LOGINWARNING!!! KHUSUS 21+ BOCIL MINGGIR Bijaklah dalam membaca. Terima kasih. "Minumlah susu coklat ini ... biar susumu tambah berisi. Hehehehehe," goda Herlambang. "Om Her, nakal ah!" Senyum Elena meraih susu coklat dalam kemasan kecil. ... "Om gimana ini, kalau Erlangga tau dan curiga?" tanya Elena, terlihat tangannya gemetaran dan wajahnya penuh ketakutan saat menatap Herlambang. Dipeluknya Elena dengan erat. Lalu, Herlambang memegang wajah Elena dan berucap, "Sayang ... kalau ternyata hari ini kita ketahuan, aku akan hadapi apapun resikonya. Jadi kamu jangan takut seperti ini." "Tapi, Om..." Akankah perselingkuhan mereka akan diketahui oleh Erlangga? Apakah yang akan dilakukan Erlangga jika tahu, Papinya berselingkuh dengan istrinya? Siapakah diantara mereka yang bertanggung jawab atas kehamilan Elena? Dijamin seru...! Ada sedihnya, keselnya dan nagih untuk baca sampai akhir.
View MorePLAK!
Pandangan mataku seketika berkunang-kunang. Rasa panas menjalar di pipi kiriku, membakar kulit hingga ke tulang. Suara tamparan itu memecah keheningan malam di ruang tamu kami yang sempit dan pengap, ruangan tua dengan dinding kusam yang seolah menyimpan terlalu banyak luka dan pertengkaran. Kekuatan tamparan itu begitu besar hingga wajahku terlempar ke samping. Aku tersungkur, sudut bibirku yang tipis seketika pecah, mengalirkan anyir darah yang merembes di lidahku, membuat dadaku sesak. “Anak tidak tahu diuntung!” teriak ibuku. Napasnya memburu, matanya yang tajam menatapku penuh amarah. “Dari mana saja kau, hah?!” Aku mendongak perlahan, menatap Sarah Maheswari, wanita yang melahirkanku, namun kini menatapku seolah aku adalah sampah paling menjijikkan yang pernah ada. Tatapannya tidak berhenti di wajahku. Matanya terpaku pada leherku. Aku tahu apa yang dia lihat. Dua tanda merah keunguan bekas kecupan. Dua tanda kissmark terpampang jelas di sana. Sial. Aku lupa menutupinya dengan rambut. “Semenjak ayahmu meninggal, kau jadi anak tidak tahu aturan!” bentaknya lagi. Tangannya mencengkeram bahuku, mengguncang tubuhku dengan kasar. “Kau mau jadi jalang seperti yang dibicarakan orang-orang?!” Aku hanya mendengus getir. Namaku Nadine Clarisa Sanjaya. Usiaku dua puluh lima tahun. Dan enam bulan terakhir hidupku adalah neraka. Sejak Ayahku meninggal karena ditipu kolega bisnisnya, dunia kami runtuh. Hutang menumpuk, Ayah jatuh sakit karena tertekan, lalu pergi meninggalkan kami dalam kubangan kemiskinan. Aku terkekeh kecil, meski rasa perih di bibirku kian menusuk. Aku mendongak, menatap ibuku dengan tatapan kosong namun menantang. "Jalang? Bukankah itu kata yang lebih cocok untuk Ibu? Ke mana Ibu saat Ayah menghembuskan napas terakhirnya? Di mana Ibu saat jasad Ayah diturunkan ke liang lahat?" "Nadine! Jaga bicaramu!" teriak ibuku, wajahnya memerah padam. "Kenapa? Sakit mendengar kenyataan bahwa Ibu bahkan tidak datang ke pemakaman suamimu sendiri?" suaraku meninggi, serak karena emosi yang tertahan berbulan-bulan. "Ibu selalu menyalahkan Ayah. Menyalahkan hutang-hutangnya, menyalahkan kecerobohannya ditipu kolega bisnis. Tapi Ibu tidak pernah sadar kalau Ibu juga penyebab Ayah menyerah pada hidupnya!" Ibuku terdiam sejenak, wajah cantiknya memerah padam. Rumor yang beredar memang kejam. Ada yang bilang Ayah bunuh diri karena hutang yang menumpuk, ada