ログインAku mengetuk tiga kali pintu kayu besar dengan ukiran elegan itu. Setelah terdengar sahutan singkat dari dalam, perlahan aku membuka pintu dan melangkah masuk ke ruang kerja Althaf.
Ruangan itu luas, berwibawa, dan sunyi. Sebuah meja kerja besar berdiri kokoh di tengah, menghadap langsung ke jendela kaca yang memperlihatkan kebun bunga dan kolam renang—airnya memantulkan cahaya rembulan, berkilau seperti permata. Hampir seluruh sudut didominasi warna cokelat gelap: dingin, kaku, namun penuh wibawa. Rak-rak tinggi yang dijejali buku-buku tebal menutup rapat dinding, sementara di sudut, sebuah sofa berwarna coklat terlihat menggugah untuk duduk di duduki. Althaf duduk di balik meja, kacamata bacanya bertengger di hidung. Saat aku masuk, ia mengangkat kepala, lalu berdiri dengan gerakan tenang dan berwibawa. Ia berpindah ke sofa, menatapku lurus. “Duduklah, Senjani.” Nada suaranya datar, tapi memiliki getaran yang tak memberi ruang untuk menolak. Aku menelan ludah dan segera menurutinya, duduk berhadapan dengannya. Jantungku berdetak kencang, seakan hendak meloncat keluar dari dada. Dengan sisa keberanian, aku mengangkat wajah, menatap mata gelap miliknya. Tatapan itu—dingin, kaku, namun menyimpan kedalaman yang menenggelamkan. “Seperti kontrak pernikahan yang sudah kita sepakati,” ucapnya pelan tapi tegas. “Pernikahan ini bukan pernikahan normal, Senjani. Jadi jangan pernah berpikir sebaliknya.” Darahku berdesir. Aku menunduk, jemariku meremas kain gaun rumahan yang sudah disediakan di lemari kamarku—oleh Althaf. “Saat di rumah, kamu tidak perlu berperan seolah istri sungguhan. Kecuali di depan Bu Mirna atau para pekerja. Di luar itu, jalani hidupmu seperti biasa—kuliah, bekerja, merawat ibumu. Dan di kampus, tetaplah jadi Senjani yang sama. Tidak ada yang boleh tahu kita sudah menikah. Termasuk sahabatmu, Layla.” Tatapan matanya menusuk, seolah mengikatku erat di tempat. Ia kemudian meletakkan sebuah buku tabungan beserta kartu ATM di atas meja. “Kewajiban saya sebagai suami akan saya penuhi. Uang bulanan akan saya transfer ke rekeningmu. Saya sudah membukakan rekening baru atas namamu. Ambil, Senjani.” Aku tertegun. Dengan ragu, aku meraih buku tabungan itu. Saat kubuka, mataku langsung terbelalak. Lima puluh juta rupiah. “Pa—maaf, Pak. Tapi… ini terlalu banyak untuk saya.” Suaraku lirih, hampir tak terdengar, mataku menatapnya dengan ragu. Namun, Althaf hanya balas menatapku lekat, matanya tak bergeming. “Terimalah, dan gunakan dengan baik, Senjani.” Nada itu tak memberi celah untuk bantahan. Ia bangkit, melangkah kembali ke meja kerjanya. Panik, aku ikut berdiri, langkahku refleks mendekat, jemariku sempat menahan lengannya. Ia berhenti, menoleh. Tatapannya tajam membuatku terguncang. Aku buru-buru melepaskan genggaman itu. “Maaf… Pak.” Suaraku tercekat, kepalaku langsung tertunduk. Althaf terdiam sejenak sebelum akhirnya kembali menekuni berkas-berkasnya. “Kamu boleh keluar sekarang, Senjani. Masih banyak pekerjaan yang harus saya selesaikan.” Wajahku terasa panas, entah karena malu atau gugup. “Baik… terima kasih, Pak.” Aku menunduk singkat, lalu buru-buru menuju pintu. Tanganku baru saja