Chapter: 19. Sabtu Ini, Kita BerduaNayla menatap Arga. “Memangnya ada rencana?”“Makan di luar.”“Acara keluarga?”Arga menggeleng. “Aku ngajak kamu.”Nayla masih menunggu penjelasan. “Berdua?”“Iya. Berdua.”Jawaban itu sederhana, tetapi cukup membuat langkah Nayla melambat. Selama beberapa minggu terakhir, kebersamaan mereka sering terselip di antara urusan keluarga, acara, dan kehadiran Dinda. Kali ini Arga sendiri yang membuka ruang khusus bagi mereka.“Sabtu malam ini?” tanya Nayla.“Iya. Aku sudah cek kalender. Malam itu kosong.&r
Last Updated: 2026-08-23
Chapter: 18. Untuk Bunda NaylaRafa melihat Nayla dari barisan anak-anak dekat aula dan langsung melambaikan tangan tinggi-tinggi.“Bunda, aku di sini!”Guru di sampingnya sampai tersenyum melihat Rafa hampir keluar dari barisan.Nayla membalas lambaian sambil menunjuk tempatnya berdiri. “Tetap di barisan dulu. Bunda sudah lihat kamu.”Rafa kembali ke posisinya, tetapi senyumnya terus bertahan.Kegiatan pagi itu sederhana. Aula sekolah dibagi menjadi beberapa sudut pameran. Anak-anak memperlihatkan proyek kelompok, lalu orang tua dan pendamping berkeliling mendengarkan penjelasan mereka.Nayla memasukkan ponsel ke dalam tas. Ia ingin benar-benar mengikuti kegiatan Rafa tanpa sibuk memeriksa urusan rumah.
Last Updated: 2026-08-23
Chapter: 17. Aku Urus Bagian Rafa“Aku urus bagian Rafa,” kata Nayla.Ratih yang masih memegang catatan mengangkat wajah. “Yang lain bagaimana?”“Bisa dibagi ke staf rumah atau dipesan dari luar. Aku enggak perlu pegang semuanya.”Ratih diam sebentar. Keningnya berkerut, lebih karena kebiasaan yang berubah daripada karena ada masalah nyata pada pembagian tugas tersebut.Rafa sedang duduk di lantai ruang keluarga sambil menyusun perlengkapan untuk kegiatan sekolah besok. Arga sudah naik untuk berganti pakaian. Rumah baru saja kembali tenang setelah hari yang panjang, dan Nayla tak ingin menambah malamnya dengan seluruh daftar yang otomatis diberikan kepadanya.Ratih melihat catatannya lagi. “Biasanya kamu yang urus konsumsi kalau ada keluarga datang.”“Bisa pesan katering langganan. Nomor rumah sudah mereka simpan.”“Bingkisan yang satu?”“Staf bisa ambil di toko yang biasa. Minta tokonya kirim foto pilihan dulu.”Ratih tampak belum terbiasa menerima jawaban yang berakhir tanpa Nayla mengambil alih pekerjaan. “Kalau su
Last Updated: 2026-08-22
Chapter: 16. Kamu Masih Suka Itu?Arga berjalan di sisi Nayla menuju area depan. Mereka baru beberapa langkah meninggalkan kelompok tadi sebelum ia membuka percakapan lagi.“Tadi kalian bicara soal apa?”“Soal pengalaman tamu. Terus sedikit soal pekerjaanku dulu.”Arga menoleh kepadanya. “Strategi merek yang dulu kamu kerjakan?”“Iya. Sama perilaku konsumen.”Arga tentu tahu riwayat pekerjaan Nayla. Bahkan selama menikah, ia sesekali masih meminta pendapat istrinya jika membutuhkan sudut pandang lain. Yang jarang mereka bicarakan adalah hubungan Nayla dengan bidang tersebut setelah ia berhenti bekerja.“Tadi aku bilang aku masih suka baca beberapa hal soal itu,” ujar Nayla.Arga sedikit mengangkat alis. “Kamu masih suka itu?”Nayla menoleh. Keterkejutan di wajah suaminya terlihat tulus.“Masih. Aku masih tertarik.”“Kupikir sudah lama kamu enggak mengikuti.”“Aku enggak kerja lagi. Minatnya masih ada.”Arga tampak memikirkan jawaban itu. “Kamu masih baca artikel atau laporan?”“Kadang. Kalau ada kampanye menarik, aku
Last Updated: 2026-08-22
