Share

Bab 62 Sekutu

Penulis: vrimerose
last update Terakhir Diperbarui: 2026-02-23 21:56:02

Malam hari, Arya bertemu dengan para tetua dari fraksi kiri di rumah salah satu tetua. Ada empat orang yang hadir, karena Janatra sedang mengantar utusan Jayastamba.

“Jadi … Putri Mega mandul dan Putri Nirmala mengetahuinya?” tanya salah satu tetua. “Bagaimana bisa hal sebesar itu dirahasiakan oleh istana?”

“Kita sambungkan dulu semua yang terjadi, agar bisa menarik kesimpulan dan menentukan langkah selanjutnya, bukan begitu, Pangeran?” Danapati menoleh pada Arya yang duduk dengan wajah serius.
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • 100 Hari Menjadi Istri Pengganti   Bab 76 - Menunggu

    Aula terbuka di kediaman ratu sudah dipenuhi para gadis yang berusia antara 16-20 tahun. Mereka tersenyum malu-malu, menampilkan kecantikan dan keluguannya. Kebanyakan dari gadis-gadis itu adalah anak para menteri dan pejabat. Selain kehormatan, menjadi selir pangeran tentu akan menambah kekuasaan mereka.Berbeda dengan para calon selir yang berwajah ceria, wajah Mega tak menampakkan senyum sedikit pun. Hatinya mendidih dalam pijaran api yang tak bisa ia padamkan. Anindiya yang duduk di samping Mega, hanya bisa tersenyum tipis. Ia bisa mengerti perasaan perempuan itu. Berbagi hati suami bukanlah hal yang mudah, dan tak akan pernah bisa berlapang hati.“Selanjutnya Nona Divya dari keluarga Danapati.” Dayang yang mengatur acara menyebutkan nama-nama untuk maju ke depan dan melakukan pemeriksaan awal.Seorang gadis mamakai gaun merah marun yang tampak mencolok dari yang lainnya berdiri dan melangkah dengan anggun. Semua mata tertuju padanya. Ia terlihat cantik dan anggun, tetapi tetap p

  • 100 Hari Menjadi Istri Pengganti   Bab 75 - Tak Sama

    Tepat setelah cambukan ke-20, Wistara tak sadarkan diri. Alih-alih iba, Arya yang melihatnya justru semakin murka. Ia membayangkan saat Nirmala duduk di kursi pesakitan dan menerima cambukan. Apa yang diterima Wistara belum seberapa dibanding dengan penderitaan yang dialami Nirmala.“Bawa ia ke ruang tahanan!” seru Arya. “Obati lukanya. Pastikan ia hidup untuk menerima cambukan besok. Setiap hari, beri 20 kali cambukan, hingga genap seribu sampai hari ke-50.”Kepala Tahanan yang mendengarnya langsung menerima perintah dengan sikap tegap. “Kami akan melakukan perintah Anda, Pangeran.”Arya kemudian melangkah menuju ruangannya. Ia menatap ruangan berisi sebuah meja di depan dan beberapa meja yang dibuat melingkar. Kalau bukan karena Nirmala, mungkin Arya tidak pernah terpikirkan untuk masuk ke ruangan peradilan ini. Beberapa bukti kematian ibunya sudah ia dapatkan dari orang-orang di pemukiman pegunungan. Mereka mencari informasi dari mulut ke mulut. Namun, Arya tahu bukti sesungguhnya

  • 100 Hari Menjadi Istri Pengganti   Bab 74 - Hukuman

    “Setelah melakukan penyelidikan kembali terhadap kejadian Putri Nirmala, maka Yang Mulia Raja memutuskan bahwa itu bukanlah kejahatan ….” Sekretaris Kerajaan membacakan keputusan Raja di hadapan para menteri. Ketiga pangeran berdiri sejajar paling depan. Ini adalah rapat pertama bagi Arya. Tadi, sebelum matahari terbit, dirinya baru sampai ke istana bersama utusan Putra Mahkota.Suasana hening menyelimuti aula besar itu. Semua orang menunggu pengumuman selanjutnya. Kalau Putri Nirmala tidak bersalah, maka pihak yang melaporkan dan memberi hukuman semena-mena harus diberi sanksi.Wajah Wistara sudah pucat. Ia hanya bisa menunduk menerima tatapan tajam dari sang raja. Para menteri juga melirik ke arahnya, ia benar-benar tidak punya wajah saat ini. Fraksi kanan benar-benar telah membuangnya.“... dan membebaskan Putri Nirmala dari segala tuduhan. Adapun kepada Pejabat Wistara yang telah membuat tuduhan palsu, akan dihukum dengan hukuman cambuk seratus kali dan diturunkan jabatannya dari

