Share

Bab 2: Sang Dalang

Penulis: Mf²h
last update Terakhir Diperbarui: 2025-09-03 16:26:30

Maya menyesap kopi hitamnya yang mulai mendingin. Kedai kopi ini sudah hampir tutup, tapi pemiliknya, Pak Jamal, terlalu baik untuk mengusirnya. Lagipula, Maya adalah pelanggan setia. Setiap Sabtu malam, dia selalu duduk di sudut yang sama, dengan laptop yang sama, dan segelas kopi hitam yang sama.

"Masih nulis, Mbak?" tanya Pak Jamal sambil mengelap meja di sebelahnya.

Maya tersenyum tipis. "Selalu, Pak."

Yang tidak diketahui Pak Jamal adalah bahwa yang ditulis Maya bukan sekadar cerita fiksi biasa. Buku catatan di sebelah laptopnya berisi diagram rumit hubungan antara teman-teman SMA-nya. Garis-garis penuh warna menghubungkan nama-nama dengan keterangan rinci: siapa menyukai siapa, siapa pernah menyakiti siapa, dan yang paling penting, siapa yang masih menyimpan perasaan untuk siapa.

Maya bukan sekadar penulis novel. Dia adalah pengamat, pencatat, dan kadang-kadang, pengendali boneka.

Ponselnya bergetar. Pesan dari Luna. Tangkapan layar percakapan di grup "SMA Tanpa Drama".

"Mereka semua heboh. Faris mengaku punya suami," gumam Maya, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman kecil.

Dia membuka buku catatannya, membalik ke halaman yang penuh dengan tulisan tentang Faris dan Alya. Hubungan tujuh belas kali putus balikan yang melegenda di angkatan mereka. Faris si jenius matematika yang tak bisa mengekspresikan perasaan, dan Alya si "Dewi Galau" yang terlalu mudah terbawa emosi.

Maya mencoret sesuatu di bukunya dan menulis catatan baru.

"Fase satu: berhasil."

Ponselnya bergetar lagi. Kali ini telepon masuk. Nama "Pak Surya" tertera di layar. Maya tersenyum lebih lebar.

"Selamat malam, Pak Guru," sapa Maya.

"Malam, Maya. Kudengar strategi pertama sudah berjalan?"

Maya melirik laptopnya yang menampilkan laman siniar tempat Faris menjadi bintang tamu. Rating-nya meroket dalam beberapa jam terakhir.

"Sesuai rencana. Faris melakukan bagiannya dengan baik, meski dia terdengar sangat gugup."

"Bagaimana dengan Alya?"

"Luna baru saja melaporkan. Alya merespons persis seperti yang kita prediksi. Bahkan lebih baik. Dia sudah berinteraksi langsung dengan Faris."

Terdengar tawa kecil dari seberang telepon. "Kau selalu jadi murid terbaikku dalam memahami orang lain, Maya."

Maya tersenyum. Pak Surya, mantan guru BK mereka, kini menjadi motivator terkenal dengan pendekatan psikologi praktisnya. Tapi bagi Maya, beliau tetap guru favorit yang dulu selalu punya waktu untuk mendengarkan masalah murid-muridnya.

"Jadi, kapan kita mulai fase dua?" tanya Pak Surya.

Maya melirik kalender di laptopnya. "Besok. Minggu pagi."

"Kau yakin waktunya cukup? Reuni tinggal seminggu lagi."

"Justru itu, Pak. Kita butuh tekanan waktu untuk mendorong mereka. Terlalu lama, mereka akan punya kesempatan untuk berpikir terlalu banyak."

Maya bisa membayangkan Pak Surya mengangguk di seberang sana. Strategi psikologis selalu menjadi keahlian guru BK itu.

"Bagaimana dengan pasangan lain? Rizky dan... kau?"