Chapter: 14. Dinda Cuma Membantu“Kalau Dinda memang bersedia, bantu tim komunikasi saja,” kata Arga. “Kamu sudah paham karakter tamunya. Kerjanya bakal lebih cepat.”Ratih langsung terlihat puas mendengar keputusan itu. “Nah, begitu. Dari tadi Mama juga bilang begitu.”Dinda mengangguk, lalu memberi pilihan lain. “Aku bisa bantu meninjau alur komunikasi sama kebutuhan media. Koordinasi hariannya lewat kepala tim juga enggak masalah.”“Enggak perlu,” jawab Arga. “Kalau ada keputusan cepat, langsung ke aku saja. Lewat banyak orang malah panjang.”Nayla memandang suaminya dengan perhatian penuh. Struktur acaranya sudah ada. Kepala komunikasi Mahendra juga sudah terlibat sejak persiapan awal. Dinda datang sebagai tambahan karena kemampuannya dianggap berguna. Seandainya koordinasi harian tetap berjalan melalui kepala tim, acara pun tidak kehilangan orang yang bertanggung jawab.Dinda bahkan baru saja menawarkan jalur tersebut.“Aku ikut cara yang paling enak buat t
Last Updated: 2026-08-21
Chapter: 15. Saya Masih IngatKegiatan sosial yang diadakan Mahendra sudah ramai sejak pagi. Nayla datang sebagai bagian dari keluarga Mahendra. Ia membantu Ratih menyambut beberapa kenalan lama, lalu bergeser ke area yang lebih tenang setelah tamu utama masuk.Dari sana ia sempat melihat Dinda berjalan bersama Arga menuju meja media. Keduanya berbicara sambil melihat susunan nama pada tablet. Memang tak ada gerak tubuh yang bisa disebut mesra. Yang mengusik Nayla justru kewajaran keduanya berdampingan di ruang publik.Seorang perempuan dari panitia menyapa Nayla. Ia memperkenalkan rekannya yang bekerja pada salah satu organisasi mitra. Percakapan mereka baru berjalan sebentar sebelum Raka bergabung seusai berbicara dengan tamu lain.“Bu Nayla,” sapanya.“Pak Raka.”Mereka berada dalam kelompok kecil. Pembicaraan bergerak ke pengalaman tamu di kegiatan sosial. Salah satu panitia mengeluh bahwa petunjuk acara sudah dikirim sejak kemarin, tetapi beberapa tamu tetap kebi
Last Updated: 2026-08-21
Chapter: ParahNaya melotot bungkam atas apa yang ia lihat dengan mata kepalanya sendiri. Telapak tangannya menutup mulut. Terlalu syok atas apa yang disaksikannya.Bagaimana tidak? Secara jelas Naya melihat bahwa Rio baru saja menampar kepala anak kecil itu hingga kepalanya terputar dan tubuh mungil itu tersungkur.Tidak ingin Rio berbuat lebih lagi, Naya terburu-buru menyampirkan tas yang ia kenakan di pundak kemudian segera mengambil langkah menuju posisi Rio berada.Bukankah Rio terlalu berlebihan? Ini hanyalah masalah sepele. Cuma soal es fanta harga lima ribuan, tak seharusnya Rio melakukan hal sejahat itu. Emosi Naya benar-benar terpancing untuk datang."Rio!" teriaknya saat sudah dekat.Membuat si empunya nama menoleh pada panggilan dari suara yang sudah ia kenali jelas siapa pemiliknya.Raut Naya tampak datar. Tatapan matanya amat tajam menghunus Rio. Ia hanya melirik laki-laki itu sekilas dengan ekor matanya, terlalu menunjukkan secara terang-ter
Last Updated: 2021-10-07
Chapter: Basah"Neng, beli fanta gak?"Teguran tersebut mengalihkan atensi Naya dan Rio yang sedang bercengkrama. Terlihat seorang laki-laki paruh baya berkulit hitam legam menghampiri mereka dengan membawa sebuah nampan berukuran cukup besar yang di atasnya tersusun gelas-gelas plastik yang biasanya dipakai untuk wadah pop ice. Namun, kali ini wadah tersebut diisi oleh air fanta berwarna merah, oren, dan biru keunguan.Rio menelisik pedagang tersebut. Sudah sangat biasa jika berkunjung ke sebuah tempat wisata atau pun tempat-tempat sejenisnya, maka ada saja pedagang-pedagang es, gorengan, jajan-jajanan tusuk, yang berniaga dengan berjalan-jalan menghampiri para pengunjung. Baik yang sedang berjalan menulusuri tempat, terlebih sedang duduk bersantai pada bangku yang telah disediakan, contohnya mereka.Ia tak mau beli. Sayang duit jika dibelikan barang tak berguna. Membiarkan pedagang tersebut tetap di sini, Rio hendak melihat Naya. Apaka