menyentuh knop ketika suara berat itu kembali menghantam telingaku. “Di rumah ini…” ucapnya tenang, tapi tegas, “…sepertinya kamu tidak perlu lagi menggunakan embel-embel Pak, Senjani.” Aku terdiam. Jemariku membeku di atas knop pintu. Seketika udara di ruangan itu berubah padat, menyesakkan, seakan semua dinding ikut menatapku. *** Pagi itu, rutinitas berjalan seperti biasa. Aku berangkat kuliah dengan sepeda motor matic jadul kesayanganku. Namun kali ini berbeda, aku berangkat lebih awal dari biasanya—bahkan sebelum Althaf turun dari kamarnya. Setelah sarapan sederhana, aku berpamitan pada Bu Mirna yang sempat menatapku heran karena pergi begitu cepat tanpa menunggu tuan rumah bangun. Aku hanya tersenyum tipis dan beralasan ada janji temu dengan dosen pembimbing. Sesampainya di kampus, udara pagi masih terasa segar. Begitu aku selesai memarkir motor, Layla langsung berlari kecil menghampiriku dengan wajah berbinar. Tanpa banyak bicara, ia langsung memelukku erat. “Sen… gue kangen banget sama lo! Ke mana aja sih? Seminggu menghilang tanpa kabar,” serunya sambil menggenggam lenganku. Aku tak bisa menahan senyum. Kehangatan menjalari dadaku. Selain Ibu, Layla adalah orang yang paling dekat denganku—teman yang sudah kuanggap sebagai saudara. Ia selalu hadir dalam suka maupun duka, menemaniku tanpa pernah mengeluh. Aku membalas pelukannya, lalu mengusap rambutnya dengan lembut. Layla memang setahun lebih muda, tapi di mataku ia sudah seperti adik sendiri. “Maaf ya, nggak sempat ngabarin. Minggu ini aku sibuk banget ngurusin pemindahan Ibu ke rumah sakit yang fasilitasnya lebih bagus,” jelasku. Layla tersenyum lega, meski ada sedikit nada protes di matanya. “Gue seneng banget denger itu. Syukur banget paman lo mau bantuin biayanya. Tapi coba deh, kalau dari dulu lo mau terima bantuan nyokap gue, mungkin Ibu lo udah pindah sejak lama.” Ia menghela napas panjang, lalu bergumam, “Hah… Senjani dan idealisnya. Susah banget minta tolong sama orang.” Aku terkekeh pelan, lalu mencubit pipi chubby-nya. “Udah, jangan ngedumel terus. Temenin gue ke perpus, ya. Ada buku yang harus gue pinjem buat tugas.” Layla langsung memutar bola matanya. “Baru juga ketemu, eh langsung ngajak ke perpus. Dasar kutu buku!” Meski begitu, ia tetap menggandeng tanganku, seakan tak ingin melepas. Kami berjalan berdampingan menuju perpustakaan, tawa kecil kami menyatu dengan hiruk-pikuk kampus yang mulai ramai. Untuk sesaat, aku merasa ringan—seperti bisa bernapas tanpa beban. Tanpa kusadari, ada sepasang mata yang sejak tadi menatapku tajam. Di parkiran mobil dosen, Althaf berdiri bersandar di samping mobil hitamnya. Ekspresinya datar, nyaris tak terbaca, namun sorot matanya menusuk lurus ke arahku—dingin, misterius, dan sulit dihindari. Udara seketika berubah. Rasanya seperti ada kabut tipis yang menekan dadaku. Langkahku terasa berat, meski aku sama sekali tidak menyadari siapa sebenarnya yang sedang mengawasi. Begitu masuk ke perpustakaan, aku dan Layla langsung disambut Revan. Senyumnya yang lebar seperti biasa berhasil mencairkan suasana. Revan adalah teman seangkatanku sekaligus sahabat sejak masa putih abu-abu. Selain Layla, dialah