Maya merasakan wajahnya sedikit memanas. "Saya sudah mengatur pertemuan 'tidak sengaja' dengan Rizky besok. Di masjid dekat rumahnya."

"Hati-hati, Maya. Jangan sampai strategimu untuk orang lain mengorbankan kebahagiaanmu sendiri."

Maya terdiam sejenak. Hubungannya dengan Rizky memang rumit. Dulu, saat SMA, Maya adalah gadis pendiam yang selalu membaca buku di perpustakaan. Rizky adalah playboy sekolah yang berganti pacar setiap bulan. Mereka seperti berasal dari dunia berbeda.

Tapi ada satu semester di kelas tiga, saat mereka dipasangkan dalam proyek penelitian sosial. Selama tiga bulan itu, Maya melihat sisi Rizky yang tidak pernah ditunjukkan pada orang lain. Sisi yang tulus, cerdas, dan penuh perhatian.

Saat proyek selesai, mereka kembali ke dunia masing-masing. Rizky kembali pada kebiasaan lamanya, dan Maya kembali tenggelam dalam buku-bukunya. Tapi perasaan itu tidak pernah benar-benar hilang.

Delapan tahun kemudian, Rizky kini menjadi ustadz muda yang dihormati. Dan Maya? Maya menjadi penulis novel yang tulisannya selalu laris, meski tidak ada yang tahu identitas aslinya. Dia menulis di bawah nama pena, dan hanya beberapa orang dekat yang tahu rahasianya.

"Saya akan berhati-hati, Pak," jawab Maya akhirnya.

"Bagus. Karena menurutku, Rizky masih menyimpan perasaan untukmu."

Maya mengerjapkan mata. "Bagaimana Bapak bisa tahu?"

Pak Surya tertawa kecil. "Aku ini mantan guru BK, ingat? Lagipula, Rizky selalu bertanya tentangmu setiap kali kami bertemu di kajian."

Maya merasakan jantungnya berdetak lebih cepat. "Apa yang dia tanyakan?"

"Oh, hal-hal biasa. Bagaimana kabarmu, apa kau sudah menikah, di mana kau tinggal sekarang."

Maya menggigit bibir. Rizky menanyakan itu semua pada Pak Surya, tapi tidak pernah menghubunginya langsung? Dasar pengecut.

"Sudahlah, Maya. Fokus dulu pada misi utama kita. Alya dan Faris."

Maya mengambil napas dalam-dalam, mengembalikan fokusnya. "Tentu, Pak. Besok saya akan mulai menggerakkan pion-pion lainnya."

"Jangan lupa libatkan Bu Ratna juga. Dia sudah tidak sabar ingin membantu."

Maya tersenyum. Bu Ratna, mantan wali kelas mereka, kini menjadi kepala sekolah. Wanita itu punya radar khusus untuk mendeteksi pasangan yang cocok.

"Saya sudah menyiapkan peran untuk Bu Ratna. Fase tiga."

"Bagus. Ah, sudah malam. Istri saya pasti sudah menunggu. Sampai jumpa besok, Maya."

"Sampai jumpa besok, Pak."

Maya menutup telepon dan kembali fokus ke laptopnya. Dia membuka dokumen baru dan mulai mengetik judul:

"7 HARI SEBELUM REUNI: MISI MANTAN TERINDAH"

Mungkin ini akan menjadi novelnya yang paling personal. Novel yang ditulis berdasarkan kisah nyata yang akan terjadi dalam tujuh hari ke depan.

Maya menutup laptopnya dan memasukkannya ke dalam tas. Sudah hampir tengah malam, dan besok akan menjadi hari yang panjang. Dia harus berada di posisinya sebelum pion-pion lain mulai bergerak.

"Mbak Maya mau pulang?" tanya Pak Jamal yang sedang mengunci pintu depan.

"Iya, Pak. Terima kasih sudah membiarkan saya duduk sampai larut begini."

