Home / Pendekar / 4 PUSAKA PENAKLUK JAGAT / Bab 121 : Rasa Perhatian Yang Spesial

Share

Bab 121 : Rasa Perhatian Yang Spesial

Author: Adil Perwira
last update publish date: 2025-04-14 09:48:35

Setelah pertarungan besar babak pertama selesai, masih ada tujuh ratus orang lagi dari prajurit kerajaan yang tersisa. Namun yang memilukan, Abirama akhirnya menghembuskan nafas terakhir dalam pelukan sang adik.

Senopati Wibisana coba mendekat ke Alindra. Wanita itu masih menangis dan memeluk erat sang kakang yang sudah tak bernyawa lagi. Dengan perasaan iba, dia pun duduk di samping Alindra dan berusaha menabahkan.

“Bersabarlah, Alindra. Kakangmu adalah seorang pendekar sejati. Dia sudah berju
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • 4 PUSAKA PENAKLUK JAGAT   Bab 158 : Perjanjian

    Malam yang dingin menyelimuti rimba raya, suasana larutnya menenggelamkan suara jangkrik, kelompok kunang-kunang masih berpijar, gemerlapan di ranting pohon, kelap-kelipnya seolah menggantikan cahaya kejora yang sirna di langit. Kala itu embun dini hari sudah turun, rerumputan yang basah pun memancarkan bau lembab, berpadu dengan aroma daun-daun busuk yang menghitam di tanah.Dalam kondisi setengah sadar, Patrioda diikat tergantung pada sebatang dahan pohon. Kepalanya menghadap ke bawah, sedangkan dua kakinya mengarah ke atas. Dia sekarang tak ubahnya bagaikan kelelawar yang biasa bergelantungan di langit-langit gua.Lilitan akar-akar yang kokoh dan tumbuhan liar yang melayap membelenggu sekujur badannya. Entah sudah berapa lama dia siksa seperti itu, tenggorokannya terasa kering mencekat, kepalanya pusing dan perutnya mual. Cuma dialah satu-satunya yang terpisah dari rombongan saat berada di Gunung Ratri. Setelah yang lain sudah kembali ke istana, lelaki ini malah jadi bulan-bulanan

  • 4 PUSAKA PENAKLUK JAGAT   Bab 157 : Keputusan Yang Bulat

    Di hadapan pintu kamar Jaka Purnama sendirian termenung. Walaupun malam kian meninggi, tapi lelaki itu masih belum jua istirahat. Dengan ditemani nyianyian Jangkrik dan hawa dingin yang menari di keheningan, dua tangannya bertumpu pada pagar kayu, dia silangkan semua jemarinya, pikirannya pun mulai membayangkan tentang apa yang akan terjadi besok.Derap langkah di lantai papan tiba-tiba terdengar. Ada yang datang mendekatinya. Jaka Purnama pun mengalihkan pandangannya ke sebelah kanan. Tampaklah olehnya seorang wanita berpakaian kuning muncul, berjalan dengan anggun. Dia ini tidak lain adalah Alindra, dirinya tampak sedang membawa gelas bambu yang mengepulkan asap.Wanita itu tersenyum manis. Dia berhenti di dekat Jaka Purnama, lalu menyuguhkan minuman yang dibawanya tersebut. Aroma harum pun seketika tercium dari asap yang mengepul itu. Jaka Purnama tahu kalau itu adalah segelas kopi tubruk yang nikmat.“Minumlah, Kakang. Aku sengaja membuatkannya untukmu, biar Kakang tidak bosan mer

  • 4 PUSAKA PENAKLUK JAGAT   Bab 156 : Pertanyaan Yang Tajam

    Setiba di ruangan khusus tempat menghadap sang raja, Giandra dan Jaka Purnama berjalan menginjakkan kaki di atas hamparan karpet merah. Cahaya obor menerangi ruangan yang megah ini. Di atas kepala mereka langit-langit istana yang remang dihiasi dengan berbagai ukiran gambar, menambah nuansa keelokan yang memukau pandangan.Senopati Wibisana segera mengambil tempat duduk di bawah anak tangga batu, berseberangan dengan Senopati Taraka. Tugasnya telah selesai untuk menghadirkan ayah dan anak ini ke hadapan sang raja. Di atas anak tangga batu yang bertingkat tiga itu terdapat lantai tinggi yang mirip seperti panggung. Di sana ada tiga buah singgasana dari kayu jati yang berukir, lapisan luarnya berupa sapuan emas yang berkilauan dan dihiasi pula dengan taburan-taburan intan. Pada singgasana yang di tengah, duduklah Prabu Surya Buana. Dia mengenakan jubah berwarna perak, mahkota bertabur permata, dan di lehernya ada seutas kalung yang berliontinkan Mustika Permata Hijau, benda ajaib yang

