Mag-log inMalam yang dingin menyelimuti rimba raya, suasana larutnya menenggelamkan suara jangkrik, kelompok kunang-kunang masih berpijar, gemerlapan di ranting pohon, kelap-kelipnya seolah menggantikan cahaya kejora yang sirna di langit. Kala itu embun dini hari sudah turun, rerumputan yang basah pun memancarkan bau lembab, berpadu dengan aroma daun-daun busuk yang menghitam di tanah.Dalam kondisi setengah sadar, Patrioda diikat tergantung pada sebatang dahan pohon. Kepalanya menghadap ke bawah, sedangkan dua kakinya mengarah ke atas. Dia sekarang tak ubahnya bagaikan kelelawar yang biasa bergelantungan di langit-langit gua.Lilitan akar-akar yang kokoh dan tumbuhan liar yang melayap membelenggu sekujur badannya. Entah sudah berapa lama dia siksa seperti itu, tenggorokannya terasa kering mencekat, kepalanya pusing dan perutnya mual. Cuma dialah satu-satunya yang terpisah dari rombongan saat berada di Gunung Ratri. Setelah yang lain sudah kembali ke istana, lelaki ini malah jadi bulan-bulanan
Di hadapan pintu kamar Jaka Purnama sendirian termenung. Walaupun malam kian meninggi, tapi lelaki itu masih belum jua istirahat. Dengan ditemani nyianyian Jangkrik dan hawa dingin yang menari di keheningan, dua tangannya bertumpu pada pagar kayu, dia silangkan semua jemarinya, pikirannya pun mulai membayangkan tentang apa yang akan terjadi besok.Derap langkah di lantai papan tiba-tiba terdengar. Ada yang datang mendekatinya. Jaka Purnama pun mengalihkan pandangannya ke sebelah kanan. Tampaklah olehnya seorang wanita berpakaian kuning muncul, berjalan dengan anggun. Dia ini tidak lain adalah Alindra, dirinya tampak sedang membawa gelas bambu yang mengepulkan asap.Wanita itu tersenyum manis. Dia berhenti di dekat Jaka Purnama, lalu menyuguhkan minuman yang dibawanya tersebut. Aroma harum pun seketika tercium dari asap yang mengepul itu. Jaka Purnama tahu kalau itu adalah segelas kopi tubruk yang nikmat.“Minumlah, Kakang. Aku sengaja membuatkannya untukmu, biar Kakang tidak bosan mer
Setiba di ruangan khusus tempat menghadap sang raja, Giandra dan Jaka Purnama berjalan menginjakkan kaki di atas hamparan karpet merah. Cahaya obor menerangi ruangan yang megah ini. Di atas kepala mereka langit-langit istana yang remang dihiasi dengan berbagai ukiran gambar, menambah nuansa keelokan yang memukau pandangan.Senopati Wibisana segera mengambil tempat duduk di bawah anak tangga batu, berseberangan dengan Senopati Taraka. Tugasnya telah selesai untuk menghadirkan ayah dan anak ini ke hadapan sang raja. Di atas anak tangga batu yang bertingkat tiga itu terdapat lantai tinggi yang mirip seperti panggung. Di sana ada tiga buah singgasana dari kayu jati yang berukir, lapisan luarnya berupa sapuan emas yang berkilauan dan dihiasi pula dengan taburan-taburan intan. Pada singgasana yang di tengah, duduklah Prabu Surya Buana. Dia mengenakan jubah berwarna perak, mahkota bertabur permata, dan di lehernya ada seutas kalung yang berliontinkan Mustika Permata Hijau, benda ajaib yang
Malam telah turun menggantikan siang. Kilauan kejora menaburi langit di atas Istana Kerajaan Jayakastara. Puing-puing dari sebagian bangunannya yang runtuh masih berserakan tidak karuan. Bulan yang menggantung di awang-awang menyorotinya dalam warna keremangan. Angin yang lembut perlahan mendesah, membawa hawa dingin yang membelai kulit, berpadu dengan bau rumput dan semerbak bunga-bunga yang tumbuh di halaman istana. Kawanan kunang-kunang berkerlipan pada setiap lembar daun yang berjuntaian di pohon-pohon. Cahaya mereka terus berjoget bagaikan para penari. Dendangan syahdu dari jangkrik malam pun turut mengiringinya.Kala itu di halaman istana, Giandra tegak seorang diri di atas pendopo yang terbuat dari kayu jati. Sepasang bola matanya menatap ke angkasa raya yang luas. Seakan-akan dia hendak bertanya pada Ilahi, mengapa dunia ini begitu kejam?Sudah banyak nyawa gugur dalam pertempuran menghadapi Persaudaraan Iblis. Sekitar dua ribu pasukan yang diturunkan semuanya habis tanpa te
