MasukNirmala tidak bisa benar-benar tidur. Badannya tak nyaman, meringkuk di atas dua kursi kayu yang keras dan dingin membuatnya tak bisa memejamkan mata. Apalagi ada seorang lelaki asing yang baru dikenalnya tidur nyaman di atas kasur. Membuat Nirmala sedikit waspada.
Bisa saja sang pangeran melakukan hal yang tidak baik saat dirinya tertidur, melecehkan atau mungkin membunuhnya. Lelaki itu sepertinya tak akan ambil pusing kalau harus menghilangkan nyawa putri Wiratama lebih dulu.
Setiap kali Nirmala mencoba mengubah posisi, kursi itu berderit, memecah keheningan paviliun dan membuatnya terjaga karena takut suara itu akan mengganggu tidur sang pangeran. Ia tidak mau lelaki itu terbangun dan menyuruhnya tidur di luar.
Saat cahaya fajar mulai menyelinap masuk melalui celah jendela, Nirmala langsung duduk tegak, meregangkan punggung dan otot kakinya yang sedikit kaku. Ia melihat ke arah ranjang, Arya masih tidur pulas.
“Apa tidak ada pelayan yang mengantarkan air?” gumamnya. Ia ingin mencuci muka.
Tak ingin menunggu lama, Nirmala membuka pintu kamar. Di sepanjang koridor paviliun ini tak ada orang satu pun. Sangat sepi. “Kenapa tidak ada penjaga atau dayang? Apa mereka masih tidur?”
Penasaran, ia berjalan ke taman, berharap menemukan seseorang. Namun, hanya jejeran lampu yang masih menyala dan udara dingin yang ia temui. Perasaannya semakin tak enak. Apakah Pangeran Arya memang benar-benar dibuang? Hidup di dalam istana tapi dalam kesendirian.
Nirmala melihat sebuah bangunan di samping paviliun Pangeran Arya. Ada jembatan kecil yang menyambungkannya dengan paviliun ini. Entah itu paviliun siapa, ia penasaran dan berjalan mendekat.
KRIIIT!
Suara pintu dibuka. Nirmala menoleh. Seorang wanita gemuk yang tidak lagi muda keluar dari paviliun. Matanya tak sengaja melihat Nirmala yang berdiri tak jauh.
Wanita itu mendekat. “Salam pada Tuan Puteri,” ucapnya sambil menunduk sopan. Nirmala tersenyum kecil, panggilan “Tuan Putri” terasa asing di telinganya.
“Se-selamat Pagi ….” Nirmala ragu, ia tidak tahu harus memanggil wanita itu dengan sebutan apa.
“Perkenalkan saya pelayan yang merawat paviliun ini. Tuan Putri bisa memanggil saya Bibi Laras,” kata wanita itu seakan bisa membaca keraguan di wajah Nirmala. “Apa Tuan Putri memerlukan sesuatu?”
Nirmala bingung harus bicara apa. Akhirnya ia memberanikan diri berkata, “Aku mencari dayang yang bertugas di paviliun Pangeran Arya untuk menyiapkan air dan kebutuhan lainnya. Namun, aku tak melihat satu pun orang di sana.”
Bibi Laras mengangguk, “Di Paviliun Pangeran Arya memang tidak ada penjaga atau pelayan,” ujarnya.
“Kenapa? Bukankah seharusnya di istana ini pangeran mendapat fasilitas yang sama seperti yang lain?” tanya Nirmala.
“Semua penjaga dan dayang yang datang ke paviliun itu selalu diusir oleh Pangeran Arya. Sehingga selama lima tahun ini hanya Pangeran Arya saja yang tinggal di paviliun itu. Untuk kebutuhan sehari-hari, kadang Pangeran datang ke sini meminta bantuan padaku. Kadang juga ia lebih memilih pergi keluar istana.” Bibi Laras mengucapkannya dengan nada prihatin.
Nirmala mengangguk. Bisa membayangkan sedikit bagaimana perlakuan Arya pada para pelayan itu. Sepertinya lelaki itu selalu bertindak sesuka hati.
