Masuk(Cerita ini mengandung unsur 21+) Lagi asyik mengantri untuk membeli karcis bioskop, Katya benar-benar kaget saat seorang anak kecil tiba-tiba saja menarik tangannya. Lebih kaget lagi, ketika ternyata anak kecil itu membawanya kepada seorang lelaki yang bernama Gaffandra, untuk dijadikan temannya menonton! Lalu dari kejadian itu, pertemuan antara Katya dan Gaffandra pun berlanjut... ... di atas tempat tidur. * Dibesarkan oleh kakek dan ayah yang sering kawin-cerai, membuat pernikahan tidak akan pernah terlintas di benak Gaffandra, meskipun usianya sudah menginjak 38 tahun. Ia terlalu menikmati hidup bebas tanpa ikatan dan drama yang merepotkan. Namun ketenangannya pun terusik ketika pasangan hidup selibatnya, Olivia, tiba-tiba saja menuntut sebuah pernikahan. Gaffandra pun segera memutuskan hubungan tanpa ikatan dengan Olivia tanpa merasa keberatan sedikit pun, meskipun sesudahnya ia bingung bagaimana menyalurkan hasrat normalnya sebagai seorang lelaki yang butuh pelampiasan. Hingga akhirnya ia bertemu Katya, dan mengajukan sebuah penawaran menggiurkan yang sulit untuk ditolak. *** IG : @blackauroranovels
Lihat lebih banyak“Vin, aku sangat mencintaimu apa pun yang terjadi aku akan selalu bersamamu, tapi bolehkah aku memelukmu sekali lagi? Anggap saja ini pelukan terakhir kali karena mungkin kita akan jarang bertemu, kamu tahu kan bagaimana papi, jika ketahuan beliau akan menjadikan aku daging guling.”
“Mas, aku selalu ada buat kamu, kapan pun dan di mana pun kamu meminta aku akan datang. Aku sangat mencintaimu, Mas Raga.”“Aku juga sangat mencintai kamu, Vina.”“Mas, lepas aku enggak bisa napas, jangan kuat-kuat! Kamu sengaja ya Mas!” teriak wanita itu seketika.Pria itu semakin memeluknya erat. “Katanya kamu cinta buktikan sama aku, kamu harus menjadi milikku, Vina!”“Vina? Aku bukan Vina? Aku Viona, Mas! Lagian aku ini bukan guling!” Kini suara wanita itu lebih meninggi.Raga masih berpikir kalau yang dipeluknya adalah Vina. “Duh kok hangat banget sih kamu saja minta dipeluk terus.” Kedua matanya masih terpejam merasakan kehangatan tubuh wanita itu.“Ya Allah Mas, lepas! Aku enggak bisa napas kalau begini,” rengek wanita itu memelas. Ingin rasanya menendang kaki berotot itu tapi dia sangat takut kalau pria tampan itu terbangun dan marah besar. Namun, sesaat kemudian Raga sadar akan suara wanita di sebelahnya yang terus meronta, dia pun mencoba membuka mata perlahan-lahan seketika Raga terlonjak kaget saat yang dia lihat ada penampakan dengan rambut tergerai panjang tepat di hadapan wajahnya.“Han ... hantu!” Raga melepaskan pelukannya dan mundur lima langkah dari hadapan wanita itu.“A—apa maksud Mas? Di mana hantunya?” rengek wanita ikutan panik.“Ka—kamulah hantunya, siapa lagi? Kenapa ada di kamar saya? Cepat pergi dari sini saya sudah menikah!” Raga memberanikan diri mengusirnya.Wanita itu membetulkan rambutnya yang berantakan lalu mengambil ikatan rambut yang ada di bawah bantalnya. Rambut panjang itu lalu diikat tinggi-tinggi. Dan bodohnya Raga baru menyadari siapa yang ada di hadapan dia ini yaitu istrinya wanita yang dijodohkan oleh Papi Seno untuknya.“Ada apa Mas?” tanyanya lagi mengagetkan Raga yang masih berdiri terpaku melihat istrinya.“Ah! Sial sekali hari ini rencana ingin bermalasan untuk pergi ke kantor sebentar ternyata aku salah memeluk wanita,” gumamnya kesal.“Mas, ada apa kenapa keringat gitu, kurang dingin AC nya?” tanya wanita itu yang sudah sah menjadi istri sah Raga enam hari yang lalu.Raga kembali mengucek matanya, siapa tahu wanita itu bisa berubah wujud tapi nyatanya tidak sama sekali , dia tetap seperti itu, tampil apa adanya dan membosankan.