Love by Choice
Love by Choice
Author: Franciarie

First Day

Tidak ada yang tahu pasti siapa psikopat yang membuat aturan OSPEK harus kejam dan menyedihkan. Anggiana Praba mungkin menjadi salah satu korban kekejaman aturan ini.

Gia, begitu dia biasa dipanggil, sedang sibuk merapikan rambut panjangnya yang baru saja selesai dikuncir dua. Dia bergegas menggunakan flat shoes warna hitam dan mengambil tas ransel hitamnya dari atas meja. Sebentar dia kembali mematut penampilannya yang mirip sales sedang masa training, lalu bergegas keluar kamar. Dia berlari menuju garasi. Wajahnya panik bukan main.

"Gia sarapan dulu!" panggil Bunda dari ruang makan, saat melihat anak gadisnya itu berlari seperti dikejar utang yang tidak mampu dia bayar.

"Nggak sempet, Bun," tolak Gia masih sambil berlari. "Gia berangkat. Assalamualaikum," pamitnya buru-buru tanpa menoleh sedikit pun. Segera dinyalakan mobil Honda Jazz putihnya dan memacunya secepat yang dia mampu.

Hari ini adalah hari pertama Gia resmi menyandang status mahasiswi Fakultas Hukum di Universitas Merva. Ini hari pertama OSPEK. Beruntungnya, dia bangun terlalu siang. Semalaman dia tidak bisa tidur karena terlalu bersemangat membayangkan keseruan esok hari.

Gia baru berhasil memejam saat puku; 03.20 dan terbangun pukul 06.30. Itu pun setelah Bunda menyiram wajahnya dengan segayung air. Padahal, dia harus berada di kampus pukul tujuh tepat. Sementara jarak rumah ke kampusnya memakan waktu lima belas menit perjalanan, belum lagi harus mandi dan berdandan. Ditambah macet yang biasanya terjadi saat pagi hari, membuat waktu lima belas menit sangat mustahil cukup bagi Gia.

Mobil Gia baru masuk tempat parkir Fakultas Hukum pukul 07.10. Gia semakin panik. Segera dia berlari ke arah lapangan yang berada di bagian belakang kampus. Upacara pembukaan masih berlangsung. Pak Dekan sedang memberikan sambutannya di hadapan ratusan mahasiswa baru yang berjemur di bawah senyuman matahari.

Gia ragu untuk mendekat. Dia masih berdiri di luar lapangan. Di bagian barisan belakang berjejer para senior anggota BEM yang bertugas memastikan kelancaran OSPEK. Mereka menggunakan jas almamater berwarna merah. Penampilan para senior ini sangat mencolok di antara para mahasiswa baru yang menggunakan atasan putih dan bawahan hitam.

Pundak Gia ditepuk tiba-tiba. Gia terlonjak. Aura suram terasa di balik punggungnya. Perasaan Gia berubah mencekam. Tidak mungkin ada pedagang aqua dan mizon di lapangan upacara. Di belakangnya pasti ada sosok berbahaya yang mengancam nyawa Gia.

"Ngapain di sini?" tanya orang yang tangannya masih di pundak Gia, mencengkram kuat seakan takut buruannya lepas.

Gia berbalik. Matanya menangkap sosok lelaki dengan mata tajam memandang ke arahnya. Wajahnya tidak menunjukkan keramahan sama sekali. Gia mengamati lelaki di depannya dari atas ke bawah. Kaus hitam polos dan celana jins yang robek di sana sini serta sneaker shoes abu-abu yang diinjak bagian belakangnya. Parahnya, dia menggunakan jas almamater merah, jas yang sama yang dipakai para senior penanggung jawab OSPEK.

Gia memejamkan mata. Jantungnya bergemuruh. 'Mampus!' maki Gia dalam hati.

"Lo telat. Berdiri di sana!" perintah senior itu sambil menunjuk sisi kiri lapangan yang memang kosong. Suaranya yang berat sedikit serak terdengar sadis di telinga Gia.

Gia yang mengakui dirinya salah, hanya bisa menurut dalam diam. Gia melangkah ke tempat yang ditunjuk senior galaknya tadi. Di bagian kiri agak ke belakang lapangan ada tempat kosong, yang memang sengaja disediakan untuk mahasiswa baru seperti dirinya yang datang terlambat.

Senior tersebut terus mengikuti di belakang Gia. Dia benar-benar menjaga mangsannya agar mati perlahan karena depresi.

Gia berdiri menghadap ke tengah lapangan, mengikuti prosesi upacara pembukaan OSPEK sendirian. Beberapa orang melihatnya, seakan-akan dirinya manusia langka yang sedang dipamerkan.

'Ini seriusan dari 150 mahasiswa cuma gue doang yang telat? Pada rajin banget, sih.' Gia terus mengeluh dalam hati.

Senior galak tadi masih mengawasi Gia. Dia berdiri agak jauh di belakang Gia, di bawah pohon mangga demi menghindari panas. Sementara posisi Gia sangat strategis sekali mendapatkan panas matahari, sangat bagus untuk pertumbuhan tulang dan gigi.

'Semoga setelah ini selesai, gue jadi tinggi kayak model Victoria Secret, bukan malah kayak pantat panci yang kelamaan dipakai masak, gosong.' Gia serius berharap. Dia hanya berani berdialog dengan dirinya sendiri dalam hati.

Satu jam kemudian, serangkaian prosesi upacara pun selesai. Gia yang berdiri sendiri pun akhirnya bisa bernapas lega. Dia segera berbalik dan angkat kaki, mengikuti kerumunan pasukan hitam putih di hadapannya. Bayangan minuman dingin sudah terasa di tenggorokannya yang kering.

