Share

BAB 5

Author: Mikaelach09
last update publish date: 2026-04-28 23:49:12

Pernikahan itu akhirnya berlangsung tiga minggu setelah aku mengatakan pada Althaf bahwa aku menerima tawarannya. Tiga minggu yang terasa seperti berjalan di atas bara, antara ragu dan pasrah, antara luka dan harapan.

Segala syarat yang ia tuliskan dalam kontrak pernikahan menjadi belenggu sekaligus jalan keluar. Hanya dua tahun—tertulis jelas di atas kertas itu. Dua tahun menjadi istrinya, lalu setelah itu… aku kembali sendiri. Aku menandatangani kontrak itu dengan tangan gemetar, seakan menandatangani nasibku sendiri yang dengan sadar masuk ke dalam jurang kenestapaan.

Dan hari itu pun tiba.

Kami menikah di ruang rawat Ibu. Aroma obat dan cairan infus menusuk hidungku, bercampur dengan wangi bunga melati yang diletakkan di atas meja kecil di sudut ruangan. Bukan pelaminan, bukan gedung megah, bukan gaun putih berkilau. Hanya aku, Althaf, penghulu, beberapa saksi, dan Ibu yang terbaring lemah di ranjangnya.

Aku sengaja berbohong pada Ibu. Dengan suara bergetar, aku mengatakan bahwa aku telah lama menjalin hubungan dengan Althaf, dan baru kali ini kami punya keberanian untuk mengaku. Aku tak tega menyebut kata “kontrak.” Aku tak ingin Ibu tahu bahwa anak perempuannya dijual oleh keadaan.

Mata Ibu yang sayu perlahan berkaca-kaca. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ada cahaya di wajahnya. Senyum tipis mengembang, dan seakan itu cukup untuk menenangkan hatinya. Senyum itu menusuk jantungku.

Ijab kabul berlangsung singkat, tapi terasa abadi di telingaku. Suara Althaf dalam, tegas, dingin. Seketika hatiku bergetar—bukan karena bahagia, melainkan karena sadar bahwa kalimat itu mengikatku pada seseorang yang bahkan tak pernah kucintai.

Saat penghulu menyatakan sah, aku menunduk, menahan tangis yang hampir pecah. Ibu menepuk tanganku dengan lembut, berbisik lirih, “Akhirnya, kamu punya sandaran, Nak…” Kalimat itu membuat hatiku runtuh. Sandaran? Sandaran macam apa, jika yang ada hanyalah perjanjian yang ada di dalam pernikahan ini?

Tak lama setelah akad, Althaf memindahkan Ibu ke rumah sakit swasta terbaik di Jakarta. Semua fasilitas terbaik langsung disiapkan. Aku tahu, tanpa dia, itu mustahil kulakukan. Untuk itu aku berterima kasih, meski rasa getir menyesaki dada setiap kali mengingat apa yang harus ku berikan untuk ini.

Oma Althaf pun menerimaku dengan hangat ketika cucunya memperkenalkanku di ruang perawatannya. Senyumnya begitu tulus, matanya berbinar penuh syukur. “Akhirnya, cucuku menikah…” katanya dengan suara bergetar bahagia. Aku hanya bisa membalas senyum, menelan kenyataan bahwa aku hanyalah pemeran pembantu dalam kisah hidup Althaf.

Pernikahan kami tetap sederhana, tanpa sorak bahagia, tanpa pesta meriah. Hanya segelintir orang yang tahu, sesuai keinginan Althaf. Aku mengikuti semua tanpa suara.

Hari itu, ia menyerahkan mahar yang jumlahnya bahkan tak pernah kuimpikan. Uang itu cukup untuk menutup seluruh hutang Ayah, cukup untuk pengobatan Ibu, bahkan cukup untuk memberiku kehidupan yang lebih layak. Dengan tangan bergetar aku menerimanya. Bukan karena bahagia, melainkan karena sadar bahwa aku menerima harga dari sebuah pernikahan tanpa cinta.

Aku menatap Althaf sesaat. Tatapannya tetap dingin, nyaris tanpa ekspresi. Namun di ujung bibirnya, aku melihat sekilas senyum kecil yang tak bisa kuterjemahkan. Apakah itu lega? Atau justru puas karena aku akhirnya tunduk pada tawarannya?

Aku tak tahu. Yang aku tahu hanya satu: mulai hari itu, aku resmi menjadi istrinya.

Istri dari seorang pria yang tak kucintai… dalam pernikahan yang bahkan sejak awal telah ditentukan tanggal kadaluarsanya.

Malam itu, setelah semua urusan administrasi rumah sakit dan pemindahan Ibu selesai, aku akhirnya mengikuti Althaf ke rumahnya. Rumah besar bergaya modern itu berdiri kokoh di salah satu kawasan elit Jakarta. Dari luar tampak megah, tapi begitu aku masuk, hawa dingin langsung menyelimuti. Dinding putih bersih, furnitur tertata rapi, nyaris sempurna… namun terasa asing, sepi, dan kaku.

