Share

BAB 7

Author: Mikaelach09
last update publish date: 2026-04-29 19:09:20

“Eh, gue denger kabar… Pak Althaf udah nikah.”

Ucapan Revan terdengar begitu ringan, tapi bagiku seperti palu besar yang menghantam dadaku.

Sendok di tanganku berhenti di udara. Mataku refleks melebar, napasku tercekat. Sejenak, suara di sekitar kafetaria seakan lenyap, hanya degup jantungku yang terdengar keras—tak beraturan.

Soto yang tadi terasa hangat dan gurih kini berubah hambar, nyaris tak bisa kutelan.

Layla yang sedang mengunyah hampir menyemburkan makanannya. “Hah?! Jangan becanda lo, Van. Nggak lucu banget, sumpah. Bisa bikin gue nggak selera makan,” gerutunya sambil manyun, wajahnya memerah kesal.

Aku masih diam, tubuhku kaku. Rasa panas menjalar ke wajahku, sementara jemariku menggenggam sendok begitu erat sampai terasa sakit di pergelangan. Apa… secepat ini semuanya akan terungkao

Revan, tanpa merasa bersalah, justru mencondongkan tubuh ke meja. Suaranya diturunkan sedikit, seakan ingin menambah dramatis. “Serius, Lay. Gue nggak ngarang. Perusahaan bokap gue kan kerja sama sama Dirgantara Textile. Nah, di sana lagi rame banget. Katanya, Pak Althaf nikah karena permintaan Omanya. Gara-gara itu juga dia langsung naik jadi direktur.”

Aku bisa merasakan darahku turun naik. Pernikahan? Oma? Direktur? Kata-kata itu menusuk telingaku satu per satu, mengaduk-aduk isi kepalaku yang sudah kacau.

Layla langsung menyahut cepat, “Ya ampun, gosip kantor tuh biasanya dilebih-lebihin. Jangan gampang percaya, Van. Orang kaya mah, batuk aja bisa jadi bahan berita.”

Aku hanya tersenyum tipis—palsu, getir, terpaksa. Kalau saja Layla tahu kenyataannya… kalau saja dia tahu akulah perempuan yang dimaksud gosip itu, mungkin dia tak akan bisa bercanda seleluasa ini.

Revan mengangkat bahunya, santai. “Ya gue cuma nyampein apa yang gue denger. Lagi pula, buat orang kaya, nikah karena urusan bisnis udah biasa banget, kan?”

Aku menunduk dalam-dalam, menatap soto yang sudah dingin. Sendokku masih tenggelam di mangkuk, tapi aku tak punya tenaga untuk melanjutkan makan. Dada ini terasa penuh, seperti ada rahasia besar yang terus menjeratku, siap meledak kapan saja.

“Beruntung banget pasti istri Pak Althaf,” ucap Layla sambil menghela napas panjang, matanya menerawang penuh iri. “Bayangin aja, tiap bangun tidur langsung disuguhi muka gantengnya. Ya auto semangat kerja seharian.”

Dia lalu menyipitkan mata, mendadak bersemangat. “Eh, tapi siapa ya perempuan beruntung itu? Pasti cantik banget. Mantannya aja sekelas Raisa, ya jelas istrinya minimal selevel Raisa lah.”

Aku tersenyum tipis—senyum yang lebih mirip luka.

Secantik Raisa? Bahkan bayangannya pun aku tak sebanding.

Revan yang dari tadi sibuk mengaduk sotonya menimpali, “Gue malah denger kabarnya istrinya orang biasa. Nggak artis, nggak selebgram, ya bener-bener orang biasa gitu. Tapi nanti deh, gue coba pastiin lagi.”

Ucapannya membuat nafasku tercekat. Sendok di tanganku berhenti. Soto yang tadinya hangat mendadak hambar. Perlahan kuletakkan mangkuk itu dan kugapai gelas teh manis yang sudah dingin. Kuteguk sedikit, tapi rasa manisnya sama sekali tak bisa menutupi getir di tenggorokanku.

“Eh, lo kenapa, Sen?” tanya Revan sambil mengernyit. “Kok tiba-tiba pucat gitu. Lo sakit?”

Aku buru-buru menggeleng, memaksakan senyum yang kaku. “Nggak, Van. Udah kenyang aja. Tadi sempat sarapan dikit di rumah,” ucapku datar.

Layla mendadak tertawa kecil, mencoba mengalihkan suasana. “Kayaknya kita harus bikin hashtag Hari Patah Hati Nasional deh buat mahasiswi UNJ. Secara, dosen paling ganteng udah taken.”

