Mag-log inHening menyelimuti mobil saat Ben mengemudi, hanya diisi suara mesin yang berdengung pelan dan lampu kota yang menari di kaca jendela. Julie duduk terpaku, menatap kosong ke luar, pikirannya berkecamuk seperti badai yang tak kunjung reda.
"Seharusnya kita minta saja nomor keluarga Beaumont pada orang itu." ujar Ben memecah keheningan.
"Kau kira aku tidak punya nomor mereka? Nomor itu sudah lama tidak aktif, Ben. Jadi percuma saja." Keluh Julie. Dahinya menampilkan kerutan yang cukup dalam, dan di balik pelupuk mata itu, air matanya sudah terbendung.
Ben akhirnya memarkir mobil di sebuah sudut kota yang sepi, jauh dari hiruk-pikuk. Ia mematikan mesin, membiarkan keheningan merayap di antara mereka. "Kita istirahat sebentar. Aku beli air minum dulu."
Ben melangkah pergi, langkahnya berat seperti pikirannya yang dipenuhi dengan kecemasan tentang Julie. Lampu dari toko kecil di sudut jalan memantulkan bayangan samar di aspal basah. Ia membeli dua botol air, tangannya gemetar saat membayar, seolah tubuhnya tahu apa yang pikirannya coba sembunyikan.
Saat kembali, Ben berhenti beberapa langkah dari mobil. Melalui jendela buram yang dipenuhi embun, ia melihat Julie. Gadis itu menangis sejadi-jadinya di sana, wajahnya tersembunyi di balik kedua tangannya, bahunya terguncang hebat. Tangisan yang bukan sekedar sedih, tapi putus asa, seperti seseorang yang terdampar di tengah laut tanpa pelampung.
Ben berdiri kaku, hatinya seperti diremas melihat pemandangan itu. Ia membuka pintu mobil perlahan, duduk di kursi pengemudi tanpa berkata apa-apa. Ia hanya menatap Julie, matanya penuh kekhawatiran dan rasa bersalah.
"Julie." suaranya parau, pelan, seolah takut merusak fragilitas momen itu.
Julie menghapus air matanya dengan kasar, tapi tangisnya tak berhenti. "Aku lelah Ben. Semakin aku coba raih, rasanya dia semakin jauh. Ini sia-sia."
Ben meletakkan botol air di jok belakang, lalu meraih wajah Julie dengan tangannya, jari-jarinya yang dingin menyentuh pipi Julie yang basah. Ben terpaku pada bola mata sosok yang dulu ia kenal penuh cahaya, kini remuk dalam bayang-bayang luka yang tak bisa ia sembuhkan. Air mata Julie jatuh tanpa suara, tapi bagi Ben, tangisan itu lebih bising daripada apa pun. Rasanya seperti melihat seseorang tenggelam perlahan, sementara ia berdiri di tepian, tangan terulur tapi tak pernah cukup panjang untuk menyelamatkan.
"Tidak ada yang sia-sia. Kita coba lagi di lain waktu. Aku akan selalu disini sampai akhir." Suaranya pecah di akhir kalimat, seolah kata-kata itu terlalu berat untuk diucapkan.
Julie menatap Ben, matanya merah dan bengkak, seperti seluruh dunia telah menumpahkan bebannya ke dalam sorot itu. Tak ada kata-kata, hanya hening yang menggantung di antara mereka. Dan dalam keheningan itu, mereka perlahan bergerak bersamaan, seperti dua pecahan yang patah, saling tertarik bukan karena harapan, tapi karena mencari sebuah perlindungan sesaat dari pikiran yang terombang-ambing.
Bibir mereka bertemu dalam ciuman yang bukan tentang cinta yang sederhana, melainkan tentang luka yang terlalu berat untuk ditanggung sendirian. Itu bukan ciuman yang manis atau penuh janji. Itu ciuman yang rapuh, dan getir, sebuah upaya putus asa untuk menambal bagian-bagian jiwa mereka yang mulai hancur tak bersisa. Jari-jari Ben mencengkeram wajah Julie seolah takut jika ia melepaskan, gadis itu akan menghilang selamanya. Sementara Julie mencium Ben untuk mencoba sembunyi dari kebisingan dunia yang ia tempati.
Ciuman itu hanya sebuah kejujuran paling mentah untuk mencari perlindungan sesaat. Mereka sama-sama hancur, dan mencoba untuk tidak tenggelam.
Namun di tengah derasnya emosi, Julie tiba-tiba tersadar. Ia menarik diri, napasnya terengah-engah. Tatapannya buram oleh air mata yang tertahan.
