Chapter: NightTristan adalah anak bungsu dari tiga bersaudara. Kedua saudara perempuannya tidak tinggal serumah dengan orang tuanya. Tertinggal hanya Tristan yang masih duduk di bangku kelas 12 di SMA Garuda, salah satu SMA unggulan di Bandung. Kakak pertamanya menikah dengan seorang prajurit nasional yang bergabung dengan angkatan laut. Dia saat ini sedang mengandung keponakan pertama Tristan. Sedangkan adik keduanya sedang menjalani semester akhir pendidikan kedokteran di Spanyol."Kak Keinara belum lahir? Aku belum pernah mendengarnya," ucap Eva merasakan betapa sepinya rumah sepupunya.Betapa tidak, Tristan yang kerap berada di markas karena menjabat sebagai ketua geng motor membuat orang tuanya harus selalu menyendiri di rumah. Beruntung om Abian dan tante Azka bekerja di bidang yang sama. Mereka sukses membuka cabang restoran yang mereka kelola di pusat kota setiap provinsi di Indonesia. Bahkan untuk rencana ke depan, mereka akan memperluasnya hingga ke luar negeri.“Tujuh bulan lagi, Eva,” uc
Last Updated: 2023-09-04
Chapter: SavageBaru saja pikiran Eva terganggu karena sikap Bima yang tetap jahat padanya padahal Eva sudah berbesar hati hendak berdamai dengan cowok itu, kini Eva dikejutkan kembali dengan keadaan kelasnya yang jauh dari kata baik-baik saja.Kursi di sebelahnya, artinya tempat duduk teman sebangkunya. Telah habis diorat-oret menggunakan tinta hitam hingga tampak kotor sekali. Pelakunya adalah seorang cheerleader Taruna Bangsa. Tahu? Merusak satu aset saja milik Taruna Bangsa maka akan dikenakan denda yang tak main-main. Mungkin bagi mereka para anak orang kaya ini, hal itu bukanlah sesuatu yang dipermasalahkan karena mereka sangat mampu. Namun Uma? Bisa saja mereka yang merusak, tapi justru Uma yang diwajibkan membayar denda karena bangku ini adalah bangku Uma.Eva sangat tahu persis bagaimana sulitnya ekonomi sahabatnya itu. Membayar sekolah saja sudah mati-matian bahkan sering tak bawa uang jajan. Sering melihat Uma setiap hari membawa bekal ke sekolah? Itu karena dia tak bawa uang. Ingat dia p
Last Updated: 2023-09-02
Chapter: Markas LiondrakBaik Arta maupun Tristan, keduanya sama-sama membatu dan saling melempar tatapan tak menyangka satu sama lain. Bagaimana mungkin Arta baru mengetahui bahwa Eva adalah adik Tristan? Ternyata ada banyak informasi tentang Eva yang Arta belum ketahui. Ia pikir Eva hanyalah siswi miskin biasa yang kebetulan menjadi ketua OSIS. Rupanya Eva tidak sesederhana itu."Lo temen adek gue?" kelakar Tristan tak dapat menutupi rasa terkejutnya."Dia adek kelas gue," ralat Arta segera sembari menunjuk Eva yang hanya setinggi bahunya itu dengan dagunya. "Nyokap Eva nitipin Eva ke gua," lanjutnya kemudian dengan aura keposesifan yang sangat kental. Selebihnya agar Tristan tidak salah paham saja, kenapa adik kelas dan kakak kelas bisa sedekat ini.Mendengar hal itu Tristan semakin terkejut. "Oh lo deket sama adek gue?" berondongnya pada Arta seraya menatap Eva bangga. Pintar juga adiknya ini cari circle. Sementara Eva menyengir polos merespon tatapan abangnya."Kak Arta!" panggil Eva pada Arta, membuat ke
Last Updated: 2023-01-23
