Share

BAB 20

Author: Mikaelach09
last update publish date: 2026-05-12 14:44:17

Begitu aku keluar dari kamar mandi, langkahku melambat. Pandanganku langsung menangkap pemandangan yang membuat dadaku terasa sesak.

Revan duduk menunduk, fokus pada ponselnya dengan wajah serius. Sementara itu, di sisi lain meja, Bu Yuanita tampak berbicara dengan Althaf. Tawa renyah Bu Yuanita terdengar jelas, dan yang membuatku semakin tak nyaman, tangannya sempat menepuk lembut lengan Althaf. Pemandangan itu seperti menusuk. Ada rasa asing, tak enak, dan… jujur saja, menyakitkan.

Aku menari
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • A DEAL WITH COLD PROFESSOR   BAB 52

    Aku menelan napas, menatap matanya yang suram di bawah cahaya lampu. "Sekarang gue sadar... diam justru bikin gue kehilangan lo lebih cepat."Kafe kecil itu mendadak terasa terlalu sunyi. Hanya ada suara musik lembut yang mengalun pelan dari pengeras suara di sudut ruangan, tapi tak ada yang benar-benar mendengarnya. Udara terasa berat, seolah menekan dada dari segala arah.Aku menarik napas panjang, berusaha menguatkan diri. Suara itu akhirnya keluar dari bibirku-pelan, bergetar, tapi tegas."Revan... gue dan Pak Althaf... kami udah menikah."Waktu seakan berhenti.Revan menatapku perlahan, seolah ingin memastikan kalau ia tidak salah dengar. Tatapan itu tajam-menusuk dalam, menghujam seperti pisau yang berputar di dada."Apa?" suaranya rendah, nyaris bergetar. Aku tak bisa menjawab. Hanya mampu menatap balik, sementara pandanganku mulai buram oleh air mata. Revan mengusap wajahnya kasar, lalu tertawa kecil-tawa kering yang terdengar lebih seperti luka daripada lelucon."Gue nggak p

  • A DEAL WITH COLD PROFESSOR   BAB 51

    Revan menatapnya singkat, lalu mengangguk datar. "Yeah, looks like it."Nada suaranya tenang, nyaris datar, tapi cukup untuk menusuk. Tidak ada senyum - tidak seperti dulu saat ia berbicara denganku.Hari itu terasa begitu panjang. Kami berangkat menuju Keraton Yogyakarta, tempat pertama untuk kegiatan hari ini. Di dalam bus, aku memilih duduk di dekat jendela, berharap pemandangan luar bisa mengalihkan pikiranku. Namun, pantulan kaca justru memperlihatkan bayangan Revan yang duduk beberapa baris di depan, bersama Chika. Mereka tampak akrab, berbagi tawa kecil di sela obrolan ringan. Setiap kali tawa itu terdengar, ada sesuatu di dalam dadaku yang bergetar - sesak, menyesakkan, tapi harus kutahan agar tidak terlihat lemah.Sesampainya di Keraton, suasananya terasa magis sekaligus ramai. Udara hangat bercampur aroma kayu tua dan dupa yang samar, membawa nuansa klasik yang hanya dimiliki tempat bersejarah seperti ini. Di sekitar, turis-turis berjalan dengan kamera di tangan, memotret uk

  • A DEAL WITH COLD PROFESSOR   BAB 50

    Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh lewat sedikit ketika aku turun ke halaman hotel. Udara Jogja terasa lembap dan manis, seperti aroma tanah basah yang bertemu dengan hangatnya matahari pagi. Angin berembus pelan, membawa suara burung, tawa, dan percakapan riuh dari mahasiswa yang sudah lebih dulu berkumpul di halaman depan. Suasananya ramai, hidup, dan penuh semangat - seolah semua orang sedang siap memulai hari baru yang menyenangkan. Semua orang, kecuali aku.Beberapa guru berdiri di tengah kerumunan, dan di antara mereka, Pak Aris tampak paling menonjol dengan clipboard di tangan dan topi lebar yang menutupi sebagian wajahnya. Ia tersenyum lebar, matanya berkilat antusias, jauh lebih bersemangat dari siapa pun di sini."Good morning, everyone!" serunya lantang. Suaranya menggema, membuat seluruh mahasiswa otomatis menoleh."Today, we're going to start our English Tourism Activity!" katanya bersemangat, tangannya terangkat tinggi seperti seorang pemandu wisata profesional.Sorak k

