LOGIN"Bunda!" Ica menyapa ibu mertuanya dengan wajah ceria di rooftop."Eh, sayang, kamu udah bangun. Sini-sini!" Sherly menyambut menantunya dengan senang hati. "Wah, indah banget suasananya! Di atas sini laut berasa luas banget, ya, Bun!" Seru Ica duduk dan langsung menikmati suasanana di sekeliling kapal yang merupakan lautan biru luas yang beriak tenang. "Untung saja, pas kita berangkat, laut tenang dan anginnya gak kencang. Jadi kapal juga gak terlalu goyang. Kamu gak mabuk laut, kan, Ca?" tanya Yoga mengingatkan. "Enggak, yah!" Ica menggeleng mantap sambil tersenyum. Rey yang ikut senang membelai rambut Ica yang diterpa angin. "Papa pikir kamu mabuk laut, soalnya langsung tidur pules banget." Timpal Sherly yang diiringi tawa Yoga dan juga Rey. "Tidurnya kayak batu, lho, Ma! Berat banget di bahu aku." Keluh Rey sengaja menyindir. "Dih, kamu!" Ica mencubit perut cowok itu gemas, namun ikut tertawa geli.Mau bagaimana lagi, aktivitas outdoor seharian kemarin dan waktu istirahatn
"3, 2, 1!" Rey menghitung mundur di luar toilet setelah menyodorkan baju ganti. "Reyhan, apa ini?" Teriakan Ica dari dalam toilet menggema seisi kamar. Rey hanya tertawa geli."Rey, ini gak bisa dipakai. Ayo, dong! Ambilin baju yang benar!" pinta Ica dari balik pintu. Ia merasa gaun yang muncul tiba-tiba itu memang ulah Rey, dan ia tak berani keluar dari toilet. "Udah, ayo coba keluar!""Ambilin bathrobe-nya dulu! Aku malu," rengek Ica."Ayo, keluar! Aku kan suami kamu. Masa gitu aja malu." Ujar Rey sambil sesekali tertawa geli. Beberapa menit berlalu, pintu toilet terbuka perlahan. Hanya saja, Ica masih berusaha menyembunyikan tubuhnya di balik pintu. Ia mengintip takut dari sisi pintu sebelum keluar. "Rey, tutup mata dulu!" Pekik Ica. "Iya, iya. Aku tutup mata, nih! Ayo, cepet keluar. Aku juga kan mau mandi." Rey pura-pura menutup matanya, meski ia masih bisa melihat sosok Ica yang ragu-ragu keluar dari toilet. "Rey, iiiih, kamu bohong!" Ica terkejut saat tiba-tiba Rey menarik
“Jadi kamu yang kasih tahu kakak, kalau Cindy ada di sini?" bisik Ica saat mengambil makanan prasmanan. Rey hanya terlihat menganggukkan kepalanya sambil memilih makanan di depannya."Kakak baru balik ke Batam. Itu pasti merepotkan."Rey hanya tertawa lalu mendorong tubuh Ica menuju konter minuman. “Ya, habis aku bingung. Kamu sepertinya terganggu banget sama cewek itu sampai nggak percaya sama aku. Padahal dia calon kakak ipar kamu, lho!" canda Rey, meski ia juga tak yakin dengan kata-katanya. Ica mengedikkan bahunya sambil memajukan bibirnya, seolah memberi arti bahwa dia tidak setuju dengan pendapat Rey. Rey kembali tertawa geli."Waktu aku bilang ke Faisal, dia juga kaget, lho! Kok, Cindy bisa bareng sama acara kita?”"Masa? Jadi, maksud kamu, dia sengaja ke mari?" tebak Ica sambil celingukan. Rey mengedikkan bahunya, enggan menjelaskan. "Mungkin. Tapi sudahlah! Mereka bukan urusan kita. Besok juga kita berangkat ke Bali." Terang Rey lalu memanggil seorang waiter."Mas, saya mi
"Ca, Ica, tunggu!" Rey berusaha mengejar Ica yang memilih pergi setelah turun dari Banana Boat. "Aku mau ke hotel.""Tunggu bareng, Ca!" panggil Rey lagi, menjajari langkah Ica yang semakin cepat. "Udah sana, kamu temani saja ayah bunda! Aku udah capek!""Ca, jangan seperti ini, dong! Masa gara-gara Cindy, kamu marah gak ada habisnya.""Terserah apa kata kamu. Aku cuma mau ke kamar."Dari arah pantai, sosok Cindy tampak masih melambai-lambaikan tangannya ke arah mereka berdua. Ica makin merasa muak dan langsung berlari meninggalkan Rey yang terus mengekorinya. Setelah mandi dan mengganti pakaiannya, Ica langsung menuju ranjang di mana Rey masih ada di kamar, memperhatikan gerak-geriknya dari sofa. "Kamu gak makan dulu?""Aku gak lapar. Aku capek!""Mau aku beliin makanan atau aku bawain aja makanannya ke kamar?""Gak usah. Udah sana, gak usah peduliin aku!""Jangan seperti ini, dong, Ca! Kita sedang bulan madu dan aku ingin kamu dan aku menikmati semuanya bersama." Ica hanya men
