LOGINPria itu datang bukan untuk mencintai—tapi untuk menghancurkan. Namun, kenapa hatinya justru ikut runtuh bersama dengan sosok yang harusnya dia hancurkan? Alana Vance, seorang pengacara muda yang sedang berjuang menggapai puncak karier, tak menyangka bahwa satu malam impulsif di kelab malam akan mengubah hidupnya selamanya. Pria tampan yang membuatnya kehilangan kendali malam itu … ternyata adalah Arnold Blackwell, seorang pengacara ternama dan terkenal kejam dari perusahaan hukum raksasa tempatnya bekerja. Tanpa tahu apa-apa, Alana menerima tawaran eksklusif untuk bergabung langsung di bawah tangan dingin Arnold. Namun di balik tatapan dingin dan senyuman misterius itu, tersimpan rencana balas dendam yang telah Arnold susun selama bertahun-tahun. Segalanya menjadi rumit saat Alana—yang seharusnya hanya pion dalam permainan ini—menjadi wanita yang mencuri hati seorang Arnold Blacwell. Ketika rahasia kelam masa lalu mulai terungkap, dan cinta tak seharusnya tumbuh di antara dendam, Arnold harus memilih: menuntaskan balas dendam … atau kehilangan satu-satunya wanita yang membuatnya ingin hidup dengan cara yang berbeda. Kota London yang dingin dan penuh bayangan, cinta dan kebencian bertarung dalam permainan paling berbahaya yaitu perasaan.
View MoreArnold meletakan tubuh Alana ke kursi mobilnya. Pria tampan itu menatap Alana dengan wajah yang menggigit pucat, dan diselimuti rasa ketakutan yang mendalam. Ada sesuatu di dalam dirinya, yang merasakan tak nyaman melihat itu semua.“Kau sudah aman,” ucap Arnold hangat, menengakan Alana dari rasa takut yang mendera wanita itu.Alana memeluk tubuhnya, dengan mata yang berkaca-kaca. “A-aku takut tenggelam. A-aku pikir aku akan mati, Arnold.”Arnold tersenyum samar. “Kolam renang itu tinggi, tapi selama kau di dekatku, aku tidak akan mungkin membiarkanmu mati.”Alana terdiam, dan seketika hanyut akan kata-kata menenangkan pria tampan itu. “Dulu aku suka sekali berenang, tapi aku trauma karena pernah tenggelam. Dan trauma yang aku miliki, membuatku takut untuk berenang lagi. Aku tidak tahu bagaimana nasibku, kalau kau tidak menyelamatkanku, Arnold. Terima kasih banyak,” ucapnya pelan, memberi tahu.Arnold tak langsung menjawab ucapan terima kasih Alana. Pria tampan itu terdiam sejenak, me
“Kenapa kau lama sekali? Apa yang kau lakukan di luar, Alana?” tanya Arnold dengan nada tenang, ketika melihat Alana yang baru tiba di dalam dan kini duduk di hadapannya. Pria tampan itu sudah lebih dulu masuk ke dalam restoran, tetapi Alana sejak tadi tak kunjung muncul.“Oh, maaf sudah membuatmu menunggu. Di luar ada seorang nenek tua dan aku memberinya sedikit uang untuk dia beli makan,” ujar Alana menjelaskan alasan dirinya yang baru masuk ke restoran.Arnold mengalihkan pandangannya ke luar restoran. “Di mana nenek tua itu?” tanyanya di kala tak melihat siapa pun di luar.“Nenek tua itu sudah pergi setelah aku menberikan uang,” jawab Alana memberi tahu. Namun, dia memilih untuk tak menceritakan pada Arnold tentang ucapan nenek itu. Sebab, dia berpikir bahwa ucapan nenek tua itu hanya candaan saja.Arnold mengangguk. “Aku sudah memesan beberapa makanan. Kalau ada yang kau inginkan, kau bisa pilih lagi.”“Aku rasa cukup. Aku selama ini tidak pemilih dalam hal makanan,” jawab Alana