Chapter: Dinner In Restaurant LuxuryEva menyukai suasana sejuk dan tenang di malam hari. Ia baru saja selesai mandi. Masih dengan gulungan handuk di kepala, merasa lebih segar dan lebih baik. Mabuk di dalam bus selama perjalanan benar-benar menguras tenaga. Eva lemas sekali dibuatnya. Eva duduk di pinggiran kasur dengan tangan aktif menggosok-gosokkan handuk pada rambut agar cepat kering. Dalam satu kamar ini terdapat empat orang anak OSN, termasuk Eva sendiri. Mereka duduk berkumpul di sofa seraya memakan berbagai macam cemilan yang Eva sendiri ngiler melihatnya. Tentu saja perutnya lapar keroncongan. Seharian ia hanya makan satu gembung pemberian Arta di bus tadi. Namun, untuk minta Eva malu. Dirinya tidak dekat dengan mereka. Pun hendak ngumpul bareng, Eva segan sendiri. Akhirnya ia sok sibuk dengan rambutnya. "Gue ada hairdryer tuh di dalam tas kalo mau make," celetuk Cia salah satu teman sekamar Eva di hotel ini. Eva tersenyum kaku. Eva tahu bahwa itu adalah alat untuk mengeringkan rambut. Namun, Eva tidak tahu
Last Updated: 2023-01-23
Chapter: PeringatanAurel bersama dua adik kelasnya, Eva dan Uma saling bersenda gurau dan membicarakan hal random untuk mereka bahas. Hingga di mana Selin beserta dua temannya datang memasuki kantin dan duduk di salah satu bangku kosong yang berada di pojok kiri, Eva langsung melirik Aurel memberikan isyarat lewat tatapan mata. Aurel mengangguk pasti menanggapinya. Dia berdiri sembari membawa gelas minumannya yang masih terisi setengah. Tentu saja tindakannya itu diikuti oleh Eva. Sementara Uma yang tidak tahu apa-apa hanya menatap kedua orang itu dengan mata mengerjab bingung. Pada akhirnya ia hanya ikut-ikutan Aurel dan Eva saja menuju bangku di mana Selin bersama dua temannya itu berada. "Hai, Aurel!" sapa salah satu teman Aurel dengan senyum manis tetapi penuh manipulatif. "Are you wanna join here?" tanyanya sok asik. Sayangnya sapaan basa basi tersebut tidak mendapat gubrisan apapun dari Aurel. Justru Aurel mendengus remeh memandang ketiga orang itu dengan tatapan jijik yang sangat kentara. Aurel
Last Updated: 2022-05-30
Chapter: MenandaiJika hendak menganalisa akun lambe turah masing-masing sekolah favorit di Jakarta Selatan ini, maka sudah pasti Taruna Bangsa akan menjadi miss dalam mencari sensasi. Followers dan jumlah upload-nya nyaris sebanding, terus bertambah setiap hari karena pasti selalu ada saja hal-hal mengejutkan yang diposting oleh adminnya. Diketahui bersama pula bahwa admin akun gosip SMA ternama tersebut tidak hanya segelintir orang saja, tetapi hampir seluruh siswi dari kelas 12. Oleh karena itu sulit bagi mereka yang tidak punya kekuasaan untuk mencari tahu dalang yang sebenarnya jika terjadi sesuatu. Tak peduli hanya kabar burung yang belum pasti kebenarannya seperti separuh video yang dapat mengundang salah paham bahkan menciptakan kontroversi, yang mereka tahu hanya memposting itu semua dan menyebarkannya untuk menarik perhatian para netizen! Mungkin salah satu penyebabnya adalah karena gila kepopuleran sehingga berbagai cara dilakukan sampai kehausan sensasi! Usai menenangkan Eva yang bersedih,
Last Updated: 2022-05-30
Chapter: ParahNaya melotot bungkam atas apa yang ia lihat dengan mata kepalanya sendiri. Telapak tangannya menutup mulut. Terlalu syok atas apa yang disaksikannya.Bagaimana tidak? Secara jelas Naya melihat bahwa Rio baru saja menampar kepala anak kecil itu hingga kepalanya terputar dan tubuh mungil itu tersungkur.Tidak ingin Rio berbuat lebih lagi, Naya terburu-buru menyampirkan tas yang ia kenakan di pundak kemudian segera mengambil langkah menuju posisi Rio berada.Bukankah Rio terlalu berlebihan? Ini hanyalah masalah sepele. Cuma soal es fanta harga lima ribuan, tak seharusnya Rio melakukan hal sejahat itu. Emosi Naya benar-benar terpancing untuk datang."Rio!" teriaknya saat sudah dekat.Membuat si empunya nama menoleh pada panggilan dari suara yang sudah ia kenali jelas siapa pemiliknya.Raut Naya tampak datar. Tatapan matanya amat tajam menghunus Rio. Ia hanya melirik laki-laki itu sekilas dengan ekor matanya, terlalu menunjukkan secara terang-ter
