Accueil / Romansa / 720 Jam / XVIII. Renung

Share

XVIII. Renung

Auteur: twonefr
last update Dernière mise à jour: 2021-09-12 00:22:56

Sesuai yang sudah dijadwalkan, hari ini adalah jadwal pameran Ivan dilaksanakan. Menyewa salah satu galeri besar yang di kota itu, seperti terasa sesak karena banyak sekali tamu yang hadir. Ini adalah pameran ketiga laki-laki itu, pameran kali ini diadakan bertujuan untuk membantu biaya pendidikan anak panti asuhan yang didirikan oleh keluarga Jayagra.

Anita yang sejak tadi berkeliling berhenti di salah satu lukisan dengan gambar sosok perempuan tapi di dalam suasana kelam, wanita itu lama memperhatikan lukisan itu dan jika dilihat baik-baik sepertinya Ivan menggambarkan dirinya. Anita tersenyum tipis melihat lukisan itu.

Saking seriusnya memperhatikan lukisan itu, ia tidak sadar jika sudah ada Gibran yang berdiri di sampingnya. “Serius banget, Nit.” ujar laki-laki itu tersenyum kecil.

Anita yang mendengar itu melihat ke arah Gibran lalu tersenyum kecil. “Bang Gibran juga di sini? Undangan perusahaan atau?” wanita itu menggantungkan kalimatnya.

Gibran

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application
Chapitre verrouillé

Latest chapter

  • 720 Jam   Epilog

    Mendekati HPL, rumah keluarga Radiga sudah tidak lagi terasa seperti rumah biasa, melainkan seperti pusat komando operasi militer. Semua orang berada dalam mode siaga penuh. Anita membuat checklist terakhir. Ia memastikan "Hospital Bag" sudah berada tepat di samping pintu utama dengan posisi yang paling mudah disambar."Mas, kalau kita berangkat jam 2 pagi, rute tercepat adalah lewat jalan tikus di belakang pasar, tapi kalau jam 8 pagi, kita harus lewat tol karena jalur utama akan macet total," ucap Anita sambil memetakan rute di kepalanya.Gibran hanya mengangguk patuh, meski ia sudah menghafal semua rute itu di luar kepala. "Semua sudah siap, Sayang. Mobil sudah penuh bensin, ban sudah dicek, dan Papa sudah menyiagakan sopir cadangan kalau-kalau Mas terlalu tegang untuk menyetir."Satu hari menjelang hari

  • 720 Jam   LX. Tanda Pasti

    Rumah keluarga Radiga kini telah berubah menjadi sebuah "Pusat Kendali Keamanan" tingkat tinggi. Sejak keputusan Anita untuk bekerja dari rumah (WFH) di usia kehamilan 35 minggu ini, ia tidak pernah dibiarkan sendirian barang satu menit pun.Karena Gibran, Ivan, dan Adit harus tetap menjalankan tugas profesional mereka di luar, "Shift Penjagaan" pun dibentuk dengan sangat rapi oleh para orang tua.Pagi hari adalah Sesi MamaTalita & Mama Bela) Pagi hari dimulai dengan kehadiran Mama Bela yang datang membawa berbagai jenis jamu ibu hamil dan buah-buahan segar. Bersama Ibu Talita, mereka menjadi "polisi nutrisi"."Anita kalau kamu duduk terus di depan laptop, aliran darah ke kaki jadi tidak lancar," ujar Mama Bela sambil memijat lembut betis Anita yang mulai bengkak. "Betul," timpal Ibu Talita. "Laptopnya Papa pindahkan ke meja yang lebih tinggi supaya kamu ti

  • 720 Jam   LIX. Tanda Tanda?

    Memasuki usia 35 minggu, Anita memang mulai sering merasakan Braxton Hicks atau kontraksi palsu. Perutnya yang sudah besar sering kali mengeras secara tiba-tiba, menciptakan sensasi tidak nyaman yang menjalar dari pinggang ke perut bawah.Siang itu, di ruang rapat yang dingin, suasana sedang sangat intens. Anita sedang memaparkan detail struktur untuk proyek resort terbaru. Namun, di tengah penjelasannya, ia tiba-tiba berhenti. Tangannya refleks bertumpu pada meja, sementara tangan lainnya memegang perut bawahnya."Mbak? Mbak Tata oke?" Miko yang duduk paling dekat langsung siaga, matanya membelalak panik."Sebentar..." bisik Anita. Ia memejamkan mata, mengatur napasnya dengan sangat teratur. In

  • 720 Jam   LVIII. Orang dari Masa Lalu

    Malam minggu di sebuah supermarket menjadi saksi pertemuan yang sama sekali tidak direncanakan. Gibran yang baru saja kembali dari dinas luar kota selama seminggu, tampak sangat manja dan siaga menjaga sang istri yang perutnya sudah membuncit. Ia mendorong troli dengan satu tangan, sementara tangan lainnya merangkul bahu Anita, seolah ingin membayar waktu yang hilang selama seminggu terakhir."Sayang, kamu mau buah naga atau alpukat? Aku baca alpukat bagus untuk perkembangan otak si kecil," tanya Gibran lembut sambil menciumi pelipis Anita.Anita tertawa kecil. "Dua-duanya boleh, Mas. Variasi nutrisi itu lebih—"Kalimat Anita terhenti seketika. Di depan rak susu, berdiri seorang wanita dengan pakaian yang sangat mencolok dan riasan tebal. Wanita itu adalah Gina, sosok yang dulu menghancurkan hubungan A

  • 720 Jam   LVII. Pengganggu

    Sore itu, udara terasa sejuk dan langit berwarna jingga keemasan. Anita, yang perutnya kini mulai sedikit menonjol di balik gaun hamilnya yang longgar, berjalan santai di taman kompleks sambil menggandeng lengan Gibran. Suasana sangat damai sampai sebuah suara memecah ketenangan mereka."Anita?"Keduanya menoleh. Di sana, berdiri Habib yang sedang berjalan ke arah berlawanan. Penampilan laki-laki itu tampak rapi, namun ada sorot mata yang sulit disembunyikan saat ia menatap Anita, sorot mata penuh kerinduan dan penyesalan yang masih tertinggal."Bang Habib," sapa Anita ramah namun formal.Habib mendekat, matanya seolah terkunci pada wajah Anita, lalu turun ke arah perut Anita yang membuncit. Wajahnya seketika berubah mendung, ada gurat pedih yang melintas cepat. "Kamu... apa kabar? Sepertinya kamu sangat bahagia," ucap Hab

  • 720 Jam   LVI. Suami Siaga

    Pagi yang seharusnya tenang setelah makan malam yang hangat itu tiba-tiba berubah menjadi kepanikan kecil. Gibran, yang biasanya paling terakhir bangun jika sedang libur, kini sudah melompat dari tempat tidur sejak subuh karena mendengar suara Anita di kamar mandi.Kondisi Anita pagi ini berbeda dari biasanya. Morning sickness yang kali ini menyerang tampak jauh lebih hebat. Wajahnya yang biasa segar dan elegan kini pucat pasi, keringat dingin membasahi keningnya, dan ia tampak sangat lemas hingga harus berpegangan kuat pada wastafel."Sayang, sudah... jangan dipaksa bangun dulu," ucap Gibran dengan nada sangat khawatir sambil memapah Anita kembali ke tempat tidur.Namun, baru saja kepala Anita menyentuh bantal, rasa mual itu kembali datang. Anita mencoba untuk duduk, tetapi kepalanya terasa berputa

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status