Begitu cepat kejadian tadi berlangsung. Padahal semula Giandra sempat pasrah waktu tubuhnya terhempas dari awang-awang. Deburan angin bergemuruh laksana nyainyian ribuan tawon yang bergetar di gendang telinganya. Tahu-tahu, kini dia sudah dibawa turun ke tanah dengan selamat. Pertolongan itu hadir tepat waktu. Menangkapnya bagaikan kilat di saat tak ada lagi harapan untuk bertahan.Orang berjubah putih melepaskan dekapannya dari Giandra. Pandangan matanya yang tajam menengadah ke atas. Sosok Iblis Hitam masih mengawang bagaikan kelelawar raksasa di udara. Makhluk brutal itu harus cepat dihentikan sebelum istana kerajaan yang telah runtuh sebagian jadi makin porak-porandaSi orang berjubah putih menoleh pada Giandra. Cahaya wajahnya memancarkan aura keteduhan. Dia memang tidak tersenyum, namun menatap Giandra dengan lembut. Tangan kanannya kemudian meremas pundak Giandra. Sentuhan itu terasa akrab, seakan Giandra tak sing dengan tangan lembut yang bertelapak tebal itu. Dalam hati dia be
Lama kelamaan, asap hitam yang beredar menyelimuti Giandra itu tambah pekat. Setitik pun cahaya tak lagi terlihat dalam kurungan ini. Seolah-olah dia tengah berdiri di dasar jurang yang tak pernah terjamah sinar matahari, suasana angker menari-nari di sekelilingnya.Bahkan walau pandangan Giandra didongakan, awang-awang di atasnya juga penuh dengan halimun gelap yang berputar. Perlahan dadanya mulai merasakan sempit, dan makin lama sesak itu pun makin kuat, karena paru-parunya kurang mendapatkan aliran udara bersih.Di keadaan yang sulit itu, sehembus ilham bagai bertiup ke dalam hati Giandra. Pikirannya kembali ingat kalau dia telah memiliki Ajian Tatapan Rajawali Menembus Awan. Bukankah kabut hitam ini juga laksana awan tembal yang membentuk tembok-tembok berkeliling? Dia pasti bisa mengatasinya.Kemilau cahaya putih terpancar di kedua bola mata Giandra. Dalam penglihatan di bawah petunjuk dari ajian yang dia gunakan itu, tampaklah wujud Iblis Hitam rupanya kini ada delapan sosok. S
Setelah kematian Mpu Seta, tak ada lagi satu pun manusia yang pernah mempelajari ilmu Tatapan Rajawali Menembus Awan selain Argani. Saking berbahayanya ajian itu, sampai-sampai para tetua dunia persilatan menamainya ajian terlarang.Namun hari ini, Keangkuhan si pemimpin Persaudaraan Iblis akhirnya
Dengan menumpukan tangan di lantai teras yang terbuat dari batu, Prabu Surya Buana berjuang untuk bangkit. Argani pun lantas mendekatinya. Ketua Persaudaraan Iblis itu tentu tidak akan membiarkan lawannya yang hendak kembali berdiri. Baru beberapa langkah saja Argani berjalan, saat kaki kirinya mu
Di akhir malam yang hampir mendekati waktu subuh, para pengawal semuanya berkumpul di halaman istana, mereka digemparkan dengan sebuah keributan, empat orang dari mereka yang menjaga pintu gerbang telah tewas tergeletak dengan mulut bersimbah darah.Saat itu hanya tinggal dua belas orang p
Siluman Kera Putih dan Prabaswara saling bergerak dari arah berlawanan. Yang satu kelihatan ingin melimbai gada dan yang satu lagi hendak membabatkan golok. Langkah keduanya bagaikan arus sungai yang deras. Tak lagi mengenal kata surut apalagi tertahan.Saat golok Prabaswara akan mulai menyabet ke







