Share

Bab 2

Author: Vira
Dalam perjalanan pulang, aku menerima telepon dari atasanku.

Dia memintaku mampir ke Fakultas Sastra Universitas Husero untuk mengambil sebuah dokumen.

Setelah menutup telepon ....

Aku langsung menghela napas. Padahal aku sudah berusaha menjaga jarak dengan Reno. Sayangnya, dia bekerja sebagai profesor di Fakultas Sastra Universitas Husero.

Begitu aku tiba di fakultas, kebetulan bertepatan dengan jam sibuk mahasiswa masuk kelas.

Beberapa percakapan mereka bahkan mustahil untuk tidak kudengar.

"Akhirnya aku berhasil dapat kelas Pak Reno! Susah banget rebutannya. Dia benar-benar sangat populer."

"Ya. Mahasiswi datang karena Pak Reno, sedangkan sebagian besar mahasiswa datang demi Bu Elpira. Serius deh, mereka benar-benar pasangan yang serasi."

Langkah kakiku perlahan melambat.

Rasa pahit langsung memenuhi dadaku.

Selama lima tahun bersama, aku tidak pernah sekali pun diperkenalkan secara terbuka ke lingkungan pergaulan Reno.

Saat kami masih dimabuk cinta, aku pernah bermanja-manja meminta Reno mengenalkanku kepada teman-temannya.

Aku juga pernah memintanya mengunggah fotoku di akun media sosial miliknya.

Sayangnya Reno ....

Profesor fakultas sastra yang selalu teliti dan kaku itu hanya mengerutkan kening. Dia menatapku seperti sedang melihat anak kecil yang belum dewasa, lalu membalas dengan nada mengajari.

"Olivia Tandiono, bersikaplah lebih dewasa."

"Kamu sudah bukan bocah 18 tahun lagi. Jangan mendambakan hal-hal yang cuma formalitas begitu. Sama sekali nggak cocok dengan identitasku."

Hari itu, aku hanya bisa terpaku.

Sejak saat itu, aku tidak pernah membicarakannya lagi.

Di sampingku, para mahasiswi itu masih terus mengobrol tentang kedekatan Reno dan Elpira.

"Status Pak Reno di forum universitas tertulis sudah menikah. Jujur saja menurutku, istrinya pasti Bu Elpira! Kalau nggak, kenapa nggak ada satu pun yang pernah melihat istrinya?"

"Pasti begitu. Apalagi, orang seserius Pak Reno cuma tersenyum kalau lagi bareng Bu Elpira."

Suara mereka makin menjauh.

Sementara itu, langkahku makin lambat hingga akhirnya aku berhenti di tepi koridor.

Semua kepedihan dan rasa sesak yang selama ini kupendam seolah-olah meluap dalam sekejap.

Aku menarik napas panjang.

Namun untungnya, aku masih memiliki jalan lain. Tiga hari lagi, semuanya akan benar-benar berakhir.

Setelah mengambil dokumen untuk atasanku ....

Ketika melewati kantor profesor kedua, aku mendengar suara tawa dan canda yang sangat kukenal.

"Ayo, coba yang ini. Enak banget!"

Melalui celah pintu ....

Aku melihat Elpira dan Reno sedang duduk bersama sambil menikmati sarapan. Dengan sangat alami, Elpira mengangkat gelas susu kacang ke bibir Reno.

Padahal, Reno tidak suka susu kacang.

Dulu, aku pernah membuatkannya sekali. Kala itu, Reno langsung memasang ekspresi kesal dan pergi begitu saja. Dia membiarkanku menangis sendirian di rumah.

Hanya saja sekarang ....

Reno hanya mengernyit tipis. Kemudian, di bawah desakan lembut Elpira, dia menghela napas pasrah dengan penuh kelembutan.

Setelah itu, dia langsung meminumnya.

Mata Elpira sontak berbinar-binar. "Gimana? Enak, 'kan?"

Reno mengangguk. "Lumayan."

Aku tak kuasa tersenyum pahit pada diriku sendiri.

