8. Dinner

Dinner

Setiap orang memiliki bekas luka yang ingin mereka sembunyikan. Bersyukurlah jika luka itu hanya di luar, bukan di hati yang meski bisa disembunyikan tetapi sulit untuk disembuhkan.

"Kau lelah?" Chiaki mengusap punggung telanjang Crystal yang masih lembap akibat keringat yang membasahi tubuhnya saat mereka bercinta beberapa menit yang lalu. 

Crystal menggeleng pelan, tetapi menyadari Chiaki mungkin tidak melihatnya, ia menyahut, "Tidak juga." 

"Apa itu berarti itu kau menginginkan kita bercinta lagi?" 

Crystal mendongakkan kepalanya, matanya menatap Chiaki dengan ragu-ragu.

"Katakan saja, jangan ragu ataupun merasa malu," ucap Chiaki dengan nada sangat lembut. 

Darah Crystal terasa memanas dan jantungnya seolah mencelus. "Jika kau menginginkan, aku tidak akan menolak karena kau pemenangnya." 

Chiaki mempermainkan rambut yang tergerai di punggung Crystal. "Cryst, bercinta tidak termasuk dalam perjanjian satu Minggu." 

Bibir Crystal terbuka sedikit, ia menatap Chiaki dengan tatapan protes. 

"Bercinta denganku adalah kewajibanmu selama menjadi milikku." 

Ada rasa sesak mengimpit dada Crystal karena ucapan Chiaki, tetapi bukankah sejak awal perjanjian mereka memang demikian? Ia menabahkan perasaannya lalu berucap, "Bisakah kita mematikan lampu saat bercinta?" 

Chiaki menatap Crystal dengan tatapan tidak suka. "Agar aku tidak melihat kau memejamkan matamu?" 

Cara Chiaki bertanya terdengar sangat dingin, ekspresinya juga mendadak berubah tidak selembut beberapa detik yang lalu, bahkan tatapan mata perunggunya tampak sedikit berkilat seolah ada bara di sana. 

Crystal menelan ludah lalu dengan lambat-lambat ia berucap, "Dinding di sini terbuat dari kaca, aku hanya khawatir ada orang yang menyaksikan kita...." 

Seperti angin, itulah Chiaki yang tidak Crystal pahami. Tatapan matanya melembut seketika, begitu ekspresinya. "Kita berada di gedung tertinggi di sekitar sini, kacanya sangat tebal, dan anti peluru." 

Crytsal mengerjapkan matanya beberapa kali lalu menatap Chiaki seolah tidak percaya tanpa berkomentar.

"Besok kita buktikan dengan menggunakan helikopter jika kau tidak percaya, kau juga boleh menembaknya beberapa kali, lagi pula jika ada orang yang berani melihat tubuh wanita milikku...." Rahang Chiaki tampak mengeras saat menjeda ucapannya. "Akan kucungkil matanya," katanya dengan gigi yang terkatup.

Chiaki mengusap bibir Crystal menggunakan ibu jarinya, matanya menatap bibir itu dengan tatapan lapar kemudian memagutnya kembali dengan rakus. Menggebu-gebu dan sedikit kasar seperti biasa.

Crystal membalas cumbuan bibir Chiaki dengan tidak kalah bergairah, ia menerima cumbuan bibir Chiaki dengan lebih terbuka seolah-olah ia telah menghapus jarak di antara mereka. Ia mengerang, mendambakan Chiaki berada di dalam tubuhnya kembali.

Ia bahkan telah merangkak di atas tubuh Chiaki seolah-olah ia lebih lapar dibandingkan pria itu. 

Ketika tautan bibir mereka terlepas, Crystal menatap Chiaki dengan tatapan mendamba. Napasnya terengah-engah hingga jelas terlihat dadanya naik turun karena gairah.

Chiaki menyentuh kedua ujung puncak dada Crystal yang tampak mengeras. "Apa jau ingin mengulang penilaian kita lagi?"

