ログインAlya Namira Atmadja (19 tahun), seorang gadis cantik yang mempunyai sifat periang dan satu-satunya pewaris kekayaan keluarga Atmadja. Namun, kehidupannya berubah drastis setelah kematian kedua orang tuanya. Demi membalas rasa sakit hati atas pengkhianatan yang dilakukan oleh paman dan bibi serta sahabat baiknya, Alya terpaksa menerima tawaran pernikahan dari Yudha Kusuma (39 tahun), pria yang baru dikenalnya. Tak pernah terpikirkan oleh Alya, bahwa ia akan menikah dengan laki-laki yang jauh lebih tua darinya, bahkan pria itu lebih pantas menjadi ayahnya. Sebelum menikah, mereka berdua sudah membuat kesepakatan, di antara keduanya tidak boleh ada yang memiliki perasaan satu sama lain. Namun, siapa sangka, seiring berjalannya waktu, Alya tak menyadari jika ia sudah jatuh hati pada suaminya. Sikap lembut dan penyayang yang selalu diberikan sang suami, membuatnya lupa akan perbedaan usia di antara mereka. Bukan hanya Alya, Yudha yang selama ini bersusah payah menyembunyikan perasaannya pun akhirnya mengakui dan mengungkapkan rasa cintanya. Pria itu juga berniat membatalkan perjanjian antara dirinya dengan Alya. Apakah yang akan terjadi pada hubungan beda usia itu ke depannya? Akankah mereka akan bersatu dalam ikatan pernikahan yang sesungguhnya? Atau akan berakhir sesuai dengan perjanjian yang telah mereka berdua sepekati? Yuk, ikuti kisah mereka dan temukan jawabannya di Istri Kecil Tuan Presdir.
もっと見るKejadian yang sangat langka itu tidak hanya disaksikan oleh Reno seorang, Tuan Mahendra dan istrinya yang kebetulan baru sampai di tempat itu pun sudah melihatnya. Sama seperti Reno, mereka berdua juga tak kuasa menahan tawa. “Astaga, Pa. Itu beneran Yudha kita?” tanya Nyonya Indriana yang sedari tadi terus mengamati putranya.“Papa juga merasa kurang yakin,” jawab Tuan Mahendra sambil tersenyum. “Sudahlah. Ayo, kita hampiri mereka,” ujar Nyonya Indriana sambil menggandeng tangan suaminya. “Pak Bos, Tuan Besar dan Nyonya juga sudah sampai.” Reno mengarahkan pandangannya pada pasangan suami istrinya yang sedang berjalan ke arah mereka. Yudha pun memutar badannya, kemudian tersenyum ramah menyambut kedua orang tuanya. “Pa, Ma.” Yudha langsung memeluk ibunya dengan erat. “Kalian juga baru sampai?” tanya Nyonya Indriana sambil melerai pelukannya, kemudian tatapannya tertuju pada wanita muda nan cantik yang berdiri di hadapannya, “Alya, kamu cantik banget! Benar-benar cantik,” pujiny
“Kamu sudah bangun?” tanya seseorang sembari berjalan ke arah Alya dengan membawa segelas air putih di tangannya.“Hah? Iya,” jawab Alya dengan gagu, ia juga merasa kecewa karena ternyata pemilik apartemen itu tidak pergi ke mana-mana seperti yang diharapkannya.“Ini, minum dulu!” pinta Yudha sambil menyodorkan gelas pada Alya.“Om nggak ke kantor hari ini?” tanya Alya sembari meraih gelas dari tangan suaminya. “Saya tidak perlu ke kantor,” jawab Yudha dengan nada ketus, pria itu lagi-lagi merasa kesal saat mendengar wanita yang sudah menjadi istrinya masih saja memanggilnya dengan sebutan om. ‘Dia kenapa, sih? Sewot amat jawabannya,’ batin Alya sambil menatap sekilas ke arah laki-laki bertubuh jangkung di hadapannya. Yudha tampak menarik napas panjang sambil menatap Alya, lalu mendudukkan dirinya di sofa. “Nanti malam ikut saya pergi ke acara jamuan,” ucapnya. “Nggak bisa!” jawab Alya dengan cepat, “saya juga ada urusan nanti malam,” lanjutnya.“Urusan? Memangnya kamu punya urusa