Dia langsung mengangkat ponselnya, selfie cepat, lalu menuliskan caption sambil nyengir puas. Revan ikut ngakak.

Aku hanya tersenyum kecut. Andai saja mereka tahu… bahwa pernikahan Althaf bukanlah kisah cinta indah, melainkan ikatan dingin tanpa rasa.

“By the way, kalau memang Pak Althaf udah nikah, kenapa Bu Yuanita masih aja nempel kayak perangko gitu ya? Ganjen banget,” celetuk Layla, nadanya jelas menyimpan sindiran.

Aku spontan menoleh.

Di sudut kafetaria itu, mereka berdua duduk berdampingan. Bu Yuanita tampak memesona dengan blazer krem yang elegan, rambutnya yang hitam bergelombang jatuh manis di bahu, tawanya renyah, nyaring, dan terdengar menembus keramaian. Jemari lentiknya sesekali menepuk pelan meja, sesekali hampir menyentuh lengan Althaf.

Althaf hanya diam, sesekali mengangguk, wajahnya tetap dingin tanpa ekspresi. Namun justru sikap dingin itulah yang membuatnya semakin sulit ditebak—dan semakin menyakitkan.

Aku menahan napas. Tapi tiba-tiba, matanya menoleh.

Tatapannya jatuh tepat padaku.

Dingin. Menusuk.

Seolah-olah ia sengaja mengingatkanku: Jangan berharap apa pun dariku.

Deg.

Tanganku gemetar. Tanpa sadar, mangkuk soto di depanku tersenggol. Isinya tumpah, kuah panasnya mengotori celana kulotku.

“Ya ampun, Sen!” Revan langsung panik, meraih tisu dengan terburu-buru dan berusaha membersihkannya.

Layla mendecak. “Lo kenapa sih hari ini? Kayak orang linglung.”

Wajahku terasa memanas, bukan karena soto, melainkan karena malu. Bukan hanya karena kejadian konyol ini, tapi juga karena tatapan dingin itu masih terasa menancap, menghantui pikiranku.

Aku berusaha tersenyum. “Aku nggak apa-apa. Mungkin cuma kurang tidur,” jawabku pelan, meski suaraku bergetar.

“Yaudah yuk, gue temenin ke kamar mandi.” Layla langsung menggandeng tanganku, sementara Revan menyodorkan beberapa tisu tambahan dengan wajah khawatir.

Langkahku berat. Untuk sampai ke kamar mandi, aku harus melewati meja itu. Meja tempat Althaf dan Bu Yuanita duduk.

Aku menunduk, tapi tetap mencoba menjaga sopan santun. “Permisi, Pak… Bu.”

Bu Yuanita menoleh, senyumnya hangat, terlalu manis hingga terasa menusuk. “Hai, Senjani. Hati-hati ya, bajumu kotor,” katanya lembut, seolah-olah ia benar-benar peduli.

Tapi Althaf?

Tidak. Ia tidak menoleh. Tidak menanggapi. Tidak menatapku. Seolah aku hanyalah bayangan.

***

Hari sudah sore ketika aku akhirnya menyelesaikan kelas terakhirku. Kebetulan semester ini Layla tidak mengambil mata kuliah Sosiolinguistik, jadi aku sendirian. Saat keluar dari kelas, langit sudah mulai berwarna jingga yang meredup, tanda senja segera berganti malam.

Begitu sampai di parkiran, mataku langsung menangkap sosok Revan yang tengah duduk santai di atas motor sport hitamnya. Ia menunduk memainkan ponsel, tapi begitu melihatku, senyum lebarnya langsung mengembang.

“Lo nungguin gue, Van?” tanyaku sambil berjalan mendekat.

Revan turun dari motornya. Dari saku jaketnya, ia mengeluarkan sebuah amplop berwarna emas dengan motif timbul yang elegan, tampak mahal dan eksklusif.

“Tadi gue mau langsung pulang, tapi hampir lupa ngasih ini.” Ia menyodorkannya padaku.

Aku menerimanya dengan bingung. “Undangan ulang tahun bokap-nyokap lo?”

Revan mengangguk, senyumnya lebar. “Iya. Sabtu ini. Datang ya. Gue udah undang Layla juga.”

Aku mengangguk pelan. “Oke, gue datang.”

Revan tampak lega mendengarnya. Lalu, tanpa diminta, tangannya terulur mengelus puncak kepalaku dengan lembut. Sentuhan yang akrab, tapi justru membuat wajahku sedikit memanas.

“Yaudah, balik sekarang, yuk. Ntar kemaleman di jalan, bahaya, Sen. Atau lo mau—”

Ucapan Revan mendadak terhenti.

