
3 Stages of Grief
Ada empat tahap dalam menghadapi duka: penolakan, kemarahan, depresi, dan penerimaan. Setiap orang berjuang dengan cara yang berbeda, dan tak semua bisa melewati tahap terakhir dengan sempurna.
Juliette, setelah lima tahun berpisah dari tunangannya, Farley, merasa seolah hidupnya mulai kembali menemukan ritme saat mereka memutuskan untuk bertemu lagi. Pertemuan itu seolah sinar matahari yang menembus celah dedaunan menjelang petang. Tapi kebahagiaan itu hanya bertahan sesaat. Keesokan harinya, sesuatu yang aneh mulai terjadi. Setiap orang yang ia temui, mulai dari teman hingga keluarganya, memberikan respon seolah pertemuan itu bukanlah suatu hal yang patut dijadikan kebahagiaan.
"Kenapa mereka semua bersikap begitu?" pikir Juliette, tak mengerti apa yang terjadi di sekitarnya. Apa yang sebenarnya tersembunyi di balik pertemuan mereka? Apakah Farley memang benar-benar kembali untuknya, atau ada rahasia yang lebih gelap yang menyelimuti masa lalu mereka?
Perjalanan Juliette dalam menghadapi kenangan yang hilang dan kebenaran yang terpendam membawanya pada sebuah pencarian, di mana duka bukan hanya tentang kehilangan, tetapi juga tentang menemukan kembali bagian dari dirinya yang terlupakan.
อ่าน
Chapter: 8. The Tender Warmth That Conceals You from BrutalitySuara langkah kaki menggema di lorong rumah sakit jiwa yang sunyi. Dinding putih pucat memantulkan cahaya redup dari lampu yang berkelip pelan, seolah enggan menerangi luka-luka tak kasat mata yang tersembunyi dari balik dinding-dinding dingin itu. Ben melangkah di samping Ibu Julie, wajahnya tegang tapi mencoba tetap tenang. Tangannya menggenggam sebuah buket kecil bunga iris, sederhana tapi penuh harap.Saat pintu kamar berderit terbuka, mereka menemukan sosok Julie duduk di tepi ranjang, mata kosongnya menatap jendela kecil yang hanya menampilkan langit pagi yang cerah. Sinar matahari yang lembut menilik masuk ke ruangan. Rambutnya sedikit berantakan, pipinya tirus, namun ada sebersit ketenangan di wajahnya. Seolah dunia yang telah lama membebaninya sedikit melunak. Tatapannya beralih perlahan saat mendengar suara pintu, dan sebuah senyum samar muncul."Julie," bisik ibunya, langkahnya ia pelankan seolah takut suara sepatu akan mengganggu fragilitas ruangan itu. Ia duduk di sampin
ปรับปรุงล่าสุด: 2026-02-19
Chapter: 7. The ApricityJulie tumbuh dalam rumah yang penuh dengan tawa. Ayahnya, seorang pria yang terkenal dengan rasa humor yang menyentuh setiap sudut ruangan, selalu menjadi sosok yang bisa diandalkan. Sedangkan ibunya, meski tampak ambisius, jauh di dalam sana adalah seorang wanita rapuh yang terkekang oleh harapan-harapan terpendam, ingin sekali menjadi sosok sempurna di mata keluarga kecilnya.Farley, tunangannya, adalah pria yang datang seperti hujan di musim kemarau, seperti kehangatan di tengah musim dingin yang panjang, penuh perhatian, dan selalu tahu cara membuatnya tersenyum. Mereka bertemu di suatu malam yang cerah di sebuah pesta kecil milik teman mereka, tempat yang menjadi saksi bisu pertemuan dua jiwa yang akan saling membagi cinta. Farley memiliki impian yang sama dengan Julie, ingin membangun masa depan bersama.Bagi Julie, di antara segala bayang-bayang ketidakpastian yang ada di dunia, Farley adalah satu-satunya orang yang menawarkan kehadiran pasti. Mereka berbicara tentang pernikaha
ปรับปรุงล่าสุด: 2026-02-19