Ternyata di saat-saat yang tidak pernah kuketahui, Reno juga bisa bersikap begitu lembut dan nurut kepada seseorang.

Sayangnya selama lima tahun ini, aku tidak pernah sekali pun melihat sisi dirinya yang seperti itu.

Bahkan tidak sekali pun.

Di dalam kantor.

Reno dengan alami mengambil tisu, lalu mengusap remah makanan yang menempel di sudut bibir Elpira. Segera setelah itu, dia bertanya dengan nada lembut.

"Semalam, tidurmu nyenyak nggak? Masih susah tidur?"

"Nyenyak banget." Elpira tersenyum. "Kamu tahu sendiri, selama ada kamu yang menemaniku lewat telepon, aku pasti bisa tidur dengan nyenyak."

Kemudian, Elpira teringat sesuatu.

"Oh ya, aku dengar setelah jam 9 malam kamu nggak pernah mengangkat telepon. Apa aku nggak mengganggumu?"

Tanpa berpikir sedikit pun, Reno menjawab, "Kamu pengecualian."

Padahal hanya dua kata yang singkat.

Namun, rasanya seperti sulur berduri yang melilit jantungku erat-erat hingga membuatku nyaris tidak bisa bernapas.

Ketika benar-benar mendengar kata-kata itu keluar dari mulut Reno sendiri ....

Setelah rasa sesak yang begitu menyakitkan itu berlalu ....

Yang tersisa hanyalah mati rasa.

Memang menyakitkan saat mencabut duri yang telah lama tertancap. Akan tetapi begitu duri itu berhasil dicabut, waktu akan perlahan menyembuhkan luka.

Aku bersandar di dinding. Setelah sekian lama, aku baru berhasil menyembunyikan semua emosi di mataku.

Kemudian, aku meninggalkan tempat itu.

Sesampainya di rumah, aku mengeluarkan koper dan mulai memasukkan barang-barangku satu per satu.

Padahal aku sudah tinggal di sini selama lima tahun. Tidak disangka, barang-barangku bahkan tidak cukup untuk memenuhi satu koper.

Malam harinya.

Reno meneleponku. "Bersiaplah turun. Hari ini, kita makan malam di rumah ibuku."

Aku hanya membalas dengan gumaman pelan.

Ketika melihat mobil Mercedes Maybach yang terparkir di pinggir jalan, tanpa sadar aku berjalan menghampiri dan membuka pintu kursi penumpang depan.

Ternyata, Elpira sedang duduk di sana sambil memakan kue kering.

"Halo, Kak Olivia."

Melihat remah-remah kue berserakan di jok mobil, refleks pertamaku adalah menoleh ke arah Reno.

Dia paling tidak suka orang lain makan di dalam mobilnya.

Termasuk aku.

Namun saat ini, ekspresi Reno tetap tenang seolah-olah sudah terbiasa dengan pemandangan itu.

Barulah kemudian aku tersadar.

Aku hampir saja lupa, Elpira merupakan pengecualian dalam hidupnya.

Elpira buru-buru mengelap mulutnya, lalu membersihkan jok. "Sebaiknya aku pindah ke belakang saja. Aku ...."

Aku hanya tersenyum tenang.

"Nggak apa-apa. Kamu tetap duduk saja. Cuma sebuah kursi, 'kan?"

Aku membuka pintu kursi belakang. Sekilas, aku melihat sorot mata Reno dipenuhi kebingungan.

Akan tetapi, aku tidak memedulikannya.

Bukan berarti kejadian seperti ini belum pernah terjadi sebelumnya.

Hanya saja setiap kali itu terjadi, semuanya selalu berakhir dengan Reno memarahiku dengan nada tidak sabar.

"Olivia, bukannya itu cuma sebuah kursi? Jangan dibesar-besarkan."

Aku memandang hujan rintik-rintik di luar jendela.

Anehnya, aku sudah tidak lagi merasakan kesedihan ataupun rasa terhina seperti dulu. Aku begitu tenang, sampai-sampai diriku sendiri merasa heran.

