LOGINSuara ketukan pelan di pintu membuyarkan lamunan Nirmala. Hena masuk dengan wajah berseri-seri. "Anda sangat cantik, Nona,” pujinya.Nirmala tersenyum tipis. Ini bukanlah pernikahan pertamanya, ia pernah memakai baju pengantin merah khas Amartapura, dan kini, Nirmala mengenakan baju pengantin putih dari kerajaan lain. Terasa berbeda, tetapi sama-sama membuat jantungnya berdebar kencang.“Jenderal Yudhistira sudah menunggu di aula depan. Beliau tampak sangat gagah, saya yakin beliau akan terpesona melihat Anda," ucap Hena sambil membantu merapikan ujung cadar Nirmala. “Nona dan Jenderal benar-benar pasangan serasi.”“Terima kasih, Hena,” ucap Nirmala pelan. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba mengendalikan gemuruh di dadanya. Setelah ini, Nirmala akan menjadi istri seorang jenderal besar Jayastamba. Ia tidak bisa hanya berdiam diri dan bersembunyi di kediaman Yudhistira. Ia juga harus menjaga martabat suaminya ituNirmala melangkah menyusuri lorong yang sudah dihias sedemikian rupa.
Dalam kegelapan malam, ditemani cahaya bulan dan lentera kecil, Arya memacu kudanya dengan kencang. Ia harus segera mengamankan Tabib Banyu sebelum Ratu menyadari telah kehilangan tabib itu.Saat sampai istana, Arya segera membawa lelaki tua itu ke kediamannya, tetapi bukan ke rumah utama, melainkan ke kamar Prama.“Untuk sementara, kamu akan tinggal di sini bersama Prama,” ujar Arya. Lalu tatapannya beralih pada Prama yang tampak menahan kantuk. “Awasi orang ini. Jangan sampai keluar paviliun dan jangan sampai ada yang tahu keberadaannya!”Setelah Prama mengangguk, Arya langsung meninggalkan kamar itu. Ia harus menyusun rencana selanjutnya. Di kamarnya, Arya duduk sambil merenung. Ia menuangkan arak ke cangkir dan menyesapnya pelan. Besok, Arya ingin membawa Tabib Banyu ke aula saat rapat bersama para menteri.Akan tetapi, kondisi Raja masih belum ada perkembangan. Ia tidak mau malah membuat Raja kepikiran dan sakitnya semakin parah."Aku tidak bisa gegabah," gumamnya dengan rahang m
Yudhistira mengecup kening Nirmala lama dan dalam. Seolah-olah sedang menyalurkan seluruh kekuatannya untuk meyakinkan Nirmala bahwa semuanya akan baik-baik saja.Perempuan itu memejamkan mata, membiarkan kehangatan itu mengikis rasa dingin yang selama ini mendekam di hatinya. Untuk sesaat, ia merasa benar-benar diinginkan tanpa harus merasa tertekan.Yudhistira menjauhkan wajahnya perlahan, lalu menatap Nirmala dengan binar mata yang penuh harapan. “Terima kasih karena sudah memberiku kesempatan, Nirmala. Aku berjanji, mulai hari ini, aku akan berusaha membuatmu bahagia.Nirmala hanya bisa tersenyum tipis, meski jauh di lubuk hatinya masih ada ganjalan yang belum sepenuhnya sirna. Melihat kesungguhan di mata Yudhistira, ia merasa tidak adil jika terus menutup diri. Setidaknya, ia harus mencoba demi masa depan bayi yang dikandungnya.“Aku juga akan berusaha menjadi istri yang baik untukmu, Jenderal,” sahut Nirmala pelan.“Setelah pulang dari istana, aku akan mempersiapkan pernikahan k
Yudhistira terpaku sejenak. Senyum yang semula tipis kini merekah lebar di wajahnya, memancarkan kelegaan dan juga kebahagiaan. Ia melangkah maju, nyaris ingin meraih tangan Nirmala, tetapi ditahannya demi menghormati batas yang masih ada.“Tapi … seperti yang Anda tahu, kalau aku adalah mantan istri Pangeran Arya. Meskipun pernikahan kami sangat singkat, di dalam lubuk hatiku masih ada namanya.” Nirmala berkata jujur. Matanya masih menatap Yudhistira.Perlahan, Yudhistira mengangguk, ia tidak menunjukkan raut kecewa sedikit pun. Sebaliknya, tatapannya justru semakin melembut. “Aku tahu, Putri. Aku tidak memintamu untuk mencintaiku dalam semalam. Biarkan waktu yang bekerja untuk itu. Bagiku, bisa memilikimu di sisiku dan memastikanmu tetap aman adalah hal yang lebih dari cukup.”Kata-kata Yudhistira membuat Nirmala lega. Ia tidak ingin lelaki itu merasakan posisinya dulu saat tahu Arya masih mencintai Anindiya. Selain itu, Nirmala juga berjanji akan mencoba menerima Yudhistira sepenuh
