ログインKetika mereka baru saja tiba di parkiran motel, mata Julie menangkap sosok yang cukup ia kenal. Sontak, ritme langkahnya semakin cepat untuk mendekati sosok itu, seperti menemukan kenangan lama yang sempat hilang.
"Jeanette!" Panggil Julie. Sosok dengan coat beige setengah lutut itu tampaknya mencari sumber suara yang meneriakkan namanya dari kejauhan. Wajahnya sekejap sumringah, kemudian berlari memeluk Julie, begitu erat, seolah ia mengerti bahwa keputusasaan hampir merenggut nyawa gadis itu.
"Oh Julie. Julie... aku sungguh merindukanmu." suaranya sempat terpatah di tengah kalimat seolah kata-kata itu sungguh ia nantikan untuk dilontarkan. Pelukannya begitu tulus, hingga Julie--yang tengah dirundung luka tanpa sadar meneteskan air matanya.
"Aku selalu menunggumu Julie, setiap harinya aku berharap kau akan menghubungiku kembali. Sudah lima tahun sejak tragedi itu terjadi dan kau yang tiba-tiba menghilang dari kantor, dari London, dari kehidupan semua orang." ujar Jeanette kala itu seraya jemari lentiknya mengusap lembut rambut Julie yang tengah menyandar dan menumpahkan segala kompleksitas emosinya di bahu Jeanette.
Untuk beberapa saat, Julie tenggelam dalam pelukan itu. Ben yang ada di belakangnya hanya melemparkan senyum kepada Jeanette, dan mengangguk pelan, menyiratkan bahwa ia mengerti arti dari pelukan antara kedua sahabat lama itu.
"Maaf, Jean. Aku terlalu sibuk berduka hingga takut untuk menanyakan kabarmu. Aku mulai bekerja di kota asalku sejak tiga tahun lalu. Di sana jauh lebih tenang, tidak berisik seperti London." ucap Julie, dengan perasaan sedikit bersalah.
"Tidak apa, sebenarnya aku tidak pernah benar-benar hilang kontak tentangmu. Selama ini aku selalu meraih kabar dari ibumu."
"Ya... itu... syukurlah" ucap Julie.
"Aku menyesali apa yang terjadi pada ayahmu dan juga... tunanganmu. mereka orang yang sangat baik." ucap Jeanette begitu lembut, terdapat harapan dalam setiap intonasinya bahwa kata-kata itu akan sedikit memberi kekuatan pada Julie.
Tetapi tanpa Jeanette sadari, yang dia katakan barusan bukanlah kata-kata penghiburan yang tepat untuk diterima Julie.
Seolah gemuruh menumpahkan keganasannya di atas kepala, dunia Ben seakan berhenti berputar ketika ia mendapati bahwa sisa-sisa kecil cahaya yang sebelumnya masih ada di balik sorot mata Julie, kini hilang sepenuhnya. Yang ia lihat saat itu, Julie menukikkan sebuah senyuman hampa, tanpa suara, tanpa emosi dibaliknya. Kekosongan kini mulai mengambil alih eksistensi Julie.
"Jean, apa maksudnya tunanganku? Tunanganku, Farley, memangnya dia kenapa? Kami bertemu beberapa hari lalu dan ia tampak baik-baik saja. Apa maksudmu Jean?"
Sudut bibir Jeanette sedikit bergetar, matanya menelusuri wajah Julie yang tampak terperangkap di antara realitas dan delusi. Ia menoleh sekilas ke arah Ben, berharap menemukan jawaban atau setidaknya ada keberanian untuk melanjutkan. Namun Ben pun masih terombang-ambing dalam ombak isi kepalanya sendiri.
"Julie," ucap Jeanette ragu-ragu, suaranya seperti bisikan angin di antara badai. "Farley... dia sudah tiada kan?" lanjutnya memastikan.
Namun di momen itu, Ben berhasil menemukan alasan sebenarnya ia tak menghentikan fakta yang dilemparkan Jeanette kepada Julie, bahwa ia juga ingin agar Julie mengetahui kebenaran yang harus dihadapinya. Sekali pun itu pahit.
Julie tertawa kecil sesaat sebelum tawa itu dalam sekejap berubah menjadi kerutan jelas di antara kedua alisnya. "Kau ini lucu, Jean. Candaanmu keterlaluan, apa maksudmu? Aku bahkan baru bertemu Farley beberapa hari lalu."