Last Updated: 2021-09-27
Chapter: MembantuNaya meraih nampan yang ada di samping kaki Rio. Kemudian ia menaruh gelasnya di atas sana. Ia juga mengambil gelas kosong Rio untuk ditaruh di atas nampan juga."Taruh aja di bawah nanti mamangnya ngambil ke sini sendiri," kata Rio."Eh, iyakah?"Rio mengangguk ringan sebagai respon untuk pertanyaan Naya. Maka gadis itu menurut. Ia menaruh nampan berisi dua gelas yang telah kosong tadi di samping kursinya.Setidaknya ia sudah merasa segar dan lebih baik dari kondisi tadi meski sinar mentari bersinar terang di bumi Jakarta. Namun, rasanya lega sudah melepas dahaga dengan minum es tebu yang sangat menyegarkan.Pun di belakang tempat duduknya terdapat pohon bintaro yang melindungi dari paparan sinar matahari."Ayok, tadi mau cerita apa? Biar aku dengerin, deh.""Oh." Rio mengangguk. "Aku sebenernya ke Jakarta itu gak serta merta ikut kata hati aja, sih, kare
Last Updated: 2021-09-26
Chapter: Es BatuNaya memiringkan kepala hendak lebih fokus mendengar jawaban apa yang akan Rio berikan."Maybe karena tebu itu cuma diambil airnya doang terus tebunya dibuang. Kalo buah lain, 'kan, sekalian sama buah-buahnya diblender terus ditambahin air. Kalau jus teksturnya juga kental karena buahnya ikut nyatu sama airnya pas diblender. Kalo tebu, kan, tektsurnya cair karena cuma diambil airnya doang. Eh, tapi gak tau, deh, soalnya gue ngarang."Seketika Naya terbahak dengan kencang. Memang asem si Rio. Padahal dirinya sudah sangat serius mendengarkan penjelasan dari awal, tapi keterangan diakhir tadi sangat membagongkan, huh!"Lagian kalo masalah buah nyatu atau enggak, jus timun disaring loh. Kan, buahnya keras tuh. Nah, selesai diblender ampasnya dibuang yang diminum cuman airnya aja. Hayoloh, namanya tetep jus timun bukan es timun. Malahan bikinnya dicampur air pemanis gitu, 'kan? Gak asli air sari dari buah itu sendiri k
Last Updated: 2021-09-18
Chapter: Jus / EsRio menerima nampan berisi dua gelas es tebu yang diulurkan oleh penjualnya. Minuman berwarna kuning itu tampak menyegarkan sekali. Terlebih dahulu Rio menaruh nampan tersebut di atas kaca berisi tebu yang telah dipotong sekira-kira berukuran seperempat meter.Kemudian ia mengeluarkan dompet dari saku celana. "Berapa, Mang?""Kayak biasa," jawab si mamang seadanya.Rio tak menjawab lagi. Ia mengangguk saja lalu mengeluarkan satu-satunya lembar uang yang ada di dalam dompet tersebut untuk dibayarkan."Uangnya gede banget. Uang kecil gak ada?"Gelengan kepala Rio berikan sebagai jawabannya. Mau tak mau si mamang memberi kembalian uang berwarna biru satu dan yang berwarna hijau dua.Namun, beberapa selang pembelinya ini tak jua beranjak dari stand-nya padahal uang kembalian sudah diberi? Maka dari itu ia bertanya, "Kenapa lagi?""Loh ini cuman 90 ribu sosokny
Last Updated: 2021-09-18
Chapter: Es TebuDua pasang manusia yang menjadi sorot titik fokus dalam cerita ini akhirnya tiba di kedai ice cream yang mereka hendak tuju.Wanita itu bahkan sampai menge-cek hape-nya sekedar untuk mencocokkan sebuah foto temannya—yang kemarin merekomendasikan tempat es krim enak padanya—sedang berpose tepat di depan pintu kedai."Bener, 'kan?"Entah berapa kali Naya mengajukan pertanyaan yang sama sampai Rio bosan mendengarnya."Udah dicocokin belum? Kalau sama, ya, berarti ini tempatnya," jawab Rio lempeng."Coba, deh, kamu liat."Naya menyuruh Rio untuk mengamati fotonya. Namun, Rio malas nunduk-nunduk untuk melihatnya. Pun matahari sedang bersinar dengan terang membuat pandangan Rio pada benda dengan layar seperti kaca itu silau."Kayaknya bener ini."Akhirnya Rio menjawab asal. Namun, sayangnya Naya tampak belum puas.
