Home / Romansa / 150 Hari Menjadi Pacar si Playboy / Bab 26: Taktik Sang Predator

Share

Bab 26: Taktik Sang Predator

Author: LunaM00n
last update publish date: 2026-09-07 19:15:27

Devan seketika terdiam membeku di tempatnya berdiri. Pikirannya langsung berputar cepat, memutar kembali rekaman memori kejadian di dalam mobil sport beberapa jam yang lalu.

Dia teringat dengan sangat jelas bagaimana Aletta menangis histeris sampai seluruh tubuh mungilnya gemetar parah di bawah cengkeramannya, lalu wanita itu memilih untuk membangun benteng kebohongan dengan mengatakan bahwa dia hanya takut karena ibu kandung Devan ikut campur.

'Jadi... lo bener-bener
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • 150 Hari Menjadi Pacar si Playboy    BAB 73: Konspirasi yang Tercecer

    Devan mengendurkan pelukan kokohnya secara perlahan, namun sepasang mata elangnya yang tajam dan pekat tetap mengunci wajah pucatku. Pria red flag gila kendali itu berbalik tegap menatap Pak Hendra yang masih berdiri kaku di ambang pintu ruang makan, memegang map dokumen perak dengan logo hukum internasional."Bawa berkas itu ke ruang kerja gue sekarang, Hendra," perintah Devan, suara baritonnya yang berat terdengar sangat rendah dan dingin, memotong habis keheningan pagi."Baik, Tuan Devan. Pihak notaris hukum juga sudah menunggu di ruang rapat utama," jawab Pak Hendra taktis sembari membungkuk hormat penuh kepatuhan.Aku menghapus sisa air mata di pipiku dengan gerakan kasar menggunakan punggung tangan, menatap penuh selidik ke arah map perak tersebut. Rasa curiga yang sejak beberapa hari lalu kupendam mendadak kembali mencuat naik ke permukaan, memicu intuisi pelayanku yang tajam. "Berkas apa itu, Devan? Kenapa bawa-bawa nama almarhum Bapak gue?!"

  • 150 Hari Menjadi Pacar si Playboy    BAB 72: Paksaan di Meja Makan dan Berkas Perak

    Pagi harinya, siksaan isolasi mandiri yang kubangun dengan susah payah di dalam kamar sayap barat runtuh berantakan. Dua pelayan pria berbadan tegap masuk tanpa mengetuk pintu atas perintah mutlak Devan, menuntun paksa tubuh lemasku menuruni undakan tangga marmer menuju ruang makan utama mansion. Di ujung meja marmer panjang yang megah, Devan Raditya sudah duduk berwibawa dengan setelan kemeja formal putih tanpa jas, memancarkan dominasi yang mencekik udara pagi."Duduk," perintah Devan singkat. Suara baritonnya yang berat terdengar sangat rendah dan dingin, tidak menerima bantahan apa pun.Aku hanya bisa duduk pasrah di kursi berukir klasik tepat di seberangnya, menatap kosong ke arah piring porselen berisi roti panggang dan selai cokelat pekat yang terletak di hadapanku. Lidahku kaku sewarna linen kusam, enggan mengeluarkan sepotong kata pun untuk merespons keberadaannya di ruangan ini."Hendra bilang lo gak menyentuh makanan sama sekali sejak kemarin,"

  • 150 Hari Menjadi Pacar si Playboy    BAB 71: Keheningan di Balik Tirai yang Terkunci

    Satu minggu berlalu sejak malam jahanam di atas pembatas balkon sayap barat mansion Raditya. Waktu seolah berhenti berputar di dalam kamar megah ini, berubah menjadi genangan keheningan yang teramat pekat. Pintu kaca raksasa menuju balkon luar kini sudah dikunci rapat secara digital atas perintah protektif Devan, sementara tirai sutra tebal berwarna kelabu selalu kubiarkan tertutup rapat tanpa celah.Aku menghabiskan siang dan malam hanya dengan duduk meringkuk pasrah di sudut tempat tidur king-size yang luas. Kedua lenganku memeluk erat bantal beludru abu-abu, menatap kosong ke arah dinding marmer di hadapanku dengan sepasang mata yang bengkak. Kehilangan Arsen telah merampas seluruh daya sangga fisik dan batinku seutuhnya, meninggalkan raga pelayanku yang kini resmi menjadi hiasan bisu di dalam sangkar emas milik sang miliarder red flag.Tok... tok... tok...Suara ketukan pintu yang teramat halus memutus kesunyian kamar tidurku yang dingin. Itu adalah ke

