Share

Bab 4 Jamuan Ratu

Penulis: vrimerose
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-15 14:26:34

“Salam pada Raja Danendra dan Permaisuri Nareswati.” Nirmala membungkuk di hadapan raja dan ratu. Sementara Arya hanya berdiri kaku.

Kemudian Nirmala melakukan salam juga kepada kedua pangeran beserta istrinya. Setelah itu ia duduk bersama Arya di kursi paling ujung. Di hadapan mereka sudah tersedia berbagai macam hidangan.

Bangunan terbuka itu berada di tengah-tengah pohon rasamala yang menjulang tinggi. Aroma wangi khas kayu itu menjadi parfum alami di sepanjang taman. Di samping bangunan itu ada taman kecil yang terdiri dari berbagai bunga, membuat mata dimanjakan dengan indah warna warninya.

“Apakah kamu kesulitan di paviliun Pangeran Arya?” tanya permaisuri di tengah-tengah acara jamuan itu. Raja sudah pergi karena harus menghadiri pertemuan dengan para menteri.

“Tidak,” jawab Nirmala sambil tersenyum. “Paviliun itu sangat sempurna untuk kami sebagai pengantin baru. Tidak ada dayang atau pun penjaga yang mengganggu.”

“Salahkan suamimu yang selalu mengusir para pelayan dengan kasar.” Suara permaisuri sedikit ketus. Jelas ia tersinggung dengan sindiran halus yang diucapkan Nirmala.

Pangeran Arya hanya diam. Ia tidak berminat ikut dalam pembicaraan tidak penting itu. Ia memilih menikmati beberapa kue dan buah yang terhidang.

“Adikku ini memang terlalu angkuh,” timpal Pangeran Mahardika, pangeran kedua, dengan nada yang meremehkan. “Pangeran Arya selalu bersikap atas kemauannya sendiri. Bahkan dalam memilih pengantin pun, ia melakukannya sendiri. Tiba-tiba ingin melamar Paramitha tanpa alasan, kemudian saat yang datang adalah adik perempuan itu, Pangeran Arya tidak keberatan pengantinnya diganti.”

Istri Pangeran Mahardika, Putri Mega yang duduk di sampingnya terkikik menutup mulut dengan kipas sutranya. “Tapi Pangeran, bukankah ini menarik? Putri bungsu Wiratama ini tampaknya lebih punya nyali daripada kakaknya. Ia juga tidak gentar saat pedang Pangeran Arya menyentuh lehernya. Bukankah ia sungguh berani?”

Nirmala merasakan hawa dingin di sekitarnya meski matahari bersinar terik. Ia melirik Arya yang masih tenang mengunyah buah pir, seolah hinaan saudaranya hanyalah angin lalu. 

“Apalah artinya keberanian bila tidak diikuti kehormatan,” lanjut Permaisuri Nareswati, matanya menatap tajam pada pakaian Nirmala yang terlihat lebih sederhana dibanding menantu raja lainnya. “Kudengar kamu memasak sendiri di dapur paviliun pagi ini bersama Bibi Lastri? Sungguh menyedihkan bagi seorang wanita bergelar istri pangeran.”

Sepertinya di istana ini dinding pun bisa bicara dan melihat. Begitu cepatnya berita menyebar padahal baru tadi pagi kejadian Nirmala memasak dengan Bibi Lastri, permaisuri sudah mengetahuinya.

“Kehormatan apa yang Permaisuri maksud?” tanya Nirmala masih dengan nada lembut. “Pangkat, jabatan, dan kekayaan? Bahkan kerajaan ini tidak akan berdiri kalau tidak ada rakyat. Para bangsawan pun tidak akan hidup mewah kalau tidak dari pajak rakyat. Jadi … kehormatan mana yang Permaisuri maksud?”

Wajah Permaisuri langsung merah padam.  

“Lancang! Berani sekali kamu menceramahi ratu!” seru Pangeran Mahardika.

“Saya tidak menceramahi, Yang Mulia. Saya hanya bertanya agar tidak salah langkah dalam mengabdi," jawab Nirmala dengan nada yang sangat tenang, sorot matanya mengunci pandangan sang Permaisuri.