Crystal membusungkan dadanya, ia menggigit bibi bawahnya yang penuh sementara kepalanya sedikit condong ke belakang. Ia menjerit tertahan ketika Chiaki menarik puncak dadanya lalu memilinnya perlahan, tetapi menggoda. 

"Jika kau belum yakin dengan skormu, kita bisa menggunakan jam pasir lagi." 

Pertama mereka melakukan tiga jam yang lalu, Chiaki memasrahkan Crystal untuk mengambil kendali di awal permainan. Crystal berada di posisi atas dengan pertaruhan jika ia menghabiskan waktu dari jam pasir kecil yang berjangka waktu lima belas menit, maka ia adalah pemenangnya.

Sayangnya, saat Crystal baru saja membenamkan Chiaki ke dalam tubuhnya dan bergerak beberapa kali, ia telah ambruk di atas dada pria itu karena badai memorak-porandakan dirinya hingga ia meledak dalam waktu kurang dari dua menit.

Ada yang salah.

Crystal meyakini hal itu. Mungkin karena ia telah terlalu lama tidak bercinta membuatnya terlalu bergairah, ia ingin membuktikan jika teorinya itu benar. Ia menunduk, mengecup sudut bibir Chiaki lalu perlahan bibirnya menyusuri kulit pria itu.

Menggoda setiap jengkal kulit Chiaki yang beraroma khas pria dengan parfum mahal hingga ia mendapatkan sesuatu yang keras di antara paha pria itu. 

Ia berhenti sejenak, menatap benda itu dengan saksama, mengamati setiap otot yang tersusun rapi, tanpa cela, lalu perlahan menyentuhnya. Benda itu keras, besar, panas, tetapi lembut. Ia mendekatkan bibirnya ke benda yang ada di tangannya lalu mengecup ujungnya, lidahnya perlahan menjilati benda itu seolah benda itu adalah sesuatu menyenangkan yang sayang untuk dilewatkan begitu saja. 

"Crys, sekarang," geram Chiaki yang satu tangannya mencengkeram rambut di kepala bagian belakang Crystal. 

Crystal tidak memedulikan Chiaki, ia semakin menggoda Chiaki menggunakan mulutnya, memasukkan benda itu ke dalam mulutnya lalu menggerakkan kepalanya maju mundur tanpa ampun.

Tidak ingin meledak di dalam mulut Crystal, Chiaki menghentikan Crystal, mengubah posisi mereka. 

"Kau lebih dulu," ujar Chiaki kepada Crystal yang berada di atasnya.

Crystal menggelengkan kepalanya. "Aku ingin,kau lebih dulu." 

"Kau yakin?" Chiaki bertanya dengan nada sangat lembut, selembut tatapan matanya yang menyorot Crytsal seolah hanya Crystal yang ia lihat. 

Crystal mengangguk. 

Chiaki tetap memosisikan Crystal di atasnya lalu perlahan membuat tubuh mereka bersatu. "Apa kau ingin menghitung skor lagi?" 

Satu telapak tangannya mengusap punggung Crystal pelan, sementara pinggulnya bergerak perlahan. Satu tangannya meraba dada Crystal yang tidak terlalu besar tetapi sangat pas di telapak tangannya. Benda itu kenyal dan mengeras, sangat menggairahkan.

"Kurasa itu tidak berguna," erang Crystal dengan napas terengah-engah, ia menggigit bibir bawahnya hingga giginya menancap di sana.

Tidak ada yang salah, yang salah adalah ukuran Chiaki yang sangat pas di dalam tubuhnya hingga seolah menyentuh seluruh titik terdalamnya. 

"Chiaki, cium aku," erang Crystal tanpa malu-malu.

Chiaki memberikan apa yang Crystal inginkan, pria itu memagut bibir Crytsal, membiarkan Crystal menghisap bibirnya seolah ia sedang memuaskan dahaganya. Chiaki merasakan jika Crystal mencengkeramnya dengan erat dan gadis itu bergerak semakin liar sebelum akhirnya memeluknya dengan erat sambil menjerit karena mendapatkan pelepasannya.