orang yang paling mengenalku dan keluargaku. “Lama nggak kelihatan di kampus, Sen,” sapanya hangat, setengah berbisik menyesuaikan suasana perpustakaan. “Biasalah, Van. Anak ini memang suka ngilang-ngilang,” Layla menyahut lebih dulu dengan nada menyindir. Aku tersenyum tipis sebelum menambahkan, “Aku sibuk ngurus pemindahan Ibu ke rumah sakit yang lebih bagus. Jadi… hampir nggak sempat buka HP.” Revan mengangguk penuh pengertian. Tak lama kemudian, ia menatap kami dengan wajah memelas. “Temenin gue sarapan di kafetaria, yuk. Gue sengaja mampir ke sini karena yakin kalian pasti ada di perpus.” Layla langsung menimpali cepat, “Boleh, asal lo yang traktir!” Revan tertawa kecil. “Tenang aja. Kalian pesan apa pun, gue yang bayar.” Aku dan Layla saling pandang, lalu ikut tertawa. Tanpa banyak pikir, Layla menarik lenganku, menggiring kami bertiga menuju kafetaria. Tak lama kemudian, semangkuk soto hangat sudah tersaji di hadapan kami. Obrolan ringan mengalir hingga Revan tiba-tiba mencondongkan tubuhnya dan berbisik, “Eh, itu dosen kesayangan lo, Lay.” Refleks aku menghentikan gerakan sendokku. Tatapanku mengikuti arah yang ditunjuk Revan. Deg. Darahku berdesir. Mata kami bertemu—aku dan Althaf. Hanya beberapa detik, namun cukup untuk membuat jantungku berdetak tak karuan. Bergegas aku menunduk, berpura-pura sibuk dengan makananku. “Selalu aja tuh dosen ganjen nempel sama pacar gue!” gerutu Layla dengan wajah masam. Revan spontan tertawa keras. “Enak aja! Ngaku-ngaku Pak Althaf pacar lo. Mimpi, Lay!” Suaranya cukup nyaring membuat beberapa mahasiswa menoleh. Layla langsung manyun. “Biarin, kenapa sih? Susah banget bikin orang seneng.” Aku hanya tersenyum samar, meski dalam hati terasa getir. Menyadari Layla mulai cemberut, Revan buru-buru meralat. “Ya ampun, gue cuma bercanda kok. Sorry, Lay.” Ia mengacak rambut Layla gemas, membuat gadis itu semakin cemberut. Tiba-tiba, Revan menatap kami serius. “Eh, tapi… gue ada kabar. Dan kayaknya bakal bikin kalian kaget.” Aku dan Layla refleks saling berpandangan. Dengan suara lebih pelan, Revan melanjutkan, “Gue denger… Pak Althaf udah menikah.” Darahku mendadak berdesir hebat. Ujung jariku bergetar, sendok di tanganku hampir terlepas. Seakan ada sesuatu yang menghantam dadaku tanpa ampun. Ya Tuhan… masalah apa lagi ini?Althaf menoleh penuh kasih sayang. Tangannya beralih menangkup pipiku, memaksa mataku bertemu dengan matanya.“Badan kamu juga sudah bagus, Sayang,” ucapnya lembut. “Jangan pernah merasa kurang di depan saya. Kamu sempurna. Tapi nggak apa-apa, kita ubah pola hidupnya perlahan-lahan agar lebih sehat. Kita lakukan ini bukan untuk mencapai standar tertentu, tapi untuk diri kita, agar stamina kita kuat untuk menjalani hari-hari yang panjang ke depan, berdua.”Ia mencium bibirku singkat, lalu bangkit “Ayo ganti baju, Sayang, atau kamu mau saya yang pakaikan kamu?” ucapnya menggoda, matanya mengerling nakal. “Saya sih dengan senang hati melakukannya.”Aku tertawa, merasakan pipiku memanas. Godaan Althaf di pagi hari terasa manis dan benar-benar baru.“Ihh, itu mah memang maunya Mas!” balasku, melempar bantal ke arahnya. “Nanti kita bisa telat lari pagi, dan yang ada Mas malah nge-gym di kamar.”Althaf menangkap bantal itu dengan mudah, ekspresinya pura-pura kecewa. Ia membalik bantal itu, m