"Sama-sama, Mbak. Mbak Maya kan pelanggan spesial." Pak Jamal tersenyum. "Itu novel baru ya yang Mbak tulis?"

Maya mengangguk. "Yang paling spesial."

"Wah, jangan lupa kasih tanda tangan kalau sudah terbit ya."

Maya tertawa kecil. "Pasti, Pak."

Saat melangkah keluar dari kedai kopi, Maya merasakan ponselnya bergetar lagi. Pesan dari Luna.

"Maya! Kamu harus lihat ini! Komentar Alya di foto Faris jadi viral!"

Luna melampirkan tangkapan layar dari T*****r. Maya tersenyum puas. Dia bahkan tidak perlu mengatur bagian ini. Semuanya mengalir secara alami, seperti yang sudah dia prediksi.

"Mereka membuatnya terlalu mudah," gumamnya sambil memasukkan ponsel ke saku jaket.

Maya berjalan menuju apartemennya yang hanya berjarak dua blok dari kedai kopi. Malam ini dingin, tapi Maya tidak merasa kedinginan. Ada kehangatan aneh yang menjalar di dadanya. Perasaan saat rencana yang sudah lama disusun akhirnya mulai berjalan.

Saat sampai di apartemen, Maya langsung menuju meja kerjanya. Di sana, terbentang sebuah papan besar dengan foto-foto teman-teman SMA-nya. Benang merah, biru, dan hijau menghubungkan foto-foto itu, menciptakan jaringan kompleks yang hanya dia yang memahami sepenuhnya.

Maya mengambil foto Alya dan Faris, lalu menempelkannya di tengah papan. Kemudian, dia mengambil paku payung berwarna merah dan menancapkannya, menandai awal dari operasinya.

"Saatnya mereka semua tahu kebenarannya," gumamnya.

Maya membuka laci meja dan mengeluarkan amplop coklat tebal. Di dalamnya berisi undangan reuni yang akan disebarkan besok pagi. Undangan biasa bagi kebanyakan orang, tapi bagi Maya, itu adalah alat untuk mengumpulkan semua pion dalam permainannya.

Dia membuka buku catatannya lagi dan mulai menulis rencana detail untuk besok. Siapa yang harus ditemui, apa yang harus dikatakan, dan bagaimana mengatur agar semuanya terlihat alami.

Maya selalu percaya bahwa cinta sejati butuh sedikit dorongan. Dan kadang-kadang, dorongan itu perlu datang dalam bentuk konspirasi kecil yang rumit.

Ponselnya bergetar lagi. Pesan dari nomor yang tidak terdaftar.

"Aku tahu apa yang kau rencanakan."

Maya mengernyitkan dahi. Dia mengamati nomor itu lebih teliti. Kode area Jakarta. Siapa?

"Siapa ini?" balasnya.

"Seseorang yang tahu kau sedang mengatur pertemuan antara Alya dan Faris."

Jantung Maya berdetak lebih cepat. Apakah ada yang mengetahui rencananya?

"Aku tidak mengerti maksudmu," Maya mencoba mengelak.

"Jangan khawatir. Aku di pihakmu. Aku juga ingin mereka bersatu kembali."

Maya ragu sejenak sebelum membalas. "Kau siapa?"

"Panggil saja aku sekutu. Aku punya informasi yang kau butuhkan tentang Faris. Temui aku besok di Kafe Kala jam 3 sore. Datang sendiri."

Maya menatap pesan itu dengan campuran curiga dan penasaran. Siapa yang tahu tentang rencananya? Dan informasi apa yang dimiliki orang ini tentang Faris?

Setelah beberapa saat berpikir, Maya memutuskan untuk membalas.

"Baiklah. Tapi aku perlu tahu siapa kau sebenarnya sebelum bertemu."

Balasan datang cepat. "Seseorang dari masa lalu Faris. Aku akan memakai kemeja biru. Kau akan mengenaliku saat melihatku."

