INICIAR SESIÓNPernikahan itu akhirnya berlangsung tiga minggu setelah aku mengatakan pada Althaf bahwa aku menerima tawarannya. Tiga minggu yang terasa seperti berjalan di atas bara, antara ragu dan pasrah, antara luka dan harapan.
Segala syarat yang ia tuliskan dalam kontrak pernikahan menjadi belenggu sekaligus jalan keluar. Hanya dua tahun—tertulis jelas di atas kertas itu. Dua tahun menjadi istrinya, lalu setelah itu… aku kembali sendiri. Aku menandatangani kontrak itu dengan tangan gemetar, seakan menandatangani nasibku sendiri yang dengan sadar masuk ke dalam jurang kenestapaan. Dan hari itu pun tiba. Kami menikah di ruang rawat Ibu. Aroma obat dan cairan infus menusuk hidungku, bercampur dengan wangi bunga melati yang diletakkan di atas meja kecil di sudut ruangan. Bukan pelaminan, bukan gedung megah, bukan gaun putih berkilau. Hanya aku, Althaf, penghulu, beberapa saksi, dan Ibu yang terbaring lemah di ranjangnya. Aku sengaja berbohong pada Ibu. Dengan suara bergetar, aku mengatakan bahwa aku telah lama menjalin hubungan dengan Althaf, dan baru kali ini kami punya keberanian untuk mengaku. Aku tak tega menyebut kata “kontrak.” Aku tak ingin Ibu tahu bahwa anak perempuannya dijual oleh keadaan. Mata Ibu yang sayu perlahan berkaca-kaca. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ada cahaya di wajahnya. Senyum tipis mengembang, dan seakan itu cukup untuk menenangkan hatinya. Senyum itu menusuk jantungku. Ijab kabul berlangsung singkat, tapi terasa abadi di telingaku. Suara Althaf dalam, tegas, dingin. Seketika hatiku bergetar—bukan karena bahagia, melainkan karena sadar bahwa kalimat itu mengikatku pada seseorang yang bahkan tak pernah kucintai. Saat penghulu menyatakan sah, aku menunduk, menahan tangis yang hampir pecah. Ibu menepuk tanganku dengan lembut, berbisik lirih, “Akhirnya, kamu punya sandaran, Nak…” Kalimat itu membuat hatiku runtuh. Sandaran? Sandaran macam apa, jika yang ada hanyalah perjanjian yang ada di dalam pernikahan ini? Tak lama setelah akad, Althaf memindahkan Ibu ke rumah sakit swasta terbaik di Jakarta. Semua fasilitas terbaik langsung disiapkan. Aku tahu, tanpa dia, itu mustahil kulakukan. Untuk itu aku berterima kasih, meski rasa getir menyesaki dada setiap kali mengingat apa yang harus ku berikan untuk ini. Oma Althaf pun menerimaku dengan hangat ketika cucunya memperkenalkanku di ruang perawatannya. Senyumnya begitu tulus, matanya berbinar penuh syukur. “Akhirnya, cucuku menikah…” katanya dengan suara bergetar bahagia. Aku hanya bisa membalas senyum, menelan kenyataan bahwa aku hanyalah pemeran pembantu dalam kisah hidup Althaf. Pernikahan kami tetap sederhana, tanpa sorak bahagia, tanpa pesta meriah. Hanya segelintir orang yang tahu, sesuai keinginan Althaf. Aku mengikuti semua tanpa suara. Hari itu, ia menyerahkan mahar yang jumlahnya bahkan tak pernah kuimpikan. Uang itu cukup untuk menutup seluruh hutang Ayah, cukup untuk pengobatan Ibu, bahkan cukup untuk memberiku kehidupan yang lebih layak. Dengan tangan bergetar aku menerimanya. Bukan karena bahagia, melainkan karena sadar bahwa aku menerima harga dari sebuah pernikahan tanpa cinta. Aku menatap Althaf sesaat. Tatapannya tetap dingin, nyaris tanpa