LOGIN“Hukuman bagi pengkhianat adalah mati.”
“Jika Pangeran membunuh kami di sini, bukankah itu akan menodai nama baik kerajaan?” Nirmala memberanikan diri. Ia tidak bisa diam saja dalam situasi seperti ini. Persetan dengan nama baik, ia hanya tidak ingin mati konyol di tangan pangeran kejam hanya karena kesalahan Paramitha.
"Lancang!" bentak salah seorang menteri kerajaan.
Arya mengangkat tangannya, memberi isyarat agar semua orang diam. Ia sedikit menurunkan pedangnya dan berkata. "Kau punya nyali, gadis kecil. Sayang keberanianmu tidak diperlukan saat ini. Kalian akan mendapat hukuman."
"Paramitha pergi karena ia takut pada desas-desus tentang kekejaman Anda, Pangeran" lanjut Nirmala, mengabaikan tarikan napas tertahan dari kakaknya, Abhimata. "Tapi saya di sini. Saya tidak lari. Bukankah itu bukti bahwa saya lebih layak berada di samping Anda daripada seorang pengecut yang pergi demi lelaki lain?"
Mendengar ucapan Nirmala, sang pangeran menyeringai, sebuah senyum miring terhias di wajahnya. Ia menyarungkan pedang dengan satu gerakan cepat yang menimbulkan suara denting tajam.
Pangeran Arya berbalik menghadap Raja Danendra yang dari tadi mengamati. “Ayahanda, keluarga Wiratama telah menghina kerajaan. Tapi menumpahkan darah di hari pernikahan adalah sesuatu yang tidak pantas.”
“Lantas apa yang kau inginkan, Pangeran Arya?” Raja bersuara.
“Aku akan menerima pengantin pengganti ini. Tapi dengan syarat ….” Ucapan Arya menggantung, membuat seluruh keluarga Wiratama seolah berhenti bernapas menunggu hukuman dari sang pangeran.
“Selama 100 hari, keluarga Wiratama harus mencari Paramitha. Jika gagal, maka semuanya akan dihukum mati. Jika berhasil, aku akan menceraikan Nirmala dan menikah dengan Paramitha. Seluruh keluarga Wiratama akan diusir keluar kerajaan,” lanjutnya.
Aula megah itu seketika hening. Syarat yang diajukan Pangeran Arya bukanlah sebuah kemurahan hati, melainkan siksaan perlahan bagi keluarga Wiratama. Menemukan Paramitha atau tidak, pada akhirnya keluarga Wiratama tidak akan lagi berada di kerajaan ini.
Sedangkan bagi Nirmala, ia hanyalah jaminan sementara yang akan dibuang begitu aslinya ditemukan. Miris sekali hidupnya.
Seno Wiratama bersujud hingga keningnya menyentuh lantai. "Terima kasih atas kemurahan hati Pangeran. Kami menerima syarat itu. Hamba akan mengerahkan segalanya untuk membawa Paramitha kembali."
Pangeran Arya mengangguk. Ia memberi kode agar pernikahan segera dilaksanakan. Nirmala berjalan perlahan, berdiri di samping Pangeran Arya untuk mengikuti semua ritualnya sebelum menyandang gelar sebagai istri dari sang pangeran.
***
Setelah acara selesai dan semua tamu pulang. Para dayang membawa Nirmala ke paviliun Pangeran Arya. Nirmala dimandikan dengan air bunga. Kulitnya digosok sampai tak ada kotoran setitik pun. Ia kemudian didandani dan diberi wewangian.
Saat akan memakai baju yang telah disiapkan, tiba-tiba Pangeran Arya datang ke kamar dan menyuruh semua dayang keluar. “Untuk apa memakai baju bagus kalau nanti akan dilepaskan, iya kan?” ujarnya mengerling pada Nirmala.
Gadis itu mundur beberapa langkah. Ia hanya memakai baju putih tipis tanpa lengan dengan panjang semata kaki. “Ternyata selain kejam, Anda juga mesum, Pangeran.”
Arya tertawa kencang. “Apakah putri bungsu Wiratama ini belum pernah mendengar keahlianku yang sesungguhnya? Bermain pedang hanyalah caraku mengisi waktu luang. Aku ini ahli bermain di atas ranjang.”
“Uhuk. Uhuk.” Nirmala terbatuk. Udara musim dingin tiba-tiba terasa panas. Tangannya bergerak mengipasi wajahnya yang kini bersemu merah.
“Apa kamu kepanasan? Padahal kita belum mulai apapun.” Arya mendekat beberapa langkah, membuat Nirmala semakin mundur dan berakhir punggungnya menabrak dinding. Ia tak bisa lagi menghindar.
Andai saja ada cermin, Nirmala pasti bisa melihat wajahnya yang kini seperti udang rebus. Ia bukan anak kecil lugu soal hal itu. Temannya yang sudah menikah pernah menceritakan tentang malam pertama. Ia juga pernah melihat buku yang isinya berbagai posisi dalam ritual membuat anak.
