Chapter: Lima Puluh Satu Kaiden dan Quensa sudah duduk di sebuah restoran mewah, tempat mereka akan bertemu klien. “Istri Tuan Kaiden sangat cantik,” puji Klein dengan tatapan yang tak bisa disembunyikan dari Quensa. Kaiden menatap istrinya dengan segenap kekesalan yang dipendam rapi di balik wibawa. “Terima kasih. Boleh kita mulai pembahasan kerja sama ini?” suara Kaiden datar, tapi napasnya berat. Sejak tadi, Klein terus melirik Quensa dengan cara yang membuat suasana jadi panas dan menusuk. Klein menjawab sambil tak melepas pandang dari Quensa, “Tentu saja. Ini kerja sama pertama dengan Tuan Kaiden langsung, meski saya sudah pernah bekerja sama dengan orang tua Anda. Tapi kita harus saling mengenal lebih dalam dulu, agar kerja sama kita ke depan berjalan lancar.” Tatapan Klein yang tak pernah lepas dari Quensa membuat Kaiden semakin geram. Namun, ia menekan amarah demi profesionalitas. Perlahan, Kaiden meraih tangan Quensa, menggenggamnya erat sebagai penegas batas tak terlihat, lalu dengan halus
Terakhir Diperbarui: 2025-12-06
Chapter: Lima Puluh Kaiden diam saja, tak menjawab. Dengan gerakan pelan namun pasti, ia menarik selimut tebal, menaikkannya hingga menutupi seluruh tubuh Quensa. “Om...?” suara Quensa melemah, tangannya ragu-ragu meraih tangan Kaiden untuk menahan. Getarannya terasa begitu halus, penuh harap. Kaiden menghela napas panjang, matanya samar-samar menatap jauh. Perlahan, dengan kelembutan yang seakan menyembunyikan amarah, ia melepaskan genggaman Quensa, lalu berbalik pergi tanpa sepatah kata penjelasan. Tubuh Quensa gemetar hebat, tangisnya pecah sembari menatap punggung Kaiden yang kini tertutup pintu kamar, meninggalkannya dalam keheningan yang menusuk hati. Dari balik pintu, tinju Carel mengepal dengan kekuatan yang hampir memecahkan dinding. Dia melangkah maju, tatapannya membara saat melihat kamar itu kosong tanpa Kaiden. Suaranya pecah, menorehkan ancaman yang menggema di ruang sempit itu, “Jangan pernah melangkahi batas dan jangan sekali-kali ingkari janji yang sudah kita buat.” Quensa ters
Terakhir Diperbarui: 2025-12-04
Chapter: Empat Puluh Sembilan Mobil melaju pelan memasuki area perusahaan. Kaiden membuka pintu dan menuruni mobil, tatapannya langsung tertuju pada sosok Quensa yang duduk kaku, wajahnya dingin tanpa ekspresi. "Kamu mau ikut ke kantor?" tawarnya, suaranya mengandung keinginan tapi juga sabar yang mulai menipis. Quensa menatap balik, suara dinginnya menusuk, "Apa Mama suruh aku ikut?" Sekilas, Kaiden memalingkan wajah, napasnya berat menahan frustasi yang merayapi hatinya. Tapi hanya dalam hitungan detik, matanya kembali mengunci pada Quensa. "Enggak. Tapi kalau kamu mau, turun aja." Quensa menyingkirkan sedikit lipatan bajunya, pandangannya tajam tapi terdengar dingin, "Terima kasih, Om. Aku pengen pulang." Kaiden menghela napas panjang, berusaha menahan gelombang emosi karena hari ini ada rapat penting yang tak boleh dia lewatkan. Ia merunduk, tangan lembutnya menyentuh perut bulat Quensa. "Daddy harus kerja dulu, jangan rewel di perut Mommy. Daddy janji, nanti akan pulang cepat." Jari-jarinya mengelus per
Terakhir Diperbarui: 2025-11-28