"Ben kita seharusnya tidak melakukan ini," suaranya serak, penuh penyesalan.
Ben menunduk, mencoba mengatur napas. "Maaf. Aku hanya... tidak ingin melihatmu hancur seperti ini. Maafkan aku, Julie. Aku benar-benar menyesal." Ben mengenggelamkan wajahnya di kedua telapak tangan, berulang kali ia usapkan wajahnya dengan kasar, ia berpikir keras cara untuk menghukum dirinya sendiri karena melakukan hal yang tak seharusnya di momentum seperti ini.
Julie menggeleng pelan, menahan air matanya. "Aku tahu. Tapi kita tiba di sini untuk mencari Farley. Ini salah." tetapi Julie segera meraih tangan Ben. "Ayo pulang, kau kelihatan sudah lelah." sambungnya.
Ben mengangguk, menatap ke depan, mencoba menelan perasaannya yang bercampur aduk. Julie menyandarkan kepalanya di jendela, memejamkan mata, mencoba menenangkan pikirannya yang berantakan. Mereka terdiam, hanya ditemani suara detak jantung mereka yang masih berpacu cepat.
Malam itu terasa lebih dingin dari biasanya, seolah kota pun ikut merasakan kekacauan yang mengisi hati mereka.
***
Hujan tipis mulai turun saat mobil melaju di jalanan, lampu-lampu kota memantulkan cahaya redup di kaca mobilnya. Julie masih memejamkan mata, tapi serpihan memorinya masih menari-nari di udara. Sementara itu, Ben mencoba fokus pada jalanan di depannya, meski pikirannya berkelana ke percakapan dan ciuman yang baru saja terjadi.
Setelah beberapa saat, Ben memberanikan diri untuk berbicara, suaranya pelan nyaris tenggelam oleh suara hujan yang menabuh kaca depan. "Julie, aku tahu ini berat untukmu. Tapi apa kau benar-benar yakin Farley... masih di luar sana?"
Julie membuka matanya perlahan, menatap ke depan tanpa benar-benar melihat. "Aku ingat dia dengan jelas. Aku ingat kata-katanya sebelum pergi. Itu bukan delusi sesaat."
Ben menggenggam erat setir, menahan desakan kata-kata yang ingin keluar. "Baiklah, aku hanya mencoba-"
"Jangan." suara julie mengeras di tengah bisingnya air hujan yang menjatuhi tanah, "Aku tidak ingin mendengar apa pun untuk sekarang."
Ben mengangguk pelan, menelan kekhawatirannya. Mereka melanjutkan perjalanan dalam diam, masing-masing tenggelam dalam pikiran mereka sendiri.
Mereka tiba di sebuah motel kecil di pinggiran kota. Bangunannya tampak tua, dengan lampu warm white yang berkelap-kelip bertuliskan APRICITY. Ben memarkir mobil dan mereka turun, disambut udara dingin yang menusuk. Setelah check-in, mereka masuk ke kamar yang sederhana, hanya ada dua ranjang single, meja kecil, dan lampu temaram.
Julie duduk di tepi ranjang, melepaskan sepatu dengan gerakan lambat. Ben berdiri di dekat jendela, menatap hujan yang semakin deras sembari ia juga memandangi lampu APRICITY yang terlihat dari jendela kamar mereka.
Menyadari apa yang Ben pandangi sejak beberapa saat lalu, Julie pun kini ikut mengarahkan sorot matanya di titik yang sama.
"Tidurlah Ben, sepertinya hujan tidak akan berhenti malam ini." ucap Julie pelan.
"Julie." panggil Ben begitu lembut, hampir tidak terdengar di tengah bisingnya suara hujan yang menghantam jendela kamar mereka. "Apa kau tahu arti di balik nama motel ini?"
Julie tersenyum kecil dengan mengangkat kedua alisnya. "Apa?"
"Kehangatan di musim dingin. Saat rasa dingin menusuk tulang, cahaya matahari yang redup turun ke tanah. Kehangatan kecil yang membuat kita dapat hidup sedikit lebih lama, Apricity." suaranya parau, hampir terhenti karena sendatan pilu di tenggorokannya. "Mungkin karena motel ini dibangun di tengah jalanan yang panjang jadi dinamakan seperti itu. Tempat singgah yang hangat setelah perjalanan yang melelahkan." sambungnya.
Julie mengangguk pelan dengan matanya kini tertuju pada Ben, tanpa suara.