Aku refleks menoleh ke samping. Jantungku hampir meloncat keluar begitu menyadari seseorang berdiri di dekatku.

Althaf.

Wajahnya tenang, tapi ketenangan itu justru terasa mengintimidasi. Rahangnya mengeras, sorot matanya dingin menusuk. Aura di sekelilingnya membuat udara mendadak berat.

“Eh, sore Pak Althaf. Belum pulang, Pak?” sapa Revan canggung, mencoba ramah.

Althaf sama sekali tidak menjawab. Tatapannya hanya terpaku padaku. Dingin, tajam, seolah menelanjangi isi kepalaku.

Dengan nada datar namun penuh wibawa, ia berkata, “Saya ada keperluan dengan Senjani. Bisa tinggalkan kami berdua?”

Nada itu bukan sekadar ucapan, melainkan perintah.

Revan menatapku sekilas, lalu mengangguk. “Yaudah, gue duluan, Sen. Jangan lupa ya, Sabtu nanti.” Ia menepuk kepalaku sekali lagi sebelum melangkah pergi.

Suara mesin motor sport-nya yang meraung perlahan menjauh, meninggalkan aku yang kini berdiri berhadapan dengan Althaf.

Aku menelan ludah. “Pak…?”

Ekspresinya tetap sama. Datar. Tak terbaca.

“Ayo, Senjani. Pulang bareng saya.” Suaranya dingin, tak memberi ruang untuk menolak. Ia langsung berjalan menuju mobilnya, meninggalkan aku yang hanya bisa mengekor dengan perasaan kacau.

Di dalam mobil, suasananya jauh lebih mencekam. Tidak ada suara musik, hanya dentuman lembut mesin yang terasa semakin menekan ruang sempit itu. Tanganku bergetar di pangkuan, jemariku saling menggenggam erat.

Aku menoleh sekilas ke arahnya. Profil wajahnya terlihat tegas dalam remang lampu jalan. Rahangnya masih mengeras, urat di pelipisnya menegang. Ia menyetir dengan fokus penuh, tapi aura tegang itu jelas menguar dari tubuhnya.

Aku ingin membuka percakapan, tapi lidahku kelu. Hening di antara kami terasa lebih keras dari pada suara apa pun.

Lalu, tiba-tiba suaranya pecah. Dingin, tapi penuh tekanan. “Kamu punya hubungan dengan laki-laki tadi?”

Aku terlonjak kecil, menatapnya kaget. “Maksud Bap—eh, maksud Mas… Revan?”

Ia tidak menjawab. Tatapannya lurus ke jalan, kedua tangannya mencengkeram erat setir, buku-buku jarinya memutih.

“Dia cuma teman,” ucapku gugup. “Nggak lebih—”

Ucapanku terhenti karena ia mendadak memotong kalimatku.

“Saya memang mengatakan pernikahan kita bukan pernikahan normal. Tapi itu tidak membuat kamu bebas jadi wanita murahan yang bisa disentuh seenaknya oleh laki-laki lain, Senjani.”

Seketika tubuhku membeku.

Kata-katanya menghantam dadaku keras, begitu tajam hingga membuat napasku tercekat. Datar, tanpa intonasi marah yang meledak, tapi justru karena itulah lebih menusuk.

Mataku panas. Air mata nyaris jatuh, tapi aku buru-buru menunduk, menahannya. Aku ingin membantah, ingin menjelaskan… tapi suaraku tak keluar. Semua hanya berputar di kepalaku: rasa sakit, rasa marah, dan rasa tak adil yang bercampur menjadi satu.

Aku menggenggam celanaku erat-erat, berusaha menenangkan degup jantungku yang kacau.

Apa salahku? Kenapa aku selalu salah di matanya?

Di balik kaca mobil yang buram oleh pantulan lampu jalan, bayangan diriku tampak kecil dan rapuh.

Aku menarik napas panjang, mencoba mengumpulkan keberanian. Kali ini aku tidak bisa hanya diam.

“Pak…” suaraku bergetar. “Saya bukan wanita murahan. Dan Revan cuma teman. Nggak lebih.”

Suasana hening kembali. Althaf tidak segera merespons.