Chapter: Empat Puluh Delapan Setelah sarapan yang terasa begitu hambar, Quensa bangkit dari duduknya. Ia meraih coat berwarna cokelat dan mantel senada dari lemari. Udara New York di musim gugur memang cukup menusuk tulang. Ia ingin merasakan pagi di kota impiannya, meski hanya seorang diri.Langkah Quensa membawanya ke Central Park. Daun-daun berguguran dengan warna-warni yang memukau. Pemandangan yang seharusnya indah itu justru membuat hatinya semakin pilu. Ia mengamati pasangan-pasangan yang berjalan bergandengan tangan, tertawa bersama. Pemandangan yang sangat kontras dengan kehidupannya."Sayang, setidaknya kita bisa tinggal di negara impian mommy...." gumam Quensa sambil mengelus perutnya yang sudah membesar. Usia kandungannya sudah memasuki bulan ketujuh. Kehadiran sang buah hati seharusnya menjadi pelipur lara, namun bayangan Kaiden selalu menghantuinya dan membuat hatinya terasa sesak. Bagaimana tidak, Quensa sudah jatuh hati pada pria tampan dan dia sudah sangat percaya diri kalau Kaiden pun memiliki p
Terakhir Diperbarui: 2025-11-27
Chapter: Empat Puluh Tujuh Berbeda dengan Kaiden yang tetap tenang tanpa secuil pun tanda keterkejutan menghiasi wajahnya, Carel justru melonjak penuh semangat, duduk manis di pangkuan Kaiden dengan senyum manja yang memekakkan telinga. "Honey... Akhirnya kita akan tinggal bersama juga..." suaranya mengalun penuh keyakinan, seolah dunia hanya milik mereka berdua. "Tinggal bersama...." Quensa mengerutkan dahinya, rasa jijik menyusup tanpa bisa disembunyikan. Matanya membulat penuh pertanyaan saat menatap Kaiden, mencari jawaban atas kata-kata yang nyaris menghancurkan harapannya. Namun Kaiden tetap membeku dalam diam, wajahnya datar, bagai batu tak bergerak. "Iya, aku akan tinggal di sini. Ini sudah jadi kesepakatan kita, kan, honey?" Carel menatap Kaiden dengan ekspresi manja. Kaiden hanya menghembuskan nafas pendek, "Hem," jawabnya singkat, dingin. Quensa tak sanggup bertahan lebih lama. Dia bangkit dengan langkah berat, menelan kepahitan yang merayap ke hatinya, lalu menghilang masuk kamar. Di sisi
Terakhir Diperbarui: 2025-11-26
Chapter: Empat Puluh Enam Teriakan Mama Rosa memecah keheningan, matanya membelalak saat melihat keberanian anaknya mencium Quensa di depan maid yang sama-sama terperangah. Kaiden perlahan melepaskan cumbuan, lalu mengusap lembut bibir Quensa yang masih bengkak, bekas ciuman yang terus dia ulang sejak kemarin. "Sudah, kita lanjut sarapan... Kai, nanti setelah sarapan kamu bisa lanjut lagi," potong Pak Damian, mencoba menenangkan keributan yang merebak. Suasana meja makan berubah hangat, sesekali suara Mama Rosa mengisi udara dengan ocehannya. "Kai, mulai sekarang jangan terlalu gila dalam urusan bisnis. Ingat, rumah tanggamu bukan hanya soal kerja, tapi juga soal menjaga kebahagiaan bersama mantu Mama. Ajak dia jalan-jalan, belanja, jangan hanya tenggelam dalam angka dan target saja ingat itu." Suaranya penuh kekhawatiran, campur sayang sekaligus cemas pada anak satu-satunya itu yang baru saja menikah di usia yang sudah tak muda lagi. Kaiden membalas dengan wajah dingin, tanpa sepatah kata berlebih, "Ti