“Ampuni saya jika terkesan tidak sopan. Seperti kata Permaisuri, tidak ada kehormatan yang saya miliki. Tapi, sepertinya tidak elok jika mengatakan itu di hari pertama saya menjadi istri Pangeran Arya. Bukankah itu juga berarti menghina pangeran ketiga?” Nirmala tersenyum kecil.

Semua yang ada di sana terdiam, kecuali Pangeran Arya yang tersenyum miring mendengar perkataan Nirmala. Lelaki itu mengisi gelas lalu memberikannya pada sang istri. “Minumlah, kamu pasti kehausan terlalu banyak mengeluarkan kata-kata. Jangan sampai kelelahan, simpan tenagamu untuk nanti malam.”

“Uhuk-uhuk!” Putri Anindiya, istri sang putra mahkota terbatuk. Begitu juga dengan Putri Mega yang tak terkejut dengan ucapan Pangeran Arya.

Nirmala menerima gelas dengan tangan kanannya. Saat akan minum, ia mencium bau aneh dari air itu. Dari ujung matanya, Nirmala melirik pada Pangeran Arya. Lelaki itu mengangguk seakan memberi kode kalau air minum itu “aman”.

Rasa air itu tidak aneh, sama seperti air biasa. Nirmala sedikit lega.

Setelah itu, tidak ada lagi ucapan dari ratu. Mereka lalu menikmati hidangan dengan berbincang kecil. Ratu sesekali mengobrol dengan Putri Anindiya dan Putri Mega. Pangeran Mahardika tampak bicara serius dengan sang putra mahkota, Pangeran Bramantya. Tampak sekali kalau Pangeran Arya benar-benar terasing. 

Nirmala mencicipi satu per satu kue di mejanya. Aroma kue hampir sama, seperti buah yang tak asing baginya. Ia coba memakannya, ada sedikit asam. Saat mencoba kue yang lain pun, rasanya hampir sama.

Buah nanas? Dahi Nirmala berkerut.

Buah itu jika dikonsumsi terlalu banyak akan menyebabkan keguguran. Ia melihat ke meja lain, tidak ada kue yang sama seperti di mejanya. Kenapa makanan itu dihidangkan untuknya?

Apakah agar dirinya tidak hamil? Nirmala ingin tertawa. Bagaimana bisa hamil, ia tidak akan mengizinkan Pangeran Arya menyentuhnya. Menyadari itu, ia melirik pada sang suami. Siapa yang tidak menginginkan keturunan dari Pangeran Arya?

“Apakah pangeran pertama dan kedua sudah memiliki anak?” tanyanya pelan. Ia belum pernah mendengar akan kelahiran bayi di kerajaan.

Pangeran Arya menggeleng. Itu sudah menjawab pertanyaan Nirmala.

Seseorang tidak ingin Pangeran Arya memiliki anak lebih dulu. Kejam sekali.

Setelah cukup lama, acara itu akhirnya ditutup oleh ratu. Satu per satu mereka keluar dari gazebo. Nirmala berdiri untuk menghormati ratu dan para pangeran. Ratu menatanya sekilas saat melewati Nirmala, tentu saja bukan tatapan yang lembut.

Kemudian Pangeran Bramantya dan Putri Anindiya yang berjalan keluar. Pangeran berhenti sebentar di hadapan Nirmala dan berkata, “Kalau kamu senggang, aku ingin mengundangmu ke paviliun. Barangkali kamu menyukai buku, ada perpustakaan kecil di sana.”

Nirmala tersenyum dan mengangguk. “Terima kasih atas kemurahan hati Pangeran. Aku dan Pangeran Arya pasti akan berkunjung ke paviliun putra mahkota.”

Sementara Arya yang masih duduk hanya mendengkus. Matanya bertatapan dengan Putri Anindiya beberapa saat. Nirmala memperhatikan itu. 

Pangeran Mahardika dan Putri Mega berlalu begitu saja. Nirmala tetap memberikan salam untuk mereka. Ia menghela napas saat semuanya telah pergi. Meninggalkan dirinya dan Pangeran Arya.