Tidak ada penjaga dan pelayan, berarti Nirmala harus mengurus kebutuhannya dan pangeran sendiri. Ia belum berani kalau harus meminta pelayan pada Ratu.
Urusan rumah tangga istana memang dipegang oleh Ratu. Pengawal dan dayang setiap paviliun bekerja atas perintah wanita itu.
“Jangan khawatir, saya akan membantu Putri untuk mengurus kebutuhan paviliun Pangeran Arya. Lagi pula, paviliun ini kosong, jadi saya mempunyai banyak waktu untuk membantu di kediaman Tuan Putri.” Tak ada paksaan atau pun kecurigaan. Nirmala merasa Bibi Laras tulus mengucapkan itu.
“Kalau kosong, kenapa paviliun ini masih dirawat dengan baik?” Nirmala heran. Rasanya menempatkan satu pelayan di paviliun kosong terlalu berlebihan.
“Ini adalah paviliun almarhum Selir Indhira, Ibunda dari Pangeran Arya,” ungkap Bibi Laras. “Atas permintaan Pangeran Arya, Ratu meminta saya merawat paviliun ini.”
Nirmala sedikit terkejut mengetahui paviliun ini adalah bekas kediaman ibu Pangeran Arya. Pantas saja bangunannya bersebelahan, mungkin Pangeran Arya tak ingin jauh dari sang ibu, meskipun ibunya telah tiada.
***
Setelah meminta bantuan Bibi Lastri untuk memasak beberapa makanan untuk pangeran, Nirmala segera kembali ke paviliun. Ia takut sang pangeran bangun dan menyadari dirinya tak ada.
Benar saja, setelah sampai kamar, Pangeran Arya sudah duduk di kursi kecil yang semalam ditempati Nirmala. Sedikit ragu dan dengan langkah pelan, Nirmala masuk dan menyimpan makanan yang dibawanya ke atas meja.
“Aku kira kamu kabur meninggalkan istana,” ucap Arya datar. Ia melihat sup di mangkuk yang masih mengepul, aroma rempah tercium seketika, membuat perutnya tiba-tiba merasa lapar. “Kamu mengambil masakan dari dapur mana?”
“Aku memasaknya sendiri. Bersama Bibi Laras,” ujar Nirmala, “silakan dimakan selagi hangat.”
Arya tersenyum miring, ia mengaduk-aduk sup. “Apa kamu menaruh racun di sup ini?”
“Mana mungkin saya berani, Pangeran.” Nirmala menunduk. “Saya masih menyayangi nyawa saya meski itu hanya tersisa 99 hari.”
“Supnya masih panas,” ucap Arya.
Nirmala mengambil sesendok sup dan meniupnya perlahan. “Silakan, Pangeran.” Ia menyodorkan sendok itu pada Arya.
Mulut Arya terbuka dan memakan sup dari tangan Nirmala. Keheningan seketika menyergap. Gadis itu merasakan jantungnya berdebar kencang. Mata mereka saling menatap. Perlahan, Arya mengunyah sup dimulutnya. “Lumayan,” katanya.
“Suapi lagi!” ucap Arya saat melihat Nirmala terdiam.
Gadis itu mengerutkan kening, Pangeran Arya bukan lagi anak kecil yang harus disuapi. Lelaki itu juga tidak sakit. Kedua tangannya masih normal.
“Jangan protes! Ini perintah,” seru Arya.
Dengan terpaksa, Nirmala kembali mengambil sup dari mangkuk, meniupnya sebentar, lalu menyuapkannya pada sang pangeran. Sekilas ia melihat mata Arya berkaca-kaca.
Nirmala terpaku. Sorot mata sang pangeran yang kemarin terasa dingin dan penuh kebencian, kini tampak goyah oleh emosi yang tertahan. Sejenak, Arya tidak terlihat seperti pangeran kejam yang ditakuti semua orang, melainkan seperti seorang lelaki yang rapuh.
Arya memalingkan wajah ke arah lain. Ia terdiam. Bayangan saat terakhir sang ibu menyuapinya terlintas jelas di benaknya. Sepuluh tahun lalu, sebelum selir Indhira diasingkan ke pulau terpencil, Arya meminta satu permohonan pada Raja. Ia ingin makan disuapi sang ibu.