  • 4 PUSAKA PENAKLUK JAGAT   Bab 155 : Undangan Menghadap Prabu

    Malam telah turun menggantikan siang. Kilauan kejora menaburi langit di atas Istana Kerajaan Jayakastara. Puing-puing dari sebagian bangunannya yang runtuh masih berserakan tidak karuan. Bulan yang menggantung di awang-awang menyorotinya dalam warna keremangan. Angin yang lembut perlahan mendesah, membawa hawa dingin yang membelai kulit, berpadu dengan bau rumput dan semerbak bunga-bunga yang tumbuh di halaman istana. Kawanan kunang-kunang berkerlipan pada setiap lembar daun yang berjuntaian di pohon-pohon. Cahaya mereka terus berjoget bagaikan para penari. Dendangan syahdu dari jangkrik malam pun turut mengiringinya.Kala itu di halaman istana, Giandra tegak seorang diri di atas pendopo yang terbuat dari kayu jati. Sepasang bola matanya menatap ke angkasa raya yang luas. Seakan-akan dia hendak bertanya pada Ilahi, mengapa dunia ini begitu kejam?Sudah banyak nyawa gugur dalam pertempuran menghadapi Persaudaraan Iblis. Sekitar dua ribu pasukan yang diturunkan semuanya habis tanpa te

  • 4 PUSAKA PENAKLUK JAGAT   Bab 154 : Pertemuan Ayah dan Anak

    Begitu cepat kejadian tadi berlangsung. Padahal semula Giandra sempat pasrah waktu tubuhnya terhempas dari awang-awang. Deburan angin bergemuruh laksana nyainyian ribuan tawon yang bergetar di gendang telinganya. Tahu-tahu, kini dia sudah dibawa turun ke tanah dengan selamat. Pertolongan itu hadir tepat waktu. Menangkapnya bagaikan kilat di saat tak ada lagi harapan untuk bertahan.Orang berjubah putih melepaskan dekapannya dari Giandra. Pandangan matanya yang tajam menengadah ke atas. Sosok Iblis Hitam masih mengawang bagaikan kelelawar raksasa di udara. Makhluk brutal itu harus cepat dihentikan sebelum istana kerajaan yang telah runtuh sebagian jadi makin porak-porandaSi orang berjubah putih menoleh pada Giandra. Cahaya wajahnya memancarkan aura keteduhan. Dia memang tidak tersenyum, namun menatap Giandra dengan lembut. Tangan kanannya kemudian meremas pundak Giandra. Sentuhan itu terasa akrab, seakan Giandra tak sing dengan tangan lembut yang bertelapak tebal itu. Dalam hati dia be

  • 4 PUSAKA PENAKLUK JAGAT   Bab 153 : Pertaruhan Terakhir

    Lama kelamaan, asap hitam yang beredar menyelimuti Giandra itu tambah pekat. Setitik pun cahaya tak lagi terlihat dalam kurungan ini. Seolah-olah dia tengah berdiri di dasar jurang yang tak pernah terjamah sinar matahari, suasana angker menari-nari di sekelilingnya.Bahkan walau pandangan Giandra didongakan, awang-awang di atasnya juga penuh dengan halimun gelap yang berputar. Perlahan dadanya mulai merasakan sempit, dan makin lama sesak itu pun makin kuat, karena paru-parunya kurang mendapatkan aliran udara bersih.Di keadaan yang sulit itu, sehembus ilham bagai bertiup ke dalam hati Giandra. Pikirannya kembali ingat kalau dia telah memiliki Ajian Tatapan Rajawali Menembus Awan. Bukankah kabut hitam ini juga laksana awan tembal yang membentuk tembok-tembok berkeliling? Dia pasti bisa mengatasinya.Kemilau cahaya putih terpancar di kedua bola mata Giandra. Dalam penglihatan di bawah petunjuk dari ajian yang dia gunakan itu, tampaklah wujud Iblis Hitam rupanya kini ada delapan sosok. S

  • 4 PUSAKA PENAKLUK JAGAT   Bab 104 : Cinta Yang Digantungkan

    Kata-kata Patrioda itu membuat Puteri Seroja jadi malu. Ternyata pendekar satu ini begitu berani berucap demikian, dia tidak segan-segan melakukan gombalan meski pada seorang puteri kerajaan.Namun walau hal ini sebenarnya tidaklah pantas, Puteri Seroja bisa maklum dan menghargai Patrioda.

  • 4 PUSAKA PENAKLUK JAGAT   Bab 103 : Bunga Yang Paling Memikat

    Di halaman Istana yang sejuk, penuh dengan aneka bunga-bunga dan pohon yang hijau, Puteri Seroja sedang berjalan ditemani oleh dua orang dayang.Selagi malam masih belum larut, dia sejenak ingin berkeliling menikmati suasana, menghirup udara segar sambil menatap keindahan bintang-bintang y

  • 4 PUSAKA PENAKLUK JAGAT   Bab 98 : Panglima Surai Hitam Mengamuk

    “Hey, Jimbalang Loreng!” seru Panglima Surai Hitam seraya membuka lebar kedua kakinya dan mengepalkan tangan. “Tujuh belas tahun yang silam kau pernah mencelakai kakangku, Pangeran Surai Emas. Hari ini akan kubuat kau menerima balasan dari apa yang dahulu kau lakukan terhadapnya

  • 4 PUSAKA PENAKLUK JAGAT   Bab 95 : Diterimanya Damayanti Bergabung

    Prabu Surya Buana yang tadi hanya diam menonton kini sadar bahwa pertarungan dua orang ini sudah harus dihentikan sekarang. Sebab keduanya tampak akan saling mencelakai satu sama lain, tak mustahil kalau pertemuan dua jurus itu bisa membuat keduanya tewas!“Mpu Bhiantar, cepat hentik

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status