Ingatan Nirmala coba memutar kembali apa yang dilihatnya di buku itu. Ia hanya harus berbaring, ‘kan? Lalu, setelah itu apa?
“Berhenti!” serunya. Langkah Arya tertahan. Jarak mereka hanya tinggal lima jengkal.
“A-yo kita lakukan itu,” lanjutnya, “Di sana!” tunjuk Nirmala pada ranjang besar di tengah kamar. Ia melangkah lebar dan duduk di atas kasur.
“Aku harus bagaimana? Hanya berbaring ‘kan? Seperti ini?” Nirmala menjatuhkan tubuhnya dan tidur terlentang. “Atau seperti ini?” Ia bergerak miring menghadap Arya.
Lelaki itu tertawa lagi, kali ini lebih kencang. Hingga kedua matanya tampak seperti garis saja. Nirmala terdiam, apanya yang lucu?
Setelah puas tertawa, Arya mendekat dan berdiri di samping ranjang. Nirmala mengangkat tubuh dan duduk di atas ranjang luas itu.
“Sepertinya aku terlalu murah hati pada keluarga Wiratama! Seratus hari ke depan apa kamu pikir aku akan menganggapmu sebagai istriku? Tidak! Aku tidak sebaik itu.” Arya menatap Nirmala tajam, wajahnya yang tadi tertawa kini berubah datar.
“Ma-maaf atas kelancangan hamba,” ucap Nirmala tertunduk. Dalam hati ia merasa lega karena Arya tidak akan menyentuhnya.
"Bagus jika kamu sadar diri," sahut Arya dingin. Ia melangkah menuju meja kecil di sudut kamar, menuangkan arak ke dalam cawan emas dengan gerakan yang tenang namun mengintimidasi.
Sementara Nirmala bergerak turun dari ranjang. Hari semakin malam, udara dingin mulai menusuk kulitnya. Ia mengenakan pakaian yang tadi sudah disediakan para dayang,
Gerak-geriknya tak luput dari pandangan Arya. Lelaki itu menyesap araknya perlahan, membiarkan matanya menelusuri punggung Nirmala yang sedang sibuk merapatkan pakaian luarnya.
Ada kilat tipis di mata sang pangeran, kalau saja yang berdiri di hadapannya itu adalah Paramitha, ia pasti sudah menarik gadis itu ke atas ranjang. Sayangnya, pernikahan ini telah ternoda dengan kepergian sang pengantin wanita. Arya merasa terhina dan tak sudi menyentuh Nirmala.
“Aku lelah.” Arya berdiri dan melangkah menuju ranjang. “Kamu jangan coba-coba tidur di kasur ini karena ini bukan tempatmu.”
“Lalu saya harus tidur di mana?” tanya Nirmala, ia pun tidak mengharapkan tidur sekasur dengan Arya. Namun, di ruangan ini hanya ada satu ranjang dan dua kursi kecil yang tak akan muat untuknya.
Arya mengangkat bahu. “Terserah kamu mau tidur di mana. Di lantai, di kursi, atau di luar. Ada sebuah kursi panjang di taman, bisa kamu coba. Tapi jangan teriak kalau kamu melihat banyak hantu di sana. Biasanya para hantu itu berkumpul di taman pada malam hari. Mungkin kamu bisa memperkenalkan diri pada mereka.”
Nirmala bergidik ngeri. Ia tahu Arya sengaja menakut-nakutinya, tapi membayangkan tidur di taman yang membeku sekaligus berhantu bukanlah pilihan yang bijak. Pasti akan banyak desas-desus di istana kalau mengetahui ia tidak tidur di kamar bersama Pangeran di malam pertama mereka.
Orang-orang akan semakin mengejek Nirmala dan keluarganya. Dianggap pengantin yang dicampakkan dan tak diinginkan.
“Aku akan tidur di kursi saja,” ucap Nirmala pelan. Ia menggeser dua kursi itu saling berhadapan sehingga dirinya bisa duduk berselonjor.
“Selamat malam, istriku,” ujar Arya sebelum ia merebahkan diri dan memejamkan mata.
-
Bersambung
Nirmala terbangun dalam dekapan tangan kekar sang pangeran. Udara dingin pagi hari menusuk kulitnya yang tak terbungkus pakaian. Selimut tebal yang menutupi tubuhnya tidak cukup memberinya kehangatan.Ia bergerak merapatkan diri. Tangannya melingkari punggung lebar sang pangeran. “Dingin sekali,” gumamnya masih memejamkan mata.“Aku akan meminta Bibi Lastri membuatkan sup.” Suara bariton itu membuat mata Nirmala terbuka.Sedikit mendongak, ia melihat Pangeran Arya yang sedang menatapnya. “Maaf membangunkan Pangeran,” ucapnya pelan.“Aku memang belum tidur.” Netra sang pangeran begitu intens melihat wajah Nirmala. Ia merasa wanita itu terlihat lebih cantik berkali lipat dari sebelumnya. Arya menggeleng cepat, ia tidak boleh lengah.Baginya, perempuan hanya akan membuatnya lemah. Terlibat terlalu dalam dengan mahluk itu hanya akan memberinya kehancuran. Arya terkenal kejam dan tak pandai memaafkan. Ia juga sering mabuk-mabukan dan membuat masalah. Namun, tak pernah menyentuh perempuan.
