LOGIN"Bundaku belum pulang ya, Ayah?" Benji melirik singkat putranya yang baru masuk dapur. Pemuda dengan wajah mirip Benjamin Kaisar itu bahkan langsung mencomot mie goreng yang sudah diseduh ayahnya di atas meja. "Kenapa kau memakannya?! Itu milik Ayah!" protes Benji tidak terima. Namun, bukannya takut oleh ucapan ayahnya, Naka--pemuda 16 tahun yang kini menginjak bangku kelas 2 SMA, malah memasukkan lebih banyak mie instan ke dalam mulutnya. Membuat Benji segera merebut piring di depan pemuda itu dengan kesal. "Aku lapar, Yahhh! Biarkan aku memakannya! Kau tidak lihat putra tampanmu ini kelelahan setelah latihan basket?" tanya pemuda dengan mata sipit seperti Benji itu dramatis. "Kalau kau mau, masak saja sendiri! Kenapa malah makan punya orang lain?" protes Benji lagi kemudian makan sisa mie instan yang tadi nyaris dihabiskan anaknya. "Andai saja Bunda di sini ... pasti dia tidak akan membiarkan anaknya kelaparan seperti bapak-bapak tidak berperasaan di depanku." Dan gumaman Naka
"Sudah nyaman, kan, posisinya ini?""Nanti jangan lupa beritahu aku kalau sudah waktunya ganti pembalut! Kata bidan, harus diganti empat jam sekali, kan?""Tapi langsung beritahu saja kalau sudah terasa penuh atau basah. Oke?""Iya, Mas ....""Mas mau ke kantor sebentar, yaa? Telepon saja kalau dalam empat jam Mas belum pulang atau kau memerlukan sesuatu.""Iyaa ....""Istirahatlah yang benar. Tidur yang nyenyak. Sebentar lagi Naka pasti bangun karena lapar. Kau harus manfaatkan waktu dengan baik, Sayang ....""Iya, Mas ....""Baiklah. Mas ke kantor dulu. Nanti Mas minta Bi Nala dan Bu Anin mengecekmu, yaa?"Sekali lagi, Lily hanya mengangguk supaya sang suami segera pergi. Setelah dirasa cukup memberikan pesan, Benji akhirnya berlalu pergi dengan setelan pakaian kerjanya.Tentu saja setelah memberikan banyak kecupan di wajah Lily sebagai bentuk perpisahan yang manis."Dia benar-benar lebih cerewet daripada Bi Anin ...." Lily diam-diam terkekeh geli setelah memastikan suaminya menutup
"Mas ... aku mengantuk sekali.""Tolong biarkan aku tidur ...."Dua kalimat terakhir sebelum istrinya kehilangan kesadaran terus berputar di kepala Benjamin Kaisar. Kalimat yang terdengar seperti perpisahan setelah dokter menyatakan Lily mengalami koma imbas pendarahan pascamelahirkan.Dan sekarang, Benji benar-benar tidak tahu harus bereaksi bagaimana. Apalagi begitu dia kini berdiri di ambang pintu ruang berisi bayi-bayi yang baru lahir. Setelah beberapa saat lalu dia masuk ke ruang ICU tempat istrinya terbaring dengan alat bantu pernapasan dan beberapa penunjang hidup lain.Istrinya tidak lagi membuka mata beberapa menit setelah melahirkan anak mereka.Istrinya dinyatakan berada dalam kondisi kritis setelah kehilangan banyak darah."Ya ampun, cucunya Obaa-chan lapar ya ini? Atau mau bertemu Bunda? Sabar yaa, Sayang ...."Melihat bagaimana sang ibu berusaha menenangkan tangis nyaring putranya bahkan membuat netra memerah itu kembali berkaca-kaca. Sampai satu tepukan di bahu membuat
"Masss ... sakithh ....""Iyaa, Sayang. Sabar, yaaa. Mas pijat yaa ini ....""Tapi masih sakit, Masss ....""Coba tarik napas lagi, yaa, Sayang?""Tarik napasnya yang dalam lewat hidung, yaa. Hembuskan pelan-pelan lewat mulut ....""Mas temani. Mas pasti temani. Jangan menangis ....""Tapi sakit, Masss ...."Benji mengusap wajahnya yang tampak kusut dan berantakan karena gusar. Pria itu ingin menangis.Demi Tuhan ... Benjamin Kaisar ingin sekali menangis. Namun, dia benar-benar takut melakukannya di hadapan sang istri yang kini menggeliat gelisah sambil mencengkeram erat sebelah tangannya.Seolah itu adalah satu-satunya hal yang Lily punya untuk bisa tetap bertahan."Sayanggg ... di sebelah mana sakitnya? Biar Mas bantu pijat ...." Benji kembali bertanya lembut guna menenangkan meski pikirannya kacau bukan main.Tangannya yang terbebas dari cengkeraman sang istri kembali memijat di bagian bawah punggung. Tempat istrinya merasakan nyeri luar biasa akibat pembukaan yang padahal baru sam