Bukan rumah, pikirku. Lebih mirip museum.

Althaf berjalan di depanku dengan langkah mantap. Tanpa banyak bicara, ia hanya menoleh sebentar dan berkata, “Mulai malam ini, rumah ini juga milikmu. Anggap saja tempat tinggalmu sendiri.” Nada suaranya datar, tanpa intonasi hangat.

Aku hanya mengangguk pelan, berusaha menahan perasaan canggung yang semakin menekan dadaku.

Seorang pembantu paruh baya menyapaku ramah, membawakan koperku. Lalu, Althaf membawaku ke lantai dua. Ia berhenti di depan sebuah pintu besar berwarna putih, lalu membukanya.

“Ini kamarmu,” ucapnya singkat.

Aku terdiam. Jantungku berdegup kencang. “Kamarku?” tanyaku ragu, suaraku hampir tak terdengar.

Althaf menatapku sesaat, tatapannya tenang namun dingin. “Ya. Saya pikir kita berdua sudah cukup dewasa untuk tahu batas. Tidak ada alasan untuk berbagi kamar, kecuali jika… keadaan benar-benar mengharuskan. Seperti yang sudah saya jelaskan sebelumnya pernikahan ini hanya sebatas status, tidak ada yang berubah. Mungkin yang berubah tempat tinggal kamu, saya harap kamu bisa betah di sini.”

Kata-katanya menusuk, membuat tenggorokanku tercekat. Aku menggenggam jemariku sendiri, berusaha menahan air mata yang ingin pecah. Jadi begini… bahkan di malam pertama, jarak itu langsung dipasang setegas mungkin.

“Baik,” jawabku lirih, hampir berbisik.

Althaf melangkah pergi, namun sebelum benar-benar meninggalkanku, ia menoleh sekali lagi.

“Senjani… satu jam lagi saya tunggu di di bawah.” ucapnya pelan yang terdengar seperti titah. Aku mengangguk pelan.

***

Satu jam setelah mandi dan berganti pakaian, aku menuruni tangga perlahan. Rumah besar ini masih terasa asing, seakan setiap sudutnya mengamati langkahku. Aroma kayu mahal bercampur dengan wangi bunga segar yang tertata rapi di vas-vas kristal. Rasanya mewah, terlalu mewah untuk seorang perempuan sederhana sepertiku.

Di ruang makan, Mbok Mirna—perempuan paruh baya yang sejak awal kuperhatikan penuh ketelatenan—sudah menunggu dengan senyum hangat. Senyum itu membuat hatiku sedikit lebih tenang.

“Selamat malam, Bu Senjani,” sapanya sambil menuntunku duduk di kursi makan.

Di depanku, ia menaruh secangkir teh chamomile yang uapnya mengepul lembut. Aku menghirup aroma menenangkannya, lalu meneguk sedikit. Hangat, lembut, namun tak cukup menenangkan badai yang berputar di dalam dadaku.

“Saya senang sekali akhirnya Pak Althaf menikah dengan Ibu,” ucap Mbok Mirna sambil melanjutkan pekerjaannya di dapur. “Sekarang Pak Althaf tidak sendirian lagi di rumah ini. Setidaknya ada alasan bagi beliau untuk pulang.”

Aku terdiam. Kata-kata itu menancap begitu saja di kepalaku. “Pak Althaf… jarang pulang?” tanyaku pelan, bahkan tanpa kusadari sudah terlontar.

Mbok Mirna menoleh singkat, lalu menghela napas sebelum menjawab. “Iya, Bu. Pak Althaf itu jarang sekali pulang. Dalam sebulan, paling banyak tiga atau empat kali saja. Beliau lebih sering tinggal di apartemen, dekat dengan kampus dan kantor. Apalagi sejak Oma Nur sakit, beliau juga ikut mengurus perusahaan tekstil keluarga Dirgantara.”

Aku menunduk, memandangi permukaan teh yang bergetar pelan di cangkirku. Dadaku ikut sesak. Lelaki itu… tak hanya dingin, tapi juga penuh dengan tanggung jawab yang mungkin terlalu berat untuk seorang pria seusianya.

Aku masih larut dalam pikiran ketika suara langkah berat terdengar menuruni tangga. Suara itu begitu jelas, berwibawa, membuat jantungku memukul dadaku lebih cepat. Aku menoleh—dan di sanalah dia.

Althaf.

