Masuk“Salam pada Raja Danendra dan Permaisuri Nareswati.” Nirmala membungkuk di hadapan raja dan ratu. Sementara Arya hanya berdiri kaku.
Kemudian Nirmala melakukan salam juga kepada kedua pangeran beserta istrinya. Setelah itu ia duduk bersama Arya di kursi paling ujung. Di hadapan mereka sudah tersedia berbagai macam hidangan.
Bangunan terbuka itu berada di tengah-tengah pohon rasamala yang menjulang tinggi. Aroma wangi khas kayu itu menjadi parfum alami di sepanjang taman. Di samping bangunan itu ada taman kecil yang terdiri dari berbagai bunga, membuat mata dimanjakan dengan indah warna warninya.
“Apakah kamu kesulitan di paviliun Pangeran Arya?” tanya permaisuri di tengah-tengah acara jamuan itu. Raja sudah pergi karena harus menghadiri pertemuan dengan para menteri.
“Tidak,” jawab Nirmala sambil tersenyum. “Paviliun itu sangat sempurna untuk kami sebagai pengantin baru. Tidak ada dayang atau pun penjaga yang mengganggu.”
“Salahkan suamimu yang selalu mengusir para pelayan dengan kasar.” Suara permaisuri sedikit ketus. Jelas ia tersinggung dengan sindiran halus yang diucapkan Nirmala.
Pangeran Arya hanya diam. Ia tidak berminat ikut dalam pembicaraan tidak penting itu. Ia memilih menikmati beberapa kue dan buah yang terhidang.
“Adikku ini memang terlalu angkuh,” timpal Pangeran Mahardika, pangeran kedua, dengan nada yang meremehkan. “Pangeran Arya selalu bersikap atas kemauannya sendiri. Bahkan dalam memilih pengantin pun, ia melakukannya sendiri. Tiba-tiba ingin melamar Paramitha tanpa alasan, kemudian saat yang datang adalah adik perempuan itu, Pangeran Arya tidak keberatan pengantinnya diganti.”
Istri Pangeran Mahardika, Putri Mega yang duduk di sampingnya terkikik menutup mulut dengan kipas sutranya. “Tapi Pangeran, bukankah ini menarik? Putri bungsu Wiratama ini tampaknya lebih punya nyali daripada kakaknya. Ia juga tidak gentar saat pedang Pangeran Arya menyentuh lehernya. Bukankah ia sungguh berani?”
Nirmala merasakan hawa dingin di sekitarnya meski matahari bersinar terik. Ia melirik Arya yang masih tenang mengunyah buah pir, seolah hinaan saudaranya hanyalah angin lalu.
“Apalah artinya keberanian bila tidak diikuti kehormatan,” lanjut Permaisuri Nareswati, matanya menatap tajam pada pakaian Nirmala yang terlihat lebih sederhana dibanding menantu raja lainnya. “Kudengar kamu memasak sendiri di dapur paviliun pagi ini bersama Bibi Lastri? Sungguh menyedihkan bagi seorang wanita bergelar istri pangeran.”
Sepertinya di istana ini dinding pun bisa bicara dan melihat. Begitu cepatnya berita menyebar padahal baru tadi pagi kejadian Nirmala memasak dengan Bibi Lastri, permaisuri sudah mengetahuinya.
“Kehormatan apa yang Permaisuri maksud?” tanya Nirmala masih dengan nada lembut. “Pangkat, jabatan, dan kekayaan? Bahkan kerajaan ini tidak akan berdiri kalau tidak ada rakyat. Para bangsawan pun tidak akan hidup mewah kalau tidak dari pajak rakyat. Jadi … kehormatan mana yang Permaisuri maksud?”
Wajah Permaisuri langsung merah padam.
“Lancang! Berani sekali kamu menceramahi ratu!” seru Pangeran Mahardika.
“Saya tidak menceramahi, Yang Mulia. Saya hanya bertanya agar tidak salah langkah dalam mengabdi," jawab Nirmala dengan nada yang sangat tenang, sorot matanya mengunci pandangan sang Permaisuri.
“Ampuni saya jika terkesan tidak sopan. Seperti kata Permaisuri, tidak ada kehormatan yang saya miliki. Tapi, sepertinya tidak elok jika mengatakan itu di hari pertama saya menjadi istri Pangeran Arya. Bukankah itu juga berarti menghina pangeran ketiga?” Nirmala tersenyum kecil.