Chapter: 6. Sweet LiesDengan dirinya yang masih menyimpan sebagian kecil harapan, seolah ia hanya bergantung hidup pada perasaan itu, Julie bangkit dari tanah tempat ia terlingkup karena sebuah kalimat yang menelan hampir keseluruhan jiwanya."Farley sudah tiada kan?"Harapan yang ada dalam hatinya itu adalah, bahwa semua yang dihadapannya kini adalah kebohongan semata. Dengan kaki yang setengah melangkah, dengan sorot mata yang rancu dan dengan seberkas cahaya kecil dalam kegelapan yang ia jadikan pegangan, Julie mencoba meraih pintu mobil. Berharap segera meninggalkan tempat itu dan membuktikan harapannya yang mungkin kosong."Ayo pergi sekarang, Ben." Ben yang masih berdiri kaku disana, akhirnya tak dapat menahan betapa remuk setiap bagian dari isi hatinya yang masih tersisa, melihat Julie yang hancur di momen itu. Rasa bersalah mulai menghantuinya, rasa bersalah akibat keegoisannya agar Julie segera menyadari kebenaran dan melanjutkan hidup tanpa bayang-bayang Farley. Namun, ia salah. Eksistensi Farle
ปรับปรุงล่าสุด: 2026-02-19
Chapter: 5. A Room Without RealityKetika mereka baru saja tiba di parkiran motel, mata Julie menangkap sosok yang cukup ia kenal. Sontak, ritme langkahnya semakin cepat untuk mendekati sosok itu, seperti menemukan kenangan lama yang sempat hilang."Jeanette!" Panggil Julie. Sosok dengan coat beige setengah lutut itu tampaknya mencari sumber suara yang meneriakkan namanya dari kejauhan. Wajahnya sekejap sumringah, kemudian berlari memeluk Julie, begitu erat, seolah ia mengerti bahwa keputusasaan hampir merenggut nyawa gadis itu."Oh Julie. Julie... aku sungguh merindukanmu." suaranya sempat terpatah di tengah kalimat seolah kata-kata itu sungguh ia nantikan untuk dilontarkan. Pelukannya begitu tulus, hingga Julie--yang tengah dirundung luka tanpa sadar meneteskan air matanya."Aku selalu menunggumu Julie, setiap harinya aku berharap kau akan menghubungiku kembali. Sudah lima tahun sejak tragedi itu terjadi dan kau yang tiba-tiba menghilang dari kantor, dari London, dari kehidupan semua orang." ujar Jeanette kala itu se
ปรับปรุงล่าสุด: 2025-08-08
Chapter: 4. The Future I Long ForHening menyelimuti mobil saat Ben mengemudi, hanya diisi suara mesin yang berdengung pelan dan lampu kota yang menari di kaca jendela. Julie duduk terpaku, menatap kosong ke luar, pikirannya berkecamuk seperti badai yang tak kunjung reda."Seharusnya kita minta saja nomor keluarga Beaumont pada orang itu." ujar Ben memecah keheningan."Kau kira aku tidak punya nomor mereka? Nomor itu sudah lama tidak aktif, Ben. Jadi percuma saja." Keluh Julie. Dahinya menampilkan kerutan yang cukup dalam, dan di balik pelupuk mata itu, air matanya sudah terbendung.Ben akhirnya memarkir mobil di sebuah sudut kota yang sepi, jauh dari hiruk-pikuk. Ia mematikan mesin, membiarkan keheningan merayap di antara mereka. "Kita istirahat sebentar. Aku beli air minum dulu." Ben melangkah pergi, langkahnya berat seperti pikirannya yang dipenuhi dengan kecemasan tentang Julie. Lampu dari toko kecil di sudut jalan memantulkan bayangan samar di aspal basah. Ia membeli dua botol air, tangannya gemetar saat membaya
ปรับปรุงล่าสุด: 2025-06-23
Chapter: 3. Apa Kamu Ingat?Ben menjemput Julie dengan mobil tuanya yang berderit pelan saat melewati jalanan kota yang basah setelah hujan. Radio memutar lagu lama yang tak dikenal Julie, tapi Ben tetap bersenandung pelan, mencoba mencairkan suasana. Julie hanya diam, menatap keluar jendela, pikirannya melayang entah ke mana."Tidak usah tegang, Smith kenalan lamaku. Orangnya hangat, jangan begitu khawatir," kata Ben sambil melirik sekilas ke arah Julie. Julie masih tampak kesal."Lain kali ucapan ibuku jangan terlalu didengar. Dia selalu menjadwalkan terapi untukku, tapi kali ini sampai minta rekomendasi darimu. Sejak ayahku meninggal, dia memperlakukanku seperti orang gila," keluh Julie."Sudahlah, mungkin ibumu hanya ingin menghilangkan rasa khawatirnya," hibur Ben.Di tengah obrolan itu, Julie merogoh saku dan mengambil ponselnya dari sana. Jemarinya dengan cepat mengetikkan satu nama untuk dihubungi. "Aku harus mengabari Farley," ucapnya.Namun entah berapa kali pun panggilan yang ia lakukan, tak ada balas
ปรับปรุงล่าสุด: 2025-02-18