Little Seducer
Little Seducer
Author: willia ds
Stepbrother

Apa yang pertama kali terbesit di benak kalian kala pertama mendengar bahwa orang tua kalian ingin menikah lagi? Kehidupan yang bahagia karena kelengkapan keluarga? Memiliki saudara instan yang akan menemani keseharian kalian? Kemungkinan dua jawaban yang terkadang menjadi kenyataan. Namun, semua memanglah tidak pernah berjalan mulus, ada saja kurang lebih di dalamnya. 

Sama seperti yang di alami Edward, memiliki adik tiri yang sangat cantik dan juga masih remaja memang terkadang menyenangkan. Tapi, bagaimana jika gadis itu seperti—

Rosie Wilkins.

Gadis aneh-bukan, ia tidak aneh, hanya sedikit mencurigakan. Sejak pertemuan pertama Edward dengannya, ia sudah bisa merasakan ada sesuatu pada bocah itu. Sesuatu yang gelap disembunyikan di balik senyum secerah mentari.

Hari ini adalah pertemuan resmi ketiga mereka. Mereka yang dimaksud adalah Edward, Rosie, Eliza Wilkins, ibu Rosie, dan Lewis Quin, ayah Edward.

Restoran mewah di hotel bintang lima milik Lewis jadi tempat langganan pertemuan keluarga, maksudnya calon keluarga berlangsung. Sekeras apapun Lewis dan Eliza berusaha mencairkan suasana, kedua anak mereka tidak bisa dengan mudah menjadi akrab begitu saja.

Edward sendiri sebenarnya sudah berusaha untuk bersikap bersahabat dengan Rosie. Menanyakan hal-hal spele dan ringan yang biasanya menarik minat gadis remaja, namun agaknya Rosie tidak berminat sama sekali untuk menyambung pembicaraan lebih lanjut dengan calon kakak tirinya.

"Rosie ingin mengambil jurusan manajemen bisnis di perguruan tinggi. Aku dengar Edward juga mengambil jurusan itu, kan? Semoga kamu bisa membantu Rosie kalau ada kesulitan, ya," Eliza kembali berusaha mencari topik yang mungkin akan bisa mengakrabkan anaknya dan calon anak tirinya. Senyum wanita yang belum bisa disebut tua itu terlihat sedikit cemas jika recananya gagal lagi.

"Tentu saja. Aku akan dengan senang hati membantu."

Kemudian semua mata di meja itu menatap Rosie, menunggu tanggapannya tentang topik yang menurutnya payah juga membosankan itu. Dalam hati gadis itu menggeram jengkel, memutar bola matanya dengan cepat supaya tidak ada yang menyadari betapa bosan dirinya ada di tengah pertemuan itu.

Sedetik kemudian bocah yang sama

memasang senyum secerah mentari yang cukup terkenal miliknya, "Terima kasih, Kak Edward! Aku senang kau mau membantuku."

"Haha...lihatlah anak-anak kita! Sudah akrab seperti saudara kandung!!" seru Tuan Lewis bersemangat. Entah berpura-pura tidak tahu atau memang terlalu lugu untuk menyadari bahwa semua lagak yang ditampilkan putranya dan Rosie hanya sandiwara.

Tawa bahagia dari Nyonya Wilkins, yang sebentar lagi akan berubah menjadi Nyonya Quin menyambut kalimat pria di depannya.

Senyum di bibir Rosie langsung

menghilang ketika semua orang berpaling darinya. Tapi tidak dengan Edward. Pria itu melihat jelas Rosie memancarkan ekspresi dingin ketika ia kira semua orang tidak memperhatikannya.

***

"Ayah." panggil Edward ketika mereka  sedangdalam perjalanan pulang dari pertemuan dua keluarga. Ia tengah duduk di belakang kemudi, membagi konsentrasi dari jalan di depan dengan pikiran tak nyaman tentang Rosie Wilkins.

"Hmm.." dehaman adalah yang di terima Edward dari Tuan Lewis. Ayahnya itu masih sibuk dengan smart phone-nya tanpa menoleh pada sang anak.

Sekilas Edward melirik ayahnya tersenyum bahagia menatap layar kecil yang bersinar. Tanpa dijelaskan pun ia tahu alasan hidup. Tuan Lewis tersenyum layaknya remaja yang baru mengenal cinta.

Eliza Wilkins. Perempuan baik hati yang mengisi hari-harinya sejak beberapa bulan lalu. Tidak hanya baik hati, Eliza juga anggun, keibuan, cantik, dan yang pasti sangat dicintai Lewis. Sejak mereka menjalin hubungan, Tuan Lewis menjadi lebih ceria, wajahnya selalu cerah, suasana hatinya selalu baik. Bahkan Edward bisa mengklaim bahwa ayahnya lebih bahagia dibanding ketika ibunya masih hidup dulu. Suatu perbedaan yang juga Edward turut senang melihatnya.

"Gadis itu...menurut Ayah bagaimana anak itu?"

"Gadis itu? Siapa yang kau maksud?"

"Rosie Wilkins."

