Share

12 Jam untuknya, 0 Detik untukku
12 Jam untuknya, 0 Detik untukku
Author: Vira

Bab 1

Author: Vira
Saat sistem menampilkan pemberitahuan bahwa pembatalan telah berhasil, Reno kebetulan keluar dari kamar mandi.

Melihatku masih duduk diam di tempat ....

Dia melirik jam lalu mengernyit.

"Apa ada yang mau kamu bicarakan hari ini? Sebentar lagi jam 9 malam. Aku mau istirahat."

Aku terdiam sejenak, lalu menggeleng.

"Nggak ada."

Reno pun mengangguk. "Oke. Kalau begitu, selamat malam."

Dia sama sekali tidak menyadari perubahan suasana hatiku. Tanpa ragu, dia langsung berbalik dan masuk ke kamar.

Aku melamun sejenak.

Ketika hendak berdiri, komputer yang tadinya sudah mati tiba-tiba menyala kembali. Bersamaan dengan itu, muncul notifikasi panggilan dari Elpira Susanto yang tersinkronisasi dengan ponsel Reno.

Sementara itu ....

Reno yang setelah pukul 9 malam tidak pernah mengangkat telepon, berbicara, maupun membalas pesanku itu, hanya membutuhkan waktu satu detik baginya untuk menerima panggilan tersebut.

Seolah-olah dia takut orang di seberang menunggu lebih lama.

Aku terkekeh sinis. Rupanya Reno cukup perhatian. Sayangnya, pengecualian itu bukan untukku yang merupakan tunangannya.

Saat aku kembali ke kamar tidur ....

Reno sudah memejamkan mata dan kelihatan seperti telah tertidur.

Namun kali ini, aku menyadari sesuatu yang selama ini tak pernah kusadari.

Misalnya, ponsel Reno yang selalu diletakkan dalam posisi tertelungkup.

Juga earphone hitam kecil yang terpasang di telinga kanannya.

Setelah mematikan lampu, dalam kegelapan, aku membalas pesan atas pemberitahuan mutasi kerja yang minggu lalu disampaikan oleh atasanku.

Waktu itu, aku menolaknya karena tidak ingin menjalani hubungan jarak jauh dengan Reno setelah kami menikah.

Namun, semuanya sudah berakhir sekarang.

Atasanku segera membalas.

[Sudah yakin? Penempatan di kedutaan besar yang ada di Negara Paresa berlangsung minimal lima tahun. Kalau kamu sudah yakin, segera urus visa. Tiga hari lagi berangkat.]

Aku membalas singkat. [Baik.]

Orang yang berbaring di sampingku bernapas dengan tenang dan teratur. Kurasa pada saat yang sama, Elpira juga pasti merasa sangat tenang.

Setelah berbaring ....

Di antara kami terasa seolah-olah ada batas yang tak dapat diseberangi. Aku sempat tertegun, lalu memejamkan mata dan perlahan tertidur.

Keesokan paginya saat terbangun, Reno sedang berdiri di ruang ganti pakaian.

Aku bangkit dan menyentuh ponselnya.

Masih terasa sangat panas.

Setelah membereskan semua dokumen yang diperlukan untuk mengurus visa, aku melirik Reno sekilas lalu bersiap keluar.

Hanya saja, ketika kami berpapasan ....

Reno memanggilku dengan ekspresi heran, lalu bertanya, "Kamu nggak memasangkan dasiku?"

Aku tersenyum tipis.

"Nggak lagi. Ingat untuk belajar memasangnya sendiri." Aku berhenti sejenak sebelum melanjutkan, "Kalau nggak, minta saja asistenmu yang memasangkannya."

Reno meletakkan barang di tangannya, lalu menghampiriku dengan raut wajah kebingungan.

"Maksudmu Elpira?"

Begitu menyebut nama wanita itu, raut wajah Reno yang biasanya serius dan dingin langsung melunak.

Bahkan, matanya memancarkan kilatan senyum.

"Dia memang bisa memasang dasi. Dia juga seorang wanita yang sangat teliti. Tapi, apa hubungannya dengan kamu yang memasangkan dasiku?"

Untuk sesaat, aku kehabisan kata-kata.

Aku bahkan tidak tahu harus mulai menjelaskan dari mana. Jadi, kupilih untuk tidak menjelaskan apa pun.

"Nggak ada hubungannya. Aku cuma nggak mau melakukannya lagi."

Reno mengerucutkan bibir dengan ekspresi tidak senang.

"Terserah kamu. Oh ya, siang ini kamu nggak usah mengantarkan makan siang untukku. Elpira baru saja mengirim pesan. Katanya, dia akan membawakannya untukku."