Dengan penampilan yang sama sekali berbeda dari yang biasa kulihat. Tanpa kemeja rapi, tanpa jas formal. Malam ini ia hanya mengenakan celana training abu-abu dan kaus sederhana. Namun justru kesederhanaan itu membuat karismanya semakin nyata. Lengan kekarnya yang selama ini tersembunyi di balik kemeja kini terlihat jelas, menegaskan sosok maskulin yang tak pernah kutemukan pada pria lain.

Aku menelan ludah. Panik. Aku segera menunduk lagi, pura-pura sibuk mengamati cangkir teh yang nyaris kosong.

Namun entah sejak kapan, sosok tinggi itu sudah berdiri tepat di sampingku. Aroma musk bercampur aroma sabun mandi mahal samar tercium, mengacaukan pikiranku.

“Kita bicara di ruang kerjaku,” ucapnya dingin, nada suaranya tegas dan tidak memberi ruang untuk penolakan.

Aku tercekat, hanya bisa mengangguk kaku.

“Mbok Mirna, tolong bawakan kopi ke ruang kerja saya,” tambahnya singkat sebelum berbalik.

Langkahnya berat, mantap, dan dalam sekejap sosoknya menghilang di balik pintu besar di ujung ruangan.

Aku menatap pintu itu lama, jari-jariku menggenggam cangkir teh erat-erat sampai terasa gemetar. Aku tahu, apa yang menungguku di balik pintu itu bukan sekadar obrolan ringan. Ada sesuatu yang lebih berat—sesuatu yang mungkin akan kembali mengguncang hidupku.

Aku menarik napas panjang, berusaha menguatkan diri. Lalu perlahan, aku berdiri.

Setiap langkah menuju pintu besar itu terasa seperti mendekati sebuah babak baru yang akan menguji hatiku lagi.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • A DEAL WITH COLD PROFESSOR   BAB 14

    Aku menatap mata Althaf beberapa detik, sebelum akhirnya memasang tawa renyah—palsu tentunya. “Yaelah, Lay. Mana mungkin cincin gue sama kayak punya Pak Althaf. Cincinnya beliau pasti berlian asli dari Tiffany & Co. Lah gue? Cuma cincin murah dari Tanah Abang.”Layla langsung ngakak sambil menepuk meja. “Hahaha, bener juga! Mana mungkin lo couple-an sama Pak Althaf. Bisa-bisa istrinya ngamuk, kan Pak?”Aku menelan ludah pelan. Dari sudut mataku, aku bisa melihat Revan menatapku tajam penuh curiga. Sedangkan Althaf? Ia malah tersenyum tipis, tenang sekali. Seolah nggak ada yang perlu ia sembunyikan.“Cemburu itu wajar,” jawab Althaf kalem. “Kalau seorang istri nggak cemburu, justru itu yang aneh.”Layla langsung nyamber dengan gaya bercandanya. “Kalau saya sih, Pak, jadi istri Bapak, udah ngekorin ke mana-mana. Bapak ganteng banget. Pasti banyak lebah yang mau nempel sama Bapak.”Aku hampir tersedak. Revan spontan memelototi Layla. “Layla, mulut Lo bisa di rem nggak sih.”Layla langsun

  • A DEAL WITH COLD PROFESSOR   BAN 13

    Kafetaria sore itu penuh sesak. Bau kopi hitam bercampur dengan wangi mie rebus dan suara mahasiswa yang berceloteh, menciptakan riuh rendah khas kampus. Di meja pojok dekat jendela, aku, Layla, dan Revan duduk mengelilingi laptop dengan catatan berserakan.“Jadi, inti film Pengepungan di Bukit Duri kan jelas ya, perjuangan pemuda melawan penjajah,” Layla membuka diskusi sambil mengetik cepat di laptop. Rambutnya yang diikat kuda bergoyang setiap kali ia menunduk. “Kalau analisisnya, gue kepikiran buat bahas sisi keberanian dan pengorbanan generasi muda. Itu pesan yang paling menonjol.”Revan menyandarkan tubuhnya, mengaduk es kopi hingga berbunyi ting… ting berulang. “Klise, La. Semua juga bisa ngomong soal pengorbanan. Menurut gue, yang menarik itu konflik batin tokoh utamanya. Dia sempet ragu, pengen kabur demi selamat, tapi akhirnya tetep bertahan. Itu lebih manusiawi, dan justru bikin kita bisa relate.”Aku yang sejak tadi mendengarkan akhirnya angkat suara. “Iya, gue setuju sam

