MasukWARNING!!! KHUSUS 21+ BOCIL MINGGIR Bijaklah dalam membaca. Terima kasih. "Minumlah susu coklat ini ... biar susumu tambah berisi. Hehehehehe," goda Herlambang. "Om Her, nakal ah!" Senyum Elena meraih susu coklat dalam kemasan kecil. ... "Om gimana ini, kalau Erlangga tau dan curiga?" tanya Elena, terlihat tangannya gemetaran dan wajahnya penuh ketakutan saat menatap Herlambang. Dipeluknya Elena dengan erat. Lalu, Herlambang memegang wajah Elena dan berucap, "Sayang ... kalau ternyata hari ini kita ketahuan, aku akan hadapi apapun resikonya. Jadi kamu jangan takut seperti ini." "Tapi, Om..." Akankah perselingkuhan mereka akan diketahui oleh Erlangga? Apakah yang akan dilakukan Erlangga jika tahu, Papinya berselingkuh dengan istrinya? Siapakah diantara mereka yang bertanggung jawab atas kehamilan Elena? Dijamin seru...! Ada sedihnya, keselnya dan nagih untuk baca sampai akhir.
Lihat lebih banyakSesampai di rumah Elena langsung menuju kamarnya. Ia pun menaruh vitamin dan bukti test pack untuk memperlihatkan dua garis merah pada alat pengetesan atas kehamilannya yang telah dilakukan pada Dokter wanita tersebut bagai bukti untuk Erlangga dan Herlambang esok hari.
Herlina yang mengetahui Elana telah pulang lewat suara sepeda motor Setya namun tidak ke kamarnya, langsung berjalan perlahan ke kamar putrinya. “Lena..., apa kata Dokter? Apa kamu udah enakkan?” tannya Herlina duduk disisi tempat tidur Elena. Elena yang terkejut dengan kehadiran Herlina ke kamarnya, menyembunyikan test pack yang di taruh pada nakas samping tidur ke bawah bantal dan duduk di tempat tidur dengan merentangkan kaki. “Kata dokter, cuman kecapean. Disuruh istirahat yang cukup dan dikasih vitamin aja. Besok juga Lena udah sehat Maa...,” sahut Elena memandang wajah Herlina dengan perasaan bersalah. “Syukurlah..., sekarang kamu istirahat dulu. Kalau perlu apa-apa suruh aja Setya. Hari ini Mama nggak akan kasih Setya keluar rumah. Gara-gara ada motor kerjanya main ke rumah temannya aja,” gerutu Herlina seraya mengelus kepala Elena lalu, berlalu dari kamar. Usai Herlina pergi dari kamar itu, Elena kembali mengambil bukti test pack yang telah berisi dua tanda merah. Ditatapnya test pack tersebut, seketika kabut gelap menyelimuti netranya. Lalu, Elena menutup isak tangisnya dengan bantal. “Mama..., maafkan Lena..., hikss..., Lena udah hancurkan impian Mama," isak Elena. Di minum air yang ada di nakas samping tempat tidurnya. Lalu, Elena meraih ponselnya seraya bermonolog. “Gue harus telepon Jamila. Dia harus tahu kondisi gue saat ini." “Mila..., elo bisa ke rumah gue? Tolong elo kesini, gue lagi bingung, hikss....,” pinta Elena pada Jamila sahabat karibnya yang sulit ditemui, karena Erlangga sang kekasih terus melarang untuk berteman dengannya. “Lena kenapa sama lo? Ada masalah lagi sama Erlangga? Apa lo putus sama dia?” tanya Jamila bertubi-tubi pada sahabatnya yang semakin jarang ditemui sejak menempati rumah pemberian Herlambang papi sambung Erlangga. “Please..., cepet lo kesini Mila Gue perlu lo sekarang. Kagak ada masalah sama Erlangga. Ini lebih parah daripada putus," isak tangis Elena kembali pecah saat teringat ia masih harus menyelesaikan ujian akhir di kelas 12. “Yaa, udah sekarang gue kesana..., udah lo jangan nangis. Apa pun masalahnya pasti akan ada jalan keluarnya Gue pesen ojek dan langsung cap cus ke rumah lo,” ujar Jamila pada Elena yang masih mendengar isak tangisnya. Setelah itu, karena isak tangisnya, Elena pun terlelap dengan permasalahan yang masih menggantung dalam pikirannya. Tiga puluh menit kemudian, Jamila sudah sampai di rumah Elena. Kemudian gadis cantik itu menekan tombol bel yang ada di tembok sebelah pagar berwarna biru. Bagi Jamila, Elena adalah seorang gadis