Missing [Indonesia]
Missing [Indonesia]
Author: shimizudani
Prolog

Putih.

Sejauh mata memandang, hanya putih yang terlihat. Kombinasi warna apik yang tercipta dari  pepohonan, rumah-rumah, juga jalanan telah hilang digantikan oleh dominasi putih. Sungai pun tak luput dari sasarannya. Kejernihan airnya tak lagi mengalir. Kini, sungai itu layaknya bongkahan es raksasa berwarna putih. Tak hanya itu. Warna udara juga terlihat putih. Hal ini terjadi karena butiran-butiran putih terus turun dari langit yang diselimuti awan tebal.

Suram.

Tebalnya awan mungkin menjadi jawaban mengapa suasana itu terasa di pagi ini. Ditambah matahari yang belum menampakkan dirinya, tentu memperparah keadaan tersebut. Padahal waktu telah menunjukkan pukul 8. Harusnya panas mentari sudah terasa. Namun, tebalnya awan menutupi semuanya, walau seberapa keras usaha sang sumber kehidupan untuk menembusnya. Mengintip pun tak berhasil. Mungkin pagi ini, ia harus absen menyinari apa yang ada di balik awan itu. Atau ia harus bersabar hingga para awan berbaik hati membukakan pintu untuknya.

Dingin dan bersalju.

Absennya mentari tentu membuat pagi yang biasanya dingin menjadi semakin dingin. Temperatur udara nyaris menyentuh angka minus 10 derajat. Begitu dinginnya hingga orang-orang menaikkan suhu pemanas rumahnya dan memilih menghabiskan akhir pekan mereka di rumah. Mereka bahkan tak perlu repot-repot menengok keluar jendela untuk melihat apa yang orang lain lakukan di luar sana karena nyatanya tak ada siapa pun. Anak-anak yang biasa bermain bola salju pun tak ada. Tentu saja. Siapa yang akan tahan berada di luar dengan udara sedingin ini? Pastilah hanya mereka yang bermental baja yang mampu melakukannya. Itu pun dengan mengenakan pakaian setebal mungkin hingga bisa melindungi tubuhnya dari terpaan hawa dingin.

Tapi, tunggu. Apa yang dilakukan bocah kecil itu di sana? Ia tengah meringkuk di depan sebuah pagar besi yang masih tertutup. Bocah itu duduk dengan kepala tertunduk dan kaki tertekuk ke depan tubuhnya. Semua atribut penghangat, seperti topi rajut, syal, jaket tebal, sarung tangan, celana panjang, dan sepatu, melekat di tubuhnya. Tak lupa, ia membungkus dirinya dengan selimut untuk menjaga tubuhnya agar tetap hangat. 

Namun, masihkah kehangatan itu ia rasakan? Salju telah menutupi tubuh mungilnya. Memang tidak setebal tumpukan salju di jalanan, pohon, atau atap rumah sekitarnya berada. Tapi, tetap saja salju-salju itu telah mengikis suhu tubuhnya yang mulanya hangat menjadi dingin. Tak ada yang menegurnya dan bertanya mengapa bocah itu ada di sana. Tak seorang pun. Dinginnya cuaca membuat jalan di dekat sang bocah tak dilalui orang. Mungkin sejak semalam, melihat tebalnya salju yang ditimbulkan. Lalu sejak kapan bocah itu duduk di sana? Mungkinkah sejak semalam?

Kasihan sekali bocah lelaki itu. Berapa lama lagi ia harus menunggu—menunggu seseorang menemukannya? Berapa lama lagi ia harus menunggu hingga ada orang menolongnya? Tubuhnya sudah kebas, mati rasa akibat terlalu lama berada di sana. Ia bahkan tak mampu membuka matanya. Ia terlalu asyik menikmati kehangatan dalam mimpinya.

Tiba-tiba pagar besi di belakangnya berderit. Perlahan pagar itu membuka, menampilkan remaja lelaki dengan sekop di tangannya. Seorang remaja lelaki lain muncul di samping remaja pertama dengan membawa alat yang sama. Mereka bermaksud membersihkan jalanan dari tumpukan salju agar tak menyulitkan orang-orang berlalu-lintas di sana.

Dua remaja itu terkejut, tentu saja. Melihat bocah lelaki meringkuk di depan tempat tinggalnya, sempat membuat kerja otak keduanya terhenti. Namun, sedetik kemudian mereka tesadar. Dengan berbagai pertanyaan yang berkecamuk di dalam pikirannya, mereka bergegas menghampiri sang bocah. 

Darimana datangnya bocah ini?

Mengapa ia ada di sini?

Sejak kapan ia ada di sini?

Remaja pertama membersihkan tubuh sang bocah dari tumpukan salju. Ia mengangkat kepala bocah itu. Sesuai dugaan, bocah itu tidur—atau pingsan?—dengan wajah pucat hampir menyamai putihnya salju. Remaja kedua melepaskan sarung tangannya kemudian menempelkannya di pipi si bocah. 

Dingin.

Terlampau dingin.

"Jungsoo-ah, tubuhnya dingin. Kita harus segera menolongnya."

Remaja bernama Jungsoo, sebenarnya, sudah bisa menduga apa yang terjadi pada bocah yang menurut perkiraannya berusia sekitar 5 atau 6 tahun itu. Jelas, ia kedinginan. Maka, tanpa buang waktu, Jungsoo menggendongnya. "Aku akan membawanya ke dalam. Heechul-ah, cepat kau panggil Eomma."

Heechul, sang remaja kedua, berjalan mendahului Jungsoo. Ia melebarkan pintu pagar agar memudahkan Jungsoo melewatinya lalu berlari masuk ke dalam bangunan terbesar di sana dengan Jungsoo mengekor di belakangnya.

"EOMMA!!"

Teriakan Heechul menggema ke seluruh ruangan, membuat kepanikan mendera, menggantikan keheningan pagi yang sebelumnya tercipta. 

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status