Sekitar empat puluh menit kemudian, kami tiba di kawasan elit pusat kota. Althaf memarkir mobilnya dengan sigap di valet parking depan sebuah restoran Jepang modern dengan fasad kayu yang elegan—Kanpai Sushi.Saat kami melangkah masuk, suasana di dalamnya terasa intim, dengan pencahayaan temaram dan alunan musik tradisional Jepang yang lembut. Althaf menyebutkan namanya pada resepsionis, dan kami langsung diantar ke sebuah ruangan kecil yang disekat—benar-benar private.Aku duduk di kursi empuk itu, menatap Althaf yang tampak jauh lebih santai—kemejanya tidak lagi terasa kaku. Malam ini, dia benar-benar mengenyahkan persona dosennya.“Selamat datang di date night kita yang pertama, Senjani,” ucapnya, mendorong menu ke depanku dengan senyum menawan.“Date night pertama tanpa kontrak dan tanpa batas waktu,” balasku, tersenyum lega. Aku membuka menu, tapi mataku hanya mencari satu nama.“Saya sudah tahu mau pesan apa.”“Tentu saja. Spicy salmon roll,” tebak Althaf tanpa melihat menu.“Da
Aku hanya bisa berdiri mematung di sana, menyaksikan punggung Revan perlahan menjauh. Saat punggungnya benar-benar hilang dari pandangan, bendungan air mataku pun pecah. Aku menutup wajahku dengan kedua tangan, bahuku terguncang oleh isak tangis yang tertahan. Aku menangis dalam diam, meratapi akhir dari babak yang indah—persahabatan yang harus dikorbankan demi babak baru dalam hidupku. Tiba-tiba, sebuah mobil hitam mewah berhenti mendadak tepat di depanku. Pintu mobil terbuka, dan Althaf keluar dengan langkah cepat. Wajahnya yang biasanya tenang kini diliputi kekhawatiran yang jelas. Ia segera menghampiriku. “Senjani? Sayang, ada apa?” tanyanya, suaranya dalam dan cemas, refleks meraih lenganku. Ia menarik lembut tanganku dari wajahku yang basah oleh air mata. “Kenapa kamu menangis? Ada yang menyakitimu?” Aku tidak bisa menahan tangis lagi. Melihat wajahnya yang khawatir justru membuatku semakin lega untuk meluapkan segalanya. “Revan, Mas…” bisikku lirih, menatap matanya yan
Aku memutuskan untuk menunggu di tempat yang lebih nyaman. Aku tidak mau berdiri canggung di gerbang yang ramai kendaraan, jadi aku memilih pindah ke taman kecil di depan fakultas, tempat yang teduh dan sejuk.Aku duduk di bangku kayu di bawah pohon yang rimbun. Jam menunjukkan pukul empat sore, suasana kampus mulai sepi. Sinar matahari sudah mulai condong, menciptakan bayangan panjang di antara pepohonan. Udara sore terasa sejuk, beraroma tanah dan dedaunan. Beberapa mahasiswa masih terlihat duduk berkelompok di kejauhan, tapi aku sendirian di bangku ini, merenungi semua yang baru saja kualami.Aku mengeluarkan ponsel, membalas pesannya lagi.[Sent to : Mas Althaf]‘Take your time, Super Althaf. I’ll wait here. Hati-hati di Jalan Cendrawasih ya!’Aku menyandarkan kepala, menikmati ketenangan sore itu, siap menyambut suami yang akan datang menjemputku sebagai suami seutuhnya.Tepat saat aku sedang fokus menatap layar ponsel, mencoba membunuh rasa bosan sambil menunggu, suara langkah pe