“Ya maaf saya kira kamu kuntilanak jadi-jadian lagian ngapain sih pakai begituan, wajah kamu itu tetap enggak glowing seperti kekasih saya!” bentak Raga seketika tapi entah apa yang ada di pikiran wanita itu tidak marah atau pun sakit hati dia tetap memberikan senyuman manis dengan menampilkan deretan gigi yang rapi dan putih bersih. Mungkin ingin dipuji, meskipun enggak cantik tetapi dia tetap mempunyai keunggulan di bagian mulut dan giginya yang putih berseri seperti Iklan ditelevisi.“Ih Mas Raga so sweet banget sih pagi-pagi, padahal baru juga mau bangun tapi Mas sudah membangunkan aku dengan penuh cinta, tapi jangan kuat-kuat meluknya, enggak bisa napas loh,” sahutnya dengan tersenyum manis.“Membangunkan kamu? Enggak ada ya saya itu hanya kaget melihat benda asing di mata saya dan kamu salah satunya,” rutuk Raga kesal. Daripada meladeni wanita itu lebih baik Raga pergi membersihkan diri.“Mas, mau ke mana?”“Mau makan!” sahut Raga tanpa menoleh.“Kok di kamar mandi, kalau makan tuh di meja makan, nanti aku siapkan di sana!” teriaknya masih bisa terdengar sampai kamar mandi.Satu lagi yang menjadi keunggulan Viona, dia bisa memasak. Memang sih masakannya membuat Raga ketagihan. Lidah dan perutnya bisa diajak kompromi dan menerima dengan ikhlas. Intinya untuk urusan rumah tangga dia sangat pandai dan cekatan, mungkin melebihi seperti pembantu rumah tangga. Sedikit kotor saja yang dia lihat tangan dan kakinya dengan sigap membersihkan kotoran itu tanpa terkecuali.“Mas, aku mau ikutan arisan kompleks sama ibu-ibu di sini, sekalian silaturahmi dengan mereka, lagian kita kan orang baru tinggal di sini, boleh, kan?” tanyanya saat mereka sudah duduk di meja makan.Raga yang masih menikmati sarapan paginya, sungguh ini enak sekali padahal hanya nasi goreng udang mentega, dan dia pun sudah menambahnya sampai dua kali.“Terserah kamu saja, sesuai kesepakatan kita, kan? Kamu tidak perlu meminta izin dari saya untuk melakukan hal yang menurut kamu benar dan begitu juga dengan saya, kamu tidak perlu bertanya apa yang saya lakukan di luar, intinya kita jalani hidup masing-masing, kamu sudah tahu, kan alasannya?” tanya Raga tanpa melihat wajah Viona yang membosankan karena masih menikmati sarapan pagiku itu.“Terima kasih Mas, yang penting aku sudah kasih tahu Mas dan uangnya?” tanyanya lagi tanpa ragu.Raga menoleh dan terpaksa melihatnya. Lalu mengambil dompet mewahnya yang sudah bertengger di saku celana belakang. “Nggak ada uang cash tinggal lima ratus ribu di dompet kamu perlu berapa?”“Cukup seratus tujuh puluh ribu saja, Mas.”“Nih, kamu ambil sendiri uangnya di ATM, dan ini nomor PIN-nya, jangan seperti orang susah.” Raga menyerahkan sebuah kartu ATM untuknya, tapi Viona hanya menatap benda itu seperti kebingungan.“Ada apa?” tanya Raga heran.“Maaf Mas, kenapa malah kasih aku kartu ATM, uang Mas di dompet lebih dari cukup, aku hanya perlu sedikit saja,” tolaknya dengan halus.Raga mendengkus kesal, biasanya kalau wanita diberikan ATM pasti mereka bahagia atau mungkin melompat kegirangan tapi tidak dengan Viona dia tampak ragu dan terlihat murung. Untungnya pria tampan itu sudah selesai makan dan perutnya sudah tidak muat menampungnya lagi sehingga tidak merusak selera makan.“Ada apa lagi? Jangan bilang kamu tidak tahu cara menggunakannya,” selidik Raga menatap tajam ke arahnya.“Bukan begitu Mas, nanti kalau aku kebablasan bagaimana?”“Kamu tenang saja uang yang ada di dalam itu hanya untuk kamu, anggap saja uang bulanan, jadi kamu bebas untuk menggunakan uang itu, jangan khawatir semua adalah uang halal, saya tidak mungkin melakukan hal-hal yang aneh,” jelas Raga meyakinkan hatinya.“Sungguh, bisa dipakai untuk apa saja?” tanyanya memastikan.