaga citranya di depan orang lain. Hampir tidak pernah ada pertengkaran yang diperlihatkan kepada tamu atau karyawan. Apa pun persoalannya, pria itu selalu memilih menyelesaikannya di ruang yang tertutup.
Tentu saja sekaligus menghindari kamera CCTV yang merekam seluruh aktivitas vila.
“Kenapa harus di atas?" tantang Nania.
"Jangan banyak tanya. Ke atas! Sekarang!" Ray mendelik, bibirnya berdesis mengerikan.
“Nggak, aku nggak mau! Kamu naik aja sendiri!”
“Ah, gila kamu! Udah berani ngelawan? Maunya pakai cara keras, ya? Sini!” Dengan kejam, Ray meraih pergelangan tangan Nania dan menariknya menuju tangga.
“Lepasin!”
Ray menggeram. “Diam atau aku akan lebih kasar.”
Wanita itu terisak. Terpaksa mengikuti suaminya karena tidak ingin melanjutkan keributan di luar.
Baru beberapa anak tangga mereka naiki, seseorang memasuki pintu utama. Membuat mereka semua berbalik serempak. Sekar tergopoh-gopoh menghampiri orang itu.
Sosok yang rasanya tidak asing bagi Nania. Dalam hati ia bertanya-tanya, apakah itu orang yang sama dengan orang yang tadi pagi meneriakinya di pantai. Orang yang jaketnya masih dia pakai.
Langkah Ray dan Nania terhenti. Keduanya melihat Sekar dan pria itu sedang membahas sesuatu. Tidak terlalu jelas terdengar, tapi sepertinya lelaki itu bertanya pada apakah ia boleh check-in lebih awal.
Namun bukan itu yang membuat matanya memicing. Selendangnya!
Selendang toskanya ada di dalam genggaman lelaki itu, entah bagaimana dan sejak kapan itu terjadi.
“Ayo, cepat! Sialan!” Ray kembali fokus. Pria itu benar-benar hilang kendali, dan membentak istrinya keras, seolah tidak peduli seluruh mata tertuju padanya.
Nania tertunduk, dan membiarkan dirinya diseret ke kamar.
Tanpa sadar di bawah sana ada satu tatapan yang tidak lepas dari bagaimana gadis itu diperlakukan.
Mobil bergemuruh halus melewati jalan kecil menuju vila. Sementara itu, di dalam mobil, hanya ada keheningan. Ray menggenggam kemudi erat-erat, matanya lurus menatap aspal basah. Di sampingnya, Nania memilih membuang pandang ke luar jendela. Bayangan pepohonan melintas cepat, persis seperti kerumunan pikiran yang berlarian di kepalanya. Mereka tidak bicara sejak awal mula perjalanan pulang dari rumah Pak Wira. Tapi Nania tahu, Ray selalu mencuri pandang. Mesin akhirnya mati di pelataran vila. Ray melepas sabuk pengaman, keluar, lalu memutar cepat. Pintu sisi penumpang terbuka. Ray berdiri di sana, mengulurkan tangan.Nania melempar tatapan ragu. Sudah berapa lama Ray tak membukakan pintu mobil untuknya? Bulan? Tahun? Atau mungkin ia sudah lupa kapan terakhir kali lelaki itu bersikap perhatian seperti ini. Gestur sederhana itu justru terasa asing, dan suasana jadi makin canggung. "Makasih," bisik Nania. Ia menolak menggapai jemari Ray dan memilih bangkit sendiri.Langkah perta
Rumah Pak Wira, almarhum Pak RT, masih ramai oleh tamu yang turut bersimpati atas kepergiannya. Nania dan Ray datang secara khusus untuk menjenguk Bu Rosita, istri Pak Wira. Wanita malang itu jatuh sakit setelah mengalami kehilangan yang begitu menyakitkan. Sementara Ray duduk di ruang tamu dengan sanak saudara Pak Wira, Nania masuk ke kamar Bu Rosita. Aroma bunga kantil menguar di sekitar ruangan. Nania melangkah perlahan menembus tirai pintu kamar. Di atas pembaringan, Bu Rosita terbaring lemah. Selimut tipis membungkus tubuhnya yang kian menggecil. Sepertinya kesedihan telah mengikis habis sisa-sisa tenaga dari raganya.Rambut wanita tua itu—yang kini hampir seluruhnya memutih—terurai berantakan di atas bantal. Wajahnya pucat pasi. Kedua matanya sembap, bengkak, serta memerah karena terus-menerus menguras air mata sejak kemarin. Melihat pemandangan itu, dada Nania serasa diremas. Rasa iba membuncah begitu kuat di relung hatinya. Begitu menyadari kehadiran Nania, tangis