yang bilang karena ibuku terlalu sering menghamburkan uang, namun yang paling menyakitkan bagiku adalah desas-desus bahwa ibuku berselingkuh dan berniat meninggalkan kami tepat sebelum ayahku jatuh sakit. "Kau tidak tahu apa-apa, Nadine! Jangan sok tahu!" ibuku berteriak, suaranya parau. "Sekarang lihat dirimu! Pulang malam dengan bekas menjijikkan di leher. Apa itu yang kau lakukan saat bekerja di bar? Menjual dirimu?" Aku tertawa getir. Ibuku tidak tahu bahwa selama ini aku bekerja di dua tempat sekaligus demi menyambung hidup. Pagi hari bekerja sebagai pelayan restoran, malamnya menjadi staf di sebuah bar mewah. Aku jarang tidur, mataku berkantung, dan tubuhku makin kurus. "Aku bekerja, Bu. Sesuatu yang tidak pernah Ibu lakukan dengan benar sejak kita jatuh miskin," sahutku dingin. Ibuku tidak membalas lagi soal pekerjaan itu. Ia mengibaskan tangan, seolah ingin membuang semua argumenku. "Hah! Percuma aku bicara denganmu. Sekarang, masuk ke kamarmu. Bereskan semua bajumu. Kita pindah sekarang juga!" Aku terbelalak. Rasa perih di pipiku sejenak terlupakan. "Pindah? Apa maksud Ibu? Ini rumah terakhir yang kita punya. Kita mau pindah ke mana malam-malam begini?" "Rumah ini sudah disita, Nadine! Hutang Ayahmu sudah sampai ke akar-akarnya, dan semua ini gara-gara kecerobohan Ayahmu, kita jadi gelandangan! Cepat bereskan barangmu! Kita pindah sekarang juga." Aku terpaku. Duniaku seolah runtuh untuk kesekian kalinya. Aku tidak menyangka situasi finansial kami jauh lebih buruk dari yang kubayangkan. Tanpa kata lagi, Aku berbalik dan menuju kamarku yang hanya dibatasi sekat triplek. BRAKK! Pintu kamar tertutup keras. Air mata yang sejak tadi kutahan akhirnya luruh. Aku menyandarkan punggung di pintu, lalu merosot hingga terduduk di lantai berdebu. "ARGHHH! Brengsek!" makiku, mengacak rambutku dengan frustasi. Bukan hanya masalah pengusiran ini yang membebani pikiranku. Namun, rasa ngilu yang asing di bagian inti tubuhku yang sejak tadi kutahan. Kejadian semalam berputar kembali seperti kaset rusak di kepalaku. Aku ingat saat itu aku merasa sangat haus setelah melayani pelanggan di bar yang penuh sesak. Seseorang memberiku segelas minuman. Aku pikir itu hanya air putih biasa. Tapi lima menit kemudian, duniaku mulai berputar. Tubuhku terasa panas, kesadaranku perlahan menguap. Samar-samar, aku ingat aroma itu. Aroma kayu cendana yang mahal dipadukan dengan wangi citrus yang tajam dan dingin. Aku ingat tangan yang besar, jari-jari panjang yang mencengkeram pinggangku dengan posesif, dan bisikan rendah di telingaku yang membuat bulu kudukku meremang. "Kau milikku malam ini, Little Bird..." Suara itu... begitu dalam, begitu berkuasa. Aku tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas karena lampu yang redup, tapi aku ingat sensasi kulitnya yang dingin saat bersentuhan dengan kulitku yang membara. Aku tidak akan pernah lupa. Di bawah remang lampu hotel malam itu, saat tubuhnya menindihku, aku melihatnya. Sebuah tato hitam pekat, tato ular melilit pedang yang meliuk di perut sebelah kanannya, seolah makhluk itu mengawasi... menikmati setiap rintihanku. Itu adalah tanda... tanda yang kini membuatku gemetar. Dan setelahnya, hanya ada rasa sakit dan kesenangan yang mencekam sebelum akhirnya aku jatuh pingsan. Pagi harinya, aku terbangun