로그인Semalam berlalu.Keesokan harinya, langit tampak mendung.Sesuai waktu yang dipilih Nazar, pukul 3 sore tepat diadakan upacara perpisahan untuk Satria.Pukul 2.30 sore, lebih dari 40 ribu murid Organisasi Draken serta lebih dari 300 tamu telah berkumpul di alun-alun.Saat Ewan bertarung melawan Dewa Hyang hari itu, alun-alun hancur parah. Kirin memimpin orang-orang untuk membangunnya kembali.Di bawah tebing, didirikan sebuah aula duka. Di tengah aula duka, terletak sebuah peti mati kayu paulownia berwarna hitam pekat. Satria mengenakan pakaian hijau, wajahnya tenang, berbaring di dalam peti mati, dikelilingi bunga-bunga dan cemara hijau.Mini dan Cantika mengenakan pakaian berkabung berwarna polos, dengan ikat kepala duka, berlutut di depan peti mati sambil membakar uang kertas persembahan.Ewan, Naga Hijau, Kirin, Abyaz, Ricky, serta para pemimpin Organisasi Draken dari berbagai daerah, semuanya mengenakan pakaian putih dan berdiri di kedua sisi peti mati.Pukul 2.40 sore."Amitabha!
Nazar melirik Ewan dan berkata, "Nggak banyak lagi, cuma belasan lembar."'Sial, masih sebanyak itu?' Ewan langsung berkata, "Begini saja, satu Jimat Pedang 400 miliar. Kamu jual semuanya kepadaku."Nazar tidak puas. "Bocah, tadi kau bilang satu triliun."Ewan berkata, "Lagi pula, Jimat Pedang sebanyak itu kamu pegang juga nggak ada gunanya. Lebih baik kamu jual padaku. Coba pikir, sepuluh Jimat Pedang kamu bisa dapat 4 triliun. Dengan uang sebanyak itu, kamu bisa makan enak, minum enak, bahkan menggoda bule."Bule? Mata Nazar langsung berbinar.Ewan melanjutkan, "Bayangkan saja, kamu berbaring di atas kapal pesiar sambil berjemur, di sekelilingmu ada sekelompok bule melayanimu.""Mereka semua berkulit putih dan cantik, bertubuh indah, mengenakan bikini dan bersandar di sisimu. Ada yang menyuapimu buah, ada yang menyuguhkan minuman, ada yang memijatmu, bahkan ada yang melemparkan tatapan manja kepadamu ...."Nazar menutup mata. Dalam benaknya sudah terbayang adegan itu. Air liurnya ham
Nazar berhenti melangkah. Setelah semua orang pergi, barulah dia bertanya kepada Ewan, "Ada urusan apa, Bocah?"Ewan bertanya, "Kenapa kali ini cuma kamu yang datang? Di mana Samudra?""Samudra lagi berkultivasi, mengasingkan diri." Nazar terkekeh, lalu berkata, "Samudra memang pantas disebut orang suci sejak lahir. Kemajuannya sangat besar. Saat bertemu lagi nanti, dia pasti akan membuatmu terkejut.""Benarkah?" Ewan agak tidak percaya.Nazar mendengus. "Jangan nggak percaya. Setelah Samudra keluar dari pengasingan, aku bakal suruh dia memukulmu.""Asal dia bisa mengalahkanku, kapan saja aku siap," kata Ewan. Setelah itu, dia mengeluarkan sebuah kartu bank dari sakunya dan menyerahkannya kepada Nazar.Hati Nazar langsung waspada. Dia bertanya, "Tanpa alasan memberi perhatian, pasti ada maksud tersembunyi. Apa yang ingin kamu dapatkan dariku?"Ewan berkata, "Terima kasih karena beberapa hari ini kamu membantu menata aula duka untuk Sida. Uang ini adalah upah atas kerja kerasmu."Barula
Mariadi berkata dengan nada hati-hati, "Kak, saudara-saudara lain mengalami sedikit masalah ....""Biar aku saja yang mengatakan," ujar Magana. "Kak, Makuta, Marwanto, dan Marsudi sudah mati.""Apa yang kamu katakan? Ulangi sekali lagi!" Mata Maprana membelalak. Dari tubuhnya memancar tekanan aura yang besar.Magana ketakutan hingga tak berani mengangkat kepala, tetapi dia tetap memaksakan diri berkata, "Mereka semua sudah mati.""Bajingan!" Maprana mengentakkan kaki kanannya.Bam! Lantai langsung retak.Maprana murka. "Sebenarnya apa yang terjadi? Siapa yang membunuh Makuta dan yang lainnya? Apa mungkin Ega?"Mariadi segera berkata, "Bukan Ega, tapi Ewan."Ewan? Maprana memikirkannya sejenak dan memastikan bahwa dia tidak mengenal nama itu. Dia bertanya, "Siapa dia?"Mariadi lalu menjelaskan secara singkat asal-usul serta perbuatan Ewan. Setelah mendengarnya, Maprana menjadi sangat marah."Tak kusangka, setelah bertahun-tahun aku mengasingkan diri untuk berkultivasi, begitu keluar, be