Ben berbalik, menatap Julie yang duduk dengan punggung sedikit membungkuk, seolah memikul beban yang terlalu berat. "Aku sungguh berharap, di perjalananmu yang panjang ini, kehadiranku dapat memberimu rasa hangat yang nyaman, seperti apricity." ucapnya dengan senyuman kecil yang begitu samar.
Napas Julie tersendat. kata-kata itu merembes ke dalam relung hatinya yang remuk, seolah memberi sebuah penawar yang mungkin hanya akan membebaskannya dari rasa sakit untuk sementara. Meski begitu, kata-kata Ben yang sederhana cukup menghiburnya. Julie tersenyum bersama air yang menggenang di pelupuk matanya. "Aku senang kau ada disini, bersamaku."
Keesokan paginya, matahari samar-samar menyelinap di balik tirai kamar. Julie terbangun lebih dulu, duduk di tepi ranjang, menatap keluar jendela dengan mata kosong. Ingatan samar tentang Farley memenuhi benaknya, tawa mereka di kafe kecil, tatapan hangatnya saat mereka berbicara tentang masa depan yang kini terasa seperti mimpi yang remuk.
Ben terbangun tak lama kemudian, mengusap matanya dan menatap Julie yang masih dalam posisi yang sama. "Kau baik-baik saja?" tanyanya pelan.
Julie mengangguk, meski hatinya berkata sebaliknya. "Ayo pulang."
Suara langkah kaki menggema di lorong rumah sakit jiwa yang sunyi. Dinding putih pucat memantulkan cahaya redup dari lampu yang berkelip pelan, seolah enggan menerangi luka-luka tak kasat mata yang tersembunyi dari balik dinding-dinding dingin itu. Ben melangkah di samping Ibu Julie, wajahnya tegang tapi mencoba tetap tenang. Tangannya menggenggam sebuah buket kecil bunga iris, sederhana tapi penuh harap.Saat pintu kamar berderit terbuka, mereka menemukan sosok Julie duduk di tepi ranjang, mata kosongnya menatap jendela kecil yang hanya menampilkan langit pagi yang cerah. Sinar matahari yang lembut menilik masuk ke ruangan. Rambutnya sedikit berantakan, pipinya tirus, namun ada sebersit ketenangan di wajahnya. Seolah dunia yang telah lama membebaninya sedikit melunak. Tatapannya beralih perlahan saat mendengar suara pintu, dan sebuah senyum samar muncul."Julie," bisik ibunya, langkahnya ia pelankan seolah takut suara sepatu akan mengganggu fragilitas ruangan itu. Ia duduk di sampin
Julie tumbuh dalam rumah yang penuh dengan tawa. Ayahnya, seorang pria yang terkenal dengan rasa humor yang menyentuh setiap sudut ruangan, selalu menjadi sosok yang bisa diandalkan. Sedangkan ibunya, meski tampak ambisius, jauh di dalam sana adalah seorang wanita rapuh yang terkekang oleh harapan-harapan terpendam, ingin sekali menjadi sosok sempurna di mata keluarga kecilnya.Farley, tunangannya, adalah pria yang datang seperti hujan di musim kemarau, seperti kehangatan di tengah musim dingin yang panjang, penuh perhatian, dan selalu tahu cara membuatnya tersenyum. Mereka bertemu di suatu malam yang cerah di sebuah pesta kecil milik teman mereka, tempat yang menjadi saksi bisu pertemuan dua jiwa yang akan saling membagi cinta. Farley memiliki impian yang sama dengan Julie, ingin membangun masa depan bersama.Bagi Julie, di antara segala bayang-bayang ketidakpastian yang ada di dunia, Farley adalah satu-satunya orang yang menawarkan kehadiran pasti. Mereka berbicara tentang pernikaha
Dengan dirinya yang masih menyimpan sebagian kecil harapan, seolah ia hanya bergantung hidup pada perasaan itu, Julie bangkit dari tanah tempat ia terlingkup karena sebuah kalimat yang menelan hampir keseluruhan jiwanya."Farley sudah tiada kan?"Harapan yang ada dalam hatinya itu adalah, bahwa semua yang dihadapannya kini adalah kebohongan semata. Dengan kaki yang setengah melangkah, dengan sorot mata yang rancu dan dengan seberkas cahaya kecil dalam kegelapan yang ia jadikan pegangan, Julie mencoba meraih pintu mobil. Berharap segera meninggalkan tempat itu dan membuktikan harapannya yang mungkin kosong."Ayo pergi sekarang, Ben." Ben yang masih berdiri kaku disana, akhirnya tak dapat menahan betapa remuk setiap bagian dari isi hatinya yang masih tersisa, melihat Julie yang hancur di momen itu. Rasa bersalah mulai menghantuinya, rasa bersalah akibat keegoisannya agar Julie segera menyadari kebenaran dan melanjutkan hidup tanpa bayang-bayang Farley. Namun, ia salah. Eksistensi Farle