Terakhir Diperbarui: 2025-11-25
Chapter: Bab 29Seminar berjalan berjam-jam, namun bagi Alana waktu seakan berjalan tanpa henti dalam kebekuan. Ia tetap menjalankan tugasnya—membagikan materi, mencatat hal penting, membantu peserta yang bertanya—semuanya dilakukan dengan gerakan teratur, wajah tenang, seolah tak ada yang retak di dalam dadanya. Hanya sesekali saat ia menunduk, matanya menatap kosong ke lantai, menahan rasa sesak yang naik perlahan. Akhirnya acara selesai. Orang-orang mulai berhamburan keluar, berbicara riang, berfoto bersama, saling berjanji bertemu lagi. Alana segera merapikan barang-barangnya, berniat pergi secepat mungkin sebelum ia kehilangan kekuatan untuk berdiri tegak. Namun saat ia hendak melangkah keluar pintu, suara rendah itu memanggilnya dari belakang—tegas, dingin, dan tak bisa ditolak. “Alana.” Langkahnya terhenti. Bahunya menegang kaku. Ia tak segera berbalik, menarik napas panjang dulu sebelum perlahan memutar tubuhnya. Kara berdiri tak jauh dari sana, tangan dimasukkan ke dalam saku celana, waj
Terakhir Diperbarui: 2026-09-05
Chapter: Bab 28Keesokan harinya, matahari bersinar terang menyinari halaman kampus yang ramai, namun cahaya itu tak mampu menyentuh dingin yang merasuk hingga ke tulang Alana. Ia melangkah dengan tas tersampir di bahu, wajahnya pucat namun tenang—terlalu tenang—sebagaimana ia berusaha menahan segala retakan yang mulai merobek hatinya. Hari ini ia memiliki janji sebagai asisten dosen untuk membantu kegiatan seminar, dan ia tak akan membiarkan apa pun—siapa pun—menghalanginya. Namun saat ia baru hendak melewati lorong menuju ruangan acara, langkah kakinya mendadak terhenti. Di hadapannya, Yasmin bersama sahabatnya Dina berdiri berderet lebar, sengaja menghadang jalan dengan senyum-senyum penuh arti yang tak menyenangkan. “Udah tahu belum?” tanya Yasmin duluan, nada suaranya terdengar manis namun penuh sindiran tajam, matanya menyapu wajah Alana seakan sedang menunggu pemandangan lucu. Alana tak menjawab sepatah kata pun. Ia hanya menatap datar, lalu dengan gerakan halus namun tegas, ia menepis tang
Terakhir Diperbarui: 2026-09-04
Chapter: Bab 27Semenjak malam itu, kehangatan yang sempat sempat menyelinap di antara mereka lenyap sepenuhnya. Rumah itu kembali menjadi ruang dingin yang penuh kebekuan—tak ada lagi sapaan, tak ada lagi tatapan yang beradu, bahkan udara yang mereka hirup bersama terasa berat dan penuh jarak. Alana tahu, luka itu tak lagi bisa ditambal; ia hanya menunggu waktu sampai benang yang tersisa putus sepenuhnya. Hari itu, di ruang tengah yang megah namun sunyi, Kara duduk bersandar kaku di sofa kulit. Wajahnya datar namun matanya menyimpan ketidaksukaan yang mendidih, seakan setiap napas yang terhubung dengan kisah pernikahan ini adalah siksaan baginya. “Aku ingin mengakhiri semuanya,” ucapnya tiba-tiba, suaranya rendah namun tegas memecah keheningan. Rena yang sedang memegang gelas teh, menekan pinggiran gelas itu begitu kuat hingga buku jarinya memutih. Ia menoleh perlahan, senyum tenangnya retak sedikit demi sedikit. “Kara, kenapa begitu? Apa kamu ingin melihat keluargamu hancur berantakan hanya
Terakhir Diperbarui: 2026-09-03