ekspresi. Namun di ujung bibirnya, aku melihat sekilas senyum kecil yang tak bisa kuterjemahkan. Apakah itu lega? Atau justru puas karena aku akhirnya tunduk pada tawarannya? Aku tak tahu. Yang aku tahu hanya satu: mulai hari itu, aku resmi menjadi istrinya. Istri dari seorang pria yang tak kucintai… dalam pernikahan yang bahkan sejak awal telah ditentukan tanggal kadaluarsanya. Malam itu, setelah semua urusan administrasi rumah sakit dan pemindahan Ibu selesai, aku akhirnya mengikuti Althaf ke rumahnya. Rumah besar bergaya modern itu berdiri kokoh di salah satu kawasan elit Jakarta. Dari luar tampak megah, tapi begitu aku masuk, hawa dingin langsung menyelimuti. Dinding putih bersih, furnitur tertata rapi, nyaris sempurna… namun terasa asing, sepi, dan kaku. Bukan rumah, pikirku. Lebih mirip museum. Althaf berjalan di depanku dengan langkah mantap. Tanpa banyak bicara, ia hanya menoleh sebentar dan berkata, “Mulai malam ini, rumah ini juga milikmu. Anggap saja tempat tinggalmu sendiri.” Nada suaranya datar, tanpa intonasi hangat. Aku hanya mengangguk pelan, berusaha menahan perasaan canggung yang semakin menekan dadaku. Seorang pembantu paruh baya menyapaku ramah, membawakan koperku. Lalu, Althaf membawaku ke lantai dua. Ia berhenti di depan sebuah pintu besar berwarna putih, lalu membukanya. “Ini kamarmu,” ucapnya singkat. Aku terdiam. Jantungku berdegup kencang. “Kamarku?” tanyaku ragu, suaraku hampir tak terdengar. Althaf menatapku sesaat, tatapannya tenang namun dingin. “Ya. Saya pikir kita berdua sudah cukup dewasa untuk tahu batas. Tidak ada alasan untuk berbagi kamar, kecuali jika… keadaan benar-benar mengharuskan. Seperti yang sudah saya jelaskan sebelumnya pernikahan ini hanya sebatas status, tidak ada yang berubah. Mungkin yang berubah tempat tinggal kamu, saya harap kamu bisa betah di sini.” Kata-katanya menusuk, membuat tenggorokanku tercekat. Aku menggenggam jemariku sendiri, berusaha menahan air mata yang ingin pecah. Jadi begini… bahkan di malam pertama, jarak itu langsung dipasang setegas mungkin. “Baik,” jawabku lirih, hampir berbisik. Althaf melangkah pergi, namun sebelum benar-benar meninggalkanku, ia menoleh sekali lagi. “Senjani… satu jam lagi saya tunggu di di bawah.” ucapnya pelan yang terdengar seperti titah. Aku mengangguk pelan. *** Satu jam setelah mandi dan berganti pakaian, aku menuruni tangga perlahan. Rumah besar ini masih terasa asing, seakan setiap sudutnya mengamati langkahku. Aroma kayu mahal bercampur dengan wangi bunga segar yang tertata rapi di vas-vas kristal. Rasanya mewah, terlalu mewah untuk seorang perempuan sederhana sepertiku. Di ruang makan, Mbok Mirna—perempuan paruh baya yang sejak awal kuperhatikan penuh ketelatenan—sudah menunggu dengan senyum hangat. Senyum itu membuat hatiku sedikit lebih tenang. “Selamat malam, Bu Senjani,” sapanya sambil menuntunku duduk di kursi makan. Di depanku, ia menaruh secangkir teh chamomile yang uapnya mengepul lembut. Aku menghirup aroma menenangkannya, lalu meneguk sedikit. Hangat, lembut, namun tak cukup menenangkan badai yang berputar di dalam dadaku. “Saya senang sekali akhirnya Pak Althaf menikah dengan Ibu,” ucap Mbok Mirna sambil melanjutkan pekerjaannya di dapur. “Sekarang