共有

Chapter 6.

作者: Alana Karin
last update 公開日: 2024-03-22 17:39:46

Di saat ini Madame Charlotte sedang berusaha keras mencari wanita seperti itu. Dia sudah menghubungi banyak kenalannya.

 Namun mencari wanita Virgin di kota ini sangatlah sulit, rasanya seperti mencari jarum di tumpukan jerami, apalagi mengingat pergaulan anak muda sekarang yang kelewatan itu semakin membuatnya kesulitan, mungkin ada tapi sangat jarang. Tapi demi uang ia akan melakukan cara apapun.

 Pandangan Madame Charlotte berputar ke sekeliling, namun entah bagaimana tiba-tiba matanya tertuju dengan tubuh sesosok gadis muda yang sedang mengikat rambutnya di depan kaca toilet kamar mandi.

 Saat ini Madame Charlotte yang tengah ada di sudut kamar mandi itu memperhatikan gadis dengan seragam pelayan itu.

 Jika di pikir gadis itu sangat cantik dan juga muda, hanya saja nasibnya sedikit kurang beruntung saat dia hanya bekerja menjadi seorang pelayan.

 Madame Charlotte sudah sangat lama menjadi mucikari di bar ini, namun dia baru kali ini melihat gadis itu di sini. Sepertinya dia memang karyawan baru.

 Saat merasa ada cahaya harapan, Madame Charlotte pun mendekatinya dan menyapa gadis itu dengan lembut.

 "Halo."

 Shena yang baru saja mencuci wajahnya juga mengikat rambut itu berputar ke belakang.

 Pandangan pertama yang dia lihat adalah wanita tua namun dengan pakaian seksi dan riasan tebal. Shena kembali berputar ke depan dan kembali menatap dirinya di cermin.

 Dia sangat tahu siapa wanita yang ada di belakangnya ini, dia adalah mucikari yang sering di datangi teman-temannya ketika butuh uang. Selama ini teman-temannya yang tahu kesulitan hidupnya selalu menawari dia untuk menghubunginya.

 Tapi dia berusaha untuk menghindari hal itu dan selalu menekankan dalam dirinya jika dia tidak boleh melakukan hal itu, apalagi dia hanya ingin memberikan malam pertamanya untuk suaminya kelak.

 Tapi ada apa wanita ini kemari, kenapa menemuinya?

 Shena kembali menoleh ke belakang dan membalas sapaannya dengan suara gemetar. "Iya, Madame. Ada yang bisa di bantu?"

 "Apa kamu mau uang?"

 Shena tertegun, kenapa langsung pertanyaan ini yang di berikan. Jika mau uang atau tidak, jelas saja ia mau.

 Siapa yang tidak mau uang!

 Hanya saja dengan cara apa untuk ia mendapatkannya? Pikirannya berlarian kemana-mana. Tentu saja ia tidak mau jika harus menjual diri. 

 "Tentu saya mau Madame. Tapi-"

 "Kamu tenang saja!" Ucapan Shena belum selesai namun sudah di potong oleh wanita itu.

 "Apa kamu masih Virgin?"

 Shena gugup, pertanyaan itu langsung membuat dadanya panas. Bagaimana tidak? Ketika ada seorang mucikari yang terkenal menjajakan wanita penghibur tiba-tiba menanyainya seperti ini. Shena khawatir, dirinya akan di beli olehnya.

 "Saya tidak bisa menjawab," ucap Shena.

 Wanita di depannya itu langsung menghela napas. Dia mengeluarkan dompet dari dalam tas, dan menarik beberapa lembar uang pecahan seratus dolar. "Aku tidak sedang mencari perempuan untuk tidur dengan klienku."

 Shena masih tak bereaksi. Namun tatapannya masih menunggu maksud wanita itu padanya.

 "Aku akan memberimu uang muka seribu dolar, kau tidak perlu tidur dengan seorang pria, kau hanya perlu menemaninya minum. Apa kau mau?" Wanita itu mengulurkan uang yang ia keluarkan dari dompet dengan jumlah seribu dolar itu pada Shena.

 "Lalu apa maksud madame bertanya seperti itu pada saya?"

