Share

Chapter 7.

Author: Alana Karin
last update publish date: 2024-03-25 09:29:04

Suasana bar di lantai utama semakin ramai.

Kemesraan yang terjalin antara Sarah dan Vincent juga tidak terkendali, entah mereka seperti sengaja melakukan itu di depan Drake. Tapi itu juga terlihat alami, mengalir begitu saja seperti memang mereka melakukannya karena perasaan cinta.

Drake terus meneguk minumannya untuk gelas yang ke sekian kali. Kemudian mengentakkan gelasnya ke atas meja dengan cara kasar.

"Di mana wanita itu mengapa belum datang juga?" tanya Drake dengan kilapan mata serius pada Marcel.

Marcel tertegun, dia juga tidak tahu harus menjawab apa, semua ada dalam kendali Madame Charlotte dia yang mengatur cepat atau lambatnya.

Drake benar-benar tidak sabar, bukan karena dia merasa cemburu dengan tingkah Sarah dan Vincent.

Namun entah kenapa sejak dia meneguk gelas Whiskey pertamanya dia merasa ada perasaan yang berbeda yang membuatnya naik lebih cepat. Dan ingin dia tuntaskan.

Sial!

"Apa yang kau bilang pada Charlotte tentang wanita pesananku malam ini?" tanya Drake penasaran.

"Aku meminta dia untuk mencarikan wanita yang masih virgin," ucap Marcel terus terang.

Marcel melihat ada perubahan di wajah Drake, matanya makin memerah dengan Adam's apple yang naik turun.

"Katakan pada Charlotte aku ingin memakainya juga," perintah Drake tanpa ingin di bantah.

Marcel tertegun, tapi dia segera mengangguk. "Baik."

Marcel mengirim pesan pada Madame Charlotte.

Marcel:

Madame Charlotte, aku akan menambah uang nya menjadi 67 ribu dolar. Karena temanku ingin memakainya.

Di sana Madame Charlotte terdiam sebentar kala Marcel kembali berubah pikiran. Namun ketika melihat angka yang di tawarkan membuatnya tak sabar mandi uang.

Ia sudah terlanjur mengatakan pada Seira jika dia hanya untuk menemani minum saja. Namun, di luar prediksi permintaan Marcel justru berubah. Tentu saja ini di luar kendalinya.

Sedangkan jika ia memberi tahu Seira tentu saja perempuan itu tidak akan mau. Sehingga kesempatan untuk mendapatkan 67 ribu dolar akan sia-sia, sedangkan ia sudah tak sabar untuk memiliki uang-uang itu.

Ia berpikir sejenak sampai akhirnya ia menemukan keputusan.

Madame Charlotte:

Baiklah.

Balasnya kemudian pada Marcel.

Tak lama notifikasi uang 67 ribu dolar masuk ke nomor rekeningnya. Bola mata wanita itu segera membelalak, dan tersenyum puas. Ia sudah tak peduli lagi pada Seira, yang penting ia mendapatkan semua uang ini.

***

Marcel yang melihat gelagat Drake pun bertanya, apalagi ketika dia ingin bermain dengan wanita. "Apa kau mabuk?"

"Apa kau melihat aku seperti orang mabuk?" Drake menyipitkan matanya.

Marcel mengamati. "Memang tidak tapi-"

"Siapkan saja mentalmu untuk menuruti apapun permintaanku nantinya." Drake tersenyum licik. Sejujurnya dia menahan dengan keras dirinya, matanya semakin mengantuk dan kepalanya pusing, ini tidak biasanya dia mengalami reaksi seperti ini.

Marcel juga harus konsisten, dia tidak dapat mengelak ucapan Drake.

Tidak lama setelah itu, muncul sosok wanita dengan pakaian seksi di depan mereka.

"Dengan tuan Marcel?" Suara yang lembut itu menyadarkan mereka.

Marcel segera berputar ke belakang dan melihat Seira yang berdiri dengan perasaan canggung.