sendirian di sebuah kamar hotel mewah dengan tubuh hancur. Pria itu sudah pergi, hanya menyisakan cek dengan nominal uang besar di atas nakas yang tidak kusentuh sama sekali. Aku merasa kotor. Aku merasa telah menjual sisa harga diri yang kumiliki. "Brengsek... siapa pria itu?" gumamku lirih. Aku bangkit dengan sisa tenaga, menarik koper tua dari bawah tempat tidur dan memasukkan pakaianku dengan gerakan cepat. Ibuku bilang ada seseorang yang menunggu kami. Siapa yang cukup gila menampung dua wanita penuh hutang? Atau… apakah ibuku telah menjual dirinya? Atau lebih buruk... menjualku? Aku menatap cermin kecil yang retak. Rambut berantakan. Mata sembab. Lebam di pipi. Tanda di leher berdenyut seolah mengingatkanku bahwa hidupku tidak akan pernah sama. "Ayah... maafkan Nadine," bisikku lirih. Aku merasa seperti sedang melangkah masuk ke dalam mulut singa tanpa tahu apa yang menantiku di sana. Tapi aku tidak punya pilihan. Di dunia ini, orang miskin sepertiku tidak diberikan kemewahan untuk memilih. Aku menutup koperku, menghela napas panjang, merapikan diriku dan keluar dari kamar. Ibu sudah berdiri di sana, menatapku dengan tidak sabar. Di luar, suara klakson mobil mewah terdengar membahana di gang sempit tempat kami tinggal, sebuah pertanda bahwa hidupku yang tenang, meski miskin, telah berakhir hari ini. Mobil yang membawa Elena, Tiara dan Herlambang pun sampai di rumah Herlambang. Dan Tiara yang berjanji akan mempertemukan Elena dan Sakti meminta Elena untuk masuk ke kamar Sakti yang telah di dekorasi dengan warna biru. Dan Elena pun masuk ke dalam rumah itu dan mendapati Sakti bersama seorang pengasuh bayi.Melihat kedatangan Elena di kamar itu, Sakti yang telah mengenali Elena pun menangis dan minta di gendongnya seraya menangis. Lalu, Elena pun menggendong balita imut itu dengan perasaan bahagia dan terharu, karena Sakti sangat merindukan kehadiran Elena.Lalu, Elena pun bercengkerama dengan Sakti di saat Tiara tengah mempersiapkan makan siang untuk mereka.Herlambang yang tahu Elena berada di kamar Sakti, akhirnya berjalan ke kamar itu. Sesampai di kamar itu, Herlambang pun duduk pada sofa, sedangkan Elena tengah duduk di lantai yang telah di lapisi permadani. Memandang kehadiran Herlambang, Elena menoleh ke arahnya dan bermain kembali dengan Sakti.Di saat itu, Herlambang pun m
Erlangga, Alexander dan Bella yang tiba dari bandara tepat pukul sembilan pagi langsung menuju Rumah Sakit untuk ikut bersama TPU. Erlangga ikut bersama Bella yang dijemput oleh sopir pribadi dari keluarga Bella, sedangkan Alexander di jemput oleh Ermitha dengan tujuan yang sama menuju Rumah Sakit tempat kelima jenazah dari keluarga Jamila usai diautopsi dan usai di sholati oleh keluarga besar dari suami Jamila, keluarga Elena serta beberapa tetangga dari pemukiman kumuh, merasa kehilangan atas kelima tetangga mereka yang dikenal suka menolong.Mobil yang membawa Alexander, Ermitha, Bella dan Erlangga sampai di Rumah Sakit. Lalu, mereka pun keluar dari mobil yang membawa mereka. Terlihat, Erlangga menggandeng mesra tangan Bella berjalan menuju ruang pemulasan jenazah dan bertemu Jamila yang masih dalam kondisi terpukul dengan kedua mata sembab.“Mila.., gue ikut berduka atas musibah ini. Gue yakin Allah punya rencana besar buat elo. Yakin aja setiap musibah dan duka ada hal yang aka
