LOGIN"Papa!!"Dua suara renyah terdengar serentak dari arah pintu utama. Arvan dan Kyara berlari secepat kilat, kedua anak itu langsung menerjang dan memeluk erat kaki papanya yang baru saja melangkah masuk ke rumah. Mata mereka berbinar penuh kebahagiaan yang tak bisa disembunyikan."Papa pulang! Papa benar-benar pulang!" seru Kyara sambil menempelkan pipinya ke celana Arkan.Arkan berlutut, merangkul kedua anaknya itu dengan penuh kasih sayang, menciumi wajah mereka bergantian. "Iya, Nak. Papa pulang. Papa tidak ke mana-mana lagi."Di ruang tengah, Ratna berdiri mematung. Matanya menatap sosok putranya yang ada di sana — utuh, sehat, bernapas. Dia mengusap matanya pelan, seolah tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Selama ini dia menangis setiap malam, meratapi kepergian putra kesayangannya. Dan sekarang... Arkan berdiri di hadapannya, tersenyum hangat seperti dulu."Arkan..." panggil Ratna pelan, suaranya bergetar. "Arkan... apa yang terjadi? Bukankah... bukankah kamu sudah..."Arka
Ruangan itu seketika menjadi sunyi senyap. Tidak ada satu pun yang berani bernapas keras. "Kamu kurus... pucat... bibirmu pecah-pecah. Kamu seperti tidak sehat," ucap Arkan pelan, suaranya lembut namun terdengar jelas hingga ke sudut ruangan. Matanya menatap lekat wajah istrinya yang masih mematung seolah terhipnotis, tidak percaya dengan apa yang dia lihat. Namun air mata Kiana sudah mewakili mengalir deras tanpa bisa ditahan, membasahi pipinya. Jari-jarinya menyentuh rahang tegas pria itu — merasakan kehangatan kulitnya, merasakan denyut nadi yang masih berdetak. Rasanya nyata. Terlalu nyata untuk sekadar mimpi."I- ini... beneran kamu?" tanyanya bergetar, suaranya nyaris tak terdengar, matanya masih berkaca-kaca tak percaya. "Aku... aku tidak bermimpi kan?"Arkan tersenyum lembut, lalu mengangguk pelan. "Ini aku, Sayang. Aku benar-benar di sini. Aku tidak akan pergi ke mana-mana." Kiana langsung menerjang ke pelukan suaminya. Dia memeluknya erat sekali — begitu erat seakan tak
Malam semakin larut, di kediaman Ratna — ibu mertua Kiana — masih duduk menunggu di ruang tengah. Matanya sesekali melirik ke arah jam dinding yang jarumnya terus berputar menjauhi waktu. Sudah lewat tengah malam, namun menantunya belum juga pulang. Anak-anak sudah terlelap, sementara Kiana tak juga kembali."Ke mana saja Kiana... sudah seharian ini tidak ada kabar," gumam Ratna cemas. "Biasanya kalau pergi sebentar saja pasti sudah memberi kabar... apa terjadi sesuatu padanya?"Dia menarik napas, lalu melihat pintu utama dengan harapan Kiana pulang. Namun, tetap saja nihil._ Di kediaman Soraya, wanita itu berdiri di depan cermin besar di kamarnya. Hari ini adalah hari yang paling penting dalam sejarah hidupnya — hari di mana dia akan resmi menduduki kursi Direktur Utama.Soraya menatap pantulan dirinya sendiri di cermin, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum penuh kemenangan. Tidak lama lagi... semuanya akan menjadi miliknya."Kau..." Soraya menoleh ke belakang, memanggil sa
Plak! Sekali lagi Soraya menampar Kiana sangat keras mendengar ucapan wanita itu."Kau pikir aku tidak pernah memikirkan semua itu? Aku akan membunuh orang tua bangka itu, lalu menukar semua wasiat jadi milikku! Tidak ada sepeser pun yang kau dan anak-anakmu akan dapat! Ha ha ha ha ha!""Apa maksudmu? Siapa yang ingin kau bunuh?" Kiana bertanya curiga."Siapa lagi kalau bukan si Wanda! Aku jadi begini karena dia! Dan akan kubalas dengan tuntas!" Soraya tertawa licik, lalu menatap tajam ke arah Kiana. "Oh ya... satu lagi. Aku cuma mau bilang sama kamu — sebenarnya bukan suamimu yang membunuh ibumu. Tapi memang seperti yang aku bilang di awal...""Dara, yang membunuh ibumu.""Apa! Jadi selama ini kau berbohong!" Tak lama, sosok Dara muncul bersama Hendra."Bagaimana, Kiana? Seru nggak permainannya selama ini?" ujar Dara dengan angkuhnya. "Kau terus membenci suamimu tanpa kau tahu kalau akulah pembunuh sebenarnya.""Licik!!" Teriak Kiana.Dara melangkah menghampiri Kiana, tanpa aba-
Ponsel di samping tempat tidur Kiana bergetar. Segera ia mengulurkan tangan perlahan, mengangkatnya."Halo?""Dengan Bu Kiana?""Ya, saya sendiri.""Saya dari Rumah Sakit Prima Huda. Mengenai permohonan Anda untuk bekerja di sini, kami ingin memberitahukan bahwa lamaran Anda sudah diterima. Anda bisa mulai bekerja besok."Kiana terdiam sejenak. Sudah dua minggu semenjak kepergian suaminya, dan selama itu dia belum pernah keluar rumah. Dia hanya mengurung diri, membuat mertua dan anak-anaknya semakin hari semakin khawatir dengan kondisinya."Saya... masih butuh sedikit waktu. Ada beberapa hal yang seharusnya saya selesaikan dulu," jawab Kiana sebenarnya belum siap untuk bekerja karena hatinya masih berbagi."Baiklah kalau begitu. Kami mengerti."Panggilan pun diputus.Tak lama kemudian, ponselnya kembali berkedip — sebuah pesan masuk. Kiana membukanya, ternyata dari Dokter Gibran."Kiana, bagaimana kabarmu? Kapan kau akan mulai masuk bekerja?"Kiana mengetik balasannya."Dokter Gibra
Setelah berjam-jam tim medis berusaha sekuat tenaga menyelamatkan nyawa Arkan, akhirnya pintu ruang UGD terbuka perlahan. Kiana bersama Ratna — mertuanya yang baru saja dia hubungi dan beritahu tentang kondisi putranya — telah menunggu dengan cemas sejak tadi air mata keduanya tak berhenti menangis.Melihat pintu yang terbuka, Kiana dan Ratna segera bergegas menghampiri dokter yang keluar dari ruangan."Bagaimana, Dokter? Bagaimana dengan suami saya?" tanya Kiana berharap suaminya terlepas dari maut. Ratna di sampingnya terus menangis tak henti.Gibran menggeleng pelan, wajahnya tampak ikut merasakan kesedihan yang menimpa Kiana. "Maaf... kami tidak bisa menyelamatkan Tuan Arkan. Racun sudah menyebar ke seluruh tubuhnya, merusak jantung dan saraf-saraf dalam tubuhnya. Semua fungsi vital sudah berhenti. Tidak ada harapan lagi untuk hidup."Bruk.Kiana jatuh lemas tersungkur ke lantai."Arkan!! Anakku!!" Ratna berteriak histeris mendengar kabar bahwa putra satu-satunya itu telah tiad







