Share

Bab 3 Paviliun yang Sepi

Author: vrimerose
last update Last Updated: 2026-01-15 14:25:40

Nirmala tidak bisa benar-benar tidur. Badannya tak nyaman, meringkuk di atas dua kursi kayu yang keras dan dingin membuatnya tak bisa memejamkan mata. Apalagi ada seorang lelaki asing yang baru dikenalnya tidur nyaman di atas kasur. Membuat Nirmala sedikit waspada.

Bisa saja sang pangeran melakukan hal yang tidak baik saat dirinya tertidur, melecehkan atau mungkin membunuhnya. Lelaki itu sepertinya tak akan ambil pusing kalau harus menghilangkan nyawa putri Wiratama lebih dulu.

Setiap kali Nirmala mencoba mengubah posisi, kursi itu berderit, memecah keheningan paviliun dan membuatnya terjaga karena takut suara itu akan mengganggu tidur sang pangeran. Ia tidak mau lelaki itu terbangun dan menyuruhnya tidur di luar.

Saat cahaya fajar mulai menyelinap masuk melalui celah jendela, Nirmala langsung duduk tegak, meregangkan punggung dan otot kakinya yang sedikit kaku. Ia melihat ke arah ranjang, Arya masih tidur pulas.

“Apa tidak ada pelayan yang mengantarkan air?” gumamnya. Ia ingin mencuci muka.

Tak ingin menunggu lama, Nirmala membuka pintu kamar. Di sepanjang koridor paviliun ini tak ada orang satu pun. Sangat sepi. “Kenapa tidak ada penjaga atau dayang? Apa mereka masih tidur?” 

Penasaran, ia berjalan ke taman, berharap menemukan seseorang. Namun, hanya jejeran lampu yang masih menyala dan udara dingin yang ia temui. Perasaannya semakin tak enak. Apakah Pangeran Arya memang benar-benar dibuang? Hidup di dalam istana tapi dalam kesendirian.

Nirmala melihat sebuah bangunan di samping paviliun Pangeran Arya. Ada jembatan kecil yang menyambungkannya dengan paviliun ini. Entah itu paviliun siapa, ia penasaran dan berjalan mendekat.

KRIIIT!

Suara pintu dibuka. Nirmala menoleh. Seorang wanita gemuk yang tidak lagi muda keluar dari paviliun. Matanya tak sengaja melihat Nirmala yang berdiri tak jauh.

Wanita itu mendekat. “Salam pada Tuan Puteri,” ucapnya sambil menunduk sopan. Nirmala tersenyum kecil, panggilan “Tuan Putri” terasa asing di telinganya.

“Se-selamat Pagi ….” Nirmala ragu, ia tidak tahu harus memanggil wanita itu dengan sebutan apa.

“Perkenalkan saya pelayan yang merawat paviliun ini. Tuan Putri bisa memanggil saya Bibi Laras,” kata wanita itu seakan bisa membaca keraguan di wajah Nirmala. “Apa Tuan Putri memerlukan sesuatu?”

Nirmala bingung  harus bicara apa. Akhirnya ia memberanikan diri berkata, “Aku mencari dayang yang bertugas di paviliun Pangeran Arya untuk menyiapkan air dan kebutuhan lainnya. Namun, aku tak melihat satu pun orang di sana.”

Bibi Laras mengangguk, “Di Paviliun Pangeran Arya memang tidak ada penjaga atau pelayan,” ujarnya.

“Kenapa? Bukankah seharusnya di istana ini pangeran mendapat fasilitas yang sama seperti yang lain?” tanya Nirmala. 

“Semua penjaga dan dayang yang datang ke paviliun itu selalu diusir oleh Pangeran Arya. Sehingga selama lima tahun ini hanya Pangeran Arya saja yang tinggal di paviliun itu. Untuk kebutuhan sehari-hari, kadang Pangeran datang ke sini meminta bantuan padaku. Kadang juga ia lebih memilih pergi keluar istana.” Bibi Laras mengucapkannya dengan nada prihatin.