Marcel terpukau untuk beberapa saat, Seira benar-benar cantik mirip dengan kriteria Drake selama ini.

Dia memiliki kulit putih bersih dengan mata bulat indah, lekuk tubuhnya juga menawan, sangat idaman Drake.

Bahkan jika di bandingkan dengan Sarah wanita ini lebih cantik darinya.

Marcel segera mengangguk. "Ya saya Marcel."

Seira memberi senyum dan sapaan kepada Marcell. "Perkenalkan saya Seira biasa di panggil Seira."

"Hai, Seira." Marcel menerima uluran tangan Seira.

Cara Marcel memperkenalkan dirinya sangat ramah membuat Seira merasa lega karena ia pikir pria yang akan ia temani tidak semengerikan yang ia pikirkan tadi.

Seira menatap ke tengah rombongan itu dan tertegun begitu melihat ada tatapan lain yang tengah memperhatikannya.

Tatapan dari sosok yang asing.

"Kalau begitu saya tinggal, dan silakan bertugas."

Ketika Marcel berkata demikian dan membangkitkan tubuhnya, Seira tertegun dan mengerutkan keningnya, karena disana hanya tersisa satu pria lain dengan tatapan dingin itu.

Jadi ia tidak bekerja untuk menemani Marcel? Lalu untuk siapa?

Seira memandang Marcel dengan penuh tanya, dan menunggu jawaban darinya, kemudian Marcel mendekati Seira dan berbisik. "Apa Madame Charlotte tidak memberimu tahu, jika kau bukan menemani saya, tapi menemani Tuan Drake."

Seira langsung meneguk ludahnya. Dan tubuhnya langsung bergetar. Ketika itu tatapannya di suguhi dengan manik mata hitam yang kini sedang menatapnya.

Tatapan pria itu membuat dia merasa gugup.

Tapi dia sudah memilih pilihan ini, akhirnya mau tak mau dia juga harus tetap menjalaninya.

Ia bukan tidak tahu siapa Drake, tentu saja dia tahu, namanya sangat terkenal. Drake adalah seorang pengusaha juga duda. Hanya saja ia tidak pernah melihatnya, hanya mendengarkan nama dan rumornya saja. Tapi malam ini dia malah bertemu dengannya secara langsung. Dan pria itu benar-benar seperti yang dia dengar, tampan, dan memiliki fitur dingin juga angkuh di wajahnya.

Seira mengangguk kepada Marcel, pria itu pun menepuk bahu Seira, dan melangkah pergi dengan cepat.

Hector juga melangkah pergi, di sana hanya tersisa Drake dan dirinya.

"Tuan Marcel aku melupakan dompetku di ruang VIP no 6 tadi, temani aku kesana." Samar-samar Seira mendengar ucapan Hector pada Marcel.

Ruang VIP no 6 !

Seira sekarang mengerti siapa pria yang ada di dalam ruangan VIP tadi. Jadi dia adalah Tuan Drake?

Ia tidak menyangka, jika setelah melakukan sesuatu dengan wanita penghibur tadi. Sekarang malah giliran dia yang menemaninya.

Ia tahu Drake suka bermain dengan wanita. Sekarang perasaan takut akan hal itu makin mendominasi dirinya. Terlepas dari ucapan Madame Charlotte tadi jika ia hanya untuk menemaninya minum saja. Namun sekarang ia jadi ingat, jika ternyata Madame Charlotte sudah membohonginya satu hal -dia bilang jika kliennya tidak suka bermain wanita. Namun apa? Tidak mungkin seorang Drake adalah pria yang di bicarakan Madame Charlotte. Wanita itu benar-benar sudah membohonginya.

Oh, atau apakah Drake tahu jika dia tadi mengintipnya, dan sekarang ini berbalas dendam dengannya. Seira mendadak gugup.

Drake mengepulkan asap rokok yang tengah dia hisap di mulutnya ke arah wajah Seira yang masih saja bengong.