"Jangan pergi!" bentak suara di belakangnya. Ini suara yang sama yang menegurnya tadi. Suara yang sama yang membuatnya akhirnya mendapatkan siksaan.

Gia lupa kalau dirinya sedang dihukum. Di belakangnya sedang ada singa kelaparan yang akan menerkam mangsa. Gia membalikkan badan. Kini di hadapannya berdiri senior galak yang sedari tadi terus mengawasinya. Matanya masih tajam menatap Gia. Aura mistis masih menyelimutinya. Tanduk setan masih ada di kepalanya.

"Mau ke mana? Udah telat terus enak banget ya ngeloyor kabur gitu aja," omel senior galak itu. Kedua tangannya diletakkan di pinggang. Matanya melotot, nyaris copot.

"Maaf, Bang. Saya kira sudah selesai." Gia meminta maaf sambil memasang puppy eyes seimut mungkin. Dia berharap kesadisan lelaki di hadapannya hilang setelah melihat wajah menderitanya.

"Apa yang udah selesai? Lo bahkan belum dihukum sama sekali." Kalimat tegas meluncur dari bibir cowok bertanduk itu.

Oke. Manusia di hadapan Gia ini bukan lelaki yang mudah dirayu ternyata.

Gia melotot, kaget. Satu jam dia berdiri sendirian di bawah panas matahari, termenung mirip barang yang tidak layak dipakai lagi. Gia sudah merasa dirinya bagai alien karena pandangan orang-orang yang hanya bisa bisik-bisik membicarakannya. Tapi, ternyata ini belum dianggap hukuman.

"Nggak usah melotot gitu. Gue congkel juga mata lo pakai garpu," omel si senior sadis itu, membuat Gia lemas seketika. Harapannya segera mencicipi air dingin sirna.

"Sana pergi ke tiang bendera! Lo berdiri di sana dan hormat bendera. Jangan ke mana-mana sampai gue minta!" perintah si senior. Nada suaranya tegas, terasa tajam menusuk hati Gia. Dia tidak mau dibantah.

'Dulu emaknya hamil dia pasti ngidam cabe, deh. Pedes banget omongannya.' Gia terus memikirkan hal buruk tentang seniornya itu.

Gia segera melaksanakan perintah seniornya. Dia berjalan mendekati tiang bendera yang berada jauh di bagian tengah lapangan. Saat sudah sampai, Gia memandang bendera merah putih yang berkibar di atasnya. Seketika cahaya matahari menusuk matanya, pedih. Sengatan matahari pukul delapan belum terlalu menusuk kulit. Gia tersenyum getir, lalu mengangkat tangan kanannya dan menempelkannya di dahi. Dia hormat kepada sang merah putih.

"Badannya tegap! Jangan loyo!" bentak seniornya, lalu berjalan menjauh.

Satu jam Gia berada di depan tiang bendera. Panas matahari mulai semakin menusuk kulit mulusnya. Keringat sudah membuat kemeja putihnya basah dan rambutnya lepek.

"Lo boleh istirahat," kata si senior galak yang tiba-tiba berada di depan Gia. Nada suaranya tidak setajam tadi, malah sangat lembut kali ini. Suaranya sangat bersahabat.

Gia bernapas lega. Diturunkannya tangan kanannya yang terasa pegal. Dia lalu memijit lengannya.

"Jangan telat lagi atau gue bakal hukum lo lebih berat dari ini!" Ancaman si senior itu sukses membuat Gia pucat. "Ini buat lo," tambahnya, lalu memberikan sebungkus roti dan air mineral dingin.

"Makasih, Bang," kata Gia sambil meraih roti dan air mineralnya.

Gia kemudian membaur ke dalam kerumunan mahasiswa jurusannya. Dia berkenalan dengan beberapa teman dan asyik ngobrol dengan mereka.

"Kok lo bisa telat, sih?" tanya Jesica, teman baru Gia. Dia orang pertama yang bersimpati dengan nasib Gia.

"Biasalah. Gue bangun kesiangan," jawab Gia lesu. Kakinya terasa pegal dan kepalanya sedikit pusing. Gia baru sadar kalau belum sarapan. Segera dibukanya roti pemberian kakak senior galaknya tadi. Hanya roti murahan yang isi selai cokelatnya cuma seujung kuku bayi.

"Laper apa doyan lo? Pelan-pelan bisa kali makannya," komentar Jesica melihat Gia makan dengan lahap.

"Gue belum sarapan tadi. Laper," sahut Gia dengan mulut penuh roti.

"Ke kantin bentar, yuk? Bilang aja ke toilet terus nanti kita mampir kantin." Jesica memberikan ide. Dia tidak tega melihat kondisi memprihatinkan teman barunya.

Saat ini sedang berlangsung kuliah umum oleh salah satu dosen senior. Suasananya santai. Mahasiswa baru boleh makan dan minum, yang penting tidak mengganggu jalannya acara.

"Nanti aja, deh, abis ini, nanggung. Setengah jam lagi juga ini kelar. Lagian pegel banget kaki gue." Gia menolak.

Jesica pun menurut. Dia membiarkan Gia menghabiskan rotinya dengan tenang. Jesica bahkan memberikan tambahan buah apel miliknya untuk Gia.

Kegiatan OSPEK setelah upacara tadi pagi untungnya dilakukan di dalam ruangan. Gia mungkin akan pingsan kalau harus terkena panas matahari lagi. Dua jam berdiri di bawah panas matahari ditambah tatapan sadis senior, cukup membuat Gia lemas hari ini.

Baru hari pertama, tapi kesialan sudah Gia rasakan. Mungkin dia harus mencari jimat untuk menolak bala.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status