Nirmala mengangguk. Bisa membayangkan sedikit bagaimana perlakuan Arya pada para pelayan itu. Sepertinya lelaki itu selalu bertindak sesuka hati.

Tidak ada penjaga dan pelayan, berarti Nirmala harus mengurus kebutuhannya dan pangeran sendiri. Ia belum berani kalau harus meminta pelayan pada Ratu.

Urusan rumah tangga istana memang dipegang oleh Ratu. Pengawal dan dayang setiap paviliun bekerja atas perintah wanita itu.

“Jangan khawatir, saya akan membantu Putri untuk mengurus kebutuhan paviliun Pangeran Arya. Lagi pula, paviliun ini kosong, jadi saya mempunyai banyak waktu untuk membantu di kediaman Tuan Putri.” Tak ada paksaan atau pun kecurigaan. Nirmala merasa Bibi Laras tulus mengucapkan itu.

“Kalau kosong, kenapa paviliun ini masih dirawat dengan baik?” Nirmala heran. Rasanya menempatkan satu pelayan di paviliun kosong terlalu berlebihan. 

“Ini adalah paviliun almarhum Selir Indhira, Ibunda dari Pangeran Arya,” ungkap Bibi Laras. “Atas permintaan Pangeran Arya, Ratu meminta saya merawat paviliun ini.”

Nirmala sedikit terkejut mengetahui paviliun ini adalah bekas kediaman ibu Pangeran Arya. Pantas saja bangunannya bersebelahan, mungkin Pangeran Arya tak ingin jauh dari sang ibu, meskipun ibunya telah tiada.

***

Setelah meminta bantuan Bibi Lastri untuk memasak beberapa makanan untuk pangeran, Nirmala segera kembali ke paviliun. Ia takut sang pangeran bangun dan menyadari dirinya tak ada.

Benar saja, setelah sampai kamar, Pangeran Arya sudah duduk di kursi kecil yang semalam ditempati Nirmala. Sedikit ragu dan dengan langkah pelan, Nirmala masuk dan menyimpan makanan yang dibawanya ke atas meja.

“Aku kira kamu kabur meninggalkan istana,” ucap Arya datar. Ia melihat sup di mangkuk yang masih mengepul, aroma rempah tercium seketika, membuat perutnya tiba-tiba merasa lapar. “Kamu mengambil masakan dari dapur mana?”

“Aku memasaknya sendiri. Bersama Bibi Laras,” ujar Nirmala, “silakan dimakan selagi hangat.”

Arya tersenyum miring, ia mengaduk-aduk sup. “Apa kamu menaruh racun di sup ini?”

“Mana mungkin saya berani, Pangeran.” Nirmala menunduk. “Saya masih menyayangi nyawa saya meski itu hanya tersisa 99 hari.”

“Supnya masih panas,” ucap Arya. 

Nirmala mengambil sesendok sup dan meniupnya perlahan. “Silakan, Pangeran.” Ia menyodorkan sendok itu pada Arya.

Mulut Arya terbuka dan memakan sup dari tangan Nirmala. Keheningan seketika menyergap. Gadis itu merasakan jantungnya berdebar kencang. Mata mereka saling menatap. Perlahan, Arya mengunyah sup dimulutnya. “Lumayan,” katanya.

“Suapi lagi!” ucap Arya saat melihat Nirmala terdiam.

Gadis itu mengerutkan kening, Pangeran Arya bukan lagi anak kecil yang harus disuapi. Lelaki itu juga tidak sakit. Kedua tangannya masih normal.

“Jangan protes! Ini perintah,” seru Arya.

Dengan terpaksa, Nirmala kembali mengambil sup dari mangkuk, meniupnya sebentar, lalu menyuapkannya pada sang pangeran. Sekilas ia melihat mata Arya berkaca-kaca.