Kebakaran yang terjadi di gang sempit di lingkungan kumuh tempat tinggal Jamila dan Elena kini tinggal debu. Puing-puing arang berwarna hitam menjadi pemandangan memilukan di area sepanjang gang sempit kumuh tersebut. Pabrik kulit terbesar di Jakarta itu terbakar. Dilingkungan kumuh itu tercatat, ada 5 orang tewas mengenaskan terpanggang di dalam rumahnya. Kelima orang yang tewas dalam kebakaran tersebut adalah keluarga Jamila. Yang terdiri dari Ayah, Ibu serta ketiga adiknya. Elena dan Herlina yang ke lokasi usai membawa Jamila ke Rumah Sakit, melihat rumah peninggalan Papanya Elena pun tinggal debu. Banyak penghuni dilingkungan kumuh itu menangisi kehilangan harta bendanya. Terlebih Jamila yang kehilangan anggota keluarga dan harta bendanya.“Maaa.., akhirnya rumah kesayangan Papa jadi debu.., apa masih boleh kita bangun lagi rumah disini?” isak Elena yang melihat tembok pada rumah peninggalan Sentana tinggal setengah. Yang tampak dalam pemandangan yang ada hanya hamparan puing-p
Elena yang tidak menyangka atas syarat yang dilakukan pada dirinya membuatnya menangis tersedu-sedu. Jamila yang mendengar syarat dari Erlangga, langsung menghubungi lelaki tampan itu lagi, namun tidak sekali pun panggilan Jamila dijawab olehnya. “Lena.., gue sih yakin.., Erlangga cuma gertak elo aja. Seingat gue sih.., Er di Perth nggak deket sama siapa pun. Masa sih elo kagak percaya sama laki elo sendiri. Udah elo tenang aja. Pikirin Er junior.., kasian itu bayi dalam kandungan elo, pasti bawaan si bayi kali.., bokapnya jadi seperti itu,” ungkap Jamila. “Tapi kan nggak usah pakai minta izin gue untuk kawin lagi. Er sengaja mau nyakitin hati gue. Emang sih gue salah. Tapi, semua itu gara-gara nyokap nya juga. Mila, ambil lagi aja Sakti, gue kagak mau kalau sampai Er kawin lagi. Buat apa coba? Mending kagak kenal dari awal sama Er dan keluarganya!” sengit Elena mondar mandir di dalam kamarnya. “Lena, kenapa sih sekarang ini gue liat elo beda sama waktu sekolah dulu. Kenapa sih, elo
*Flash Back usai 4 Jam kebersamaan Elena & Herlambang*Herlambang yang menggunakan ojek motor keluar dari gang rumah Elena akhirnya sampai hanya beberapa menit di halaman parkir Apotek Sumber Waras. Usai membayar ojek, ia masuk ke dalam mobilnya. Sejenak ia kembali melihat ke arah gang rumah Elena.
“Er.., masuklah, nggak enak terlihat tetangga,” pinta Herlambang yang telah mampu mengendalikan dirinya saat melihat mereka berdua saling berpelukan satu dan lainnya dengan menarik kopernya. Elena yang tidak mampu menolak pelukan Erlangga merasa kasihan pada Herlambang karena harus melihat Erlangga
Setelah panggilan ketiga kali terputus, untuk keempat kalinya Erlangga kembali menghubungi Elena. Dan Elena yang terlihat takut menjawab panggilan Erlangga memejamkan matanya dengan tangan masih memegang ponsel yang berdering. Herlambang yang tidak tega dengan kondisi tertekannya Elena atas panggi
Taxi yang membawa Elena dan Herlambang sampai pada sebuah rumah sakit swasta yang cukup besar. Lalu Herlambang membayar biaya taxi serta mengambil koper kecil berwarna silver miliknya. Sembari menarik koper yang dibawa, Herlambang pun merangkul pundak Elena untuk masuk ke dalam rumah sakit dengan


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ratings
reviewsMore