 "Karena aku hanya ingin memastikan jika kau tidak pernah berurusan dengan dunia malam sebelumnya. Klienku ini, tidak suka bermain perempuan. Jadi dia hanya butuh teman minum saja." Madame Charlotte sengaja membohongi Shena agar mau.

 "Saya belum pernah pacaran," jawab Shena akhirnya. Meskipun ia tidak ingin menjelaskan secara gamblang.

 "Sungguh? Kau belum pernah pacaran?" Madame Charlotte di buat takjub.

 Shena kemudian menganggukan kepala.

 Senyum tipis langsung melengkung di bibir wanita itu. Karena ia yakin Shena adalah target yang tepat.

 "Jadi apa kau mau?"

 Pendirian Shena sedikit goyah, karena ia hanya cukup menemani minum saja, tapi sudah mendapat seribu dolar. Apalagi jika di pikir saat ini kondisi ekonominya sedang sulit. Di samping dia memerlukan biaya untuk hidup sehari-hari, dia juga perlu biaya untuk membayar kuliahnya dan pengobatan ayahnya. Sementara gaji dari pekerjaan yang tengah dia jalani belum bisa menutup semua kebutuhan itu.

 Dan jika ia menerima kesempatan yang di beri wanita ini maka kesulitan yang ia alami setidaknya berkurang sedikit.

 "Kau tidak usah khawatir. Setelah selesai melakukan pekerjaanmu aku akan memberi tambahan untukmu, lima ratus dolar, bagaimana?"

 Tatapan tertunduk Shena kini terangkat kembali begitu mendengar ucapan Madame Charlotte.

 "Hanya menemani minum kan?" Sekali lagi Shena ingin meyakinkan dirinya.

 "Iya!"

 Wanita di depannya mengangguk saat merasa Shena mulai terbujuk olehnya.

 Shena kembali terdiam dan memikirkannya ulang dengan matang. Hati nuraninya goyah, namun kali ini ada pengecualian yang membuat dia tak perlu khawatir. Sebab dia tidak perlu menyerahkan malam pertamanya.

 "Baiklah, jadi kapan aku harus melakukan pekerjaanku?" Pada akhirnya Shena memberi keputusan yang bulat.

 Madame Charlotte tersenyum senang, dia segera menjawab dengan cepat, "saat ini."

 Mata Shena langsung membulat. "Tapi aku sedang bekerja. Jadi bagaimana dengan pekerjaanku sekarang?"

 "Kau tidak usah khawatir. Aku akan menghubungi manager bar. Jadi kau tinggal terima beres."

 "Baiklah." Shena mengangguk setuju.

 "Kalau begitu mari ikuti aku pergi ke ruang ganti, untuk mendandanimu." Madame Charlotte segera menggiring Shena.

 Shena mengangguk lagi dan mengikuti Madame Charlotte dengan patuh.

 Langkahnya melewati ruang utama yang penuh dengan hingar-bingar yang kemudian menyusup ke telinga. Dari sudut ke sudut hanya di penuhi oleh pasangan pria dan wanita yang beradu kemesraan, ada yang berpelukan, dan lain lagi.

 Saat itu pula pikiran Shena tertuju kesana. Apakah dirinya juga akan seperti mereka nanti? Saling beradu kemesraan, kini perasaannya pun menjadi gundah.

 Kira-kira siapa pula pria yang harus dia temani nanti? Ia tidak bisa membayangkan jika itu adalah pria tua.

 Namun, ucapan Madame Charlotte sudah dia pegang jika ia hanya akan menemani tamu itu minum, tidak melakukan hal lebih yang melewati batas. Jadi ia tidak perlu takut dengan pria tua yang tengah dia pikirkan.

 Perasaan gugup itu juga perlahan menghilang ketika suara keramaian mulai tersedot oleh ruangan dandan yang kedap.

 Di sana Madame Charlotte memilihkan pakaian untuk Shena dan menyiapkan penata rias untuk merias wajahnya.

 Seseorang wanita penghibur yang di temui Shena di ruang VIP tadi itu juga melihatnya, kemudian dia menyapanya. "Kamu? Wanita tadi kan?"