Nirmala terpaku. Sorot mata sang pangeran yang kemarin terasa dingin dan penuh kebencian, kini tampak goyah oleh emosi yang tertahan. Sejenak, Arya tidak terlihat seperti pangeran kejam yang ditakuti semua orang, melainkan seperti seorang lelaki yang rapuh.

Arya memalingkan wajah ke arah lain. Ia terdiam. Bayangan saat terakhir sang ibu menyuapinya terlintas jelas di benaknya. Sepuluh tahun lalu, sebelum selir Indhira diasingkan ke pulau terpencil, Arya meminta satu permohonan pada Raja. Ia ingin makan disuapi sang ibu.

Itulah terakhir kalinya ia melihat wanita yang melahirkannya itu. Beberapa bulan kemudian, ia mendengar sang ibu meninggal karena racun.

Nirmala hendak menyuapi pangeran lagi, saat utusan dari istana datang. Arya menghela napas. Utusan itu pasti membawa kabar yang tidak baik. 

“Pangeran Arya dan Putri Nirmala diminta Raja dan Ratu untuk minum teh pagi ini di Taman Rasamala.” Pengawal itu menyampaikan titah.

Wajah Arya langsung berubah datar. Ia paling tidak suka berkumpul dengan keluarga kerajaan. 

-

Bersambung

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • 100 Hari Menjadi Istri Pengganti   Bab 5 Wanita Lain

    Nirmala terbangun dalam dekapan tangan kekar sang pangeran. Udara dingin pagi hari menusuk kulitnya yang tak terbungkus pakaian. Selimut tebal yang menutupi tubuhnya tidak cukup memberinya kehangatan.Ia bergerak merapatkan diri. Tangannya melingkari punggung lebar sang pangeran. “Dingin sekali,” gumamnya masih memejamkan mata.“Aku akan meminta Bibi Lastri membuatkan sup.” Suara bariton itu membuat mata Nirmala terbuka.Sedikit mendongak, ia melihat Pangeran Arya yang sedang menatapnya. “Maaf membangunkan Pangeran,” ucapnya pelan.“Aku memang belum tidur.” Netra sang pangeran begitu intens melihat wajah Nirmala. Ia merasa wanita itu terlihat lebih cantik berkali lipat dari sebelumnya. Arya menggeleng cepat, ia tidak boleh lengah.Baginya, perempuan hanya akan membuatnya lemah. Terlibat terlalu dalam dengan mahluk itu hanya akan memberinya kehancuran. Arya terkenal kejam dan tak pandai memaafkan. Ia juga sering mabuk-mabukan dan membuat masalah. Namun, tak pernah menyentuh perempuan.

  • 100 Hari Menjadi Istri Pengganti   Bab 4 Jamuan Ratu

    “Salam pada Raja Danendra dan Permaisuri Nareswati.” Nirmala membungkuk di hadapan raja dan ratu. Sementara Arya hanya berdiri kaku.Kemudian Nirmala melakukan salam juga kepada kedua pangeran beserta istrinya. Setelah itu ia duduk bersama Arya di kursi paling ujung. Di hadapan mereka sudah tersedia berbagai macam hidangan.Bangunan terbuka itu berada di tengah-tengah pohon rasamala yang menjulang tinggi. Aroma wangi khas kayu itu menjadi parfum alami di sepanjang taman. Di samping bangunan itu ada taman kecil yang terdiri dari berbagai bunga, membuat mata dimanjakan dengan indah warna warninya.“Apakah kamu kesulitan di paviliun Pangeran Arya?” tanya permaisuri di tengah-tengah acara jamuan itu. Raja sudah pergi karena harus menghadiri pertemuan dengan para menteri.“Tidak,” jawab Nirmala sambil tersenyum. “Paviliun itu sangat sempurna untuk kami sebagai pengantin baru. Tidak ada dayang atau pun penjaga yang mengganggu.”“Salahkan suamimu yang selalu mengusir para pelayan dengan kasar