Ben kini mendekat perlahan, meraih bahu Julie dengan maksud bahwa mungkin sentuhan itu akan memberikan kekuatan barang sedikit di tengah angin topan yang akan memutar balikkan dunia Julie.
"Coba ingat kembali malam itu, Julie. Apakah Farley memang ada di sana?" meskipun suara itu begitu samar melayang di udara, tetapi Julie dapat mendengarnya sangat jelas, lebih jelas dari memorinya tentang Farley di malam itu.
Seolah seluruh awan-awan yang jatuh dari langit menimpa dirinya, kaki Julie mulai mati rasa.
Sebuah kenyataan, yang benar-benar nyata mulai menghantam kepalanya.
Suara langkah kaki menggema di lorong rumah sakit jiwa yang sunyi. Dinding putih pucat memantulkan cahaya redup dari lampu yang berkelip pelan, seolah enggan menerangi luka-luka tak kasat mata yang tersembunyi dari balik dinding-dinding dingin itu. Ben melangkah di samping Ibu Julie, wajahnya tegang tapi mencoba tetap tenang. Tangannya menggenggam sebuah buket kecil bunga iris, sederhana tapi penuh harap.Saat pintu kamar berderit terbuka, mereka menemukan sosok Julie duduk di tepi ranjang, mata kosongnya menatap jendela kecil yang hanya menampilkan langit pagi yang cerah. Sinar matahari yang lembut menilik masuk ke ruangan. Rambutnya sedikit berantakan, pipinya tirus, namun ada sebersit ketenangan di wajahnya. Seolah dunia yang telah lama membebaninya sedikit melunak. Tatapannya beralih perlahan saat mendengar suara pintu, dan sebuah senyum samar muncul."Julie," bisik ibunya, langkahnya ia pelankan seolah takut suara sepatu akan mengganggu fragilitas ruangan itu. Ia duduk di sampin
Julie tumbuh dalam rumah yang penuh dengan tawa. Ayahnya, seorang pria yang terkenal dengan rasa humor yang menyentuh setiap sudut ruangan, selalu menjadi sosok yang bisa diandalkan. Sedangkan ibunya, meski tampak ambisius, jauh di dalam sana adalah seorang wanita rapuh yang terkekang oleh harapan-harapan terpendam, ingin sekali menjadi sosok sempurna di mata keluarga kecilnya.Farley, tunangannya, adalah pria yang datang seperti hujan di musim kemarau, seperti kehangatan di tengah musim dingin yang panjang, penuh perhatian, dan selalu tahu cara membuatnya tersenyum. Mereka bertemu di suatu malam yang cerah di sebuah pesta kecil milik teman mereka, tempat yang menjadi saksi bisu pertemuan dua jiwa yang akan saling membagi cinta. Farley memiliki impian yang sama dengan Julie, ingin membangun masa depan bersama.Bagi Julie, di antara segala bayang-bayang ketidakpastian yang ada di dunia, Farley adalah satu-satunya orang yang menawarkan kehadiran pasti. Mereka berbicara tentang pernikaha
Dengan dirinya yang masih menyimpan sebagian kecil harapan, seolah ia hanya bergantung hidup pada perasaan itu, Julie bangkit dari tanah tempat ia terlingkup karena sebuah kalimat yang menelan hampir keseluruhan jiwanya."Farley sudah tiada kan?"Harapan yang ada dalam hatinya itu adalah, bahwa semua yang dihadapannya kini adalah kebohongan semata. Dengan kaki yang setengah melangkah, dengan sorot mata yang rancu dan dengan seberkas cahaya kecil dalam kegelapan yang ia jadikan pegangan, Julie mencoba meraih pintu mobil. Berharap segera meninggalkan tempat itu dan membuktikan harapannya yang mungkin kosong."Ayo pergi sekarang, Ben." Ben yang masih berdiri kaku disana, akhirnya tak dapat menahan betapa remuk setiap bagian dari isi hatinya yang masih tersisa, melihat Julie yang hancur di momen itu. Rasa bersalah mulai menghantuinya, rasa bersalah akibat keegoisannya agar Julie segera menyadari kebenaran dan melanjutkan hidup tanpa bayang-bayang Farley. Namun, ia salah. Eksistensi Farle