Last Updated: 2021-09-17
Chapter: NightTristan adalah anak bungsu dari tiga bersaudara. Kedua saudara perempuannya tidak tinggal serumah dengan orang tuanya. Tertinggal hanya Tristan yang masih duduk di bangku kelas 12 di SMA Garuda, salah satu SMA unggulan di Bandung. Kakak pertamanya menikah dengan seorang prajurit nasional yang bergabung dengan angkatan laut. Dia saat ini sedang mengandung keponakan pertama Tristan. Sedangkan adik keduanya sedang menjalani semester akhir pendidikan kedokteran di Spanyol."Kak Keinara belum lahir? Aku belum pernah mendengarnya," ucap Eva merasakan betapa sepinya rumah sepupunya.Betapa tidak, Tristan yang kerap berada di markas karena menjabat sebagai ketua geng motor membuat orang tuanya harus selalu menyendiri di rumah. Beruntung om Abian dan tante Azka bekerja di bidang yang sama. Mereka sukses membuka cabang restoran yang mereka kelola di pusat kota setiap provinsi di Indonesia. Bahkan untuk rencana ke depan, mereka akan memperluasnya hingga ke luar negeri.“Tujuh bulan lagi, Eva,” uc
Last Updated: 2023-09-04
Chapter: SavageBaru saja pikiran Eva terganggu karena sikap Bima yang tetap jahat padanya padahal Eva sudah berbesar hati hendak berdamai dengan cowok itu, kini Eva dikejutkan kembali dengan keadaan kelasnya yang jauh dari kata baik-baik saja.Kursi di sebelahnya, artinya tempat duduk teman sebangkunya. Telah habis diorat-oret menggunakan tinta hitam hingga tampak kotor sekali. Pelakunya adalah seorang cheerleader Taruna Bangsa. Tahu? Merusak satu aset saja milik Taruna Bangsa maka akan dikenakan denda yang tak main-main. Mungkin bagi mereka para anak orang kaya ini, hal itu bukanlah sesuatu yang dipermasalahkan karena mereka sangat mampu. Namun Uma? Bisa saja mereka yang merusak, tapi justru Uma yang diwajibkan membayar denda karena bangku ini adalah bangku Uma.Eva sangat tahu persis bagaimana sulitnya ekonomi sahabatnya itu. Membayar sekolah saja sudah mati-matian bahkan sering tak bawa uang jajan. Sering melihat Uma setiap hari membawa bekal ke sekolah? Itu karena dia tak bawa uang. Ingat dia p
Last Updated: 2023-09-02
Chapter: Markas LiondrakBaik Arta maupun Tristan, keduanya sama-sama membatu dan saling melempar tatapan tak menyangka satu sama lain. Bagaimana mungkin Arta baru mengetahui bahwa Eva adalah adik Tristan? Ternyata ada banyak informasi tentang Eva yang Arta belum ketahui. Ia pikir Eva hanyalah siswi miskin biasa yang kebetulan menjadi ketua OSIS. Rupanya Eva tidak sesederhana itu."Lo temen adek gue?" kelakar Tristan tak dapat menutupi rasa terkejutnya."Dia adek kelas gue," ralat Arta segera sembari menunjuk Eva yang hanya setinggi bahunya itu dengan dagunya. "Nyokap Eva nitipin Eva ke gua," lanjutnya kemudian dengan aura keposesifan yang sangat kental. Selebihnya agar Tristan tidak salah paham saja, kenapa adik kelas dan kakak kelas bisa sedekat ini.Mendengar hal itu Tristan semakin terkejut. "Oh lo deket sama adek gue?" berondongnya pada Arta seraya menatap Eva bangga. Pintar juga adiknya ini cari circle. Sementara Eva menyengir polos merespon tatapan abangnya."Kak Arta!" panggil Eva pada Arta, membuat ke
Last Updated: 2023-01-23