Ketika mereka baru saja tiba di parkiran motel, mata Julie menangkap sosok yang cukup ia kenal. Sontak, ritme langkahnya semakin cepat untuk mendekati sosok itu, seperti menemukan kenangan lama yang sempat hilang."Jeanette!" Panggil Julie. Sosok dengan coat beige setengah lutut itu tampaknya mencari sumber suara yang meneriakkan namanya dari kejauhan. Wajahnya sekejap sumringah, kemudian berlari memeluk Julie, begitu erat, seolah ia mengerti bahwa keputusasaan hampir merenggut nyawa gadis itu."Oh Julie. Julie... aku sungguh merindukanmu." suaranya sempat terpatah di tengah kalimat seolah kata-kata itu sungguh ia nantikan untuk dilontarkan. Pelukannya begitu tulus, hingga Julie--yang tengah dirundung luka tanpa sadar meneteskan air matanya."Aku selalu menunggumu Julie, setiap harinya aku berharap kau akan menghubungiku kembali. Sudah lima tahun sejak tragedi itu terjadi dan kau yang tiba-tiba menghilang dari kantor, dari London, dari kehidupan semua orang." ujar Jeanette kala itu se
Hening menyelimuti mobil saat Ben mengemudi, hanya diisi suara mesin yang berdengung pelan dan lampu kota yang menari di kaca jendela. Julie duduk terpaku, menatap kosong ke luar, pikirannya berkecamuk seperti badai yang tak kunjung reda."Seharusnya kita minta saja nomor keluarga Beaumont pada orang itu." ujar Ben memecah keheningan."Kau kira aku tidak punya nomor mereka? Nomor itu sudah lama tidak aktif, Ben. Jadi percuma saja." Keluh Julie. Dahinya menampilkan kerutan yang cukup dalam, dan di balik pelupuk mata itu, air matanya sudah terbendung.Ben akhirnya memarkir mobil di sebuah sudut kota yang sepi, jauh dari hiruk-pikuk. Ia mematikan mesin, membiarkan keheningan merayap di antara mereka. "Kita istirahat sebentar. Aku beli air minum dulu." Ben melangkah pergi, langkahnya berat seperti pikirannya yang dipenuhi dengan kecemasan tentang Julie. Lampu dari toko kecil di sudut jalan memantulkan bayangan samar di aspal basah. Ia membeli dua botol air, tangannya gemetar saat membaya
Ben menjemput Julie dengan mobil tuanya yang berderit pelan saat melewati jalanan kota yang basah setelah hujan. Radio memutar lagu lama yang tak dikenal Julie, tapi Ben tetap bersenandung pelan, mencoba mencairkan suasana. Julie hanya diam, menatap keluar jendela, pikirannya melayang entah ke mana."Tidak usah tegang, Smith kenalan lamaku. Orangnya hangat, jangan begitu khawatir," kata Ben sambil melirik sekilas ke arah Julie. Julie masih tampak kesal."Lain kali ucapan ibuku jangan terlalu didengar. Dia selalu menjadwalkan terapi untukku, tapi kali ini sampai minta rekomendasi darimu. Sejak ayahku meninggal, dia memperlakukanku seperti orang gila," keluh Julie."Sudahlah, mungkin ibumu hanya ingin menghilangkan rasa khawatirnya," hibur Ben.Di tengah obrolan itu, Julie merogoh saku dan mengambil ponselnya dari sana. Jemarinya dengan cepat mengetikkan satu nama untuk dihubungi. "Aku harus mengabari Farley," ucapnya.Namun entah berapa kali pun panggilan yang ia lakukan, tak ada balas
Ketika aku remaja, aku selalu terganggu setiap kali seseorang berbicara tentang suatu kehilangan. Ucapan tentang kepergian seseorang yang begitu kita cintai selalu membuat pikiranku terasa terhimpit. Aku membenci bagaimana perasaan itu menggelayuti diriku, perasaan yang membuat dada terasa sesak ha
Ketika denting jam dinding hampir menabrak angka sepuluh, Julie terbangun dengan kepala yang terasa sedikit berat, diikuti suara ketukan lembut di pintu kamarnya. Dia mengerjap beberapa kali, lalu duduk di tepi ranjang, berusaha mengumpulkan kesadarannya. Dengan enggan, ia bangkit dari selimut yang