Maya menggigit bibir, berpikir keras. Ini bisa jadi jebakan, tapi juga bisa jadi kesempatan untuk mendapatkan informasi berharga. Setelah menimbang risikonya, Maya memutuskan untuk mengambil kesempatan itu.

"Baik. Sampai bertemu besok."

Maya meletakkan ponselnya dan kembali menatap papan rencananya. Mungkin dia perlu menyesuaikan beberapa hal. Rencana yang baik selalu fleksibel, mampu beradaptasi dengan faktor-faktor tak terduga.

"Ini akan menarik," gumamnya.

Maya mengambil foto Rizky dan menempelkannya di sebelah fotonya sendiri. Untuk sesaat, dia menatap foto itu dengan pandangan yang sulit diartikan. Campuran rindu, sayang, dan mungkin... penyesalan.

Delapan tahun adalah waktu yang lama. Orang bisa berubah banyak. Rizky yang dulu playboy kini menjadi ustadz. Dan Maya yang dulu pemalu kini memanipulasi kehidupan teman-temannya demi bahan novel.

Apa yang akan dikatakan Rizky jika tahu apa yang dilakukannya sekarang?

Maya menggelengkan kepala, mengusir pikiran itu. Ini bukan saatnya untuk ragu. Dia sudah merencanakan ini selama berbulan-bulan. Tujuh hari menuju reuni, tujuh hari untuk menyatukan kembali pasangan-pasangan yang "salah jalan".

Dimulai dengan Alya dan Faris.

Maya menutup buku catatannya dan mematikan lampu meja. Besok akan menjadi hari yang sibuk. Dia perlu istirahat.

Tapi sebelum beranjak tidur, Maya membuka ponselnya sekali lagi dan mengirim pesan pada Luna.

"Besok, mulai sebarkan undangan reuni. Pastikan Alya dan Faris menerima undangan versi khusus."

Luna membalas hampir seketika. "Siap, Kapten! Operasi Cupid dimulai!"

Maya tersenyum. Luna memang tidak tahu rencana lengkapnya, tapi dia adalah sekutu yang berharga. Sebagai mantan admin akun gosip sekolah, Luna punya jaringan informasi yang luas dan kemampuan untuk menyebarkan informasi dengan cepat.

"Jangan lupa juga undangan untuk Rizky," tambah Maya.

"Tentu! Mau versi khusus juga?"

Maya terdiam sejenak. "Tidak perlu. Versi biasa saja."

"Hmm, mencurigakan. Ada apa dengan Ustadz Rizky?" goda Luna.

"Tidak ada apa-apa. Tidurlah, Luna. Besok kita mulai pagi-pagi."

"Baiklah, Nyonya Dalang. Selamat malam!"

Maya tersenyum kecil dan meletakkan ponselnya. Luna dan julukan-julukannya.

Saat berbaring di tempat tidur, Maya tidak bisa menahan diri untuk memikirkan Rizky. Besok dia akan melihatnya lagi setelah sekian lama. Ustadz Rizky yang dulunya playboy sekolah. Bagaimana reaksinya nanti saat melihat Maya?

Maya memejamkan mata, membayangkan pertemuan mereka besok. Dia sudah mengatur semuanya, dari tempat hingga waktu. Sebuah "kebetulan" yang sempurna.

Tapi sebelum tertidur, Maya teringat pesan misterius tadi. Siapa "sekutu" ini? Dan informasi apa yang dimilikinya tentang Faris?

"Tujuh hari," bisik Maya pada dirinya sendiri. "Tujuh hari untuk mengubah segalanya."