Last Updated: 2021-10-07
Chapter: Basah"Neng, beli fanta gak?"Teguran tersebut mengalihkan atensi Naya dan Rio yang sedang bercengkrama. Terlihat seorang laki-laki paruh baya berkulit hitam legam menghampiri mereka dengan membawa sebuah nampan berukuran cukup besar yang di atasnya tersusun gelas-gelas plastik yang biasanya dipakai untuk wadah pop ice. Namun, kali ini wadah tersebut diisi oleh air fanta berwarna merah, oren, dan biru keunguan.Rio menelisik pedagang tersebut. Sudah sangat biasa jika berkunjung ke sebuah tempat wisata atau pun tempat-tempat sejenisnya, maka ada saja pedagang-pedagang es, gorengan, jajan-jajanan tusuk, yang berniaga dengan berjalan-jalan menghampiri para pengunjung. Baik yang sedang berjalan menulusuri tempat, terlebih sedang duduk bersantai pada bangku yang telah disediakan, contohnya mereka.Ia tak mau beli. Sayang duit jika dibelikan barang tak berguna. Membiarkan pedagang tersebut tetap di sini, Rio hendak melihat Naya. Apaka
Last Updated: 2021-09-27
Chapter: MembantuNaya meraih nampan yang ada di samping kaki Rio. Kemudian ia menaruh gelasnya di atas sana. Ia juga mengambil gelas kosong Rio untuk ditaruh di atas nampan juga."Taruh aja di bawah nanti mamangnya ngambil ke sini sendiri," kata Rio."Eh, iyakah?"Rio mengangguk ringan sebagai respon untuk pertanyaan Naya. Maka gadis itu menurut. Ia menaruh nampan berisi dua gelas yang telah kosong tadi di samping kursinya.Setidaknya ia sudah merasa segar dan lebih baik dari kondisi tadi meski sinar mentari bersinar terang di bumi Jakarta. Namun, rasanya lega sudah melepas dahaga dengan minum es tebu yang sangat menyegarkan.Pun di belakang tempat duduknya terdapat pohon bintaro yang melindungi dari paparan sinar matahari."Ayok, tadi mau cerita apa? Biar aku dengerin, deh.""Oh." Rio mengangguk. "Aku sebenernya ke Jakarta itu gak serta merta ikut kata hati aja, sih, kare
Last Updated: 2021-09-26
Chapter: Es BatuNaya memiringkan kepala hendak lebih fokus mendengar jawaban apa yang akan Rio berikan."Maybe karena tebu itu cuma diambil airnya doang terus tebunya dibuang. Kalo buah lain, 'kan, sekalian sama buah-buahnya diblender terus ditambahin air. Kalau jus teksturnya juga kental karena buahnya ikut nyatu sama airnya pas diblender. Kalo tebu, kan, tektsurnya cair karena cuma diambil airnya doang. Eh, tapi gak tau, deh, soalnya gue ngarang."Seketika Naya terbahak dengan kencang. Memang asem si Rio. Padahal dirinya sudah sangat serius mendengarkan penjelasan dari awal, tapi keterangan diakhir tadi sangat membagongkan, huh!"Lagian kalo masalah buah nyatu atau enggak, jus timun disaring loh. Kan, buahnya keras tuh. Nah, selesai diblender ampasnya dibuang yang diminum cuman airnya aja. Hayoloh, namanya tetep jus timun bukan es timun. Malahan bikinnya dicampur air pemanis gitu, 'kan? Gak asli air sari dari buah itu sendiri k
Last Updated: 2021-09-18
Chapter: Jus / EsRio menerima nampan berisi dua gelas es tebu yang diulurkan oleh penjualnya. Minuman berwarna kuning itu tampak menyegarkan sekali. Terlebih dahulu Rio menaruh nampan tersebut di atas kaca berisi tebu yang telah dipotong sekira-kira berukuran seperempat meter.Kemudian ia mengeluarkan dompet dari saku celana. "Berapa, Mang?""Kayak biasa," jawab si mamang seadanya.Rio tak menjawab lagi. Ia mengangguk saja lalu mengeluarkan satu-satunya lembar uang yang ada di dalam dompet tersebut untuk dibayarkan."Uangnya gede banget. Uang kecil gak ada?"Gelengan kepala Rio berikan sebagai jawabannya. Mau tak mau si mamang memberi kembalian uang berwarna biru satu dan yang berwarna hijau dua.Namun, beberapa selang pembelinya ini tak jua beranjak dari stand-nya padahal uang kembalian sudah diberi? Maka dari itu ia bertanya, "Kenapa lagi?""Loh ini cuman 90 ribu sosokny