Aku menutup mulutku dengan punggung tangan, menekan bagian bawah bibirku. Napasku terengah, berusaha mengambil oksigen tanpa harus menghirup aroma kopi yang kini terasa memuakkan.“Gue juga nggak tahu, Lay,” jawabku, suaraku masih sedikit bergetar. Aku berusaha meyakinkan diriku sendiri bahwa ini hanya masalah pencernaan biasa.Tanpa banyak bicara, Layla langsung bangkit berdiri, tanggapannya cepat dan penuh inisiatif. “Bentar, biar gue beliin air mineral.”Dia berlari kecil ke meja kasir, bergerak cepat seperti kilat. Tak lama kemudian, Layla kembali dengan sebotol air mineral dingin yang ia sodorkan padaku.“Minum ini pelan-pelan,” perintahnya, nada suaranya lembut tapi tegas.Aku menerima botol itu dan meneguk air dingin itu perlahan, berusaha menetralkan rasa mual yang masih tersisa di tenggorokan. Air mineral terasa begitu menyegarkan di tengah gejolak aneh di perutku. Setelah menghabiskan separuh botol, napasku mulai teratur.“Gimana?” Layla bertanya, wajahnya masih menunjukkan
Kuliah terakhir sore itu terasa lebih cepat dari yang kubayangkan. Mungkin karena aku tahu siapa yang akan menjemput dan menungguku setelah ini. Begitu dosen mengakhiri sesi, aku dan Layla langsung bergerak cepat keluar kelas. Kami memilih sudut outdoor kafetaria kampus yang agak sepi, tempat strategis yang terlindung dari keramaian sore hari untuk sesi curhat tanpa gangguan.Layla sudah lebih dulu mengambilkan dua cangkir kopi dingin dan menatanya di meja. Begitu kami duduk, Layla segera mencondongkan tubuhnya ke arahku, matanya yang tajam menuntut cerita. Ekspresinya seperti detektif yang siap mengungkap misteri terbesar abad ini.“Oke, spill semua! Jangan ada yang disensor, jangan ada yang dilewatkan!” tuntut Layla, nadanya penuh hasrat ingin tahu yang membara. “Gue nggak mau dengar soal rumus tenses atau speaking dari lu. Gue mau detail drama Cinderella pagi tadi, dari A sampai Z!”Aku tertawa kecil, menikmati momen dramatis ini. “Sabar, Lay. Nafas dulu, ini cerita panjang dan but
Cahaya matahari pagi makin masuk lewat tirai, menyorot wajah Althaf yang kini tampak lebih lembut dari sebelumnya.Dan di tengah keheningan itu, aku sadar...mungkin untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai, aku tidak lagi ingin melawannya."Sudah, jangan kebanyakan bengong dan ngambek. Saya m
Revan tersenyum tipis, tak menanggapi langsung tapi jelas tidak keberatan dengan godaan itu. Ia hanya mengangkat alis sedikit, lalu menyesap minumannya seakan menyembunyikan sesuatu. Layla menepuk meja pelan, terkekeh puas melihat reaksiku. "Serius, aku iri deh. Jarang banget ada cowok segentle Re
Bus terus melaju di jalan tol, deru mesinnya jadi latar sunyi yang monoton. Lampu kabin sudah diredupkan, hanya sisa cahaya redup dari lampu jalan yang kadang menyorot masuk lewat jendela. Sebagian besar mahasiswa sudah terlelap, beberapa bersandar ke kursi dengan mulut sedikit terbuka.Aku masih t
Suara riuh mahasiswa masih bergema di dalam bus, bercampur dengan getaran mesin yang berderu pelan. Tawa pecah di beberapa bangku belakang, suara ponsel berklik-klik memotret pemandangan senja dari jendela, dan aroma makanan ringan mulai memenuhi udara. Semua itu seharusnya membuat perjalanan teras