beruntung. Karena, ia bertemu dengan Erlangga yang cinta mati dengannya dan mendapat curahan kasih sayang dari Herlambang, papi sambung Erlangga. Dalam hati Jamila berbisik, ‘Coba kalau gue nasib sama seperti Elena, mungkin gue kagak perlu capek-capek dapat hinaan dari beberapa lelaki yang pakai jasa gue.' Terlihat Setya keluar dari teras rumah dan membuka pintu pagar, tersenyum saat melihat kedatangan Jamila. “Masuk Kak..., pasti Kak Lena yang minta Kakak ke rumah yaa?” tanya Setya seraya mempersilakan masuk sahabat Elena. “Iya..., mana kak Lena?” tanya Jamila seraya mengikuti langkah Setya masuk ke rumah. Jamila hanya satu kali ke rumah Elena. Itu pun sewaktu mereka berdua berbohong pada Herlina sewaktu Herlambang menurunkan Elena di depan pintu kompleks perumahan tersebut. “Ayo masuk..., Kak Lena lagi sakit, ada di kamarnya. Maa.. Mama..., ini Kak Mila datang,” ucap Setya pada Herlina “Mila ... Ayo masuk, untungnya kamu ke rumah. Itu Elena lagi sakit, pulang ambil rapor katanya sih jalan-jalan sama Erlangga ke Mal. Tapi, dia mual dan muntah-muntah.” Deg...! Jamila bisa mencium ada sesuatu yang tidak beres pada Elena dari keterangan Herlina. Ia pun menganggukkan kepalanya sebelum wanita itu memberikan keterangan lebih lanjut. “Mungkin asam lambungnya naik, barusan udah diantar Setya ke dokter,” lanjut Herlina bercerita panjang lebar menjelaskan kondisi putrinya saat ini seraya mempersilakan Jamila masuk. “Bisa saya jenguk Elena, tante...?” izin Jamila pada Herlina. “Masuk aja ke kamarnya, itu kamar Elena...,” ucap Herlina menunjuk pintu di depan ruang keluarga saat Jamila meminta izin untuk bertemu dengan putrinya. Jamila pun masuk ke dalam kamar Elena, disaat sang pemilik kamar tengah terlelap dalam nyenyak nya. Dihampiri Elena, diusap dengan lembut kepala Elena seraya berbisik perlahan persisi di depan muka wanita cantik itu. “Elena..., Lena..., ini gue. Lena..., bangun,,” Jamila menepuk-tepuk pipi Elena dengan perlahan. Gadis belia itu membuka matanya, dan tampak sisa air mata masih terlihat pada sudut netranya. Saat dilihat Jamila telah berada di hadapannya, Elena bangun dari tidurnya, terduduk, memeluk erat Jamila dan terisak kembali. “Elena..., gue udah tau dan ngerti apa yang terjadi sama diri lo,” bisik Jamila mengelus lembut punggung sahabatnya. “Mila..., hikss..., Mama gue pasti kecewa dan marah, gue emang goblok banget jadi orang kan?” tanya Elena disela isak tangisnya. Di usap bulir air mata yang mengalir dengan lembut pada pipi Elena. Dibiarkan sahabatnya berseloroh menyesali semua kejadian yang tak mungkin di hindari. Dengan kasih sayang, Jamila merapikan anak-anak rambut Elena disaat gadis cantik itu menghukum dirinya. Ia terus berbicara atas perbuatan bodoh yang dilakukan hingga ia hamil. Sampai akhirnya Elena berhenti pada satu titik dan tampak terdiam serta memandang dalam wajah Jamila yang telah lebih dari sepuluh menit mendengarkan rasa sesalnya. Dengan menarik napas dalam, Jamila menelan salivanya dan berucap, “Lena..., lo kan tau siapa laki yang bikin lo hamil. Lalu..., napa elo nangis? Masalah sekolah yang tinggal selangkah lagi lulus, bisa lo akalin. Empat bulan kagak keliatan deh kalau perut lo ada isinya. Tapi, kalau lo takut ketahuan sama temen lain, kecar paket C aja," saran Jamila. “Mila, ada yang belom gue cerita’in ke lo,” ucap Elena lirih, menggigit bibir dan memejamkan matanya dengan helaan napas serta gelengan kepala. Jamila yang notabene jam terbangnya sudah tinggi saat menghadapi berbagai jenis lelaki di dalam pekerjaannya. merasa ada hal yang ganjal pada diri Elena. “Lena, jangan bilang kalau lo hamil bukan sama Erlangga, Ya!” pekik Jamila memegang jemarinya sahabatnya dan memandang lekat netra Elena, seolah menyelidiki kebenaran atas