Semua yang ada di sana terdiam, kecuali Pangeran Arya yang tersenyum miring mendengar perkataan Nirmala. Lelaki itu mengisi gelas lalu memberikannya pada sang istri. “Minumlah, kamu pasti kehausan terlalu banyak mengeluarkan kata-kata. Jangan sampai kelelahan, simpan tenagamu untuk nanti malam.”
“Uhuk-uhuk!” Putri Anindiya, istri sang putra mahkota terbatuk. Begitu juga dengan Putri Mega yang tak terkejut dengan ucapan Pangeran Arya.
Nirmala menerima gelas dengan tangan kanannya. Saat akan minum, ia mencium bau aneh dari air itu. Dari ujung matanya, Nirmala melirik pada Pangeran Arya. Lelaki itu mengangguk seakan memberi kode kalau air minum itu “aman”.
Rasa air itu tidak aneh, sama seperti air biasa. Nirmala sedikit lega.
Setelah itu, tidak ada lagi ucapan dari ratu. Mereka lalu menikmati hidangan dengan berbincang kecil. Ratu sesekali mengobrol dengan Putri Anindiya dan Putri Mega. Pangeran Mahardika tampak bicara serius dengan sang putra mahkota, Pangeran Bramantya. Tampak sekali kalau Pangeran Arya benar-benar terasing.
Nirmala mencicipi satu per satu kue di mejanya. Aroma kue hampir sama, seperti buah yang tak asing baginya. Ia coba memakannya, ada sedikit asam. Saat mencoba kue yang lain pun, rasanya hampir sama.
Buah nanas? Dahi Nirmala berkerut.
Buah itu jika dikonsumsi terlalu banyak akan menyebabkan keguguran. Ia melihat ke meja lain, tidak ada kue yang sama seperti di mejanya. Kenapa makanan itu dihidangkan untuknya?
Apakah agar dirinya tidak hamil? Nirmala ingin tertawa. Bagaimana bisa hamil, ia tidak akan mengizinkan Pangeran Arya menyentuhnya. Menyadari itu, ia melirik pada sang suami. Siapa yang tidak menginginkan keturunan dari Pangeran Arya?
“Apakah pangeran pertama dan kedua sudah memiliki anak?” tanyanya pelan. Ia belum pernah mendengar akan kelahiran bayi di kerajaan.
Pangeran Arya menggeleng. Itu sudah menjawab pertanyaan Nirmala.
Seseorang tidak ingin Pangeran Arya memiliki anak lebih dulu. Kejam sekali.
Setelah cukup lama, acara itu akhirnya ditutup oleh ratu. Satu per satu mereka keluar dari gazebo. Nirmala berdiri untuk menghormati ratu dan para pangeran. Ratu menatanya sekilas saat melewati Nirmala, tentu saja bukan tatapan yang lembut.
Kemudian Pangeran Bramantya dan Putri Anindiya yang berjalan keluar. Pangeran berhenti sebentar di hadapan Nirmala dan berkata, “Kalau kamu senggang, aku ingin mengundangmu ke paviliun. Barangkali kamu menyukai buku, ada perpustakaan kecil di sana.”
Nirmala tersenyum dan mengangguk. “Terima kasih atas kemurahan hati Pangeran. Aku dan Pangeran Arya pasti akan berkunjung ke paviliun putra mahkota.”
Sementara Arya yang masih duduk hanya mendengkus. Matanya bertatapan dengan Putri Anindiya beberapa saat. Nirmala memperhatikan itu.
Pangeran Mahardika dan Putri Mega berlalu begitu saja. Nirmala tetap memberikan salam untuk mereka. Ia menghela napas saat semuanya telah pergi. Meninggalkan dirinya dan Pangeran Arya.
“Aku kira istana itu surga. Ternyata sebaliknya.” Nirmala melirik Pangeran Arya yang duduk santai sambil meneguk air.
Tak menghiraukan ucapan Nirmala, Pangeran Arya berdiri dan berjalan keluar gazebo. Nirmala berdecak saat suaminya itu meninggalkannya begitu saja.