Itulah terakhir kalinya ia melihat wanita yang melahirkannya itu. Beberapa bulan kemudian, ia mendengar sang ibu meninggal karena racun.
Nirmala hendak menyuapi pangeran lagi, saat utusan dari istana datang. Arya menghela napas. Utusan itu pasti membawa kabar yang tidak baik.
“Pangeran Arya dan Putri Nirmala diminta Raja dan Ratu untuk minum teh pagi ini di Taman Rasamala.” Pengawal itu menyampaikan titah.
Wajah Arya langsung berubah datar. Ia paling tidak suka berkumpul dengan keluarga kerajaan.
-
Bersambung
Tepat setelah cambukan ke-20, Wistara tak sadarkan diri. Alih-alih iba, Arya yang melihatnya justru semakin murka. Ia membayangkan saat Nirmala duduk di kursi pesakitan dan menerima cambukan. Apa yang diterima Wistara belum seberapa dibanding dengan penderitaan yang dialami Nirmala.“Bawa ia ke ruang tahanan!” seru Arya. “Obati lukanya. Pastikan ia hidup untuk menerima cambukan besok. Setiap hari, beri 20 kali cambukan, hingga genap seribu sampai hari ke-50.”Kepala Tahanan yang mendengarnya langsung menerima perintah dengan sikap tegap. “Kami akan melakukan perintah Anda, Pangeran.”Arya kemudian melangkah menuju ruangannya. Ia menatap ruangan berisi sebuah meja di depan dan beberapa meja yang dibuat melingkar. Kalau bukan karena Nirmala, mungkin Arya tidak pernah terpikirkan untuk masuk ke ruangan peradilan ini. Beberapa bukti kematian ibunya sudah ia dapatkan dari orang-orang di pemukiman pegunungan. Mereka mencari informasi dari mulut ke mulut. Namun, Arya tahu bukti sesungguhnya
“Setelah melakukan penyelidikan kembali terhadap kejadian Putri Nirmala, maka Yang Mulia Raja memutuskan bahwa itu bukanlah kejahatan ….” Sekretaris Kerajaan membacakan keputusan Raja di hadapan para menteri. Ketiga pangeran berdiri sejajar paling depan. Ini adalah rapat pertama bagi Arya. Tadi, sebelum matahari terbit, dirinya baru sampai ke istana bersama utusan Putra Mahkota.Suasana hening menyelimuti aula besar itu. Semua orang menunggu pengumuman selanjutnya. Kalau Putri Nirmala tidak bersalah, maka pihak yang melaporkan dan memberi hukuman semena-mena harus diberi sanksi.Wajah Wistara sudah pucat. Ia hanya bisa menunduk menerima tatapan tajam dari sang raja. Para menteri juga melirik ke arahnya, ia benar-benar tidak punya wajah saat ini. Fraksi kanan benar-benar telah membuangnya.“... dan membebaskan Putri Nirmala dari segala tuduhan. Adapun kepada Pejabat Wistara yang telah membuat tuduhan palsu, akan dihukum dengan hukuman cambuk seratus kali dan diturunkan jabatannya dari
Nirmala terbangun saat hari semakin gelap. Di ruangan itu hanya ada sebuah lentera kecil yang menyinari. Cahaya redupnya tak mampu menerangi seluruh ruangan. Pemandangan yang biasa ia temui saat masih di rumahnya.“Kamu sudah bangun?” Suara Arya membuat Nirmala menengok ke arah kursi. Di sana, Arya sedang duduk ditemani secangkir teh.Nirmala merasa punggungnya sedikit berat, ada selimut tebal yang menyelimuti tubuhnya. Ia merapikan baju belakangnya di balik selimut sebelum mengangkat kepala dan duduk di pinggir ranjang.Meski tidak sebesar tempat tidur di istana, ranjang itu cukup untuk dua orang dengan posisi yang saling rapat. Gerakan perempuan itu tak luput dari perhatian Arya. Dengan rambut sedikit berantakan dan wajah polos tanpa riasan, Nirmala membuat gairah sang pangeran perlahan bangkit.“Sepertinya aku tidur sangat lama, sampai tidak sadar kalau Daya sudah pergi.” Nirmala coba mencairkan kecanggungan di ruangan itu.Sejak bertemu lagi dengan Arya, Nirmala merasa dadanya jad