“Benar sekali, untuk kebutuhan rumah tangga saya sudah serahkan kepada Mbok Darmi jadi kamu tidak perlu bersusah payah memikirkan listrik, kebutuhan dapur atau keperluan lainnya cukup urus dirimu sendiri.” Raga tersenyum mengejek saat melihat wajah istrinya begitu bahagia,“Pasti hatinya sedang berbunga, ya iyalah wanita mana yang tidak menyukai uang, pasti mereka sangat membutuhkan untuk mempercantik diri, tapi apakah dia akan melakukannya atau dia tabung? Aku menjadi penasaran apa yang akan dia lakukan dengan uang bulanan yang aku berikan?” batin Raga kembali tersenyum.Sepuluh juta, uang bulanan yang Raga berikan secara Cuma-Cuma, tanpa harus memikirkan yang lain. Ya bagi Raga tidak masalah buatnya karena dia seorang penguasa sukses. Bahkan baginya uang segitu tidak ada artinya karena biasa dia memberikan uang bulanan untuk Vina sebesar dua puluh lima juta untuk pegangannya belum termasuk jika Vina meminta di luar dari itu, sangat suka rela memberikan kepada Vina.“Alhamdulillah, terima kasih Mas, kamu sangat baik sekali , tenang saja aku akan memakainya dengan baik,” sahutnya dengan mata yang berkaca-kaca, tapi Raga semakin tidak suka dengannya.“Kamu lebay banget sih, ya sudah saya berangkat kerja dulu. Assalamualaikum!”Viona mengantarkan Raga sampai pintu dan hal yang tak pernah dia lupakan adalah mencium takzim punggung tangan sang suami sebelum masuk ke mobil mewahnya.Tak berselang lama, Raga melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, karena ingin menjemput pujaan hati yang ingin sarapan di luar. Viona tidak tahu apa yang dia lakukan di luar sana. Raga memang tidak pernah menolak jika Vina memintaku untuk mengantarkan pergi ke mana saja. Saat lampu merah, dengan sabar menunggu, tapi mata pria tampan itu kembali dibuat terpana saat melihat Viona sedang berbicara dengan seseorang di sebuah minimarket.“Apakah itu memang Viona? Dan sedang apa dia bersama dengan pria lain?” tanyaku sambil menatap ke arahnya terus tanpa sadar tangan Raga mengepal kuat di pegangan setir mobil."Kak Kendra??" Katya menatap heran ke arah wanita bule yang berjalan dengan lesu sembari menggeret koper di belakangnya. Katya semula sedang iseng berjalan-jalan di sekitar bagian samping lobby hotel yang ternyata memiliki spot untuk bersantai, sembari menikmati beberapa lukisan serta instalasi seni yang artistik. Gadis bersurai coklat kemerahan itu duduk di salah satu sofa bulat tanpa sandaran, menunggu Gaffandra yang sedang membelikannya kopi.Kendra yang mendengar namanya disebut, serta merta menoleh. Saat menemukan sosok Katya yang datang menghampirinya, sontak saja gadis itu waspada dan menoleh ke sekelilingnya dengan wajah yang agak panik."Uhm... hai, Katya. Kamu... sendirian? Gaffandra mana?" "Dia sedang beli cemilan dan minuman," sahut Katya sambil tersenyum. Manik coklatnya melirik ke arah suitcase merah yang digeret oleh kakak tirinya itu. "Kak Kendra mau pindah hotel ya?" tebak Katya.Kendra menggeleng pelan. "Aku mau ke bandara dan kembali ke Jakarta," ungkapnya menge
Katya mengerjapkan maniknya saat melihat sorot penuh kejujuran dan ketulusan yang terpancar dari bola mata sehitam malam milik Gaffandra. Yang barusan tadi itu... apa benar pria ini sedang melamarnya??((Aku tidak mau melanjutkan hubungan kita yang sebelumnya, Katya. Karena yang aku mau adalah hubungan yang baru, yaitu kamu sebagai istriku))"Pak?" "Ya, Baby Girl?""Mmm... itu bener barusan melamar aku? Bukannya... Pak Gaffandra dulu kan pernah bilang kalau..." "Uh-hum. Kamu benar, dulu aku memang pernah mengatakan kalau tidak akan percaya pada cinta, apalagi pada pernikahan. Semua itu terlihat bullshit di mataku," cetus Gaffandra sembari menjulurkan jemarinya dan mengusap lembut bibir penuh Katya."Lalu waktu itu aku pun hanya bisa menjanjikan kesetiaan dan hubungan monogami kepadamu..." tambah pria itu lagi seiring dengan senyum kecil yang mulai terbit di wajahnya untuk Katya."Terus? Kenapa sekarang berubah?" tanya Katya dengan penuh rasa ingin tahu. "Karena aku selalu merasa g