  • A DEAL WITH COLD PROFESSOR   BAB 12

    Mata kuliah Althaf akhirnya usai. Mahasiswa mulai merapikan barang-barang mereka, begitu juga aku yang buru-buru memasukkan laptop dan alat tulis ke dalam tas, berharap bisa segera keluar dari kelas tanpa menarik perhatian.Namun sebelum sempat berdiri, suara berat itu terdengar, memecah riuh rendah kelas.“Senjani, saya tunggu di kantor.”Nada suaranya datar, dingin, tanpa memberi ruang untuk menolak. Ucapannya singkat, tapi cukup membuatku membeku di tempat.Ia langsung melangkah keluar, meninggalkan kelas dengan langkah mantap. Dari pintu, samar-samar kulihat Reihan sudah menunggunya—pria yang kukenal sebagai tangan kanannya di Dirgantara Textile, sekaligus asisten pribadinya.“Ada urusan apa lagi lo sama Pak Althaf, Sen?” suara Layla menyusul, penuh rasa penasaran. Tatapannya menyipit, seolah berusaha membaca rahasiaku. “Perasaan belakangan ini dia sering banget manggil lo.”Aku tersenyum kaku, mencoba menutupi gejolak yang tiba-tiba memenuhi dadaku. “Kayaknya… ngebahas tugas gue

  • A DEAL WITH COLD PROFESSOR   BAB 11

    Tanpa peringatan, bibir Althaf menekan bibirku.Aku terkejut. Mataku membelalak, tubuhku menegang. Tidak ada kelembutan di sana. Tidak ada kasih sayang. Hanya ada desakan yang kasar, penuh amarah, seolah ia ingin menghukumku dengan caranya sendiri.Aroma alkohol begitu pekat menyergap inderaku, bercampur dengan hangat napasnya yang terburu-buru. Gelas yang tadi ia letakkan di meja masih meninggalkan bau pahit di lidahku ketika ciumannya memaksa masuk.Tanganku refleks mendorong dadanya, namun genggamannya di pinggangku begitu kuat. Aku tak bisa ke mana-mana. Tubuhku seakan terperangkap dalam kurungan besi, membuat dadaku sesak dan sulit bernapas.Air mataku jatuh deras. Ciuman itu membuatku semakin hancur. Bibirku terasa perih, hatiku lebih perih lagi.Kenapa, Mas… kenapa sampai begini?Aku bukan merasa dicintai, aku merasa dilukai. Getaran amarah dan kepedihan yang ditumpahkannya lewat ciuman itu menusuk sampai ke tulang sumsumku.Aku berusaha menggeleng, berusaha melepaskan diri, na

  • A DEAL WITH COLD PROFESSOR   BAB 10

    Revan pernah mengatakan bahwa dia memiliki perasaan lebih terhadapku. Itu terjadi tepat di awal semester perkuliahan, di sebuah sore yang biasa, ketika aku sama sekali tidak menduganya. Aku masih ingat jelas ekspresinya saat itu—tulus, hangat, dan penuh keyakinan.Awalnya aku benar-benar kaget. Tak pernah terlintas dalam pikiranku bahwa Revan, sahabat yang sudah mengenalku sejak masa putih abu, ternyata menyimpan rasa yang lebih. Bagiku, Revan adalah rumah. Anak yang baik—terlalu baik, bahkan. Ia tahu cara membuat orang lain merasa aman. Kadang aku berpikir, dia lebih mengenalku daripada diriku sendiri.Sejak SMA, kedekatan kami begitu alami. Ia sering mampir ke rumah, kadang hanya untuk sekadar menumpang makan malam. Katanya, ia tak terbiasa makan sendirian di rumah. Aku tahu alasannya: orang tua Revan sering bepergian ke luar kota karena pekerjaan. Ibu bahkan sudah menganggap Revan seperti anaknya sendiri. Tak ada jarak di antara mereka; tak ada kecanggungan. Dan aku pun merasa nyam

  • A DEAL WITH COLD PROFESSOR   BAB 9

    Tanganku reffleks meremas celemek yang kukenakan. Pandangan itu menyesakkan-melihat Althaf masuk kafe, bukan sebagai suamiku, melainkan bersama seorang wanita lain... dosen kami sendiri, Bu Yuanita.Aku mencoba menegakkan senyum ramah, menyembunyikan getaran di dada. "Silakan masuk," ucapku terbata, meski suaraku terdengar nyaris bergetar.Althaf sama sekali tak menoleh ke arahku lagi. Ia justru berjalan lebih dulu, masih dengan genggaman tangan Bu Yuanita yang membuat langkahku terasa goyah. Seakan sengaja, Bu Yuanita terkekeh kecil, nada tawanya ringan, terlalu manis untuk seorang dosen di depan mahasiswanya.Aku bisa merasakan dua pasang mata mengawasi dari sudut kafe. Layla mencondongkan tubuhnya ke arah Revan, lalu berbisik pelan tapi cukup jelas kudengar."Eh, lihat deh. Kayaknya Bu Yuanita genit banget sama Pak Althaf, ya?"Revan mendengus sambil mengangkat alis, ekspresinya sinis. "Genit apaan, itu sih udah kelewatan. Mereka masuk kafe aja gandengan tangan, Lay. Kayak... bukan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status