Chapter: Bab 26Taksi itu terus melaju membelah jalanan yang mulai sepi, lampu-lampu jalan berkelebat bagai bayangan samar di balik kaca yang berkabut oleh napasnya. Alana masih meringkuk di sudut bangku belakang, bahunya terus bergetar meski tangisnya mulai mereda menjadi isak halus yang sesekali menyengat dadanya. Pikirannya berputar kacau, seakan terjebak dalam labirin gelap tanpa jalan keluar. Jadi sejak awal ia sudah membenci aku, batinnya perih, meremas kain kemejnya hingga jari-jarinya terasa kaku. Setiap tatapan dinginnya, setiap kata kasarnya, setiap kali ia menyakitiku... Semua itu karena ia mengira aku selingkuhan ayahnya. Ia membenci aku karena menganggap aku wanita murahan yang menjadi simpanan ayahnya. Sakit itu kembali merobek dadanya—bukan karena dimarahi, bukan karena dibentak, tapi karena kesalahpahaman yang begitu kejam, yang kini terjalin begitu rapat seakan takkan pernah bisa diurai kembali. Lelaki di bangku depan sesekali melirik lewat kaca spion, ragu-ragu, namun akhirnya ha
Terakhir Diperbarui: 2026-09-02
Chapter: Bab 25Suasana kembali terbenam dalam keheningan yang menyesakkan, hanya terdengar suara napas yang berusaha dikendalikan dan denting halus sendok yang menyentuh piring—suara yang terdengar begitu keras, seolah memecahkan kebekuan yang menyelimuti ruangan. Alana menunduk dalam, menatap nasi di piringnya yang tak berkurang sedikit pun. Tenggorokannya terasa kering, seakan tertutup duri, sehingga setiap kali ia mencoba menelan, rasa perih menyergap tanpa ampun. Ia tahu, ia harus berkata sesuatu. Harus berbuat sesuatu. Namun kata-kata itu terasa berat untuk diucapkan, seolah ada tangan tak kasat mata yang mencekik kerongkongannya. Tiba-tiba, suara Rena kembali memecah keheningan, nada bicaranya begitu santai namun penuh jebakan: “Ngomong-ngomong, Alana, dari tadi Mommy perhatikan kamu jarang menatap Jayden, ya. Padahal beliau ayah mertuamu, orang yang harus kamu hormati setara dengan orang tuamu sendiri. Apa kamu keberatan berhadapan dengan beliau?” Pertanyaan itu melayang begitu ringan, na
Terakhir Diperbarui: 2026-09-01
Chapter: Bab 24 Suara itu tertahan di tenggorokannya, nyaris tak terdengar. Napas Alana tercekat, seolah udara di ruangan itu tiba-tiba saja lenyap. Kakinya terasa lemas seketika, seakan lantai di bawahnya berubah menjadi lautan kabut yang tak berpijak. Dunia seakan berhenti berputar saat itu juga. Jadi Pak Jayden... adalah ayah dari Kara? Pikiran itu berulang-ulang menghantam kepalanya, membuatnya pusing dan mual. "Jadi ini alasan Aksara membenciku dan menghinaku ?" —tak pernah sedikit pun terlintas dalam benaknya bahwa pria yang diam-diam memuja-mujanya itu adalah ayah kandung laki-laki yang kini menjadi pemilik hidupnya. Di sampingnya, Jayden tertegun. Matanya yang biasanya teduh kini memancarkan kekacauan yang tak bisa ia sembunyikan. Tatapannya terpaku pada wajah Alana—gadis yang selama ini ia kagumi dari jauh, yang sering ia sebut sebagai "cahaya terakhir" dalam masa tuanya yang sepi. Dan kini, gadis itu berdiri di hadapannya... sebagai istri anak kandungnya sendiri. Rasa bersalah, kecewa,
Terakhir Diperbarui: 2026-08-31