  • 100 Hari Menjadi Istri Pengganti   Bab 73 - Tunggu Aku

    Nirmala terbangun saat hari semakin gelap. Di ruangan itu hanya ada sebuah lentera kecil yang menyinari. Cahaya redupnya tak mampu menerangi seluruh ruangan. Pemandangan yang biasa ia temui saat masih di rumahnya.“Kamu sudah bangun?” Suara Arya membuat Nirmala menengok ke arah kursi. Di sana, Arya sedang duduk ditemani secangkir teh.Nirmala merasa punggungnya sedikit berat, ada selimut tebal yang menyelimuti tubuhnya. Ia merapikan baju belakangnya di balik selimut sebelum mengangkat kepala dan duduk di pinggir ranjang.Meski tidak sebesar tempat tidur di istana, ranjang itu cukup untuk dua orang dengan posisi yang saling rapat. Gerakan perempuan itu tak luput dari perhatian Arya. Dengan rambut sedikit berantakan dan wajah polos tanpa riasan, Nirmala membuat gairah sang pangeran perlahan bangkit.“Sepertinya aku tidur sangat lama, sampai tidak sadar kalau Daya sudah pergi.” Nirmala coba mencairkan kecanggungan di ruangan itu.Sejak bertemu lagi dengan Arya, Nirmala merasa dadanya jad

  • 100 Hari Menjadi Istri Pengganti   Bab 72 - Gangguan

    Wangi tubuh Nirmala yang beberapa hari ini Arya rindukan, menyelusup ke dalam indra penciumannya. Memberi ketenangan dan juga gairah yang tak mungkin dihentikan. Mereka masih memakai pakaian lengkap karena Arya tak ingin buru-buru. Ia memiliki banyak waktu untuk menyentuh istrinya itu. Tok! Tok! Tok!Suara ketukan pintu seketika membuat sepasang manusia itu terdiam. Mereka lupa kalau mereka bukan di kediaman Arya yang bisa bebas tanpa gangguan. Di pemukiman kecil ini, orang-orang terbiasa berkunjung ke rumah satu sama lain.“Pangeran, sudah waktunya mengobati luka Nona Nirmala.” Suara Daya di luar pintu.Tiba-tiba, Arya langsung mendorong tubuh Nirmala hingga terjatuh dari ranjang. Ia mengabaikan suara rintihan kecil perempuan itu. Arya melangkah menuju pintu.“Apa harus sekarang?” tanya Arya dingin begitu membuka pintu dan melihat Daya berdiri di hadapannya dengan membawa obat-obatan.“Kenapa? Apa aku mengganggumu? Meskipun kalian suami istri, bukankah masih terlalu siang untuk sali

  • 100 Hari Menjadi Istri Pengganti   71 - Pertemuan (2)

    “Bagaimana Pangeran bisa ada di sini?” Nirmala masih tak percaya kalau lelaki di hadapannya adalah Arya. “Bukankah Seharusnya Pangeran ke Jayastamba?”“Kenapa? Apa kamu tidak senang bertemu denganku?” Arya menatap Nirmala datar. Harusnya ia langsung memeluk perempuan di hadapannya itu, bersyukur karena akhirnya bisa menemukan Nirmala.“Bu-bukan begitu, Pangeran.” Nirmala merasa serba salah. Ia hanya tak menyangka akan bertemu Arya di sini, di atas gunung. “Apakah … penduduk di pemukiman ini adalah orang-orang Pangeran?Nirmala teringat ucapan Daya yang mengatakan kalau pemimpin di sini adalah seseorang dari istana. Sepertinya itu adalah Arya. Mengabaikan pertanyaan Nirmala, Arya menarik tangan perempuan itu dan membawanya ke sebuah bangunan kayu yang berada di paling ujung. Saat masuk, Nirmala melihat ada ranjang dan kursi. Tempat itu juga lebih besar dari rumah Daya.“Ini tempat tinggalku di sini. Kamu bisa menggunakannya … hanya untuk sementara, karena setelah lukamu sembuh, kita h

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status