pikiran liarnya. Elena menganggukkan kepala dan memejamkan matanya. Jamila dalam pikiran negatifnya, terkejut atas pengakuan Elena. Lalu Jamila menanyakan kepastian atas pikiran liarnya. “Lena..., akhirnya lo jual diri juga kayak gue? Hah?!” desaknya pada sahabatnya. “Milaaa..., gue kagak jual diri. Sama sekali kagak pernah gue lakuin itu. Begitu banyak kejadian terjadi sama gue yang nggak gue cerita’in ke lo.” Jamila menatap lurus wajah Elena. Ia menantikan kelanjutan atas cerita yang tengah di uraikan sahabatnya. Tampak jelas, Elena menarik napas panjang. Hingga Jamila bergumam dalam hatinya. ‘Pasti Elena simpan rahasia yang begitu berat buat dia cerita’in ke gue.’ “Milaaa..., wanita itu, maminya Erlangga jahat sama gue. Dia jahat, Milaa..., hikss," isak Elena kembali pecah saat berbicara tentang mami Erlangga sang kekasih hatinya. “Lena...! Lo lebih baik selesaikan ceritanya. Lalu, kita cari jalan keluarnya,” tantang Jamila yang sudah tidak sabar mendengar cerita sahabatnya yang setiap saat bercerita menangis. “Lo tau...? Kejadian apa pun yang buat kita hancur udah kagak bisa lagi lo bangun dari puing-puingnya. Yang ada sekarang, lo harus bisa lihat kehancuran itu dan mulai dengan kehidupan yang baru! Ngerti kan maksud gue? Lo cerdas, Lena. Napa sih lo jadi tolol seperti ini?” keluh Jamila atas sahabatnya yang jadi bintang kelas dan juara di sekolahnya. “Milaaa..., tante Tiara ngasih gue minuman yang ada obat p3r4ngs4ng. Dia mau jebak gue sama kepala pelayan di rumahnya sewaktu dia ke Singapura 4 minggu lalu, tapi yang terjadi, Om Her yang minum dan semua kejadian begitu cepat. Gue takut kalau gue itu hamil anak dia...,” ungkap Elena seraya menutup wajah dengan kedua tangannya. “Apa...?! Berarti waktu kapan hari lo jalan sama bokapnya si Erlangga? Gue kan tunggu lo di depan kompleks. Jangan bilang lo abis main sama bokapnya si Er, ya..." Elena hany mampu mengangukkan kepala hingga kembali sahabatnya berucap padanya. "Gila...! Kalau cuma sehari waktu nyokap nya si Er berbuat jahat sama lo seharusnya kagak hamil dong. Masa sekali main hamil. Gue rasa, karena keenakan jadi lo terus main sama bokapnya si Er..., gitu kan?" "Gue kagak bisa tolak, Om Her...," alasan Elena saat dipojokkan sahabatnya. Setelah itu, Jamila pun menghela napas panjang bertanya pada sahabatnya, “Lalu, lo udah kasih tau Erlangga kejadian lo sama bokap sambungnya itu? Lagian sadis amat sih maminya si Er. Pantas aja si Er, ikutin sifat maminya yang jahat! Sorry yaa Lena, gue juga kesel sama pacar lo yang egois itu!” “Milaaa..., gue harus gimana?” tanya Elena yang tak mengubris omongan sahabatnya “Ngomong lah..., sama si Er, kalau bukan dia yang kasih saham di perut lo!” saran Jamila tegas. “Mila..., gue kagak tega kasih tau Erlangga. Lo tau kalau Er sayang banget sama Om Herlambang. Biarpun dia anak sambungnya, tapi Er dari bayi udah diurus sama Om Her...,” tolak Elena atas saran Jamila. “Lalu, apa Papinya Erlangga tau?” tanya Jamila yang tau kalau Elena sangat mencintai Erlangga. “Tadi Om Her telepon gue. Dia besok baru dateng dari Perth..., dia seneng sih kedengarannya. Gue juga udah telepon Erlangga dan dia juga seneng gue hamil. Dia bilang mau nikah sama gue setelah Papinya datang. Cuma gue bingung, gue hamil anaknya Er apa anaknya Om Her...?” Elena mengernyitkan dahinya. “Elena..., sekarang jamannya udah canggih. Kalau gimana waktu lo hamil tiga bulan, lo diam-diam test DNA bareng Papinya Erlangga, jadi lo kagak menduga-duga,” ujar Jamila. Saat mereka sedang seru-serunya mengobrol, pintu kamar Elena dibuka oleh sang adik dengan membawa dua kantung kanvas besar. “Kak Lena..., tadi ada orang suruhan Om Herlambang, namanya Pak Dimas nganterin buah-buahan...,” ujar Setya sang adik seraya