Memang benar.

Hanya sebuah kursi.

Hanya seorang pria.

Bagiku sekarang, keduanya sama saja. Cukup disingkirkan.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • 12 Jam untuknya, 0 Detik untukku   Bab 8

    Ketika aku tiba di rumah sakit, Reno masih terbaring di ranjang dengan sepasang mata terpejam.Wajahnya sangat pucat.Selama lima tahun bersama, aku belum pernah melihat Reno dalam keadaan seperti ini.Namun, aku hanya meliriknya sekilas. Yang penting dia jangan mati saja. Kalau tidak, itu akan membawa sial bagiku.Saat aku hendak pergi ....Pria di belakangku perlahan membuka matanya yang masih dipenuhi kebingungan. Suaranya terdengar sangat serak."Olivia ...."Langkahku terhenti. Aku berbalik, lalu tatapan kami bertemu. Sorot mataku tenang, sementara sorot mata Reno dipenuhi kepedihan."Kamu begitu membenciku ya?"Mata Reno mulai memerah.Dia teringat masa lalu. Setiap kali sakit lambungnya kambuh atau demam, aku selalu berada di sisinya untuk merawatnya.Selama bertahun-tahun, aku selalu memasak sendiri untuk Reno.Perlahan-lahan, sakit lambungnya pun makin jarang kambuh.Sering kali ketika terbangun, Reno mendapati aku tertidur di tepi ranjang, sementara tanganku masih menggenggam

  • 12 Jam untuknya, 0 Detik untukku   Bab 7

    Musim semi berganti musim gugur, lalu empat musim kembali berlalu.Bagiku, waktu hanyalah pergantian siang dan malam, serta pasang dan surutnya air laut.Tanpa terasa, satu tahun telah berlalu.Pekerjaan dan kehidupanku di Negara Paresa sudah lama berjalan dengan baik dan stabil.Aku sama sekali tidak mengetahui apa pun yang terjadi di tanah air.Semua orang yang berhubungan dengan Keluarga Wibowo sudah kuhapus dari hidupku.Aku tidak pernah berpikir akan bertemu lagi dengan Reno. Setidaknya jauh di dalam hatiku, aku sama sekali tidak ingin bertemu dengannya.Sayangnya, takdir memang gemar mempermainkan manusia.Sore itu sepulang kerja, dari kejauhan aku melihat sebuah sosok berdiri sendirian di bawah lampu jalan yang redup kekuningan.Langkahku langsung terhenti. Begitu melihatku, mata Reno dipenuhi gejolak emosi yang begitu rumit hingga aku tidak mampu mengartikannya.Aku hendak berbalik pergi.Hanya saja, tiba-tiba Reno berlari ke arahku. Dalam sekejap, tubuhku sudah terperangkap di

  • 12 Jam untuknya, 0 Detik untukku   Bab 6

    Begitu membaca pesan tersebut, Reno langsung terpaku.Membatalkan pernikahan?Olivia?Mana mungkin?Semalam saja mereka masih membicarakan model gaun pengantin bersama.Namun tanpa sadar, ujung jari Reno mulai bergetar pelan. Dengan hati yang dipenuhi kepanikan dan kegelisahan, dia segera membuka akun media sosial Olivia.Sangat sepi.Hanya ada satu unggahan yang disematkan di paling atas.[Kepada seluruh keluarga, kerabat, dan teman-teman yang telah menerima undangan pernikahanku dan Reno, aku mau menyampaikan permohonan maaf.][Pernikahan kami resmi dibatalkan.][Semoga masing-masing dari kami bisa menemukan kebahagiaan di masa depan.]Hanya itu.Pupil mata Reno bergetar hebat. Tiga kalimat yang begitu singkat itu dia tatap selama lima menit penuh, seolah-olah ingin menembus layar dengan pandangannya.Para mahasiswa di bawah melihat reaksinya dan saling berpandangan dengan bingung."Ada apa dengan Pak Reno? Kenapa ekspresinya begitu terkejut? Seperti baru menerima pukulan yang sangat