**BEBERAPA SAAT SEBELUMNYA**Saat private jet akhirnya mendarat darurat, Gaffandra dan Kendra pun langsung disibukkan oleh jadwal kunjungan kerja ke lokasi proyek pembangunan hotel di salah satu jalan utama di Kota Surabaya. Tak salah memang jika Andrew Harrison memberikan wewenang penuh kepada putrinya ini untuk mengambil alih jabatan CEO sementara dirinya sedang memulihkan kondisi kesehatannya, karena Kendra memang sangat menguasai hal-hal teknis dalam pekerjaan.Pasti telah lama Andrew mendidik putrinya untuk menjadi generasi penerus yang akan memimpin perusahaan.Tanpa terasa waktu terus bergulir, hingga akhirnya memasuki jam istirahat siang. Gaffandra memutuskan untuk kembali sebentar ke hotel tempatnya menginap setelah menghadiri jamuan makan siang yang telah disiapkan. Ia merasa lelah dan ingin beristirahat, sembari menelepon seseorang yang sejak tadi terus memonopoli otaknya.Seharian ini yang terbayang di pikirannya adalah wajah Katya yang tersenyum dengan sangat manis, mem
"Yakin nih kamu nggak mau ikut?" Katya tersenyum, ketika sebuah suara diikuti oleh kecupan lembut mendadak mendarat lehernya.Gadis itu sedang membuatkan kopi pagi di pantry untuk teman sarapan Gaffandra, saat pria itu tiba-tiba saja memeluknya dari belakang.Katya terkikik geli ketika Gaffandra dengan sengaja menggelitik lehernya menggunakan ujung hidung pria itu, membuatnya tak tahan namun tak bisa berkutik karena Gaffandra mencengkram pinggangnya. Pria itu baru berhenti setelah Katya berteriak-teriak minta ampun."Kamu tega banget, Katya. Gimana kalau nanti aku kangen, hm?" Gaffandra membalikkan tubuh gadis itu hingga menghadapnya, lalu meraup bibir Katya dengan kecupan gemas yang singkat namun dengan sengaja berkali-kali."Cuma satu hari kok, Pak. Aku janji akan langsung menyusul ke Surabaya kalau urusan dengan Papa Andrew selesai." Hari ini seharusnya Katya ikut bersama Gaffandra yang hendak meninjau lokasi proyek pembangunan hotel di Surabaya. Tapi Andrew meminta gadis itu unt
"Sudaah... ampuun!!" Sejak tadi Katya terus memekik dan tertawa karena tak bisa menahan geli, akibat Gaffandra yang tak hentinya menggelitik pinggang, leher serta telinganya.Gaffandra menggunakan jemarinya untuk menggelitik pinggang Katya, dan ujung lidahnya untuk menjilati kulit leher dan lekuk tel
Harum.Diam-diam Katya tersenyum sambil menghirup aroma bunga mawar putih yang terbungkus kertas buket mengkilat berwarna hitam. Perpaduan yang kontras juga sekaligus terlihat mewah dan elegan. Feminin sekaligus maskulin. Bahkan kertas hitam itu seolah bukan saja membungkus bunga mawar putih yang rap
Udara kota Jakarta pagi ini yang masih terasa agak dingin setelah hujan semalam, tampaknya tak menyurutkan semangat serta niat Katya untuk berolah raga di dalam air. Penthouse yang ia tinggali ini memang memiliki kolam renang berukuran sedang dan menyatu dengan bagian balkon depannya. Pagi ini Katya
"Kamu nggak apa-apa, Baby Girl?"Katya menolehkan wajahnya ke arah Gaffandra, tanpa sadar memperlihatkan bayang-bayang kecemasan yang terlukis cukup jelas di sana. Meskipun ingin menyembunyikan perasaannya, namun Katya tak bisa menampik bahwa ia sesungguhnya sangat gelisah.Manik coklatnya terlihat ti












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasanLebih banyak