Chiaki mengecup puncak kepala Crystal. "Kau pasti lelah. Istirahatlah." 

Crystal menjauhkan kepalanya dari ceruk leher Chiaki. "Aku tidak mengantuk." Lagi pula ia telah tidur siang cukup lama dan tidak adil bagi Chiaki jika tidak menyelesaikan permainannya. Crytsal menyingkirkan rambut di wajah Chiaki. "Lanjutkan." 

"Aku tidak yakin kau akan bisa berjalan besok." 

"Aku tidak perlu ke mana-mana."

Chiaki tersenyum. "Masih ada hari esok, kita bisa bercinta lagi." 

Crystal menggeleng. "Hari ini belum dua kali dan kau telah menyerah," cetus Crystal seolah mengejek.

Kilat di mata Chiaki tampak berbahaya, pria itu membawa Crystal bangkit tanpa melepaskan penyatuan mereka menuju dinding kaca. Ia menyandarkan tubuh Crystal di sana dengan posisi satu kaki Crystal berpijak di lantai dan satu kaki Crystal menggantung ditahan oleh lengan Chiaki. Ia terus menghunjamkan dirinya kepada Crystal berulang-ulang, dengan gerakan yang terkadang kehilangan irama. Terkadang lembut, kasar, dan menggoda.

Crystal memekik, mengerang. Memohon agar Chiaki lebih memenuhinya lagi dan lagi. Dua jam kemudian Crystal mendapatkan peleburannya yang ke sekian kali disusul Chiaki yang menyemburkan cairan hangatnya ke dalam rahimnya lalu keduanya terkulai lemas dan memejamkan mata dengan posisi saling memeluk erat.

Paginya Crystal membuka mata dan tidak mendapati Chiaki di sampingnya. Ia menyapukan tatapannya ke sekeliling ruangan untuk memastikan keberadaan pria berambut gondrong itu.

Faktanya ia tidak mendapati pria itu membuat sisi di dalam benaknya seolah ada yang kosong. Walaupun pria itu aneh, kadang menjengkelkan, dan kadang menyenangkan, setidaknya ia memiliki teman untuk berbicara. Ia tidak sendirian.

"Nona... kau sudah bangun?" 

Suara itu muncul dari arah ruang makan dan pemilik suara itu adalah Donna.

Crytsal mengubah posisinya menjadi duduk sambil memegangi selimut yang melingkar di dadanya. "Donna, kau di sini. Syukurlah." 

Donna tersenyum ramah. "Tuan memintaku untuk mengurusmu, dia sedang pergi ke Belgia." 

Chiaki tidak mengatakan jika akan pergi ke Belgia.

Rasa getir melingkupi benaknya. Ternyata menjadi seorang simpanan memang tidak mudah karena hanya dibutuhkan saat di atas tempat tidur dan setelahnya, ia seolah tidak dibutuhkan lagi.

"Jangan khawatir." Donna masih tersenyum ramah. "Tuan menggunakan helikopter pribadi, ia akan kembali sebelum pukul empat karena kalian akan menghadiri jamuan makan malam di kediaman Tuan besar." 

Crystal mengerjapkan matanya. "Makan malam? Tuan besar?" 

Donna menganggukkan kepalanya, ia menyerahkan ponsel Crystal. "Tuan mengatakan kau harus mengirimkan pesan setelah kau bangun dan kau juga harus makan dengan sarapan yang telah dipersiapkan." 

"Terima kasih," desah Crystal sambil menerima ponsel dari tangan Donna. 

Perlahan Crystal menggeser layarnya lalu menyentuh aplikasi pesan dan mulai mengetik pesan singkat untuk Chiaki.

Bersambung....

Jangan lupa tinggalkan jejak komentar dan RATE!

Salam manis dari Cherry yang manis.

🍒

Comments (1)
goodnovel comment avatar
Nietha
Chiaki manis bget... cerita novelnya Masi bnyak teka tekinya... tpi q cukup sabar kok kikikikik...
VIEW ALL COMMENTS

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status