Last Updated: 2021-09-18
Chapter: Es TebuDua pasang manusia yang menjadi sorot titik fokus dalam cerita ini akhirnya tiba di kedai ice cream yang mereka hendak tuju.Wanita itu bahkan sampai menge-cek hape-nya sekedar untuk mencocokkan sebuah foto temannya—yang kemarin merekomendasikan tempat es krim enak padanya—sedang berpose tepat di depan pintu kedai."Bener, 'kan?"Entah berapa kali Naya mengajukan pertanyaan yang sama sampai Rio bosan mendengarnya."Udah dicocokin belum? Kalau sama, ya, berarti ini tempatnya," jawab Rio lempeng."Coba, deh, kamu liat."Naya menyuruh Rio untuk mengamati fotonya. Namun, Rio malas nunduk-nunduk untuk melihatnya. Pun matahari sedang bersinar dengan terang membuat pandangan Rio pada benda dengan layar seperti kaca itu silau."Kayaknya bener ini."Akhirnya Rio menjawab asal. Namun, sayangnya Naya tampak belum puas.
Last Updated: 2021-09-17
Chapter: 177. Bukan Lagi Soal KerjaNayla tiba di kafe menjelang pukul lima dan langsung menemukan Raka di meja dekat jendela. Pria itu berdiri menyambutnya, lalu menunggu Nayla memilih kursi yang diinginkan. Meja mereka hanya berisi dua gelas air dan daftar menu. Laptop, berkas proyek, serta wajah anggota tim yang biasa mengisi percakapan mereka sama sekali tak terlihat.“Terima kasih sudah datang, Bu Nayla.”“Saya sudah bilang akan datang, Pak Raka.” Nayla duduk sambil meletakkan tas di sisi kursinya. “Saya masih terbiasa merasa aneh melihat Bapak tanpa dokumen rapat.”Raka tersenyum mendengar pengakuan itu. “Saya juga sedang menyesuaikan diri agar enggak bertanya soal progres pekerjaan.”Pelayan datang untuk mencatat pesanan mereka berdua. Setelah itu muncul jeda yang terasa sedikit kikuk. Nayla hampir tertawa karena selama ini mereka dapat berbicara panjang mengenai banyak hal, namun satu meja tanpa urusan profesional membuat pembuka perca
Last Updated: 2026-10-08
Chapter: 176. Sekarang Boleh Aku Bertanya?Dua hari setelah pertemuan terakhir mereka, agenda profesional itu selesai menjelang sore setelah seluruh catatan tindak lanjut dibagikan kepada peserta. Nayla menutup laptop, memasukkan dua lembar dokumen ke dalam tas, lalu berpamitan kepada Maya yang harus kembali ke kantor lebih dahulu. Raka menyelesaikan percakapan singkat dengan seorang kolega di dekat pintu ruang rapat. Ia menoleh kembali dan mendapati Nayla sudah berjalan menuju lobi.Raka menyusul dengan langkah tenang dan berhenti dalam jarak yang tetap wajar. “Bu Nayla, apakah saya boleh meminta waktu sebentar?”Nayla menoleh lalu mengangguk kepadanya. “Boleh, Pak Raka, saya punya waktu sebentar. Ada yang masih perlu dibahas?”“Pekerjaan kita sudah selesai untuk hari ini.” Raka menahan jeda singkat, lalu melanjutkan deng
Last Updated: 2026-10-08
Chapter: 175. Kali Berikutnya, Aku BertanyaRaka bertemu Nayla lagi selang beberapa hari dalam satu kegiatan profesional yang dilanjutkan dengan makan siang kelompok. Pertemuan itu berjalan seperti agenda lain yang sudah sering mereka jalani bersama. Nayla berbicara dengan rekan satu tim, sesekali menanggapi pembahasan Raka, lalu tertawa mendengar komentar Dimas.Maya sempat bertanya mengenai tindak lanjut pekerjaan. “Mbak, catatan sesi tadi kita kirim sore ini atau besok pagi?”“Kirim bagian yang sudah rapi sore ini. Sisanya bisa kita selesaikan besok pagi.”Dimas menoleh kepada Raka sambil bercanda. “Pak Raka setuju kalau tim kami pulang tanpa tambahan revisi hari ini?” Raka menutup dokumen yang ada di hadapannya. “Saya setuju selama kalian enggak sengaja meninggalkan masalah untuk besok.”Nayla ikut tertawa bersama peserta lain.Raka tidak melihat perubahan yang dapat dianggap sebagai pesan khusus. Ia memang tidak berniat mencari tanda seper