 Shena mengangkat wajahnya menatap wanita itu dengan mata menyipit. "Iya." Shena menjawab terus terang.

 Wanita itu tersenyum mengejek. "Ku pikir kau wanita suci ternyata sama saja. Setelah mengintipku kau menginginkan melakukannya juga. Ck." ejeknya diiringi dengan decakan dan senyum remeh. 

 Shena tidak menggubris, dia yang menerima tawaran ini maka dia juga harus siap menerima resikonya.

 Madame Charlotte telah menemukan gaun yang pas untuk Shena. Kemudian ia meminta Shena untuk berganti dengan pakaian itu.

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • Ranjang Hangat Sang Mafia   Chapter 125

    Sejak hari itu peran baru yang Gerardo dapatkan sebagai seorang ayah memberi ia tanggung jawab baru. Saat ini bayi-bayi yang kecil itu telah tumbuh menjadi bayi yang menggemaskan, di sayangi semua orang, tubuhnya gemuk dan suara tangisnya menjadi pengiring rumah yang dulu sunyi. Sekarang nuansa rumah terasa lebih hidup. Nyonya Kalista, tuan Damian, tuan James semuanya menjadi kakek dan nenek siaga, bahkan Daniel juga menyayangi keponakannya itu. Shena kini tampak semakin matang sebagai seorang ibu. Setiap pagi ia akan bangun lebih awal untuk menyusui dan menenangkan kedua bayinya. Ada kelembutan baru dalam dirinya, semacam naluri keibuan yang muncul secara alami. Sementara Gerardo, yang dulunya tak pernah menyentuh dunia anak-anak, kini menjadi ayah yang teramat melindungi. Ia belajar mengganti popok, menggendong bayinya dengan posisi benar, hingga mengenali perbedaan tangis lapar dan tangis mengantuk. Setiap malam, ia akan duduk di dekat ranjang bayi, membacakan cerita pendek

  • Ranjang Hangat Sang Mafia   Chapter 124

    Beberapa bulan kemudian setelah kondisi Shena pulih, begitu juga Gerardo yang sudah bisa beraktifitas seperti sedia kala. Mereka berdua memutuskan untuk kembali dari rumah Tuan James. Dengan Shena menggendong putri kecilnya dan Gerardo yang menggendong putra kecilnya mereka berpamitan pada Tuan James. Seharian itu lalu putra dan putri mereka menjadi rebutan orang-orang di rumahnya ketika semua orang ingin berkenalan dengannya. Sesaat setelah malam hari tiba, mereka baru bisa mengistirahatkan badan. Dan kebetulan sekali, sebelum mereka memutuskan kembali ke rumah ini, Gerardo sudah sempat membuatkan kamar untuk anak-anaknya, sehingga mereka bisa memulai semuanya dengan nyaman. "Kamu pasti lelah, tidurlah," ucap Shena memandangi Gerardo yang terlelap di sampingnya, tangannya sambil mengusap rambut pria itu. Hari ini ia memandangnya dan mengingat lagi momen bagaimana mereka bertemu untuk pertama kali. Semua kenangan itu muncul seperti klip film yang membuat ia menahan senyum. Gerardo

  • Ranjang Hangat Sang Mafia   Chapter 123

    Saat para perawat membawa bayi-bayi itu keluar, keheningan kembali menyelimuti ruangan. Kali ini sunyi yang penuh harapan. Gerardo kembali memeluk Shena, membiarkan wanita itu bersandar sepenuhnya padanya. “Nama,” ucap Gerardo pelan. “Kita belum bicara soal nama.” Shena tersenyum lelah. “Aku menyimpan itu untukmu. Aku ingin kau yang memilih.” Gerardo menatap jendela, cahaya sore menembus tirai tipis. “Kalau begitu… kita pilih bersama. Seperti keluarga.” Shena menutup mata. Untuk pertama kalinya sejak semua tragedi itu terjadi, ia merasa aman. Tuan James memasuki ruangan Shena setelah mengetahui proses persalinan baru saja selesai, begitu dia masuk dia di kejutkan dengan keberadaan seorang pria yang tengah memeluk cucunya. Pandangannya penuh dengan tanya, begitu juga Gerardo yang terkejut. Dia langsung melepaskan pelukan itu, dan menatap wajah tuan James. Sebelumnya ia tak tahu dimana Shena berada. Tadi ia mendapat informasi dari Hector yang sudah di hubungi Daniel karena