“Aku kira istana itu surga. Ternyata sebaliknya.” Nirmala melirik Pangeran Arya yang duduk santai sambil meneguk air.

Tak menghiraukan ucapan Nirmala, Pangeran Arya berdiri dan berjalan keluar gazebo. Nirmala berdecak saat suaminya itu meninggalkannya begitu saja.

Sore hari, Nirmala menyiapkan air dan pakaian untuk Pangeran Arya. Setelah jamuan tadi, lelaki itu pergi entah ke mana.

Matahari hampir tenggelam, Nirmala sudah membersihkan diri dan menyiapkan makan malam untuk Pangeran Arya. Namun, tiba-tiba ia merasa ada hal aneh dalam tubuhnya. Ia merasa badannya panas, gatal, entahlah.

Pintu kamar terbuka. Pangeran Arya masuk dengan mata sayu. Tanpa aba-aba, lelaki itu menarik Nirmala dan menyatukan bibir mereka.

Nirmala tertegun. Ia coba mendorong, tetapi tubuhnya justru merespon lain. Perasaan aneh tadi terasa nyaman saat Pangeran Arya menyentuhnya.

“Sial! Seseorang pasti memasukkan obat perangsang saat jamuan tadi,” gumam Pangeran Arya, napasnya memburu. Mata sayunya kini berubah penuh gairah. “Layani aku malam ini.”

Nirmala tak sanggup menolak karena ia pun merasakan hal yang sama. Tubuhnya meminta sesuatu yang ia tak tahu itu apa. 

-

Bersambung

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • 100 Hari Menjadi Istri Pengganti   Bab 5 Wanita Lain

    Nirmala terbangun dalam dekapan tangan kekar sang pangeran. Udara dingin pagi hari menusuk kulitnya yang tak terbungkus pakaian. Selimut tebal yang menutupi tubuhnya tidak cukup memberinya kehangatan.Ia bergerak merapatkan diri. Tangannya melingkari punggung lebar sang pangeran. “Dingin sekali,” gumamnya masih memejamkan mata.“Aku akan meminta Bibi Lastri membuatkan sup.” Suara bariton itu membuat mata Nirmala terbuka.Sedikit mendongak, ia melihat Pangeran Arya yang sedang menatapnya. “Maaf membangunkan Pangeran,” ucapnya pelan.“Aku memang belum tidur.” Netra sang pangeran begitu intens melihat wajah Nirmala. Ia merasa wanita itu terlihat lebih cantik berkali lipat dari sebelumnya. Arya menggeleng cepat, ia tidak boleh lengah.Baginya, perempuan hanya akan membuatnya lemah. Terlibat terlalu dalam dengan mahluk itu hanya akan memberinya kehancuran. Arya terkenal kejam dan tak pandai memaafkan. Ia juga sering mabuk-mabukan dan membuat masalah. Namun, tak pernah menyentuh perempuan.

  • 100 Hari Menjadi Istri Pengganti   Bab 4 Jamuan Ratu

    “Salam pada Raja Danendra dan Permaisuri Nareswati.” Nirmala membungkuk di hadapan raja dan ratu. Sementara Arya hanya berdiri kaku.Kemudian Nirmala melakukan salam juga kepada kedua pangeran beserta istrinya. Setelah itu ia duduk bersama Arya di kursi paling ujung. Di hadapan mereka sudah tersedia berbagai macam hidangan.Bangunan terbuka itu berada di tengah-tengah pohon rasamala yang menjulang tinggi. Aroma wangi khas kayu itu menjadi parfum alami di sepanjang taman. Di samping bangunan itu ada taman kecil yang terdiri dari berbagai bunga, membuat mata dimanjakan dengan indah warna warninya.“Apakah kamu kesulitan di paviliun Pangeran Arya?” tanya permaisuri di tengah-tengah acara jamuan itu. Raja sudah pergi karena harus menghadiri pertemuan dengan para menteri.“Tidak,” jawab Nirmala sambil tersenyum. “Paviliun itu sangat sempurna untuk kami sebagai pengantin baru. Tidak ada dayang atau pun penjaga yang mengganggu.”“Salahkan suamimu yang selalu mengusir para pelayan dengan kasar