Rey menarik napas dan duduk di samping Ica.“Apa karena itu kamu ngambek sama aku lalu pergi gak bilang-bilang?"Ica hanya memberengut lalu membuang wajahnya lagi."Ca, waktu itu aku cuma sekadar menolong, kok! Pertemuan itu juga gak sengaja. Bukan aku yang mau.”“Aku juga dengar, kamu gendong dia ke klinik dan …” Ica sengaja menghentikan ucapannya, menanti tanggapan pria di sebelahnya.“Ca, jadi kamu tahu! Aku menggendong dia karena kakinya memang terkilir. Tapi jujur, aku gak ada apa-apa sama dia. Begitu sampai di klinik, aku langsung pulang,” terang Rey, sudah menduga arah pembicaraan Ica itu, dan ia tak mau menutupinya.“Ooh!” tanggapan Ica singkat sambil mengedikkan bahunya.“Aku juga baru tahu kalau dia ada di sini waktu aku ke swalayan. Aku pikir itu hanya kebetulan, Ca! Dan kamu tahu sendiri, sikapku sama dia bagaimana. Aku gak mungkin macam-macam,” terang Rey, mencoba meyakinkan Ica.“Malam itu, kamu juga mandi gegara kena kotoran. Kotoran apa?”“Ya ampun, beneran, itu karena
Rey yang pagi itu hendak bersiap melapor ke kantor polisi terkejut saat mendapat telepon dari Ica.“Ica, kamu di mana?” Pekik Rey di ujung telepon.“Rey, aku kecopetan. Tolong!” Suara panik Ica membuat Rey ikut panik.“Apa? Tunggu aku! Kamu di mana sekarang?”Di Hotel Bintang, Rey tampak berlari keluar kamar menuju kamar orang tuanya.“Ayah, Bunda, Ica ketemu!”Ketiganya pun langsung menuju hotel tempat Ica berada yang ternyata letaknya kurang dari dua km dari hotel asal mereka.“Ica! Kamu gak kenapa-kenapa, kan?”Sherly langsung memeluk menantunya itu saat mereka bertemu di lobi hotel tempat Ica menginap. Yoga juga tampak memeriksa sekitar tubuh Ica yang lecet."Ya Allah, Ica, kamu kok bisa begini!" Yoga langsung mengajak Ica duduk di kursi rotan. Beberapa orang yang tadi sempat mengerubungi mulai bubar satu per satu. Rey menemui pihak hotel untuk mengumpulkan informasi dan memberikan laporan saat polisi datang.“Kamu gak apa-apa, kan, Ca!”tanya Rey yang baru menghampirinya setelah po
“Ca, bener nih, gak mau ikut ke kota?” Seru Anggi kencang dari pintu villa.Ica yang sejak tadi memperhatikan laut yang berarak sempat terhenyak. Tapi kemudian ia melambaikan tangannya.“Iya, aku agak papa. Aku lagi enjoy nieh! Titip minuman kesukaanku aja ya!” Teriaknya hampir tak terdengar, diliha
Flasback InPrang!! “Huuu…….huwaaaa……!” Suara gelas pecah diikuti erangan seorang gadis mungil membahana di ruang makan. “Udah, Ca! Jangan nangis lagi, sini biar Rey yang beresin kacanya!” Seorang anak remaja berjongkok memunguti pecahan gelas di lantai. Gadis mungil itu memandanginya sambil ses
Ica bersujud sambil memejamkan matanya yang masih sangat mengantuk lepas shalat shubuh. “Ca!”Rey menyentuh pundaknya pelan. Ica bangkit lalu mencium tangan Rey. “Sekalian dong, pipiku dan ini..!”Rey menunjuk bibirnya. Ica melotot tak percaya lalu mendorong cowok itu. “Dasar genit, nggak sopan,
Sejak pernikahan itu terjadi, Ica mencoba meyakinkan diri, bahwa semua itu demi kebaikan dirinya. Dan sebersit perasaan sukanya pada sosok Rey yang dulu pernah ia kesampingkan, menjadi sebuah kekuatan baginya untuk menerima kenyataan di depannya.Sepeninggal Rey, ia kembali harus menjalani hari-hari