Tanganku yang sudah menggenggam gagang pintu terhenti sesaat.

"Oke."

Gara-gara pekerjaannya, Reno menderita penyakit lambung yang cukup parah. Selama ini, tidak peduli sesibuk apa pun pekerjaanku, aku selalu memasak sendiri untuknya.

Justru bagus.

Dengan begitu, aku bisa bebas dari semua ini.

Kemudian, aku tidak ingin lagi menjaga perasaan Reno. Usai berkata demikian, aku langsung berbalik dan menutup pintu.

Aku pergi ke kedutaan besar untuk mengurus visa kerja selama lima tahun.

Setelah itu, aku menuju tempat kerjaku untuk mengambil surat penugasan.

Kumasukkan semua dokumen itu ke dalam tas.

Aku memandang bunga-bunga persik yang perlahan bermekaran di depan gerbang Kementerian Luar Negeri.

Untuk pertama kalinya, aku merasakan perasaan ringan dan bebas yang belum pernah kurasakan sebelumnya.

Tiba-tiba aku teringat sesuatu.

Aku membuka aplikasi pendaftaran pernikahan, lalu menghapus seluruh data identitas Reno dari formulir tersebut.

Ke depannya ....

Aku tidak akan membutuhkannya lagi.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • 12 Jam untuknya, 0 Detik untukku   Bab 8

    Ketika aku tiba di rumah sakit, Reno masih terbaring di ranjang dengan sepasang mata terpejam.Wajahnya sangat pucat.Selama lima tahun bersama, aku belum pernah melihat Reno dalam keadaan seperti ini.Namun, aku hanya meliriknya sekilas. Yang penting dia jangan mati saja. Kalau tidak, itu akan membawa sial bagiku.Saat aku hendak pergi ....Pria di belakangku perlahan membuka matanya yang masih dipenuhi kebingungan. Suaranya terdengar sangat serak."Olivia ...."Langkahku terhenti. Aku berbalik, lalu tatapan kami bertemu. Sorot mataku tenang, sementara sorot mata Reno dipenuhi kepedihan."Kamu begitu membenciku ya?"Mata Reno mulai memerah.Dia teringat masa lalu. Setiap kali sakit lambungnya kambuh atau demam, aku selalu berada di sisinya untuk merawatnya.Selama bertahun-tahun, aku selalu memasak sendiri untuk Reno.Perlahan-lahan, sakit lambungnya pun makin jarang kambuh.Sering kali ketika terbangun, Reno mendapati aku tertidur di tepi ranjang, sementara tanganku masih menggenggam

  • 12 Jam untuknya, 0 Detik untukku   Bab 7

    Musim semi berganti musim gugur, lalu empat musim kembali berlalu.Bagiku, waktu hanyalah pergantian siang dan malam, serta pasang dan surutnya air laut.Tanpa terasa, satu tahun telah berlalu.Pekerjaan dan kehidupanku di Negara Paresa sudah lama berjalan dengan baik dan stabil.Aku sama sekali tidak mengetahui apa pun yang terjadi di tanah air.Semua orang yang berhubungan dengan Keluarga Wibowo sudah kuhapus dari hidupku.Aku tidak pernah berpikir akan bertemu lagi dengan Reno. Setidaknya jauh di dalam hatiku, aku sama sekali tidak ingin bertemu dengannya.Sayangnya, takdir memang gemar mempermainkan manusia.Sore itu sepulang kerja, dari kejauhan aku melihat sebuah sosok berdiri sendirian di bawah lampu jalan yang redup kekuningan.Langkahku langsung terhenti. Begitu melihatku, mata Reno dipenuhi gejolak emosi yang begitu rumit hingga aku tidak mampu mengartikannya.Aku hendak berbalik pergi.Hanya saja, tiba-tiba Reno berlari ke arahku. Dalam sekejap, tubuhku sudah terperangkap di

  • 12 Jam untuknya, 0 Detik untukku   Bab 6

    Begitu membaca pesan tersebut, Reno langsung terpaku.Membatalkan pernikahan?Olivia?Mana mungkin?Semalam saja mereka masih membicarakan model gaun pengantin bersama.Namun tanpa sadar, ujung jari Reno mulai bergetar pelan. Dengan hati yang dipenuhi kepanikan dan kegelisahan, dia segera membuka akun media sosial Olivia.Sangat sepi.Hanya ada satu unggahan yang disematkan di paling atas.[Kepada seluruh keluarga, kerabat, dan teman-teman yang telah menerima undangan pernikahanku dan Reno, aku mau menyampaikan permohonan maaf.][Pernikahan kami resmi dibatalkan.][Semoga masing-masing dari kami bisa menemukan kebahagiaan di masa depan.]Hanya itu.Pupil mata Reno bergetar hebat. Tiga kalimat yang begitu singkat itu dia tatap selama lima menit penuh, seolah-olah ingin menembus layar dengan pandangannya.Para mahasiswa di bawah melihat reaksinya dan saling berpandangan dengan bingung."Ada apa dengan Pak Reno? Kenapa ekspresinya begitu terkejut? Seperti baru menerima pukulan yang sangat