Melihat kakak sepupunya kesakitan akibat ditampar oleh sang ibu, Desi bukannya merasa iba, gadis itu justru tersenyum puas. “Makanya kalau bicara sama orang tua itu yang sopan, Mbak,” kata Desi seraya menatap Alya dengan tatapan sinis. “Kalian akan membayar mahal atas apa yang kalian lakukan padaku,” ucap Alya sambil memegang pipinya yang terasa panas. “Hahahaha ….” Ratih malah tertawa mendengar ucapan Alya. “Memangnya apa yang bisa dilakukan oleh anak ingusan sepertimu, Alya Namira Atmadja? Apa, hah?” sentaknya sambil menjambak rambut Alya dengan kuat. “Akh, sakit. Lepasin, Tante!” pinta Alya sambil mencengkram pergelangan tangan Ratih, lalu mendorong tubuh wanita itu dengan sekuat tenaga. “Mama …!” Desi berteriak melihat ibunya didorong oleh Alya. Saat ibu dan anak itu sedang lengah, Alya langsung bergegas ke kamarnya untuk mengambil pakaian dan barang-barang penting lainnya. “Des, telepon Papa! Cepat!” perintah Ratih pada putrinya. “Iya, Ma.” Dengan sigap Desi mengam
“Tentu saja dari pemilik perusahaan itu sendiri,” jawab Yudha dengan santai. Alya yang penasaran langsung membaca apa yang tertulis pada selembar kertas yang ada di tangannya. Seketika itu pula matanya langsung membulat sempurna melihat tulisan tangan seseorang yang ada pada kertas itu. “I-ini,” ucap Alya dengan mata berkaca-kaca. Yudha mengangguk seraya tersenyum lembut. “Iya, kamu pasti sudah kenal dengan tulisan tangan itu.” Alya tidak bisa berkata-kata, ia benar-benar terharu melihat tulisan tangan almarhum ayahnya. Rasa rindu terhadap sang ayah sedikit terobati setelah melihat hasil goresan tangannya. “Papa, apa yang sebenarnya Papa sembunyikan dari Al?” Alya bergumam sambil mendekap selembar kertas yang terdapat tulisan tangan almarhum ayahnya. Alya benar-benar tidak tahu seperti apa hubungan almarhum ayahnya dengan keluarga Kusuma. Ia bahkan baru mengetahui siapa Yudha sebenarnya setelah menikah dengan laki-laki itu. Sejak ayah dan ibunya masih hidup hingga mereka berdua
Merasa tidak tenang dengan kepergian Alya yang terburu-buru, Pak Didi pun bergegas keluar dari ruangannya untuk menyusul wanita itu. Semua karyawan Laluna Enterprise merasa penasaran apa yang terjadi antara direktur perusahaan dengan karyawan baru itu, tetapi mereka tidak punya keberanian hanya untu
“Sekarang Mama sudah tenang setelah mengetahui latar belakang istrimu, tapi Mama belum puas sebelum kamu mengumumkan ke publik tentang pernikahanmu. Kapan kamu akan mengadakan konferensi pers dan memperkenalkan istri kamu kepada semua orang?” tanya Nyonya Indriana. “Jangan, Ma. Yudha belum bisa mela
Tentu saja Tuan Mahendra akan kaget ketika ia mendengar nama Frans Atmadja. Karena orang tersebut dulunya sangat berjasa bagi keluarga Kusuma, terutama bagi Yudha. “Iya, Pa. Alya adalah putri beliau. Papa tentu belum lupa apa peran Om Frans Atmadja dalam keluarga kita. Bukan hanya perusahaan keluar
“Akh!” Yudha menjerit tertahan saat sikut Alya tak sengaja menghantam benda pusakanya. Secepat kilat Alya bangkit dari pangkuan pria itu. “Om apa-apaan, sih?” gerutunya sambil menatap Yudha dengan raut wajah kesal. “Maaf,” ucap Yudha. Ia tidak menyangka akan terjadi hal seperti itu. “Sudahlah. Sa
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
レビュー