"Apa maksudmu? Dia anak yang baik dan sopan. Memang kenapa, Edward?" Tuan Lewis berkata masih belum mengangkat wajahnya dari layar ponsel.

"Ah, tidak, hanya saja aku merasa aku yang sedikit-" Lewis terbahak-bahak membuat Edward berhenti bicara.

"Edward, lihat! Foto Rosie saat masih kecil. Sangat imut, 'kan?" Ayahnya menyodorkan ponsel pintar itu ke wajah Edward agar si anak bisa melihat layar.

Edward melihat sebentar foto yang dimaksud. Benar saja. Ada gadis kecil

berumur sekitar delapan tahun tersenyum lebar menunjukkan giginya yang putih, menatap kamera dengan mata hazel bening. Rosie terlihat sangat imut dan jauh lebih berisi-pipi chubby-nya begitu menarik perhatian, dibandingkan sekarang. 

Ia merasa malu sendiri karena sudah mencurigai ada yang tidak beres dengan gadis lucu macam Rosie. Mustahil bocah baik dengan senyum cerah itu menyembunyikan sesuatu, kan? Kalaupun ada yang disembunyikan, itu adalah hal yang wajar. Semua orang pasti punya rahasia. Dan, rahasia sebesar apa memangnya yang bisa di miliki remaja tujuh belas tahun? 

Pria tampan itu memutuskan bahwa pikirannya terlalu sensitif saja.

"Oh, tadi apa yang mau kamu katakan, Edward?" Tuan Lewis selesai berkirim pesan dengan kekasihnya. Ia baru kembali lagi ke kepribadian dewasa dan berwibawa. Kini perhatiannya sepenuhnya pada sang anak.

"Tidak, lupakan saja, Ayah. Tidak penting juga." Lewis lantas mengangguk pelan atas jawaban Edward tapi kemudian kembali bersuara.

"Lain kali kita harus mengajak Alice juga ke pertemuan keluarga. Kalian akan menikah, jadi Ayah ingin Alice juga mulai mengakrabkan diri dengan Eliza dan Rosie."

"Baik. Aku akan bicara dengan Alice untuk mencari waktu yang tepat."

***

Dering suara ponsel di atas nakas

menghentikan kegiatan membaca Edward.

Dari jam digital di sebelah ponsel yang menyala tertera setengah sebelas malam. Si pemilik ponsel tersenyum melihat nomor penelpon lantas menutup buku di pangkuannya, mencopot kaca mata yang bertengger di hidung tingginya, kemudian meraih ponsel tersebut.

"Halo."

"Halo, Edward." Terdengar suara

seorang gadis dari seberang.

''Iya, Alice. Kau belum tidur?"

"Aku tidak bisa tidur. Untuk itu menelponmu. Kau sendiri?" Suara Alice terdengar manja.

"Ah, aku juga sama sepertimu. Masih ada tugas. Kenapa tidak bisa tidur? Rindu padaku, bukan?" Edward mengakhiri ucapannya dengan kekehan.

"Astaga, kau ini terlalu percaya diri sekali, Tuan Edward. Kau beruntung karena aku baik hati, jika tidak sudah—"

"Sudah apa?" Edward langsung menyela.

"Sudah kubawa kau ke depan altar." Di seberang sana, gadis bernama Alice itu terkikik geli. Ah, selera humor yang rendah. Tak lama, di susul Edward yang menyahuti tawanya.

"Boleh aku tebak? Kurasa, itu sebuah sindiran? Right?"

"Itu suatu permohonan aku yang belum terkabul, Edward. Kau ini, memang payah dalam bahasa wanita."

"Kau ini sepertinya sudah tidak sabar sekali menjadi Nyonya Quin." Edward tertawa renyah. "Sabar sedikit, setelah lulus kuliah nanti aku akan segera melamarmu dan kita akan segera menikah. Lebih baik, mulai dari sekarang kau memikirkan pernikahan impian yang kau inginkan. Oke, cantik?"

Percakapan seperti ini sudah biasa bagi Alice dan Edward. Hanya bentuk canda di antara kedua sejoli. Namun, jauh di dalamnya terselip kecemasan Alice akan hubungan mereka. Edward dan Alice sudah hampir enam tahun menjalin kasih.

Berawal dari persahabatan kedua

orang tua mereka, mereka bertemu sepuluh tahun lalu. Saat pria itu baru di adopsi oleh pasangan Quin. Kala itu Edward dan Alice masih berumur sebelas tahun. 

Mereka mulai akrab, menjadi sahabat tidak terpisahkan, hingga Alice memberanikan diri untuk menyatakan cintanya pada Edward saat mereka duduk di bangku sekolah menengah.

Tentu saja Edward juga mencintai Alice, kalau tidak pemuda itu tidak mungkin menerima perasaan si gadis manis enam tahun lalu. Hanya saja pria itu masih ingin berfokus pada studinya. Ia ingin memberikan hasil memuaskan untuk

membanggakan orang tua yang telah

mengangkatnya juga merawatnya sejak kecil. Karena, ia hanya anak hasil adopsi, ia merasa punya kewajiban untuk membalas semua kebaikan orang tua angkatnya ini.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status