  • 150 Hari Menjadi Pacar si Playboy    BAB 70: Rahasia sang Tangan Kanan

    Cklek.Pintu kaca geser balkon ditutup rapat oleh Devan menggunakan kaki panjangnya, memblokade kepungan angin malam yang dingin jahanam. Pria red flag gila kendali itu sama sekali tidak melepaskan cengkeraman posesifnya pada tubuh kecilku. Dia memboyongku masuk kembali ke dalam kehangatan kamar sayap barat. Tubuh mungilku diletakkan dengan teramat hati-hati di atas permukaan kasur king-size yang berantakan, disusul oleh tubuh tegap menjulangnya yang ikut luruh di sampingku."Lepas, Devan... gue mau sendiri..." bisikku dengan sisa tenaga yang teramat rapuh. Bibirku kaku sewarna linen kusam, sementara kelopak mataku terasa sangat berat karena terkuras habis oleh histeria keputusasaan."Diem, Aletta. Lo gak bakal ke mana-mana malam ini," ketus Devan rendah tepat di atas keningku.Suara baritonnya kembali memancarkan dominasi yang mutlak, namun sepasang lengan kekarnya melingkar protektif membungkus pinggang piyamaku, mengunci seluruh pergerakanku ta

  • 150 Hari Menjadi Pacar si Playboy    BAB 69: Dekapan di Ujung Pembatas

    Angin malam berembus semakin liar dan kencang. Helaian gaun tidur satinku berkibar kasar di atas pagar pembatas balkon lantai dua yang dingin. Sepasang mataku menatap lurus ke arah taman belakang yang gelap gulita tanpa ada kerlip bintang sedikit pun. Di seberang pagar, Devan Raditya berdiri mematung di ambang pintu kaca geser. Wajah tampan pahatannya yang biasanya angkuh, dominan, dan tidak tersentuh kini tampak pucat pasi sewarna linen kusam, menyiratkan cengkeraman ketakutan yang teramat pekat."Aletta, gue bilang turun dari sana!" bentak Devan dengan suara bariton yang meninggi, namun kali ini nada suaranya yang berat terdengar pecah dan bergetar hebat. "Gue mohon... jangan nekat. Jangan main-main sama besi pembatas itu!""Gue nggak main-main, Devan Raditya!" jeritku frustrasi, menumpahkan seluruh air mata kemarahan yang terus-menerus luruh membasahi pipiku yang dingin. Aku mencengkeram besi pagar dengan jemari tangan yang gemetar hebat menahan histeria. "Lo se

  • 150 Hari Menjadi Pacar si Playboy    BAB 68: Kurungan Tirani dan Sudut Balkon

    "Mama keluar sekarang juga dari kamar ini," perintah Devan, suara baritonnya mendadak merendah hingga ke titik beku yang paling ekstrem. Dia bahkan tidak melirik sedikit pun ke arah ibunya.Tiana membelalak lebar, memegangi pipinya yang masih memerah. "Devan! Lo gila?! Cewek miskin ini baru aja nampar Mama di depan muka lo! Kenapa malah Mama yang lo usir?!""Gue bilang keluar, Nyonya Tiana!" bentak Devan menggelegar, kilatan mata elangnya memancarkan kemarahan mutlak seorang iblis yang siap mengamuk. "Jangan pernah berani lo injekin kaki lagi di sayap barat ini atau gue bakal tarik seluruh saham lo di Raditya Group besok pagi!""Lo... lo bener-bener udah dicuci otak sama cewek pembawa sial ini!" teriak Tiana frustrasi sebelum melangkah terburu-buru keluar dan membanting pintu digital dengan keras. Brak!Begitu pintu terkunci otomatis dari luar, Devan langsung membalikkan tubuh tegap menjulangnya menghadapku. Udara di dalam kamar seketika terasa me

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status