  • 12 Jam untuknya, 0 Detik untukku   Bab 5

    Pada saat yang sama, Reno yang sedang menemani Elpira di asrama dosen Universitas Husero tiba-tiba merasakan nyeri yang menusuk di dadanya.Elpira segera mendongak."Reno, ada apa? Kamu merasa nggak enak badan? Wajahmu kelihatan agak pucat."Reno menarik napas panjang.Setelah beberapa saat, rasa nyeri di dadanya akhirnya sedikit mereda. Dia lalu melarutkan obat ke dalam segelas air dan memberikannya kepada Elpira."Aku nggak apa-apa."Reno berpikir sejenak, tetapi tetap tidak menemukan penyebabnya, jadi akhirnya memilih untuk tidak memikirkannya lagi."Mungkin karena tadi aku terlalu cemas saat mendengar kamu hampir celaka. Sekarang setelah semuanya berlalu, jantungku masih terasa sedikit berdebar."Ujung telinga Elpira tanpa sadar memerah.Mengingat kejadian malam ini, dia masih diliputi rasa takut."Makasih.""Kalau bukan karena kamu, mungkin malam ini aku sudah ...."Elpira teringat sesuatu, lalu berkata, "Tolong jangan beri tahu Bu Gisel ya. Kalau dia tahu, pasti nggak bisa tidur

  • 12 Jam untuknya, 0 Detik untukku   Bab 4

    Dalam perjalanan pulang, Elpira tetap duduk di kursi penumpang depan. Reno mengantarnya pulang lebih dulu.Sementara itu, aku duduk di kursi belakang. Aku sedang menghubungi pemilik rumah di Negara Paresa untuk membicarakan tempat tinggal yang akan kusewa."Duduklah di depan."Tiba-tiba Reno angkat bicara. Tanpa mengangkat kepala, aku menolak, "Nggak usah."Pria itu terdiam beberapa saat."Terserah."Aku tidak memedulikannya. Perhatianku tertuju pada foto-foto rumah yang terang dan dipenuhi cahaya matahari. Aku sangat menyukainya sehingga langsung membayar DP.Sesampainya di rumah.Reno mengeluarkan sebuah album dari tas kerjanya, lalu menghampiriku."Mau lihat?"Aku menerimanya dengan bingung. Barulah kusadari itu adalah katalog gaun pengantin."Cepat pilih satu. Lagian tinggal satu bulan lagi sebelum pernikahan kita. Dengan begitu, pihak pembuat juga bisa mulai mempersiapkannya lebih awal."Reno menunjuk sebuah gaun pengantin yang dihiasi bunga pir tiga dimensi di seluruh permukaanny

  • 12 Jam untuknya, 0 Detik untukku   Bab 3

    Sesampainya di rumah lama Keluarga Wibowo, Gisel sudah berdiri di luar sambil menunggu dengan penuh harap.Begitu turun dari mobil ....Elpira segera berlari menghampiri dan memeluk lengan Gisel sambil bermanja. "Bu Gisel, anginnya sangat kencang di luar. Kenapa Anda sampai keluar sendiri? Ayo, cepat masuk."Gisel tersenyum penuh kasih sayang."Tentu saja untuk menunggumu. Aku yang mengatur agar kamu bekerja di bawah bimbingan Reno. Selama ini, pasti kamu sudah banyak bersabar.""Anak itu memang wataknya aneh."Elpira melirik ke arah pria yang berdiri di samping sambil tersenyum lembut. Ujung telinga wanita itu langsung memerah."Pak Reno baik kok. Saya juga nggak merasa diperlakukan dengan buruk."Sambil mengobrol, keduanya berjalan masuk ke dalam rumah.Baru setelah berjalan sekitar lima meter, Gisel seperti teringat sesuatu sehingga menoleh ke belakang. Tatapannya kepadaku terasa jauh lebih dingin dan berjarak dibanding sebelumnya."Olivia juga datang ya. Ayo, masuk. Jangan sampai m

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status