Pemandangan di depannya sangat menarik, membuat dia tidak tahan untuk segera membawanya naik ke atas tempat tidurnya.

"Duduklah!"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Ranjang Hangat Sang Mafia   Chapter 10.

    Marcel terdiam ternyata Drake hanya ingin memastikan hal ini. "Tentu saja sudah, aku akan mengirim bukti pesan yang ku kirim padanya." Drake tak merasa ada yang mencurigakan dari Marcel, dia juga langsung melihat pesan yang baru saja di kirim Marcel tentang bukti pesannya pada Madame Charlotte. Namun karena ini, keyakinannya tentang Madame Charlotte yang sudah menipu Seira kian kuat. Dan ia tak senang dengan hal ini. Marcel tak mendengar Drake berbicara apa-apa lagi. Dia pun berkata, "apa ada masalah?" "Tidak ada." "Oh iya, mengenai taruhan semalam, anggap saja batal. Karena waktunya tidak tepat, tidak menyangka jika akan ada Sarah di sana," ucap Drake. Marcel menghela nafas lega, dia mengangguk, "baik, baik, aku mengerti. Kita bisa taruhan lain kali lagi." Marcel tersenyum cerah di ujung sana. Drake kemudian menutup telepon itu, dan mengepal erat teleponnya. Dia segera menuju pintu keluar, dan melihat Hector beserta beberapa pengawal berjaga di luar. Mereka menunduk menyambutn

  • Ranjang Hangat Sang Mafia   Chapter 9.

    Keesokan Pagi. Seira terbangun dengan tubuh yang kaku dan berat. Saat pertama membuka mata dari tidurnya, pemandangan yang dilihatnya pertama kali adalah sosok Drake yang masih terlelap dengan posisi telungkup di sampingnya. Ada sedikit kegugupan, apalagi setelah ingat dengan apa yang terjadi semalam. Pelan-pelan ia bangkit dari ranjang, mengambil selimut untuk menutupi tubuhnya yang tidak mengenakan apapun. Namun, langkahnya terhenti ketika pria itu tiba-tiba membuka mata dan menatapnya. "Mau pergi kemana?" suara Drake yang masih dibalut sisa kantuk terdengar. "Aku ingin pulang," jawab Seira tenang, menghindari tatapannya. Pria itu memutar posisi tubuh kemudian duduk, menggeliat sejenak sebelum beranjak dari ranjang. Dia menekan kepalanya sejenak untuk menetralkan efek pusing di kepala. Ini tidak seperti biasanya, ia tidak pernah merasa pusing seperti ini, bahkan sebelum dia melakukannya dengan wanita itu semalam. Ini seperti efek sebuah obat, apakah semalam dia benar-benar mabu

  • Ranjang Hangat Sang Mafia   Chapter 8.

    Seira tertegun dan segera sadar dari lamunannya. Suara dalam dan berat yang keluar darinya menambah kegugupannya. "Iya, Tuan." Kemudian Seira duduk di sofa di samping Drake dengan gerakan gugup. Kegugupan itu membuat Drake dapat menyimpulkan jika Seira memang belum pernah berhadapan dengan pria. Para pelayan terus menyuguhi mereka minuman, Drake menarik pinggang Seira kian dekat. Sampai tak ada jarak di antara mereka. Hal ini membuat Seira semakin gugup dan sesak nafas, aura dominan menyeruak kuat dari dalam diri pria ini. "Minumlah!" Tawar Drake sambil menunjuk segelas anggur yang ada di depannya dengan matanya kepada Seira. Seumur-umur Seira belum pernah minum anggur, meskipun usianya sudah legal, dan ia bekerja di tempat seperti ini tapi dia tetap ingin menghindarinya. "Kenapa?" Drake bertanya saat Seira tak juga menyentuh gelas anggurnya. "Saya tidak pernah minum alkohol." "Berapa usiamu?" Seira segera menjawab, "21 tahun." Drake mengangguk, kepolosan yang di tunjukkan S

  • Ranjang Hangat Sang Mafia   Chapter 7.