Sore hari, Nirmala menyiapkan air dan pakaian untuk Pangeran Arya. Setelah jamuan tadi, lelaki itu pergi entah ke mana.
Matahari hampir tenggelam, Nirmala sudah membersihkan diri dan menyiapkan makan malam untuk Pangeran Arya. Namun, tiba-tiba ia merasa ada hal aneh dalam tubuhnya. Ia merasa badannya panas, gatal, entahlah.
Pintu kamar terbuka. Pangeran Arya masuk dengan mata sayu. Tanpa aba-aba, lelaki itu menarik Nirmala dan menyatukan bibir mereka.
Nirmala tertegun. Ia coba mendorong, tetapi tubuhnya justru merespon lain. Perasaan aneh tadi terasa nyaman saat Pangeran Arya menyentuhnya.
“Sial! Seseorang pasti memasukkan obat perangsang saat jamuan tadi,” gumam Pangeran Arya, napasnya memburu. Mata sayunya kini berubah penuh gairah. “Layani aku malam ini.”
Nirmala tak sanggup menolak karena ia pun merasakan hal yang sama. Tubuhnya meminta sesuatu yang ia tak tahu itu apa.
-
Bersambung
Tepat setelah cambukan ke-20, Wistara tak sadarkan diri. Alih-alih iba, Arya yang melihatnya justru semakin murka. Ia membayangkan saat Nirmala duduk di kursi pesakitan dan menerima cambukan. Apa yang diterima Wistara belum seberapa dibanding dengan penderitaan yang dialami Nirmala.“Bawa ia ke ruang tahanan!” seru Arya. “Obati lukanya. Pastikan ia hidup untuk menerima cambukan besok. Setiap hari, beri 20 kali cambukan, hingga genap seribu sampai hari ke-50.”Kepala Tahanan yang mendengarnya langsung menerima perintah dengan sikap tegap. “Kami akan melakukan perintah Anda, Pangeran.”Arya kemudian melangkah menuju ruangannya. Ia menatap ruangan berisi sebuah meja di depan dan beberapa meja yang dibuat melingkar. Kalau bukan karena Nirmala, mungkin Arya tidak pernah terpikirkan untuk masuk ke ruangan peradilan ini. Beberapa bukti kematian ibunya sudah ia dapatkan dari orang-orang di pemukiman pegunungan. Mereka mencari informasi dari mulut ke mulut. Namun, Arya tahu bukti sesungguhnya
“Setelah melakukan penyelidikan kembali terhadap kejadian Putri Nirmala, maka Yang Mulia Raja memutuskan bahwa itu bukanlah kejahatan ….” Sekretaris Kerajaan membacakan keputusan Raja di hadapan para menteri. Ketiga pangeran berdiri sejajar paling depan. Ini adalah rapat pertama bagi Arya. Tadi, sebelum matahari terbit, dirinya baru sampai ke istana bersama utusan Putra Mahkota.Suasana hening menyelimuti aula besar itu. Semua orang menunggu pengumuman selanjutnya. Kalau Putri Nirmala tidak bersalah, maka pihak yang melaporkan dan memberi hukuman semena-mena harus diberi sanksi.Wajah Wistara sudah pucat. Ia hanya bisa menunduk menerima tatapan tajam dari sang raja. Para menteri juga melirik ke arahnya, ia benar-benar tidak punya wajah saat ini. Fraksi kanan benar-benar telah membuangnya.“... dan membebaskan Putri Nirmala dari segala tuduhan. Adapun kepada Pejabat Wistara yang telah membuat tuduhan palsu, akan dihukum dengan hukuman cambuk seratus kali dan diturunkan jabatannya dari
Nirmala terbangun saat hari semakin gelap. Di ruangan itu hanya ada sebuah lentera kecil yang menyinari. Cahaya redupnya tak mampu menerangi seluruh ruangan. Pemandangan yang biasa ia temui saat masih di rumahnya.“Kamu sudah bangun?” Suara Arya membuat Nirmala menengok ke arah kursi. Di sana, Arya sedang duduk ditemani secangkir teh.Nirmala merasa punggungnya sedikit berat, ada selimut tebal yang menyelimuti tubuhnya. Ia merapikan baju belakangnya di balik selimut sebelum mengangkat kepala dan duduk di pinggir ranjang.Meski tidak sebesar tempat tidur di istana, ranjang itu cukup untuk dua orang dengan posisi yang saling rapat. Gerakan perempuan itu tak luput dari perhatian Arya. Dengan rambut sedikit berantakan dan wajah polos tanpa riasan, Nirmala membuat gairah sang pangeran perlahan bangkit.“Sepertinya aku tidur sangat lama, sampai tidak sadar kalau Daya sudah pergi.” Nirmala coba mencairkan kecanggungan di ruangan itu.Sejak bertemu lagi dengan Arya, Nirmala merasa dadanya jad