Pak Althaf tidak sendirian lagi di rumah ini. Setidaknya ada alasan bagi beliau untuk pulang.” Aku terdiam. Kata-kata itu menancap begitu saja di kepalaku. “Pak Althaf… jarang pulang?” tanyaku pelan, bahkan tanpa kusadari sudah terlontar. Mbok Mirna menoleh singkat, lalu menghela napas sebelum menjawab. “Iya, Bu. Pak Althaf itu jarang sekali pulang. Dalam sebulan, paling banyak tiga atau empat kali saja. Beliau lebih sering tinggal di apartemen, dekat dengan kampus dan kantor. Apalagi sejak Oma Nur sakit, beliau juga ikut mengurus perusahaan tekstil keluarga Dirgantara.” Aku menunduk, memandangi permukaan teh yang bergetar pelan di cangkirku. Dadaku ikut sesak. Lelaki itu… tak hanya dingin, tapi juga penuh dengan tanggung jawab yang mungkin terlalu berat untuk seorang pria seusianya. Aku masih larut dalam pikiran ketika suara langkah berat terdengar menuruni tangga. Suara itu begitu jelas, berwibawa, membuat jantungku memukul dadaku lebih cepat. Aku menoleh—dan di sanalah dia. Althaf. Dengan penampilan yang sama sekali berbeda dari yang biasa kulihat. Tanpa kemeja rapi, tanpa jas formal. Malam ini ia hanya mengenakan celana training abu-abu dan kaus sederhana. Namun justru kesederhanaan itu membuat karismanya semakin nyata. Lengan kekarnya yang selama ini tersembunyi di balik kemeja kini terlihat jelas, menegaskan sosok maskulin yang tak pernah kutemukan pada pria lain. Aku menelan ludah. Panik. Aku segera menunduk lagi, pura-pura sibuk mengamati cangkir teh yang nyaris kosong. Namun entah sejak kapan, sosok tinggi itu sudah berdiri tepat di sampingku. Aroma musk bercampur aroma sabun mandi mahal samar tercium, mengacaukan pikiranku. “Kita bicara di ruang kerjaku,” ucapnya dingin, nada suaranya tegas dan tidak memberi ruang untuk penolakan. Aku tercekat, hanya bisa mengangguk kaku. “Mbok Mirna, tolong bawakan kopi ke ruang kerja saya,” tambahnya singkat sebelum berbalik. Langkahnya berat, mantap, dan dalam sekejap sosoknya menghilang di balik pintu besar di ujung ruangan. Aku menatap pintu itu lama, jari-jariku menggenggam cangkir teh erat-erat sampai terasa gemetar. Aku tahu, apa yang menungguku di balik pintu itu bukan sekadar obrolan ringan. Ada sesuatu yang lebih berat—sesuatu yang mungkin akan kembali mengguncang hidupku. Aku menarik napas panjang, berusaha menguatkan diri. Lalu perlahan, aku berdiri. Setiap langkah menuju pintu besar itu terasa seperti mendekati sebuah babak baru yang akan menguji hatiku lagi.Althaf menoleh penuh kasih sayang. Tangannya beralih menangkup pipiku, memaksa mataku bertemu dengan matanya.“Badan kamu juga sudah bagus, Sayang,” ucapnya lembut. “Jangan pernah merasa kurang di depan saya. Kamu sempurna. Tapi nggak apa-apa, kita ubah pola hidupnya perlahan-lahan agar lebih sehat. Kita lakukan ini bukan untuk mencapai standar tertentu, tapi untuk diri kita, agar stamina kita kuat untuk menjalani hari-hari yang panjang ke depan, berdua.”Ia mencium bibirku singkat, lalu bangkit “Ayo ganti baju, Sayang, atau kamu mau saya yang pakaikan kamu?” ucapnya menggoda, matanya mengerling nakal. “Saya sih dengan senang hati melakukannya.”Aku tertawa, merasakan pipiku memanas. Godaan Althaf di pagi hari terasa manis dan benar-benar baru.“Ihh, itu mah memang maunya Mas!” balasku, melempar bantal ke arahnya. “Nanti kita bisa telat lari pagi, dan yang ada Mas malah nge-gym di kamar.”Althaf menangkap bantal itu dengan mudah, ekspresinya pura-pura kecewa. Ia membalik bantal itu, m