  • A DEAL WITH COLD PROFESSOR   BAB 49

    Kata-katanya jatuh pelan, tapi masing-masing menghantamku dengan keras. Terlalu jujur untuk tak melukai.Aku menggigit bibir, menatapnya perlahan. Ada bagian dari diriku yang ingin membantah, marah karena dituduh, tapi bagian lain justru hancur karena tahu - di balik semua amarah itu, Revan sedang patah hati. Karena aku.Aku menelan ludah, suaraku nyaris bergetar. "Gue nggak tahu harus ngomong apa, Van..."Revan mengembuskan napas panjang, pandangannya jatuh ke tanah sebelum akhirnya menatapku lagi untuk terakhir kalinya. Matanya basah, tapi senyum tipis muncul di sana - senyum yang lebih menyakitkan dari tangis mana pun."Lo nggak perlu ngomong apa-apa," katanya pelan. "Gue cuma butuh waktu... sebelum perasaan ini bikin gue benci sama lo."Dan kalimat itu - lembut tapi menghancurkan - menggema di dadaku lebih keras dari teriakan apa pun. Membekas seperti luka yang nggak bisa disembuhkan waktu.***Aku kembali ke kamar dengan langkah pelan, nyaris terseret. Rasanya setiap langkah sepe

  • A DEAL WITH COLD PROFESSOR   BAB 48

    Aku hanya bisa menunduk, jemariku menggenggam erat ujung bajuku. Ya Tuhan, masalah apalagi ini? Hatiku terasa sesak - bukan karena bersalah, tapi karena aku bisa melihat betapa dalam luka yang terpancar dari mata Revan."Revan, jaga mulut lo. Jangan ngomong gitu," ucapku cepat, nada suaraku meninggi tanpa sadar. "Pak Althaf tetap dosen kita, lo harus hargai itu." Kata-kata itu keluar begitu saja, refleks - bahkan sebelum aku sempat berpikir panjang. Entah kenapa, bagian dari diriku merasa harus membela.Revan tertawa kecil, getir, nyaris tanpa suara. "Hargai?" ulangnya pelan, matanya menatapku tajam. "Jadi sekarang lo belain laki-laki bajingan itu? Dosen yang ngundang mahasiswinya ke kamar hotel?""Revan!" suaraku meninggi kali ini. "Dia dosen kita, lo nggak bisa panggil dia begitu!"Tapi Revan malah menghela napas panjang, pandangannya semakin kelam. "Kenapa nggak bisa, Sen? Karena dia dosen? Karena lo takut ngaku kalo dia udah bikin lo bingung sendiri?" Suaranya bergetar, bukan lagi

  • A DEAL WITH COLD PROFESSOR   BSB 47

    Aku melangkah keluar dari kamar Althaf dengan langkah pelan. Suara pintu yang menutup di belakangku terdengar lembut, tapi cukup untuk membuat dadaku kembali berdebar. Entah kenapa, setiap kali aku mengingat tatapan matanya tadi-tenang, dalam, dan sedikit hangat-napasku seperti ikut tersangkut di tenggorokan.Udara koridor pagi itu terasa sejuk, tapi wajahku justru panas. Ada sesuatu yang berputar di dalam dada, aneh dan sulit dijelaskan. Campuran antara gugup, senang, dan... gundah. Seolah sebagian diriku ingin tersenyum, tapi sebagian lain takut karena tahu ini bukan hal yang seharusnya kurasakan.Tanganku refleks menyentuh kalung di leherku. Rantainya halus, terasa dingin di kulit, tapi setiap kali jariku menyentuh liontinnya, aku bisa mengingat dengan jelas bagaimana Althaf memakaikannya. Caranya mendekat, suaranya yang pelan tapi dalam, sentuhan jemarinya yang berhati-hati di tengkukku. Rasanya seperti waktu berhenti sebentar.Aku menunduk sedikit, memandangi kalung itu. Aku masi

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status