Chapter: Dinner In Restaurant LuxuryEva menyukai suasana sejuk dan tenang di malam hari. Ia baru saja selesai mandi. Masih dengan gulungan handuk di kepala, merasa lebih segar dan lebih baik. Mabuk di dalam bus selama perjalanan benar-benar menguras tenaga. Eva lemas sekali dibuatnya. Eva duduk di pinggiran kasur dengan tangan aktif menggosok-gosokkan handuk pada rambut agar cepat kering. Dalam satu kamar ini terdapat empat orang anak OSN, termasuk Eva sendiri. Mereka duduk berkumpul di sofa seraya memakan berbagai macam cemilan yang Eva sendiri ngiler melihatnya. Tentu saja perutnya lapar keroncongan. Seharian ia hanya makan satu gembung pemberian Arta di bus tadi. Namun, untuk minta Eva malu. Dirinya tidak dekat dengan mereka. Pun hendak ngumpul bareng, Eva segan sendiri. Akhirnya ia sok sibuk dengan rambutnya. "Gue ada hairdryer tuh di dalam tas kalo mau make," celetuk Cia salah satu teman sekamar Eva di hotel ini. Eva tersenyum kaku. Eva tahu bahwa itu adalah alat untuk mengeringkan rambut. Namun, Eva tidak tahu
Last Updated: 2023-01-23
Chapter: PeringatanAurel bersama dua adik kelasnya, Eva dan Uma saling bersenda gurau dan membicarakan hal random untuk mereka bahas. Hingga di mana Selin beserta dua temannya datang memasuki kantin dan duduk di salah satu bangku kosong yang berada di pojok kiri, Eva langsung melirik Aurel memberikan isyarat lewat tatapan mata. Aurel mengangguk pasti menanggapinya. Dia berdiri sembari membawa gelas minumannya yang masih terisi setengah. Tentu saja tindakannya itu diikuti oleh Eva. Sementara Uma yang tidak tahu apa-apa hanya menatap kedua orang itu dengan mata mengerjab bingung. Pada akhirnya ia hanya ikut-ikutan Aurel dan Eva saja menuju bangku di mana Selin bersama dua temannya itu berada. "Hai, Aurel!" sapa salah satu teman Aurel dengan senyum manis tetapi penuh manipulatif. "Are you wanna join here?" tanyanya sok asik. Sayangnya sapaan basa basi tersebut tidak mendapat gubrisan apapun dari Aurel. Justru Aurel mendengus remeh memandang ketiga orang itu dengan tatapan jijik yang sangat kentara. Aurel
Last Updated: 2022-05-30
Chapter: MenandaiJika hendak menganalisa akun lambe turah masing-masing sekolah favorit di Jakarta Selatan ini, maka sudah pasti Taruna Bangsa akan menjadi miss dalam mencari sensasi. Followers dan jumlah upload-nya nyaris sebanding, terus bertambah setiap hari karena pasti selalu ada saja hal-hal mengejutkan yang diposting oleh adminnya. Diketahui bersama pula bahwa admin akun gosip SMA ternama tersebut tidak hanya segelintir orang saja, tetapi hampir seluruh siswi dari kelas 12. Oleh karena itu sulit bagi mereka yang tidak punya kekuasaan untuk mencari tahu dalang yang sebenarnya jika terjadi sesuatu. Tak peduli hanya kabar burung yang belum pasti kebenarannya seperti separuh video yang dapat mengundang salah paham bahkan menciptakan kontroversi, yang mereka tahu hanya memposting itu semua dan menyebarkannya untuk menarik perhatian para netizen! Mungkin salah satu penyebabnya adalah karena gila kepopuleran sehingga berbagai cara dilakukan sampai kehausan sensasi! Usai menenangkan Eva yang bersedih,
Last Updated: 2022-05-30