‘Aku akan pulang nanti malam. Kepala desa meninggal kemarin. Orang-orang mencariku. Mereka memintaku untuk jadi kepala desa yang baru. Nania, aku mohon pengertianmu. Sebaiknya jangan ada orang luar yang tahu masalah kita. Reputasi vila dan dirimu sendiri juga harus dijaga.'Pesan dari Ray itu bagaikan duri tajam yang menusuk ke dalam kulit. Merusak suasana hati yang susah payah dibangun Nania selama berhari-hari.Layar ponselnya masih menyala, menampilkan kalimat-kalimat manipulatif yang seolah menempatkan Ray di posisi paling bijaksana. Padahal, di balik kata-kata "reputasi vila dan dirimu sendiri," terselip ancaman terselubung. 'Jangan berani macam-macam.' Begitu kan maksudnya? Nania melempar ponselnya ke atas tempat tidur, lalu memijit pelipisnya yang mendadak berdenyut nyeri. Di luar, angin sore berhembus pelan menyapu halaman vila yang luas, membawa aroma pinus yang biasanya menenangkan. Namun hari ini, udara terasa pengap bagi Nania.Bagaimana mungkin pria itu begitu mudah m
“Adam, ini ….” Nania betul-betul kehilangan kata-kata. Dan kegembiraan mengusai dirinya. Ia mengeluarkan satu per satu benda di dalam kotak dengan ekspresi semringah. Pertama-tama, ia mengamati tiga lembar foto lukisan Adam. Nania di tengah bingkai alami ranting cemara laut, memakai kalung dengan rantai panjang. Nania memeluk Laila si kuda poni, memakai cincin di jari manis. Dan figur wajah Nania dari samping, lengkap dengan anting berbentuk oval. Hasil cetakan fotonya berkualitas tinggi dan tajam, sehingga tampak jelas betapa detilnya lukisan Adam. Entah bagaimana, Nania di dalam lukisan terlihat lebih sensual dan misterius, tapi tetap elegan. “Hasil pekerjaan tanganmu, seperti keajaiban, Adam.” Nania memuji dengan suara lembut penuh kebahagiaan. Ia tersenyum, larut dalam perasaan kagum, memandangi lembaran berharga yang dipegangnya. Sementara itu, Adam tidak berkata apa-apa, hingga membuat Nania bingung. “Hei, kamu masih di sana?” tanya Nania. “Iya,” jawab Adam cepat.
Nania benci kenyataan bahwa ia masih terus memikirkan kelanjutan hubungannya dengan Ray. Pria bangsat itu.Beberapa orang menanyakan hal yang sama. Sekar, Rinna, dan Bu Intan. Ia tidak bisa memberikan jawaban tegas. Karena dirinya betul-betul masih bingung.Ia tidak bisa meramalkan apa yang terjadi nanti. Ia juga tidak tahu apa yang benar-benar ia inginkan untuk kelangsungan pernikahannya.Berpisah atau melanjutkan, dua-duanya membuat ia takut.Ketakutan untuk melanjutkan pernikahan begitu mencengkeram batinnya. Karena ia tahu betul bagaimana rasanya hidup dalam ketidakpastian bersama seseorang yang egois. Ia pasti harus terus-menerus makan hati, menghadapi kebohongan yang berulang. Ia tidak mau membiarkan jiwanya terkikis perlahan di dalam rumah tangga yang hampa tanpa rasa hormat dan cinta yang tulus. Menjalani hari-hari sebagai seorang istri di samping pria yang telah merusak kepercayaan adalah sebuah bentuk penyiksaan psikologis yang akan membunuhnya dari dalam.Namun, di sis
"Lihat apa, sih?" Nania memicingkan mata, berusaha menyembunyikan rasa penasarannya.Di layar ponsel Sekar yang disodorkan begitu dekat, terpampang sebuah foto potret Adam. Kualitas gambarnya tampak natural, diambil tanpa persiapan."Aku foto diam-diam waktu dia lagi sibuk melukis di halaman belakang," Sekar memberitahu sambil terkikik geli, matanya berbinar-binar penuh kekaguman.Di dalam foto itu, Adam tampak begitu fokus. Ia duduk di kursi taman vila dengan kanvas di hadapannya. Objek yang ia lukis adalah ... wajah Nania.Ada desir aneh yang mendadak mengalir di dada Nania melihat betapa unik dan indahnya karya seni itu. Latar belakang pemandangan pantai tertangkap dengan sempurna, sementara setiap goresan kuas tampak menakjubkan. Kelembutan sinar matahari pagi menyapu helaian rambut Nania, menciptakan pendar keemasan yang begitu hidup.Sosok Nania berdiri di antara ranting-ranting cemara laut. Di lehernya ada kalung batu permata yang berkilau. Koleksi perhiasan Bu Intan. Tern