Namun aku bisa melihat dari sudut mataku—rahangnya semakin menegang, dan sorot matanya yang dingin itu sekilas tampak goyah, seperti ada sesuatu yang bergejolak di dalam dirinya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • A DEAL WITH COLD PROFESSOR   BAB 74

    Althaf menoleh penuh kasih sayang. Tangannya beralih menangkup pipiku, memaksa mataku bertemu dengan matanya.“Badan kamu juga sudah bagus, Sayang,” ucapnya lembut. “Jangan pernah merasa kurang di depan saya. Kamu sempurna. Tapi nggak apa-apa, kita ubah pola hidupnya perlahan-lahan agar lebih sehat. Kita lakukan ini bukan untuk mencapai standar tertentu, tapi untuk diri kita, agar stamina kita kuat untuk menjalani hari-hari yang panjang ke depan, berdua.”Ia mencium bibirku singkat, lalu bangkit “Ayo ganti baju, Sayang, atau kamu mau saya yang pakaikan kamu?” ucapnya menggoda, matanya mengerling nakal. “Saya sih dengan senang hati melakukannya.”Aku tertawa, merasakan pipiku memanas. Godaan Althaf di pagi hari terasa manis dan benar-benar baru.“Ihh, itu mah memang maunya Mas!” balasku, melempar bantal ke arahnya. “Nanti kita bisa telat lari pagi, dan yang ada Mas malah nge-gym di kamar.”Althaf menangkap bantal itu dengan mudah, ekspresinya pura-pura kecewa. Ia membalik bantal itu, m

  • A DEAL WITH COLD PROFESSOR   BAB 73

    Sekitar empat puluh menit kemudian, kami tiba di kawasan elit pusat kota. Althaf memarkir mobilnya dengan sigap di valet parking depan sebuah restoran Jepang modern dengan fasad kayu yang elegan—Kanpai Sushi.Saat kami melangkah masuk, suasana di dalamnya terasa intim, dengan pencahayaan temaram dan alunan musik tradisional Jepang yang lembut. Althaf menyebutkan namanya pada resepsionis, dan kami langsung diantar ke sebuah ruangan kecil yang disekat—benar-benar private.Aku duduk di kursi empuk itu, menatap Althaf yang tampak jauh lebih santai—kemejanya tidak lagi terasa kaku. Malam ini, dia benar-benar mengenyahkan persona dosennya.“Selamat datang di date night kita yang pertama, Senjani,” ucapnya, mendorong menu ke depanku dengan senyum menawan.“Date night pertama tanpa kontrak dan tanpa batas waktu,” balasku, tersenyum lega. Aku membuka menu, tapi mataku hanya mencari satu nama.“Saya sudah tahu mau pesan apa.”“Tentu saja. Spicy salmon roll,” tebak Althaf tanpa melihat menu.“Da

  • A DEAL WITH COLD PROFESSOR   BAB 72

    Aku hanya bisa berdiri mematung di sana, menyaksikan punggung Revan perlahan menjauh. Saat punggungnya benar-benar hilang dari pandangan, bendungan air mataku pun pecah. Aku menutup wajahku dengan kedua tangan, bahuku terguncang oleh isak tangis yang tertahan. Aku menangis dalam diam, meratapi akhir dari babak yang indah—persahabatan yang harus dikorbankan demi babak baru dalam hidupku. Tiba-tiba, sebuah mobil hitam mewah berhenti mendadak tepat di depanku. Pintu mobil terbuka, dan Althaf keluar dengan langkah cepat. Wajahnya yang biasanya tenang kini diliputi kekhawatiran yang jelas. Ia segera menghampiriku. “Senjani? Sayang, ada apa?” tanyanya, suaranya dalam dan cemas, refleks meraih lenganku. Ia menarik lembut tanganku dari wajahku yang basah oleh air mata. “Kenapa kamu menangis? Ada yang menyakitimu?” Aku tidak bisa menahan tangis lagi. Melihat wajahnya yang khawatir justru membuatku semakin lega untuk meluapkan segalanya. “Revan, Mas…” bisikku lirih, menatap matanya yan

  • A DEAL WITH COLD PROFESSOR   BAB 71

    Aku memutuskan untuk menunggu di tempat yang lebih nyaman. Aku tidak mau berdiri canggung di gerbang yang ramai kendaraan, jadi aku memilih pindah ke taman kecil di depan fakultas, tempat yang teduh dan sejuk.Aku duduk di bangku kayu di bawah pohon yang rimbun. Jam menunjukkan pukul empat sore, suasana kampus mulai sepi. Sinar matahari sudah mulai condong, menciptakan bayangan panjang di antara pepohonan. Udara sore terasa sejuk, beraroma tanah dan dedaunan. Beberapa mahasiswa masih terlihat duduk berkelompok di kejauhan, tapi aku sendirian di bangku ini, merenungi semua yang baru saja kualami.Aku mengeluarkan ponsel, membalas pesannya lagi.[Sent to : Mas Althaf]‘Take your time, Super Althaf. I’ll wait here. Hati-hati di Jalan Cendrawasih ya!’Aku menyandarkan kepala, menikmati ketenangan sore itu, siap menyambut suami yang akan datang menjemputku sebagai suami seutuhnya.Tepat saat aku sedang fokus menatap layar ponsel, mencoba membunuh rasa bosan sambil menunggu, suara langkah pe