Dengan pikiran itu, Maya akhirnya tertidur, bermimpi tentang benang-benang takdir yang dia pintai menjadi sebuah kisah. Kisah yang akan dimulai besok pagi.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • 7 HARI SEBELUM REUNI: Misi Mantan Terindah   Bab 80: Satu Tahun Kemudian

    Aula SMA Pelita Harapan kembali dihias dengan indah, kali ini untuk acara yang berbeda namun sama istimewanya: Reuni Akbar Satu Tahun Pernikahan. Spanduk besar terbentang di atas pintu masuk, "SELAMAT DATANG DI REUNI SATU TAHUN PERNIKAHAN MASSAL ANGKATAN 2015".Alya berdiri di depan cermin panjang yang dipasang di ruang persiapan, merapikan jilbab baby blue-nya yang senada dengan gamis panjang yang dia kenakan. Di sampingnya, putra kecilnya yang berusia tiga bulan tertidur pulas dalam gendongan Faris."Kamu yakin Faiz akan baik-baik saja?" tanya Alya untuk kesekian kalinya, melirik khawatir pada bayi mungilnya. "Mungkin kita datang terlalu cepat. Bagaimana kalau dia terbangun dan menangis di tengah acara?"Faris tersenyum menenangkan. "Faiz akan baik-baik saja, sayang. Dia bayi yang tenang. Lagipula, kita tidak sendiri. Ada banyak bayi lain di sini, ingat?"Alya mengangguk, masih sedikit cemas tapi mencoba tenang. Faris benar, mereka tidak s

  • 7 HARI SEBELUM REUNI: Misi Mantan Terindah   Bab 79: Enam Bulan Kemudian

    Maya mengelus perutnya yang mulai membesar dengan sayang. Tujuh bulan kehamilannya telah memberikan perubahan signifikan pada tubuhnya, tapi dia tidak keberatan. Setiap gerakan kecil dari bayi di dalam perutnya adalah pengingat akan keajaiban yang sedang dia alami."Kamu baik-baik saja?" tanya Rizky, melirik istrinya dengan khawatir dari balik kemudi. "Perjalanan ini tidak terlalu melelahkan?""Aku baik-baik saja," Maya meyakinkan dengan senyum. "Bayi kita juga baik-baik saja. Dia sepertinya bersemangat sekali hari ini, tidak berhenti bergerak.""Mungkin dia juga tidak sabar melihat sekolah kita," Rizky tertawa kecil. "Tempat ayah dan ibunya pertama kali bertemu."Maya menatap keluar jendela mobil. Jalanan Jakarta di pagi hari masih ramai meski ini hari Minggu. Hari ini adalah hari yang sangat spesial peluncuran novel terbarunya, "7 Hari Sebelum Reuni: Misi Mantan Terindah", yang diadakan di aula SMA lama mereka. Bukan hanya itu, acara ini j

  • 7 HARI SEBELUM REUNI: Misi Mantan Terindah   Bab 78: Satu Bulan Kemudian

    Alya merapikan meja kerjanya di sudut ruang guru TK Pelangi Ceria. Jam dinding menunjukkan pukul tiga sore, dan anak-anak sudah dijemput oleh orang tua mereka masing-masing. Hanya tersisa beberapa guru yang masih menyelesaikan pekerjaan mereka."Alya, ponselmu berbunyi," seru Bu Rini, kepala TK, dari mejanya.Alya menoleh ke arah tasnya yang tergeletak di sofa ruang guru. Dia bisa mendengar deringan samar dari sana. Dengan cepat, dia menghampiri tas dan mengambil ponselnya. Nama Maya muncul di layar."Halo, Maya," sapa Alya, menjepit ponsel di antara telinga dan bahunya sementara tangannya melanjutkan merapikan barang-barangnya."Alya! Akhirnya!" suara Maya terdengar sangat bersemangat. "Aku sudah meneleponmu tiga kali.""Maaf, tadi sedang mengajar," Alya tersenyum. "Ada apa? Kamu terdengar seperti baru memenangkan lotere.""Lebih baik dari lotere," jawab Maya. "Aku hamil!"Alya terkesiap, nyaris menjatuhkan beberapa lem