  • 12 Jam untuknya, 0 Detik untukku   Bab 5

    Pada saat yang sama, Reno yang sedang menemani Elpira di asrama dosen Universitas Husero tiba-tiba merasakan nyeri yang menusuk di dadanya.Elpira segera mendongak."Reno, ada apa? Kamu merasa nggak enak badan? Wajahmu kelihatan agak pucat."Reno menarik napas panjang.Setelah beberapa saat, rasa nyeri di dadanya akhirnya sedikit mereda. Dia lalu melarutkan obat ke dalam segelas air dan memberikannya kepada Elpira."Aku nggak apa-apa."Reno berpikir sejenak, tetapi tetap tidak menemukan penyebabnya, jadi akhirnya memilih untuk tidak memikirkannya lagi."Mungkin karena tadi aku terlalu cemas saat mendengar kamu hampir celaka. Sekarang setelah semuanya berlalu, jantungku masih terasa sedikit berdebar."Ujung telinga Elpira tanpa sadar memerah.Mengingat kejadian malam ini, dia masih diliputi rasa takut."Makasih.""Kalau bukan karena kamu, mungkin malam ini aku sudah ...."Elpira teringat sesuatu, lalu berkata, "Tolong jangan beri tahu Bu Gisel ya. Kalau dia tahu, pasti nggak bisa tidur

  • 12 Jam untuknya, 0 Detik untukku   Bab 4

    Dalam perjalanan pulang, Elpira tetap duduk di kursi penumpang depan. Reno mengantarnya pulang lebih dulu.Sementara itu, aku duduk di kursi belakang. Aku sedang menghubungi pemilik rumah di Negara Paresa untuk membicarakan tempat tinggal yang akan kusewa."Duduklah di depan."Tiba-tiba Reno angkat bicara. Tanpa mengangkat kepala, aku menolak, "Nggak usah."Pria itu terdiam beberapa saat."Terserah."Aku tidak memedulikannya. Perhatianku tertuju pada foto-foto rumah yang terang dan dipenuhi cahaya matahari. Aku sangat menyukainya sehingga langsung membayar DP.Sesampainya di rumah.Reno mengeluarkan sebuah album dari tas kerjanya, lalu menghampiriku."Mau lihat?"Aku menerimanya dengan bingung. Barulah kusadari itu adalah katalog gaun pengantin."Cepat pilih satu. Lagian tinggal satu bulan lagi sebelum pernikahan kita. Dengan begitu, pihak pembuat juga bisa mulai mempersiapkannya lebih awal."Reno menunjuk sebuah gaun pengantin yang dihiasi bunga pir tiga dimensi di seluruh permukaanny

  • 12 Jam untuknya, 0 Detik untukku   Bab 3

    Sesampainya di rumah lama Keluarga Wibowo, Gisel sudah berdiri di luar sambil menunggu dengan penuh harap.Begitu turun dari mobil ....Elpira segera berlari menghampiri dan memeluk lengan Gisel sambil bermanja. "Bu Gisel, anginnya sangat kencang di luar. Kenapa Anda sampai keluar sendiri? Ayo, cepat masuk."Gisel tersenyum penuh kasih sayang."Tentu saja untuk menunggumu. Aku yang mengatur agar kamu bekerja di bawah bimbingan Reno. Selama ini, pasti kamu sudah banyak bersabar.""Anak itu memang wataknya aneh."Elpira melirik ke arah pria yang berdiri di samping sambil tersenyum lembut. Ujung telinga wanita itu langsung memerah."Pak Reno baik kok. Saya juga nggak merasa diperlakukan dengan buruk."Sambil mengobrol, keduanya berjalan masuk ke dalam rumah.Baru setelah berjalan sekitar lima meter, Gisel seperti teringat sesuatu sehingga menoleh ke belakang. Tatapannya kepadaku terasa jauh lebih dingin dan berjarak dibanding sebelumnya."Olivia juga datang ya. Ayo, masuk. Jangan sampai m

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status