Last Updated: 2026-10-08
Chapter: 174. Sekarang Aku Melihatmu BerbedaSelang beberapa hari setelah masa iddah selesai, Nayla menghadiri diskusi kelompok yang berkaitan dengan tindak lanjut forum. Pertemuan berlangsung dalam ruang profesional yang sudah cukup dikenalnya. Raka berada di antara peserta bersama sejumlah orang lain.Pria itu datang dengan pembawaan yang sama seperti biasanya. Ia menyapa semua orang, menanyakan kesiapan materi, lalu duduk sambil membuka catatan. Nayla juga menjalankan pekerjaannya seperti biasa.Perubahan kecil itu muncul dari cara Nayla memandang Raka. Raka sedang mendengarkan seseorang menyampaikan pendapat. Nayla menyadari pria itu jarang memotong hanya untuk menunjukkan bahwa ia sudah memahami lebih cepat. Raka menunggu orang itu menyelesaikan penjelasan.Ia baru mengajukan pertanyaan dan memberi keputusan setelah seluruh penjelasan terdengar. Nayla sudah melihat kebiasaan itu berkali-kali selama mereka bekerja bersama. Hari itu ia membiarkan dirinya memperhatikan kebiasaan itu tanpa segera mengalih
Last Updated: 2026-10-07
Chapter: 173. Hari Terakhir IddahHari terakhir masa iddah dimulai dengan alarm pukul enam pagi dan setumpuk pakaian bersih yang belum sempat dilipat. Nayla mematikan alarm, merapikan tempat tidur, dan membuka tirai kamar. Cahaya pagi masuk ke unit yang sekarang sudah terasa sepenuhnya miliknya.Hari itu tetap terlihat seperti hari kerja biasa bagi Nayla. Setelah sarapan, pesan Farida masuk mengenai rencana makan malam keluarga pada akhir pekan. Nayla membalas dan membuka pesan lain dari Niko mengenai kegiatan sekolah Rafa bulan depan. Niko sudah mengurus formulir dan transportasi untuk kegiatan itu.Ia sekadar memastikan Nayla masih dapat hadir pada waktu yang pernah mereka bicarakan. Nayla menjawab bahwa jadwalnya masih tersedia untuk Rafa. Sesudah itu ponselnya kembali sunyi cukup lama.Ia menyelesaikan sarapan dan berangkat menuju kantor seperti hari lain. Hari itu berjalan biasa, dan kesederhanaannya terasa menenangkan bagi Nayla. Keseharian itu justru menunjukkan seberapa jauh hidupnya sud
Last Updated: 2026-10-07
Chapter: 172. Aku Tidak Menunggu PriaPada akhir minggu ketiga belas, Hana datang ke unit Nayla dengan dua kotak makanan dan cerita panjang dari kantornya. Mereka sudah tertawa sejak awal pertemuan.Percakapan berpindah dari urusan kantor Hana, kegiatan sekolah Rafa, sampai pekerjaan Nayla yang mulai padat. Setelah piring hampir kosong, Hana menatap sahabatnya dengan ekspresi lebih serius.“Masa iddah kamu tinggal hitungan hari lagi, kan?”Nayla mengangguk sambil mengambil minuman dari meja.“Iya, waktunya memang tinggal hitungan hari sekarang.”“Setelah fase itu selesai, kamu ingin melakukan apa?”Pertanyaan itu membuat Nayla tersenyum kecil. Berbulan-bulan lalu, jawaban mengenai masa depan hampir selalu berkaitan dengan perkara, persidangan, atau kebutuhan membuktikan bahwa ia mampu berdiri sendiri.Sekarang jawabannya terasa jauh lebih luas. Nayla memandang ruangan kecil yang sudah menjadi rumah. Di rak dekat meja kerja terdapat doku
Last Updated: 2026-10-07