Seketika, Nirmala terdiam. Keheningan menyelimuti suasana di sekitar gazebo itu, hanya suara angin yang sesekali berembus. Ia tak pernah membayangkan kalau akan dilamar secara mendadak oleh seorang jenderal besar.“A-apa maksud Anda, Jenderal?” tanyanya dengan suara terbata. Berharap bahwa pendengarannya salah.Yudhistira menarik napas panjang, mencoba menenangkan jantungnya yang kian berdebar kencang. “Aku tahu ini terdengar tidak masuk akal dan terlalu cepat. Tapi, ada beberapa alasan aku ingin menikahimu, Putri. Pertama, aku sudah tertarik padamu sejak kita pertama bertemu di Amartapura. Aku nyaris saja membawamu ke sini sebelum akhirnya tahu kalau dirimu sudah menikah dengan Pangeran Arya.”Napas Nirmala tercekat. Ia benar-benar tak menyangka dengan apa yang diucapkan Yudhistira.“Kedua …,” lanjut Yudhistira sambil menatap perempuan di hadapannya, “dua pekan lagi, aku harus berangkat ke perbatasan. Tugasku adalah menjaga keamanan negeri ini dari serangan musuh. Dalam setahun, bisa
Suasana aula langsung hening. Apa yang dikatakan Arya ada benarnya. Kalau Ratu tidak bersalah, seharusnya tidak usah takut dengan sumpah api. Namun, penolakan Ratu dan pembelaan Yasa membuat menteri yang hadir mulai meragukan ucapan Ratu.Sementara itu, Ratu mengepalkan kedua tangannya. Arya telah membuatnya dicurigai dan seperti tak dihormati. Ia menarik napas dalam, mencoba meredam amarah di dadanya. Sebisa mungkin, Ratu bersikap tenang dan tak terkesan menolak keinginan Arya. Jika ia terus menunjukkan amarah, Ratu hanya akan terlihat semakin bersalah di mata para menteri.“Pangeran Arya, kamu sungguh pandai bersilat lidah,” ucap Ratu dengan suara yang dibuat sedatar mungkin, tetapi matanya menatap Arya dengan kebencian yang mendalam. “Namun, aku tidak akan membiarkan diriku dipermainkan oleh laporan tanpa nama yang belum tentu kebenarannya. Sepertinya pengirim laporan ini hanya ingin menjelekkan namaku saja tanpa tahu kebenarannya.”Tak ingin masalah ini semakin menimbulkan perdeb
“Apa yang sedang kamu lakukan di sini, Selir Divya?” Mega menatap sinis pada perempuan yang berada dalam pelukan Mahardika.Sontak, Divya menarik diri dan melepas tangannya dari tubuh sang suami. “Pu-putri Mega? Kamu sudah pulang?”Mega tersenyum miring mendengar ucapan basa-basi Divya. Dari rumah,
Sebelumnya ….“Sialan, kenapa kamu tidak membawa Nirmala pulang! Sudah kukatakan kalau kamu tidak boleh meninggalkannya sendirian!” seru Arya nyaris memukul lelaki itu, tetapi Prama langsung menghindar.“Apa kata-kataku kurang jelas?” Arya mendorong lelaki itu. “Kalau saja aku tidak kasihan dengan
Brak!Ratu memukul meja dengan kencang. Di hadapannya, tubuh Yasa terlonjak, ia baru saja mengatakan apa yang terjadi di aula tadi pagi pada Ratu.“Berani sekali anak itu menahan Pangeran Mahardika!” seru Ratu dengan mata berkilat. Kedua tangannya mengepal Wajahnya sangat tegang. Ia tak menyangka A
Saat akan keluar istana, Nirmala melihat seorang perempuan tua yang tampak tak asing masuk ke paviliun Selir Indhira. Ia kemudian mengikuti wanita tua itu yang berbicara dengan Bibi Lastri.Setelah diperhatikan lagi, Nirmala ingat kalau wanita tua itu adalah wanita yang menyapanya saat di tahanan.