  • 100 Hari Menjadi Istri Pengganti   Bab 3 Paviliun yang Sepi

    Nirmala tidak bisa benar-benar tidur. Badannya tak nyaman, meringkuk di atas dua kursi kayu yang keras dan dingin membuatnya tak bisa memejamkan mata. Apalagi ada seorang lelaki asing yang baru dikenalnya tidur nyaman di atas kasur. Membuat Nirmala sedikit waspada.Bisa saja sang pangeran melakukan hal yang tidak baik saat dirinya tertidur, melecehkan atau mungkin membunuhnya. Lelaki itu sepertinya tak akan ambil pusing kalau harus menghilangkan nyawa putri Wiratama lebih dulu.Setiap kali Nirmala mencoba mengubah posisi, kursi itu berderit, memecah keheningan paviliun dan membuatnya terjaga karena takut suara itu akan mengganggu tidur sang pangeran. Ia tidak mau lelaki itu terbangun dan menyuruhnya tidur di luar.Saat cahaya fajar mulai menyelinap masuk melalui celah jendela, Nirmala langsung duduk tegak, meregangkan punggung dan otot kakinya yang sedikit kaku. Ia melihat ke arah ranjang, Arya masih tidur pulas.“Apa tidak ada pelayan yang mengantarkan air?” gumamnya. Ia ingin mencuc

  • 100 Hari Menjadi Istri Pengganti   Bab 2 Hukuman

    “Hukuman bagi pengkhianat adalah mati.”“Jika Pangeran membunuh kami di sini, bukankah itu akan menodai nama baik kerajaan?” Nirmala memberanikan diri. Ia tidak bisa diam saja dalam situasi seperti ini. Persetan dengan nama baik, ia hanya tidak ingin mati konyol di tangan pangeran kejam hanya karena kesalahan Paramitha."Lancang!" bentak salah seorang menteri kerajaan.Arya mengangkat tangannya, memberi isyarat agar semua orang diam. Ia sedikit menurunkan pedangnya dan berkata. "Kau punya nyali, gadis kecil. Sayang keberanianmu tidak diperlukan saat ini. Kalian akan mendapat hukuman.""Paramitha pergi karena ia takut pada desas-desus tentang kekejaman Anda, Pangeran" lanjut Nirmala, mengabaikan tarikan napas tertahan dari kakaknya, Abhimata. "Tapi saya di sini. Saya tidak lari. Bukankah itu bukti bahwa saya lebih layak berada di samping Anda daripada seorang pengecut yang pergi demi lelaki lain?"Mendengar ucapan Nirmala, sang pangeran menyeringai, sebuah senyum miring terhias di waja

  • 100 Hari Menjadi Istri Pengganti   Bab 1 Pengantin Pengganti

    “Paramitha tidak ada di kamarnya!” Abhimata terburu-buru memasuki ruang keluarga. Ia menyerahkan sebuah kertas pada ayahnya. “Dia meninggalkan sebuah surat.”Wajah Seno Wiratama langsung mengeras. Rahang-rahang wajahnya terlihat jelas, matanya menatap nyalang pada selembar kertas yang ia baca. Berani-beraninya Paramitha kabur saat acara sakral yang melibatkan kerajaan.Hari ini adalah pernikahan sang putri pertama, Paramitha Wiratama dengan pangeran ketiga. Semuanya telah siap, kereta kuda sudah datang dari kemarin sore, tinggal menunggu calon pengantin wanita untuk berangkat ke istana.“Apa yang ditulisnya? Kenapa ia pergi di hari pernikahan?” Utari menatap sang suami. Mata wanita itu berkaca-kaca. Paramitha adalah putri kesayangannya, bagaimana bisa pergi sendiri tanpa tahu ke mana?Sejak kecil Paramitha terbiasa di rumah dan bermain dengan anak-anak sekitar rumah saja, tidak pernah pergi jauh. Gadis itu seperti permata Wiratama yang dijaga dengan sangat hati-hati.Saat keluarga ker

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status