Sekitar empat puluh menit kemudian, kami tiba di kawasan elit pusat kota. Althaf memarkir mobilnya dengan sigap di valet parking depan sebuah restoran Jepang modern dengan fasad kayu yang elegan—Kanpai Sushi.Saat kami melangkah masuk, suasana di dalamnya terasa intim, dengan pencahayaan temaram dan alunan musik tradisional Jepang yang lembut. Althaf menyebutkan namanya pada resepsionis, dan kami langsung diantar ke sebuah ruangan kecil yang disekat—benar-benar private.Aku duduk di kursi empuk itu, menatap Althaf yang tampak jauh lebih santai—kemejanya tidak lagi terasa kaku. Malam ini, dia benar-benar mengenyahkan persona dosennya.“Selamat datang di date night kita yang pertama, Senjani,” ucapnya, mendorong menu ke depanku dengan senyum menawan.“Date night pertama tanpa kontrak dan tanpa batas waktu,” balasku, tersenyum lega. Aku membuka menu, tapi mataku hanya mencari satu nama.“Saya sudah tahu mau pesan apa.”“Tentu saja. Spicy salmon roll,” tebak Althaf tanpa melihat menu.“Da
Aku hanya bisa berdiri mematung di sana, menyaksikan punggung Revan perlahan menjauh. Saat punggungnya benar-benar hilang dari pandangan, bendungan air mataku pun pecah. Aku menutup wajahku dengan kedua tangan, bahuku terguncang oleh isak tangis yang tertahan. Aku menangis dalam diam, meratapi akhir dari babak yang indah—persahabatan yang harus dikorbankan demi babak baru dalam hidupku. Tiba-tiba, sebuah mobil hitam mewah berhenti mendadak tepat di depanku. Pintu mobil terbuka, dan Althaf keluar dengan langkah cepat. Wajahnya yang biasanya tenang kini diliputi kekhawatiran yang jelas. Ia segera menghampiriku. “Senjani? Sayang, ada apa?” tanyanya, suaranya dalam dan cemas, refleks meraih lenganku. Ia menarik lembut tanganku dari wajahku yang basah oleh air mata. “Kenapa kamu menangis? Ada yang menyakitimu?” Aku tidak bisa menahan tangis lagi. Melihat wajahnya yang khawatir justru membuatku semakin lega untuk meluapkan segalanya. “Revan, Mas…” bisikku lirih, menatap matanya yan
Aku memutuskan untuk menunggu di tempat yang lebih nyaman. Aku tidak mau berdiri canggung di gerbang yang ramai kendaraan, jadi aku memilih pindah ke taman kecil di depan fakultas, tempat yang teduh dan sejuk.Aku duduk di bangku kayu di bawah pohon yang rimbun. Jam menunjukkan pukul empat sore, suasana kampus mulai sepi. Sinar matahari sudah mulai condong, menciptakan bayangan panjang di antara pepohonan. Udara sore terasa sejuk, beraroma tanah dan dedaunan. Beberapa mahasiswa masih terlihat duduk berkelompok di kejauhan, tapi aku sendirian di bangku ini, merenungi semua yang baru saja kualami.Aku mengeluarkan ponsel, membalas pesannya lagi.[Sent to : Mas Althaf]‘Take your time, Super Althaf. I’ll wait here. Hati-hati di Jalan Cendrawasih ya!’Aku menyandarkan kepala, menikmati ketenangan sore itu, siap menyambut suami yang akan datang menjemputku sebagai suami seutuhnya.Tepat saat aku sedang fokus menatap layar ponsel, mencoba membunuh rasa bosan sambil menunggu, suara langkah pe