Waktu sudah menunjukkan pukul lima sore. Alana menutup MacBook-nya, dan menghela napas berat. Ruangan kerja perlahan sepi, hanya menyisakan suara detik jam dan pendingin ruangan yang berdesis pelan. Pikirannya sekarang masih dilingkupi rasa kesal, yang membentang di dalam diri. Arnold dan Megan yang sedang makan siang, tapi belum juga kembali.“Ah, biarkan saja!” Alana menggelengkan kepalanya, tidak mau memikirkan Arnold yang belum kembali padahal sudah lebih dari lima jam pria itu keluar dari kantor.Alana memilih menenangkan pikiran dengan logikanya. Dia tak memiliki hak di hidup Arnold. Jadi, apa pun yang dilakukan Arnold itu harusnya bukan menjadi urusannya. Pria itu bisa melakukan apa pun yang diinginkan.Alana memasukan ponsel dan dompetnya yang ada di atas meja, ke dalam tasnya. Lantas, dia hendak pergi dari sana, tetapi geraknya terhenti melihat Caroline Weir—salah satu staff muda di Blackwell & Blackwell Company, melangkah menghampirinya.“Alana, maaf mengganggumu. Apa kau su
Alana menatap cermin, melihat matanya sedikit sebab. Wanita cantik itu sudah mengompres matanya menggunakan es batu, agar tidak terlalu bengkak. Namun, tetap saja sembab masih terlihat. Beruntung, tadi di kala meeting berlangsung, dia bisa menutupi sembab dengan riasan wajah.“Siapa tadi yang menarik tanganku? Apa aku tadi bermimpi?” gumam Alana sambil membaringkan tubuhnya di ranjang.Tadi, Arnold sudah meminta klien menyelidiki apakah ada orang asing masuk ke ruang rapat atau tidak, tetapi ternyata hasil yang didapat adalah tidak ada siapa pun yang naik ke ruang rapat itu. Meski Alana yakin ada orang asing datang, tetapi wanita itu tak ingin bersikeras.Alana mengerti akan kode etik. Apalagi perusahaan kliennya itu bukan perusahaan kecil. Dia merasa apa yang terjadi padanya begitu nyata. Rasa takut menggerogoti di dalam dirinya. Namun, di kala lampu menyala tadi, semua hilang seakan—dirinya ada di dalam dunia mimpi.“Sepertinya, aku kelelahan sampai banyak berkhayal sembarangan,” gu
Jam dinding antik di sudut ruang kerja berdentang pelan, menunjukkan pukul tujuh malam. Hujan mengguyur kota London tanpa jeda sejak sore, menciptakan suara gemuruh lembut di balik kaca-kaca tinggi gedung Blackwell & Blackwell Company. Mayoritas karyawan telah meninggalkan kantor, dan menyisakan ha
Alana sontak tersentak melihat seorang wanita melayangkan tatapan tajam padanya. Dia segera melepaskan diri dari pelukan itu, langkah kaki mundur dua tapak tanpa suara, berusaha menjaga postur tetap tegak meski jantungnya berdegup kacau. Tangannya meremas ujung coat, mencoba meredakan kegugupan yan
“Alana! Kau sudah kehilangan akal sehatmu!” Alana menghempaskan tubuhnya ke ranjang, lalu dia memeluk bantal seraya mengumpati kebodohan yang dia lakukan. Sungguh, dia tak mengerti kenapa dia menerima tawaran Blackwell & Blackwell Company? Alana merasa seperti terjebak di dalam lingkaran api, hin
Alana tersentak dengan ucapan pria tampan itu. Buru-buru, dia megendalikan diri, berupaya untuk tenang, meski itu sama sekali tidak mudah untuknya. “K-kau … b-bagaimana bisa kau—” Sialnya, lidahnya kelu, di kala ingin mengatakan sesuatu pada sosok pria tampan di depannya.“Arnold. Panggil aku cukup






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews