Share

Bab 803

Author: Rexa Pariaman
Sialan!

Ekspresi Ewan langsung tampak marah besar.

"Kenapa?" tanya Millie.

"Ada teman yang butuh bantuanku mendesak, dia sekarang sudah di depan rumahmu," kata Ewan.

"Apa?" Millie merasa terkejut dan sedikit panik. "Teman seperti apa? Laki-laki atau perempuan?"

"Laki-laki."

Millie baru bisa bernapas lega. "Masalahnya mendesak?"

"Iya," jawab Ewan. Dia tahu, kalau bukan benar-benar penting, Dewa Perang tidak akan menelponnya, dan Tandi tidak mungkin menunggunya di depan rumah.

"Kalau begitu, cepat
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Dokter Sakti Penguasa Dunia   Bab 1849

    "Kok Master tahu?" tanya penjaga gunung."Aku tentu pernah melihat ...." Nada bicara Nazar tiba-tiba berubah. "Kenapa kamu menanyakan itu? Minta dipukul?"Penjaga gunung segera menutup dahinya dengan tangan.Ewan diam-diam menghitung. Di tempat ini ada 99 peti mati merah tua. Kemudian, dia berjalan lebih ke dalam.Tak lama kemudian, mereka tiba di ruang makam lain. Di dalam ruang makam itu berantakan sekali. Ada sepuluh peti mati di dalamnya.Semua peti mati telah dibuka. Bukan hanya tutup petinya yang dibuang sembarangan di lantai, bahkan ada beberapa kerangka yang juga dilempar ke tanah. Di dalam peti mati juga tidak ada barang pemakaman apa pun.Ewan memperhatikan bahwa sesekali di dasar peti mati terlihat pecahan porselen dan potongan tembaga."Sepertinya orang tua itu benar, makam besar ini sudah pernah didatangi pencuri makam," kata Ewan.Tandi bertanya, "Tapi dari mana pencuri makam itu masuk?"Ewan berkata, "Kalau kita terus masuk, seharusnya kita akan menemukan jawabannya."Me

  • Dokter Sakti Penguasa Dunia   Bab 1848

    "Ewan, cepat lihat ke dalam!" teriak Tandi dengan penuh ketakutan.Sebenarnya tanpa perlu diingatkan, saat pintu perunggu itu dihancurkan oleh pukulan, pandangan Ewan sudah langsung tertuju ke dalam.Saat ini, di dalam pandangan Ewan, muncul banyak peti mati merah tua.Jumlah peti mati itu sedikitnya ada 70 sampai 80 buah. Setiap peti berwarna merah tua, tergeletak berantakan ke segala arah. Di bawah sorotan senter, semuanya memancarkan aura yang suram dan aneh.Penjaga gunung berseru kaget, "Ya Tuhan, banyak sekali peti mati."Plak! Nazar memukul kepala penjaga gunung dan memarahi, "Nggak berwawasan."Penjaga gunung memegang kepalanya. Wajahnya penuh keluhan.Ewan mengangkat kakinya, bersiap melangkah masuk, tetapi suara Nazar kembali terdengar. "Nggak beres! Benar-benar nggak beres!"Ewan pun menurunkan kembali langkahnya dan bertanya, "Apanya yang nggak beres?"Nazar menjelaskan, "Di dalam makam seperti ini, dalam keadaan normal, peti-peti mati seharusnya disusun dengan rapi dan ter

  • Dokter Sakti Penguasa Dunia   Bab 1847

    Tangga itu dibangun dari batu biru, panjang 1 meter dan lebar 33 sentimeter. Pada setiap anak tangga terukir pola naga yang indah."Ternyata tangga bermotif naga." Ekspresi Nazar sedikit berubah."Apa ada maknanya?" tanya Ewan.Nazar berkata, "Di zaman dahulu, naga melambangkan kaisar. Kaisar juga menyebut dirinya sebagai putra naga. Baik makam pejabat maupun makam rakyat biasa nggak boleh menggunakan tangga bermotif naga. Tapi di sini justru digunakan tangga naga. Dari sini dapat disimpulkan kalau makam kuno ini sangat mungkin merupakan makam kaisar."Makam kaisar! Tandi dan penjaga gunung langsung terkejut.Penjaga gunung bertanya, "Master, kalau benar ini makam kaisar, apa di dalamnya ada banyak harta?"Plak! Nazar memukul dahi penjaga gunung itu dan memarahi, "Dasar nggak punya masa depan! Aku peringatkan, meskipun di dalamnya ada harta, kamu nggak boleh ambil secara pribadi. Kalau nggak, itu namanya kejahatan."Tandi juga menambahkan, "Master benar. Barang-barang di makam kuno ada

  • Dokter Sakti Penguasa Dunia   Bab 1846

    Setelah Gerbang Abadi Perunggu dihancurkan oleh satu pukulan Ewan, muncullah sebuah lubang gelap pekat.Ewan berjalan ke depan lubang itu, menjulurkan kepala dan melihat ke bawah. Dia melihat sebuah tangga yang langsung menuju ke bawah tanah, tak terlihat ujungnya."Bersiaplah, sebentar lagi kita masuk ke makam," kata Ewan.Tandi segera berkata, "Aku akan bawa beberapa prajurit masuk bersamamu."Nazar berkata, "Tandi, sebaiknya kamu nggak perlu masuk. Makam ini penuh keanehan, pasti masih ada bahaya di bawah."Tandi berkata, "Justru karena ada bahaya, aku memutuskan untuk masuk. Semakin banyak orang, semakin bisa saling menjaga."Nazar mencibir. "Bahaya biasa saja sudah bisa diselesaikan oleh aku dan bocah ini. Kalau bahkan kami nggak bisa mengatasinya, kalian masuk juga hanya akan menambah masalah."Tandi langsung terdiam, tidak bisa membalas.Ewan berpikir sejenak, lalu berkata, "Tandi, kamu ikut masuk saja, tapi nggak perlu bawa orang lain.""Baik." Tandi mengangguk setuju.Saat itu

  • Dokter Sakti Penguasa Dunia   Bab 1845

    'Sok hebat!' umpat Ewan dalam hati.Sepuluh detik kemudian, Nazar mengibaskan kocokan ekor kudanya dan berteriak keras, "Petir datang!"Boom! Sebuah kilat setebal gelas air muncul begitu saja di udara dan menghantam Gerbang Abadi Perunggu.Adegan ini benar-benar membuat para prajurit yang hadir tercengang."Hebat sekali!""Dia hanya berkata 'petir datang', terus petir benar-benar muncul. Apa ini yang disebut sihir tertinggi Tao, ucapan menjadi kenyataan?""Memang pantas menjadi pemimpin Akademi Nagendra, benar-benar seperti dewa!"Para prajurit menatap Nazar, satu per satu menunjukkan ekspresi kagum. Felix juga memandang Nazar dengan penuh hormat. Sedangkan penjaga gunung itu, selain terkejut, juga merasa ngeri di dalam hati."Metode pendeta tua ini benar-benar mengerikan. Untung tadi aku nggak menyinggungnya. Kalau nggak, sekali dia manggil petir, aku bisa langsung berubah jadi abu."Namun, saat semua orang masih berada dalam keterkejutan, wajah Nazar malah menjadi masam, sama sekali

  • Dokter Sakti Penguasa Dunia   Bab 1844

    "Gerbang Abadi Perunggu, siapa pun yang masuk tanpa izin akan mati!"Begitu kalimat Nazar dilontarkan, para prajurit yang sedang menggali langsung memperlihatkan ekspresi ketakutan, refleks mundur beberapa langkah. Semuanya takut terlibat masalah.Bahkan wajah Felix pun menjadi serius."Hmph! Siapa pun yang masuk akan mati? Besar sekali mulutnya!" Ewan mendengus dingin, lalu berkata lagi, "Jangan-jangan orang ini ingin menjadi makhluk abadi setelah mati?"Nazar berkata dengan serius, "Kemungkinan itu memang nggak bisa dikesampingkan.""Pada zaman dahulu, ada beberapa kaisar yang saat hidup nggak bisa mencapai keabadian, lalu berkhayal bisa menjadi makhluk abadi setelah mati.""Yang paling terkenal adalah Kaisar Soraja. Saat masih hidup dia mengutus bawahannya membawa 3.000 pemuda dan gadis berlayar ke timur untuk mencari obat keabadian, tapi bawahannya nggak pernah kembali.""Lalu Kaisar Soraja memerintahkan pembangunan besar-besaran di Gunung Ligan untuk membangun makam raksasa. Konon

  • Dokter Sakti Penguasa Dunia   Bab 673

    "Si Ewan berengsek itu langsung menerobos masuk ke kantorku dan menghajarku habis-habisan waktu itu. Kalau saja nggak ada rekan-rekan yang melerai, hari itu aku pasti sudah mati di tangannya. Anak itu benar-benar seperti orang gila."Bagas berkata, "Aku memang sempat mendengar hal ini. Memang Ewan s

  • Dokter Sakti Penguasa Dunia   Bab 666

    Pagi itu, Ewan masuk ke rumah sakit dengan langkah tenang. Namun, dia segera merasakan ada yang aneh. Begitu dia melintasi lobi, banyak tenaga medis yang buru-buru menjauh, seolah dia membawa wabah.Ewan tahu persis alasannya, yaitu gara-gara dia berani memukul Darwin. Di lingkungan kerja seperti ru

  • Dokter Sakti Penguasa Dunia   Bab 642

    Hantu Tua Kota Serba tewas.Ewan menghela napas lega. Akhirnya pria tua itu mati. Namun, tepat saat itu, kepalanya terasa berputar. Bam! Dia tiba-tiba terkapar ke tanah."Pak Ewan!""Pak Ewan!"Eko dan Betandi serentak berteriak, lalu berlari ke depan untuk menopang tubuh Ewan.Melihat kejadian itu,

  • Dokter Sakti Penguasa Dunia   Bab 683

    Raffi menggenggam tangan Stevanus, lalu berkata, "Orang bilang setetes air pun harus dibalas dengan mata air, apalagi kamu menyelamatkan nyawaku. Kapan pun itu, aku selalu mengingatnya.""Raffi, kamu benar-benar orang yang tahu berterima kasih. Untung dulu aku menolongmu." Stevanus menoleh, berkata,

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status