  • 100 Hari Menjadi Istri Pengganti   Bab 3 Paviliun yang Sepi

    Nirmala tidak bisa benar-benar tidur. Badannya tak nyaman, meringkuk di atas dua kursi kayu yang keras dan dingin membuatnya tak bisa memejamkan mata. Apalagi ada seorang lelaki asing yang baru dikenalnya tidur nyaman di atas kasur. Membuat Nirmala sedikit waspada.Bisa saja sang pangeran melakukan hal yang tidak baik saat dirinya tertidur, melecehkan atau mungkin membunuhnya. Lelaki itu sepertinya tak akan ambil pusing kalau harus menghilangkan nyawa putri Wiratama lebih dulu.Setiap kali Nirmala mencoba mengubah posisi, kursi itu berderit, memecah keheningan paviliun dan membuatnya terjaga karena takut suara itu akan mengganggu tidur sang pangeran. Ia tidak mau lelaki itu terbangun dan menyuruhnya tidur di luar.Saat cahaya fajar mulai menyelinap masuk melalui celah jendela, Nirmala langsung duduk tegak, meregangkan punggung dan otot kakinya yang sedikit kaku. Ia melihat ke arah ranjang, Arya masih tidur pulas.“Apa tidak ada pelayan yang mengantarkan air?” gumamnya. Ia ingin mencuc

  • 100 Hari Menjadi Istri Pengganti   Bab 2 Hukuman

    “Hukuman bagi pengkhianat adalah mati.”“Jika Pangeran membunuh kami di sini, bukankah itu akan menodai nama baik kerajaan?” Nirmala memberanikan diri. Ia tidak bisa diam saja dalam situasi seperti ini. Persetan dengan nama baik, ia hanya tidak ingin mati konyol di tangan pangeran kejam hanya karena kesalahan Paramitha."Lancang!" bentak salah seorang menteri kerajaan.Arya mengangkat tangannya, memberi isyarat agar semua orang diam. Ia sedikit menurunkan pedangnya dan berkata. "Kau punya nyali, gadis kecil. Sayang keberanianmu tidak diperlukan saat ini. Kalian akan mendapat hukuman.""Paramitha pergi karena ia takut pada desas-desus tentang kekejaman Anda, Pangeran" lanjut Nirmala, mengabaikan tarikan napas tertahan dari kakaknya, Abhimata. "Tapi saya di sini. Saya tidak lari. Bukankah itu bukti bahwa saya lebih layak berada di samping Anda daripada seorang pengecut yang pergi demi lelaki lain?"Mendengar ucapan Nirmala, sang pangeran menyeringai, sebuah senyum miring terhias di waja

  • 100 Hari Menjadi Istri Pengganti   Bab 1 Pengantin Pengganti

    “Paramitha tidak ada di kamarnya!” Abhimata terburu-buru memasuki ruang keluarga. Ia menyerahkan sebuah kertas pada ayahnya. “Dia meninggalkan sebuah surat.”Wajah Seno Wiratama langsung mengeras. Rahang-rahang wajahnya terlihat jelas, matanya menatap nyalang pada selembar kertas yang ia baca. Berani-beraninya Paramitha kabur saat acara sakral yang melibatkan kerajaan.Hari ini adalah pernikahan sang putri pertama, Paramitha Wiratama dengan pangeran ketiga. Semuanya telah siap, kereta kuda sudah datang dari kemarin sore, tinggal menunggu calon pengantin wanita untuk berangkat ke istana.“Apa yang ditulisnya? Kenapa ia pergi di hari pernikahan?” Utari menatap sang suami. Mata wanita itu berkaca-kaca. Paramitha adalah putri kesayangannya, bagaimana bisa pergi sendiri tanpa tahu ke mana?Sejak kecil Paramitha terbiasa di rumah dan bermain dengan anak-anak sekitar rumah saja, tidak pernah pergi jauh. Gadis itu seperti permata Wiratama yang dijaga dengan sangat hati-hati.Saat keluarga ker

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status