Wangi tubuh Nirmala yang beberapa hari ini Arya rindukan, menyelusup ke dalam indra penciumannya. Memberi ketenangan dan juga gairah yang tak mungkin dihentikan. Mereka masih memakai pakaian lengkap karena Arya tak ingin buru-buru. Ia memiliki banyak waktu untuk menyentuh istrinya itu. Tok! Tok! Tok!Suara ketukan pintu seketika membuat sepasang manusia itu terdiam. Mereka lupa kalau mereka bukan di kediaman Arya yang bisa bebas tanpa gangguan. Di pemukiman kecil ini, orang-orang terbiasa berkunjung ke rumah satu sama lain.“Pangeran, sudah waktunya mengobati luka Nona Nirmala.” Suara Daya di luar pintu.Tiba-tiba, Arya langsung mendorong tubuh Nirmala hingga terjatuh dari ranjang. Ia mengabaikan suara rintihan kecil perempuan itu. Arya melangkah menuju pintu.“Apa harus sekarang?” tanya Arya dingin begitu membuka pintu dan melihat Daya berdiri di hadapannya dengan membawa obat-obatan.“Kenapa? Apa aku mengganggumu? Meskipun kalian suami istri, bukankah masih terlalu siang untuk sali
“Bagaimana Pangeran bisa ada di sini?” Nirmala masih tak percaya kalau lelaki di hadapannya adalah Arya. “Bukankah Seharusnya Pangeran ke Jayastamba?”“Kenapa? Apa kamu tidak senang bertemu denganku?” Arya menatap Nirmala datar. Harusnya ia langsung memeluk perempuan di hadapannya itu, bersyukur karena akhirnya bisa menemukan Nirmala.“Bu-bukan begitu, Pangeran.” Nirmala merasa serba salah. Ia hanya tak menyangka akan bertemu Arya di sini, di atas gunung. “Apakah … penduduk di pemukiman ini adalah orang-orang Pangeran?Nirmala teringat ucapan Daya yang mengatakan kalau pemimpin di sini adalah seseorang dari istana. Sepertinya itu adalah Arya. Mengabaikan pertanyaan Nirmala, Arya menarik tangan perempuan itu dan membawanya ke sebuah bangunan kayu yang berada di paling ujung. Saat masuk, Nirmala melihat ada ranjang dan kursi. Tempat itu juga lebih besar dari rumah Daya.“Ini tempat tinggalku di sini. Kamu bisa menggunakannya … hanya untuk sementara, karena setelah lukamu sembuh, kita h
Sudah tiga hari Arya tinggal sementara di kedai hiburan untuk mencari Nirmala. Belum ada jejak ke mana perginya perempuan itu. Petugas istana pun mengabarkan kalau Nirmala belum kembali.Arya mulai menduga kalau Nirmala sengaja kabur dari istana. Namun, bukan berarti ia melarikan diri dari hukuman, dari awal Arya yakin kalau Nirmala tidak bersalah. Kemungkinan yang masuk akal adalah, Nirmala kabur dari istana untuk hidup bebas dan pergi sebelum perjanjian seratus hari selesai. Jika itu yang terjadi, Arya tidak akan mengampuni Nirmala dan akan mencarinya sampai ketemu.“Pangeran, lebih baik Anda kembali ke istana. Biar petugas yang mencari di sini,” ucap Prama yang dua hari lalu menemui Arya.Dari Prama pula, Arya tahu bagaimana Anila berusaha mengabari Putra Mahkota untuk meminta bantuan. Arya menyesal, andai saja ia tidak ikut mengantar rombongan Jayastamba, mungkin Nirmala masih ada di istana.“Saya benar-benar tidak tahu kalau Putri Nirmala yang dimaksud Anila adalah istri Pangera