"Mbakkk ... kenapa masih datang ke sini?"Zea--salah satu pegawai di kafé milik Lily bertanya panik sambil berlari menyambut bosnya. Sedangkan orang yang kini dituntun untuk duduk di meja terdekat hanya terkekeh geli dengan respon lucu pegawai cantiknya."Tadi kami hanya jalan-jalan, Zea. Lagipula ini kan tidak jauh dari rumah," sahut Benji mewakili istrinya yang kini sibuk meluruskan kaki setelah duduk di kursi dekat jendela kaca yang langsung menghadap jalan."Masss ... aku kira Mbak Lily sudah tidak bisa ke mana-mana karena mendekati hari kelahiran. Apalagi kau sudah melarangnya ke kafé sejak dua minggu lalu." Zea berkomentar sambil mencebik cemberut menatap perempuan hamil yang merupakan saudarinya di panti asuhan. Lily memang bertekad untuk menemukan semua saudarinya yang sudah tinggal berpencar karena diadopsi. Dan Zea adalah salah satunya. Namun, karena tinggal bersama orangtua angkat yang tidak begitu kaya, gadis itu pun sempat bekerja paruh waktu di kafé.Lily pun dengan sem
"Sayang ... aku pulang."Benji menyapa sesaat kakinya sampai di ruang tengah kediaman mereka yang luas. Namun, rupanya di sana tidak ada orang. Biasanya, sang istri akan menunggunya di sini saat sore. Begitu mendengar suara tawa familiar dari dapur, Benji pun segera melangkah menuju ke sana. Hanya demi menemukan tiga perempuan yang tengah berbincang begitu hangat dengan urusannya masing-masing."Dia memang secengeng itu saat kecil, Lily. Makanya Bunda juga kaget setelah melihat kelakuannya sekarang." Itu Akane yang sejak dua hari lalu sudah menginap di sini. Ibunya memang minta izin pada Lily untuk datang setelah menanyakan soal hari perkiraan lahir sang cucu pada Benji. Setelah mengantongi izin dari si ibu hamil, barulah Akane datang dan memutuskan untuk menemani menantunya di sini."Dia jadi pemarah mungkin karena kau suka memarahinya saat kecil dulu, Nyonya. Aku ingat, dia pernah menangis ketakutan sampai tidak berani pulang karena nilai ulangannya jelek."Itu Bu Anin yang menimp
"Tidak apa-apa kalau aku pergi bekerja, kan?"Pertanyaan ragu suaminya hanya ditanggapi Lily dengan kekehan geli. Perempuan yang pagi ini sibuk mengepang dua rambut tebal nan panjang putrinya hanya mengangguk kelewat yakin."Pergilahhh! Itu kewajibanmu, kenapa kau masih bertanya, Mas?" sahut si jur
"Bunda pulanggg~"Teriakan heboh Daisy sesaat Lily membuka pintu utama sontak membuat jurnalis cantik itu tersenyum lebar. Apalagi begitu melihat pria sipit yang baru turun dari tangga dengan setelan kaus hitam dan celana santai yang tampak pas di badannya."Kapan kau pulang, Sayang?" sapa Benji an
"Ini banyak sekali, Pa ....""Iya. Kenapa kalian sangat berlebihan?"Geovano hanya mengangkat bahu acuh mendengar komentar sepasang suami istri yang akan segera punya anak itu. Sedangkan Lily masih sibuk mengeluarkan barang belanjaan yang tadi ia beli bersama sang ayah mertua.Benji yang melihat se
"Rumah ini jadi terasa aneh ...."Lily berkomentar sambil memandangi setiap sudut ruang tengah yang tampak berbeda. Mulai dari cat dinding sampai perabot yang ada di sana. Benji bahkan mengganti televisi yang sejak enam tahun lalu mungkin tidak pernah dinyalakan. Karena Benjamin Kaisar memang jara