Wangi tubuh Nirmala yang beberapa hari ini Arya rindukan, menyelusup ke dalam indra penciumannya. Memberi ketenangan dan juga gairah yang tak mungkin dihentikan. Mereka masih memakai pakaian lengkap karena Arya tak ingin buru-buru. Ia memiliki banyak waktu untuk menyentuh istrinya itu. Tok! Tok! Tok!Suara ketukan pintu seketika membuat sepasang manusia itu terdiam. Mereka lupa kalau mereka bukan di kediaman Arya yang bisa bebas tanpa gangguan. Di pemukiman kecil ini, orang-orang terbiasa berkunjung ke rumah satu sama lain.“Pangeran, sudah waktunya mengobati luka Nona Nirmala.” Suara Daya di luar pintu.Tiba-tiba, Arya langsung mendorong tubuh Nirmala hingga terjatuh dari ranjang. Ia mengabaikan suara rintihan kecil perempuan itu. Arya melangkah menuju pintu.“Apa harus sekarang?” tanya Arya dingin begitu membuka pintu dan melihat Daya berdiri di hadapannya dengan membawa obat-obatan.“Kenapa? Apa aku mengganggumu? Meskipun kalian suami istri, bukankah masih terlalu siang untuk sali
“Bagaimana Pangeran bisa ada di sini?” Nirmala masih tak percaya kalau lelaki di hadapannya adalah Arya. “Bukankah Seharusnya Pangeran ke Jayastamba?”“Kenapa? Apa kamu tidak senang bertemu denganku?” Arya menatap Nirmala datar. Harusnya ia langsung memeluk perempuan di hadapannya itu, bersyukur karena akhirnya bisa menemukan Nirmala.“Bu-bukan begitu, Pangeran.” Nirmala merasa serba salah. Ia hanya tak menyangka akan bertemu Arya di sini, di atas gunung. “Apakah … penduduk di pemukiman ini adalah orang-orang Pangeran?Nirmala teringat ucapan Daya yang mengatakan kalau pemimpin di sini adalah seseorang dari istana. Sepertinya itu adalah Arya. Mengabaikan pertanyaan Nirmala, Arya menarik tangan perempuan itu dan membawanya ke sebuah bangunan kayu yang berada di paling ujung. Saat masuk, Nirmala melihat ada ranjang dan kursi. Tempat itu juga lebih besar dari rumah Daya.“Ini tempat tinggalku di sini. Kamu bisa menggunakannya … hanya untuk sementara, karena setelah lukamu sembuh, kita h
Sudah tiga hari Arya tinggal sementara di kedai hiburan untuk mencari Nirmala. Belum ada jejak ke mana perginya perempuan itu. Petugas istana pun mengabarkan kalau Nirmala belum kembali.Arya mulai menduga kalau Nirmala sengaja kabur dari istana. Namun, bukan berarti ia melarikan diri dari hukuman, dari awal Arya yakin kalau Nirmala tidak bersalah. Kemungkinan yang masuk akal adalah, Nirmala kabur dari istana untuk hidup bebas dan pergi sebelum perjanjian seratus hari selesai. Jika itu yang terjadi, Arya tidak akan mengampuni Nirmala dan akan mencarinya sampai ketemu.“Pangeran, lebih baik Anda kembali ke istana. Biar petugas yang mencari di sini,” ucap Prama yang dua hari lalu menemui Arya.Dari Prama pula, Arya tahu bagaimana Anila berusaha mengabari Putra Mahkota untuk meminta bantuan. Arya menyesal, andai saja ia tidak ikut mengantar rombongan Jayastamba, mungkin Nirmala masih ada di istana.“Saya benar-benar tidak tahu kalau Putri Nirmala yang dimaksud Anila adalah istri Pangera