  • Ranjang Hangat Sang Mafia   Chapter 122

    Shena tercekat. Matanya membelalak, bibirnya terbuka tanpa suara. Gerardo tersenyum samar, lalu melangkah masuk perlahan. Lalu melihat dua bayi kembar di sampingnya. Shena tak berkata-kata. Air matanya langsung mengalir, begitu juga dengan perasaannya yang selama ini terpendam. "Gerardo..." ucapnya lirih. Gerardo menghampiri ranjang dan menunduk perlahan, menatap bayi mungil mereka. Jemarinya menyentuh lembut tangan si bayi. Perasaannya membuncah dia benar-benar tidak mempercayai hari ini, menerima keajaiban setelah empat bulan tertidur dan melihat anaknya dengan sehat dan selamat. Shena menahan tangisnya, tidak ingin terisak terlalu keras. Namun matanya membenarkan segalanya betapa ia merindukan pria ini, betapa ia takut kehilangan. "Maaf aku tidak ada saat kau melahirkan," kata Gerardo serak, menatapnya. Shena menggeleng sambil menghapus air matanya. "Kau datang tepat waktu... karena aku hampir percaya kau tak akan datang..." Gerardo menyentuh pipinya lembut, l

  • Ranjang Hangat Sang Mafia   Chapter 121

    Teriakan Shena menggema di ruang bersalin. Tubuhnya sudah dibaringkan, wajahnya penuh keringat dan air mata. Para perawat dan dokter dengan sigap membantu proses kelahiran yang berlangsung lebih cepat dari perkiraan. Tuan James berdiri di luar ruangan dengan gelisah. Sesekali ia berdoa dalam hati, wajahnya tegang penuh kecemasan. Di tempat lain, di sebuah ruangan dengan penjagaan ketat, Gerardo terbaring lemah dalam kondisi koma. Tubuhnya dipenuhi selang dan alat bantu. Mesin monitor detak jantung terus berdetik dengan irama lambat dan stabil. "Sedikit lagi, Nyonya Shena! Tolong dorong lagi!" Shena menangis dalam lirih. Teriaknya bercampur dengan suara isak dan rasa sakit yang luar biasa. Mesin monitor di ruang ICU tempat Gerardo terbaring mendadak menunjukkan sedikit perubahan. Bip.Bip. Detak jantungnya naik perlahan. Jemarinya yang selama ini tak bergerak, sedikit menegang. "Dorong, Nyonya! Ayo... bayinya hampir keluar!" Shena memejamkan mata, menyalurkan seluruh

  • Ranjang Hangat Sang Mafia   Chapter 120

    Paman dan bini Shena mengangguk. "Ya, sama-sama tuan." Setelah berbincang sebentar keduanya pun pergi. Shena merasa sedikit canggung di rumah ini. Namun Tuan James terus berusaha membuat Shena nyaman. Sepanjang waktu mereka bercerita banyak hal, termasuk pekerjaan yang di miliki keluarganya. Kakeknya bukan seorang pebisnis besar, tetapi dia punya cukup aset untuk bertahan hidup. Shena terus bercerita termasuk kondisi pernikahan dan juga kehamilannya, serta beberapa hal yang membuat ia terancam dengan suaminya itu. "Ayo, Shena. Rumah ini kini milikmu juga," ucap Tuan James kemudian mengarahkan Shena untuk berusaha nyaman di rumah ini. "Selamat datang, Nona," katanya. "Saya Maria, kepala pelayan rumah ini. Kami sudah menyiapkan kamar untuk Anda, dan dokter pribadi keluarga juga sudah diberitahu mengenai kondisi Anda." "Terima kasih," jawab Shena, masih terkesan dengan suasana rumah itu. Kakeknya memegang lembut bahunya. "Kau bisa istirahat setelah dokter datang memeriksa

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status