  • 7 HARI SEBELUM REUNI: Misi Mantan Terindah   Bab 77: Ketidaksempurnaan Sempurna

    Maya duduk di sudut ruangan, notebook kecilnya terbuka di pangkuan. Sementara teman-temannya masih asyik bernostalgia dan mengobrol, dia mengambil waktu sejenak untuk merefleksikan semua yang telah terjadi malam ini. Tangannya bergerak lincah di atas kertas, mencatat setiap detail, setiap momen, setiap ekspresi yang dia lihat."Masih bekerja bahkan di pesta sendiri?" sebuah suara mengejutkannya.Maya mendongak dan melihat Rizky berdiri di sampingnya dengan dua gelas minuman. Dia tersenyum, menerima salah satu gelas dari suaminya."Bukan bekerja," Maya mengoreksi lembut. "Mengabadikan momen."Rizky duduk di sampingnya, mengintip isi notebook tersebut. "Dan bagaimana kesimpulanmu tentang malam ini, Nyonya Penulis?"Maya menutup notebooknya dan menatap ke arah teman-teman mereka yang masih berkumpul dalam kelompok-kelompok kecil, tertawa dan berbagi cerita. "Sempurna," jawabnya. "Dalam segala ketidaksempurnaannya.""Ketidaksempurnaan?" Rizky me

  • 7 HARI SEBELUM REUNI: Misi Mantan Terindah   Bab 76: Tamu Tak Terduga

    Maya tidak bisa menahan senyumnya saat melihat Alya menunjukkan cincin safir pemberian Faris kepada teman-teman mereka. Rencananya berhasil bahkan melampaui ekspektasi. Bukan hanya Alya dan Faris yang kembali bersama, tapi juga Bimo dan Nadia yang bertunangan, serta Luna dan Dika yang menemukan chemistry tidak terduga."Kamu tampak sangat puas dengan dirimu sendiri," bisik Rizky di telinga Maya."Tentu saja," Maya menyeringai. "Lihat mereka semua. Bahagia berkat sedikit... intervensi dariku.""Dan konspirasi besar," tambah Rizky dengan tawa kecil. "Jangan lupa bagian itu.""Well, setiap penulis yang baik tahu kapan harus sedikit memanipulasi plot," Maya mengangkat bahu dengan jenaka.Saat mereka sedang asyik berbincang, pintu ballroom terbuka, dan sesosok pria tinggi dengan penampilan rapi masuk dengan langkah mantap. Seluruh ruangan mendadak hening, semua mata tertuju pada pendatang baru tersebut."Gibran?" bisik Luna, matanya

  • 7 HARI SEBELUM REUNI: Misi Mantan Terindah   Bab 75: Dansa Terakhir

    Alya menatap pantulan dirinya di cermin toilet wanita hotel dengan senyum kecil. Rambutnya yang dipotong pendek ternyata tidak seburuk yang dia bayangkan. Justru, potongan bob pendek ini membingkai wajahnya dengan sempurna, membuatnya terlihat lebih segar dan dewasa."Siapa sangka krisis rambut bisa berakhir sebagai blessing in disguise," gumamnya sambil merapikan anak rambut yang sedikit berantakan.Pintu toilet terbuka, dan Luna masuk dengan wajah berseri-seri."Disini kamu rupanya!" seru Luna. "Aku mencarimu kemana-mana.""Ada apa?" tanya Alya, mengalihkan perhatiannya dari cermin."MC baru saja mengumumkan bahwa acara akan berakhir dengan dansa terakhir," Luna menjelaskan dengan mata berbinar. "Seperti di prom night kita dulu. Dan kamu tahu lagunya apa? 'A Thousand Years'! Lagu yang kamu dan Faris dansa terakhir kali sebelum putus yang ke-17!"Alya terkesiap. "Kamu bercanda?""Tidak sama sekali," Luna menggeleng. "Ini pasti bagian

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status