membawakan begitu banyak buah-buahan beserta roti dan cake. “Aduh..., lo itu napa semua dibawa kesini sih? Ambil setengahnya bawa keluar. Kasih mama juga, Setya!” perintah Elena pada Setya yang dijawab dengan merenggut dan membagi setengah buah dan cake keluar kamar Elena. Jamila yang melihat perhatian Herlambang, Papi sambung Erlangga membuat hatinya tergelitik untuk menyatakan pendapatnya pada Elena. “Elena..., gue rasa, Papinya Erlangga, jatuh cinta juga deh sama lo, iya nggak sih?” tanya Jamila menatap manik hitam Elena. Elena yang mendengar celoteh sahabatnya hanya membalas tatapannya dengan bibir terkatup dan mata terpejam seraya menggeleng perlahan. Baru saja Jamila berkata seperti itu, ponsel Elena pun berdering. Tampak pada layar depan ponsel nama Herlambang terlihat dan dengan segera Elena menjawab panggilan teleponnya. “Yaa, Om...” “Sayang, tadi Dimas sudah Om suruh bawa buah-buahan dan cake serta roti. Tolong..., kamu harus makan walaupun sedikit. Om nggak mau terjadi apa-apa dengan diri kamu dan bayi dalam kandungan kamu. Besok pagi sampai di Bandara Sukarno Hatta, Om langsung ke rumah kamu. Ingat sayang..., jaga diri kamu. Om sangat merindukan kamu,” ungkap Herlambang yang menyimpan kerinduan pada Elena. “Yaa, Om..., makasih. Om juga jaga kesehatan disana,” sahut Elena lalu mereka pun menyudahi percakapan itu. “What?! Om Herlambang ngomong pakai sayang seperti itu sama elo?” tanya Jamila tersenyum samar. “Emang kenapa...? Wajarlah, secara Erlangga anaknya dia, Milaaa...” “Lenaa...! Gue berani jamin, Om Herlambang jatuh cinta sama lo! Lagian kok lo kagak cerita ke gue kalau elo udah di makan sama bokapnya si Er...? Gimana enakkan yang mana?” Jamila sengaja membuat Elena tersenyum agar tidak stress menghadapi masalahnya. “Milaaa! Aduh..., lo ini pikiran gue lagi mumet di ajak bercanda, begituan,” sungut Elena pada Jamila. Yang dilakukan Elena hanya tertekun atas apa yang dikatakan sahabatnya yang secara terang benderang bisa mengartikan perhatian Herlambang. Dalam hati yang terdalam Elena pun berkata, ‘Yaa..., gue tau kalau Om Her, sayang dan jatuh cinta sama gue. Tapi..., gue kagak mau buat Erlangga sakit hati, Mila. Gue sayang Erlangga’Mobil yang membawa Elena, Tiara dan Herlambang pun sampai di rumah Herlambang. Dan Tiara yang berjanji akan mempertemukan Elena dan Sakti meminta Elena untuk masuk ke kamar Sakti yang telah di dekorasi dengan warna biru. Dan Elena pun masuk ke dalam rumah itu dan mendapati Sakti bersama seorang pengasuh bayi.Melihat kedatangan Elena di kamar itu, Sakti yang telah mengenali Elena pun menangis dan minta di gendongnya seraya menangis. Lalu, Elena pun menggendong balita imut itu dengan perasaan bahagia dan terharu, karena Sakti sangat merindukan kehadiran Elena.Lalu, Elena pun bercengkerama dengan Sakti di saat Tiara tengah mempersiapkan makan siang untuk mereka.Herlambang yang tahu Elena berada di kamar Sakti, akhirnya berjalan ke kamar itu. Sesampai di kamar itu, Herlambang pun duduk pada sofa, sedangkan Elena tengah duduk di lantai yang telah di lapisi permadani. Memandang kehadiran Herlambang, Elena menoleh ke arahnya dan bermain kembali dengan Sakti.Di saat itu, Herlambang pun m
Erlangga, Alexander dan Bella yang tiba dari bandara tepat pukul sembilan pagi langsung menuju Rumah Sakit untuk ikut bersama TPU. Erlangga ikut bersama Bella yang dijemput oleh sopir pribadi dari keluarga Bella, sedangkan Alexander di jemput oleh Ermitha dengan tujuan yang sama menuju Rumah Sakit tempat kelima jenazah dari keluarga Jamila usai diautopsi dan usai di sholati oleh keluarga besar dari suami Jamila, keluarga Elena serta beberapa tetangga dari pemukiman kumuh, merasa kehilangan atas kelima tetangga mereka yang dikenal suka menolong.Mobil yang membawa Alexander, Ermitha, Bella dan Erlangga sampai di Rumah Sakit. Lalu, mereka pun keluar dari mobil yang membawa mereka. Terlihat, Erlangga menggandeng mesra tangan Bella berjalan menuju ruang pemulasan jenazah dan bertemu Jamila yang masih dalam kondisi terpukul dengan kedua mata sembab.“Mila.., gue ikut berduka atas musibah ini. Gue yakin Allah punya rencana besar buat elo. Yakin aja setiap musibah dan duka ada hal yang aka