Ketika mereka baru saja tiba di parkiran motel, mata Julie menangkap sosok yang cukup ia kenal. Sontak, ritme langkahnya semakin cepat untuk mendekati sosok itu, seperti menemukan kenangan lama yang sempat hilang."Jeanette!" Panggil Julie. Sosok dengan coat beige setengah lutut itu tampaknya mencari sumber suara yang meneriakkan namanya dari kejauhan. Wajahnya sekejap sumringah, kemudian berlari memeluk Julie, begitu erat, seolah ia mengerti bahwa keputusasaan hampir merenggut nyawa gadis itu."Oh Julie. Julie... aku sungguh merindukanmu." suaranya sempat terpatah di tengah kalimat seolah kata-kata itu sungguh ia nantikan untuk dilontarkan. Pelukannya begitu tulus, hingga Julie--yang tengah dirundung luka tanpa sadar meneteskan air matanya."Aku selalu menunggumu Julie, setiap harinya aku berharap kau akan menghubungiku kembali. Sudah lima tahun sejak tragedi itu terjadi dan kau yang tiba-tiba menghilang dari kantor, dari London, dari kehidupan semua orang." ujar Jeanette kala itu se
Hening menyelimuti mobil saat Ben mengemudi, hanya diisi suara mesin yang berdengung pelan dan lampu kota yang menari di kaca jendela. Julie duduk terpaku, menatap kosong ke luar, pikirannya berkecamuk seperti badai yang tak kunjung reda."Seharusnya kita minta saja nomor keluarga Beaumont pada orang itu." ujar Ben memecah keheningan."Kau kira aku tidak punya nomor mereka? Nomor itu sudah lama tidak aktif, Ben. Jadi percuma saja." Keluh Julie. Dahinya menampilkan kerutan yang cukup dalam, dan di balik pelupuk mata itu, air matanya sudah terbendung.Ben akhirnya memarkir mobil di sebuah sudut kota yang sepi, jauh dari hiruk-pikuk. Ia mematikan mesin, membiarkan keheningan merayap di antara mereka. "Kita istirahat sebentar. Aku beli air minum dulu." Ben melangkah pergi, langkahnya berat seperti pikirannya yang dipenuhi dengan kecemasan tentang Julie. Lampu dari toko kecil di sudut jalan memantulkan bayangan samar di aspal basah. Ia membeli dua botol air, tangannya gemetar saat membaya
Ben menjemput Julie dengan mobil tuanya yang berderit pelan saat melewati jalanan kota yang basah setelah hujan. Radio memutar lagu lama yang tak dikenal Julie, tapi Ben tetap bersenandung pelan, mencoba mencairkan suasana. Julie hanya diam, menatap keluar jendela, pikirannya melayang entah ke mana."Tidak usah tegang, Smith kenalan lamaku. Orangnya hangat, jangan begitu khawatir," kata Ben sambil melirik sekilas ke arah Julie. Julie masih tampak kesal."Lain kali ucapan ibuku jangan terlalu didengar. Dia selalu menjadwalkan terapi untukku, tapi kali ini sampai minta rekomendasi darimu. Sejak ayahku meninggal, dia memperlakukanku seperti orang gila," keluh Julie."Sudahlah, mungkin ibumu hanya ingin menghilangkan rasa khawatirnya," hibur Ben.Di tengah obrolan itu, Julie merogoh saku dan mengambil ponselnya dari sana. Jemarinya dengan cepat mengetikkan satu nama untuk dihubungi. "Aku harus mengabari Farley," ucapnya.Namun entah berapa kali pun panggilan yang ia lakukan, tak ada balas
Ketika aku remaja, aku selalu terganggu setiap kali seseorang berbicara tentang suatu kehilangan. Ucapan tentang kepergian seseorang yang begitu kita cintai selalu membuat pikiranku terasa terhimpit. Aku membenci bagaimana perasaan itu menggelayuti diriku, perasaan yang membuat dada terasa sesak ha
Ketika denting jam dinding hampir menabrak angka sepuluh, Julie terbangun dengan kepala yang terasa sedikit berat, diikuti suara ketukan lembut di pintu kamarnya. Dia mengerjap beberapa kali, lalu duduk di tepi ranjang, berusaha mengumpulkan kesadarannya. Dengan enggan, ia bangkit dari selimut yang