“Salam pada Raja Danendra dan Permaisuri Nareswati.” Nirmala membungkuk di hadapan raja dan ratu. Sementara Arya hanya berdiri kaku.Kemudian Nirmala melakukan salam juga kepada kedua pangeran beserta istrinya. Setelah itu ia duduk bersama Arya di kursi paling ujung. Di hadapan mereka sudah tersedia berbagai macam hidangan.Bangunan terbuka itu berada di tengah-tengah pohon rasamala yang menjulang tinggi. Aroma wangi khas kayu itu menjadi parfum alami di sepanjang taman. Di samping bangunan itu ada taman kecil yang terdiri dari berbagai bunga, membuat mata dimanjakan dengan indah warna warninya.“Apakah kamu kesulitan di paviliun Pangeran Arya?” tanya permaisuri di tengah-tengah acara jamuan itu. Raja sudah pergi karena harus menghadiri pertemuan dengan para menteri.“Tidak,” jawab Nirmala sambil tersenyum. “Paviliun itu sangat sempurna untuk kami sebagai pengantin baru. Tidak ada dayang atau pun penjaga yang mengganggu.”“Salahkan suamimu yang selalu mengusir para pelayan dengan kasar
Nirmala tidak bisa benar-benar tidur. Badannya tak nyaman, meringkuk di atas dua kursi kayu yang keras dan dingin membuatnya tak bisa memejamkan mata. Apalagi ada seorang lelaki asing yang baru dikenalnya tidur nyaman di atas kasur. Membuat Nirmala sedikit waspada.Bisa saja sang pangeran melakukan hal yang tidak baik saat dirinya tertidur, melecehkan atau mungkin membunuhnya. Lelaki itu sepertinya tak akan ambil pusing kalau harus menghilangkan nyawa putri Wiratama lebih dulu.Setiap kali Nirmala mencoba mengubah posisi, kursi itu berderit, memecah keheningan paviliun dan membuatnya terjaga karena takut suara itu akan mengganggu tidur sang pangeran. Ia tidak mau lelaki itu terbangun dan menyuruhnya tidur di luar.Saat cahaya fajar mulai menyelinap masuk melalui celah jendela, Nirmala langsung duduk tegak, meregangkan punggung dan otot kakinya yang sedikit kaku. Ia melihat ke arah ranjang, Arya masih tidur pulas.“Apa tidak ada pelayan yang mengantarkan air?” gumamnya. Ia ingin mencuc
“Hukuman bagi pengkhianat adalah mati.”“Jika Pangeran membunuh kami di sini, bukankah itu akan menodai nama baik kerajaan?” Nirmala memberanikan diri. Ia tidak bisa diam saja dalam situasi seperti ini. Persetan dengan nama baik, ia hanya tidak ingin mati konyol di tangan pangeran kejam hanya karena kesalahan Paramitha."Lancang!" bentak salah seorang menteri kerajaan.Arya mengangkat tangannya, memberi isyarat agar semua orang diam. Ia sedikit menurunkan pedangnya dan berkata. "Kau punya nyali, gadis kecil. Sayang keberanianmu tidak diperlukan saat ini. Kalian akan mendapat hukuman.""Paramitha pergi karena ia takut pada desas-desus tentang kekejaman Anda, Pangeran" lanjut Nirmala, mengabaikan tarikan napas tertahan dari kakaknya, Abhimata. "Tapi saya di sini. Saya tidak lari. Bukankah itu bukti bahwa saya lebih layak berada di samping Anda daripada seorang pengecut yang pergi demi lelaki lain?"Mendengar ucapan Nirmala, sang pangeran menyeringai, sebuah senyum miring terhias di waja
“Paramitha tidak ada di kamarnya!” Abhimata terburu-buru memasuki ruang keluarga. Ia menyerahkan sebuah kertas pada ayahnya. “Dia meninggalkan sebuah surat.”Wajah Seno Wiratama langsung mengeras. Rahang-rahang wajahnya terlihat jelas, matanya menatap nyalang pada selembar kertas yang ia baca. Berani-beraninya Paramitha kabur saat acara sakral yang melibatkan kerajaan.Hari ini adalah pernikahan sang putri pertama, Paramitha Wiratama dengan pangeran ketiga. Semuanya telah siap, kereta kuda sudah datang dari kemarin sore, tinggal menunggu calon pengantin wanita untuk berangkat ke istana.“Apa yang ditulisnya? Kenapa ia pergi di hari pernikahan?” Utari menatap sang suami. Mata wanita itu berkaca-kaca. Paramitha adalah putri kesayangannya, bagaimana bisa pergi sendiri tanpa tahu ke mana?Sejak kecil Paramitha terbiasa di rumah dan bermain dengan anak-anak sekitar rumah saja, tidak pernah pergi jauh. Gadis itu seperti permata Wiratama yang dijaga dengan sangat hati-hati.Saat keluarga ker