    Suasana bar di lantai utama semakin ramai. Kemesraan yang terjalin antara Sarah dan Vincent juga tidak terkendali, entah mereka seperti sengaja melakukan itu di depan Drake. Tapi itu juga terlihat alami, mengalir begitu saja seperti memang mereka melakukannya karena perasaan cinta. Drake terus meneguk minumannya untuk gelas yang ke sekian kali. Kemudian mengentakkan gelasnya ke atas meja dengan cara kasar. "Di mana wanita itu mengapa belum datang juga?" tanya Drake dengan kilapan mata serius pada Marcel. Marcel tertegun, dia juga tidak tahu harus menjawab apa, semua ada dalam kendali Madame Charlotte dia yang mengatur cepat atau lambatnya. Drake benar-benar tidak sabar, bukan karena dia merasa cemburu dengan tingkah Sarah dan Vincent. Namun entah kenapa sejak dia meneguk gelas Whiskey pertamanya dia merasa ada perasaan yang berbeda yang membuatnya naik lebih cepat. Dan ingin dia tuntaskan. Sial! "Apa yang kau bilang pada Charlotte tentang wanita pesananku malam ini?" tanya Drak

  • Ranjang Hangat Sang Mafia   Chapter 6.

    Di saat ini Madame Charlotte sedang berusaha keras mencari wanita seperti itu. Dia sudah menghubungi banyak kenalannya. Namun mencari wanita Virgin di kota ini sangatlah sulit, rasanya seperti mencari jarum di tumpukan jerami, apalagi mengingat pergaulan anak muda sekarang yang kelewatan itu semakin membuatnya kesulitan, mungkin ada tapi sangat jarang. Tapi demi uang ia akan melakukan cara apapun. Pandangan Madame Charlotte berputar ke sekeliling, namun entah bagaimana tiba-tiba matanya tertuju dengan tubuh sesosok gadis muda yang sedang mengikat rambutnya di depan kaca toilet kamar mandi. Saat ini Madame Charlotte yang tengah ada di sudut kamar mandi itu memperhatikan gadis dengan seragam pelayan itu. Jika di pikir gadis itu sangat cantik dan juga muda, hanya saja nasibnya sedikit kurang beruntung saat dia hanya bekerja menjadi seorang pelayan. Madame Charlotte sudah sangat lama menjadi mucikari di bar ini, namun dia baru kali ini melihat gadis itu di sini. Sepertinya dia memang

  • Ranjang Hangat Sang Mafia   Chapter 5.

    "Tidak usah!" Tapi Drake menolak, dia sudah tidak memedulikannya, "karena jika aku pergi maka mereka akan puas dan berpikir jika aku cemburu," ucap Drake. "Kau benar!" Marcel ikut menyetujui perkataan Drake. "Baiklah." Hector pun mengangguk. Dia tahu pentingnya menjaga harga diri bosnya di hadapan sang mantan istri. "Aku sungguh tidak menyangka jika wanita itu akan berkhianat dengan Vincent sahabat mu sendiri," ucap Marcel. Sudah bukan rahasia lagi pengkhianatan yang di alami Drake, di kalangan pebisnis keluarga Drake dan keluarga Sarah adalah dua keluarga yang sangat tersohor. Drake juga tidak tahu bagaimana bisa sahabat yang dia percayai itu akan mengkhianatinya seperti ini. Padahal satu tahun yang lalu ketika dia memeriksakan diri -Vincent adalah salah satu temannya yang menemaninya di rumah sakit. Tapi tidak ia sangka Vincent akan berkhianat seperti ini. Saat ini hubungannya dengan Vincent sangat dingin sejak satu tahun terakhir. Tapi dia masih belum melakukan apapun, ini ka

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status