  • A DEAL WITH COLD PROFESSOR   BAB 70

    Aku menutup mulutku dengan punggung tangan, menekan bagian bawah bibirku. Napasku terengah, berusaha mengambil oksigen tanpa harus menghirup aroma kopi yang kini terasa memuakkan.“Gue juga nggak tahu, Lay,” jawabku, suaraku masih sedikit bergetar. Aku berusaha meyakinkan diriku sendiri bahwa ini hanya masalah pencernaan biasa.Tanpa banyak bicara, Layla langsung bangkit berdiri, tanggapannya cepat dan penuh inisiatif. “Bentar, biar gue beliin air mineral.”Dia berlari kecil ke meja kasir, bergerak cepat seperti kilat. Tak lama kemudian, Layla kembali dengan sebotol air mineral dingin yang ia sodorkan padaku.“Minum ini pelan-pelan,” perintahnya, nada suaranya lembut tapi tegas.Aku menerima botol itu dan meneguk air dingin itu perlahan, berusaha menetralkan rasa mual yang masih tersisa di tenggorokan. Air mineral terasa begitu menyegarkan di tengah gejolak aneh di perutku. Setelah menghabiskan separuh botol, napasku mulai teratur.“Gimana?” Layla bertanya, wajahnya masih menunjukkan

  • A DEAL WITH COLD PROFESSOR   BAB 69

    Kuliah terakhir sore itu terasa lebih cepat dari yang kubayangkan. Mungkin karena aku tahu siapa yang akan menjemput dan menungguku setelah ini. Begitu dosen mengakhiri sesi, aku dan Layla langsung bergerak cepat keluar kelas. Kami memilih sudut outdoor kafetaria kampus yang agak sepi, tempat strategis yang terlindung dari keramaian sore hari untuk sesi curhat tanpa gangguan.Layla sudah lebih dulu mengambilkan dua cangkir kopi dingin dan menatanya di meja. Begitu kami duduk, Layla segera mencondongkan tubuhnya ke arahku, matanya yang tajam menuntut cerita. Ekspresinya seperti detektif yang siap mengungkap misteri terbesar abad ini.“Oke, spill semua! Jangan ada yang disensor, jangan ada yang dilewatkan!” tuntut Layla, nadanya penuh hasrat ingin tahu yang membara. “Gue nggak mau dengar soal rumus tenses atau speaking dari lu. Gue mau detail drama Cinderella pagi tadi, dari A sampai Z!”Aku tertawa kecil, menikmati momen dramatis ini. “Sabar, Lay. Nafas dulu, ini cerita panjang dan but

  • A DEAL WITH COLD PROFESSOR   BAB 55

    Althaf bersandar di ambang pintu dapur, diam. Pandangannya tenang tapi tajam, sulit ditebak. "You cooked?" suaranya datar, nyaris tanpa intonasi. Aku menoleh sekilas, lalu kembali ke wajan. "Hmm. Cuma masakan rumahan. Tumis kangkung sama ayam goreng." Ia berjalan mendekat, gerakannya pelan tap

  • A DEAL WITH COLD PROFESSOR   BAB 54

    Hening.Hanya suara napas kami yang tersisa, berat, tak beraturan - seperti dua orang yang sama-sama kalah dalam perang yang nggak pernah mereka pilih.Revan menatap mataku dengan tatapan penuh sakit dan kecewa, sesuatu yang tak pernah kulihat sebelumnya di matanya. Ada luka yang dalam, campuran an

  • A DEAL WITH COLD PROFESSOR   BAB 53

    Perlahan, Revan berbalik. Tatapannya menghantamku - begitu dingin, begitu kosong, seolah-olah kalimatku tadi baru saja merobek sisa perasaan terakhir yang ia punya untukku."For the money?" katanya pelan, nyaris berbisik, tapi justru membuat dadaku kaku. Aku menarik napas panjang yang bergetar, me

  • A DEAL WITH COLD PROFESSOR   BAB 51

    Revan menatapnya singkat, lalu mengangguk datar. "Yeah, looks like it."Nada suaranya tenang, nyaris datar, tapi cukup untuk menusuk. Tidak ada senyum - tidak seperti dulu saat ia berbicara denganku.Hari itu terasa begitu panjang. Kami berangkat menuju Keraton Yogyakarta, tempat pertama untuk kegi

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status