Kebakaran yang terjadi di gang sempit di lingkungan kumuh tempat tinggal Jamila dan Elena kini tinggal debu. Puing-puing arang berwarna hitam menjadi pemandangan memilukan di area sepanjang gang sempit kumuh tersebut. Pabrik kulit terbesar di Jakarta itu terbakar. Dilingkungan kumuh itu tercatat, ada 5 orang tewas mengenaskan terpanggang di dalam rumahnya. Kelima orang yang tewas dalam kebakaran tersebut adalah keluarga Jamila. Yang terdiri dari Ayah, Ibu serta ketiga adiknya. Elena dan Herlina yang ke lokasi usai membawa Jamila ke Rumah Sakit, melihat rumah peninggalan Papanya Elena pun tinggal debu. Banyak penghuni dilingkungan kumuh itu menangisi kehilangan harta bendanya. Terlebih Jamila yang kehilangan anggota keluarga dan harta bendanya.“Maaa.., akhirnya rumah kesayangan Papa jadi debu.., apa masih boleh kita bangun lagi rumah disini?” isak Elena yang melihat tembok pada rumah peninggalan Sentana tinggal setengah. Yang tampak dalam pemandangan yang ada hanya hamparan puing-p
Elena yang tidak menyangka atas syarat yang dilakukan pada dirinya membuatnya menangis tersedu-sedu. Jamila yang mendengar syarat dari Erlangga, langsung menghubungi lelaki tampan itu lagi, namun tidak sekali pun panggilan Jamila dijawab olehnya. “Lena.., gue sih yakin.., Erlangga cuma gertak elo aja. Seingat gue sih.., Er di Perth nggak deket sama siapa pun. Masa sih elo kagak percaya sama laki elo sendiri. Udah elo tenang aja. Pikirin Er junior.., kasian itu bayi dalam kandungan elo, pasti bawaan si bayi kali.., bokapnya jadi seperti itu,” ungkap Jamila. “Tapi kan nggak usah pakai minta izin gue untuk kawin lagi. Er sengaja mau nyakitin hati gue. Emang sih gue salah. Tapi, semua itu gara-gara nyokap nya juga. Mila, ambil lagi aja Sakti, gue kagak mau kalau sampai Er kawin lagi. Buat apa coba? Mending kagak kenal dari awal sama Er dan keluarganya!” sengit Elena mondar mandir di dalam kamarnya. “Lena, kenapa sih sekarang ini gue liat elo beda sama waktu sekolah dulu. Kenapa sih, elo
Hari ini adalah hari pengumuman kelulusan dari siswa dan siswi SMAN21. Usai mereka melewati masa ujian sekolah selama satu minggu dan selama satu minggu pula melewati proses menunggu hasil ujian hanya dengan nongkrong dan kongkow-kongkow di sekolah, kini dengan hati berdebar mereka pun menunggu hasi
Kesalahpahaman dan keributan dengan Jamila beserta berita burung tentang pernikahan antara Erlangga dan Elena, akhirnya sampai pula ke telinga beberapa guru hingga menyebabkan Erlangga dan Elena dipanggil oleh Guru BP ke ruang guru. Dan dengan berat hati, Erlangga dan Elena berjalan menuju ke ruang
Saat Herlambang dan Elena telah bisa mengendalikan diri, tanpa disadari Setya dan Herlina telah sampai di pintu halaman rumahnya. Dan Herlambang yang melihat pada spion mobilnya sangat terkejut, saat melihat Herlina turun dari motor Setya dan membuka pintu pagar dan tampak melihat ke arah mobil Herl
*Flash Back Usai 4 jam kebersamaan Elena & Herlambang* Setelah menyelesaikan makan siang bersama, Elena pun merapikan semua makanan yang telah ludes tanpa tersisa, lalu ia pun membersihkan perabot yang ada di rumah itu. Terlihat Elena membuka tempat piring dan gelas yang diletakkan pada kitchen set






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Peringkat
Ulasan-ulasanLebih banyak