Ratusan kilometer jauhnya, di ibu kota.Setelah diguyur hujan musim gugur, langit tampak biru jernih, membuat hati terasa lapang.Di Kota Terlarang, di depan gerbang sebuah aula besar.Mariadi dan Magana tampak cemas. Mereka berjalan mondar-mandir, sesekali melirik ke arah pintu aula yang tertutup rapat."Kak, kita sudah di sini tiga hari. Kenapa Kak Maprana belum keluar juga?" tanya Magana pelan. "Jangan-jangan latihannya bermasalah, jadi ...."Kalimat selanjutnya tidak dia teruskan, tetapi dia yakin Mariadi mengerti maksudnya.Mariadi melotot pada Magana dan membentak, "Nggak bisa kamu bicara yang baik-baik? Sekarang ini masa penuh gejolak. Kota Terlarang nggak boleh mengalami kecelakaan apa pun lagi. Kalau aku dengar kamu bicara seperti itu lagi, nanti kupukul kamu."Magana bergumam, "Kalau semuanya lancar, kenapa Kak Maprana belum juga keluar dari pengasingan?"Mariadi menatap Magana tajam, ingin membantah, tetapi tidak tahu harus berkata apa. Mereka sudah menunggu tiga hari, tetap
"Ada pepatah lama bilang, kesempatan nggak datang dua kali. Aku sarankan kamu manfaatkan kesempatan ini. Ayo, cepat pukul aku!" Setelah berkata demikian, Ewan menggerakkan jarinya ke arah Nazar, penuh provokasi."Kamu ini benar-benar keras kepala ya. Sudah tahu bukan lawanku, masih juga minta dipukul. Sebenarnya kamu mau apa?"Nazar memasang ekspresi tak berdaya, lalu meneruskan, "Karena kamu sudah bicara sampai sejauh ini, kalau aku nggak memukulmu, bukankah itu namanya nggak menghargaimu?""Baiklah, akan kupukul kamu. Tapi kuberi tahu dulu, nanti saat aku memukulmu, kamu boleh melawan kok.""Walaupun kamu melawan juga nggak ada gunanya, setidaknya kamu bisa merasakan betapa hebatnya aku. Bagaimanapun, aku adalah orang yang telah melatih dua aliran energi murni."Setelah berkata demikian, Nazar langsung menyerbu ke arah Ewan. Ewan berdiri di tempat, tersenyum menyaksikan Nazar mendekat.Begitu Nazar tiba di depan Ewan dan hendak menyerang, tiba-tiba dia melihat senyuman Ewan yang begi
"Neva ini bukan cuma cantik, tapi juga pandai bicara. Pantas saja Dullah begitu terpikat padamu."Begitu mendengar nama Dullah, ekspresi Neva tampak sedikit canggung."Oh ya, kok cuma kalian bertiga yang kelihatan? Mana Sabian?" tanya Neva buru-buru, mengalihkan topik."Kamu belum tahu ya? Sabian se
Untuk pertama kalinya, Ewan memiliki ruang praktik sendiri. Meskipun ukurannya hanya sepuluh meter persegi, dia sudah sangat puas. Sebab, inilah langkah pertamanya menuju impian menjadi seorang dokter hebat!Dia mulai membereskan meja, menyalakan komputer, dan mengenakan jas putih. Setelah semua per
Saat masih kecil, setiap pria pasti pernah bermimpi untuk menjadi pahlawan. Mereka ingin menjadi master bela diri yang tak terkalahkan, merampok orang kaya untuk membantu orang miskin, menjadi penegak keadilan, serta berkeliling dunia bersama wanita cantik kepercayaannya. Misalnya seperti tokoh-toko
Dullah sedari tadi menyaksikan "pertunjukan" Ewan. Pada awalnya, wajahnya tampak sangat meremehkan. Baginya, seorang dokter kecil takkan mungkin menimbulkan keributan besar.Namun saat Warsito terpental oleh satu pukulan, ekspresinya sedikit berubah. Kemudian, Ewan menjatuhkan belasan penjaga Crysta