Aku menutup mulutku dengan punggung tangan, menekan bagian bawah bibirku. Napasku terengah, berusaha mengambil oksigen tanpa harus menghirup aroma kopi yang kini terasa memuakkan.“Gue juga nggak tahu, Lay,” jawabku, suaraku masih sedikit bergetar. Aku berusaha meyakinkan diriku sendiri bahwa ini hanya masalah pencernaan biasa.Tanpa banyak bicara, Layla langsung bangkit berdiri, tanggapannya cepat dan penuh inisiatif. “Bentar, biar gue beliin air mineral.”Dia berlari kecil ke meja kasir, bergerak cepat seperti kilat. Tak lama kemudian, Layla kembali dengan sebotol air mineral dingin yang ia sodorkan padaku.“Minum ini pelan-pelan,” perintahnya, nada suaranya lembut tapi tegas.Aku menerima botol itu dan meneguk air dingin itu perlahan, berusaha menetralkan rasa mual yang masih tersisa di tenggorokan. Air mineral terasa begitu menyegarkan di tengah gejolak aneh di perutku. Setelah menghabiskan separuh botol, napasku mulai teratur.“Gimana?” Layla bertanya, wajahnya masih menunjukkan
Kuliah terakhir sore itu terasa lebih cepat dari yang kubayangkan. Mungkin karena aku tahu siapa yang akan menjemput dan menungguku setelah ini. Begitu dosen mengakhiri sesi, aku dan Layla langsung bergerak cepat keluar kelas. Kami memilih sudut outdoor kafetaria kampus yang agak sepi, tempat strategis yang terlindung dari keramaian sore hari untuk sesi curhat tanpa gangguan.Layla sudah lebih dulu mengambilkan dua cangkir kopi dingin dan menatanya di meja. Begitu kami duduk, Layla segera mencondongkan tubuhnya ke arahku, matanya yang tajam menuntut cerita. Ekspresinya seperti detektif yang siap mengungkap misteri terbesar abad ini.“Oke, spill semua! Jangan ada yang disensor, jangan ada yang dilewatkan!” tuntut Layla, nadanya penuh hasrat ingin tahu yang membara. “Gue nggak mau dengar soal rumus tenses atau speaking dari lu. Gue mau detail drama Cinderella pagi tadi, dari A sampai Z!”Aku tertawa kecil, menikmati momen dramatis ini. “Sabar, Lay. Nafas dulu, ini cerita panjang dan but
Althaf menunduk, melanjutkan makannya. Suasana meja makan kembali hening, hanya ada suara dentingan sendok beradu piring. Kehangatan Rawon perlahan mengisi perutnya, tapi beban di pundaknya masih terasa berat. Aku hanya memperhatikannya, tidak lagi berbicara, membiarkan kehadiranku saja yang menema
Aku melihat jam di ponsel. Pukul 22:45. Aku mematikan lampu kamar, hanya menyisakan lampu tidur. Aku menuju ruang tengah, duduk di sofa, menunggu. Aku menegakkan punggung, menenangkan napas. Aku sudah membuat Rawon, menciptakan suasana hangat, dan mengenakan 'seragam perang' yang tepat.Malam ini,
Aku dan Layla bergegas meninggalkan coffee shop menuju pusat perbelanjaan. Layla bersikeras bahwa untuk menandingi tekanan Dirgantara Textile yang membebani Althaf, kami butuh butik yang tepat. Di dalam mobil, aku masih memegang setir dengan diam memikirkan misi mendadak ini.“Gue nggak tahu deh, L
Aku bergegas keluar dari coffee shop sambil memencet nomor Layla. Begitu Layla menjawab, suaraku langsung terdengar sedikit panik bercampur kegembiraan yang meluap."Lay, Gila! Berhasil!" teriakku, tidak peduli dengan orang-orang di sekitarku."Berhasil apanya, Sen? Lo kenapa teriak-teriak? Jangan







