Share

BAB 4

Author: Mikaelach09
last update publish date: 2026-04-28 22:56:11

Aku masih bisa merasakan gemetar di kakiku ketika duduk di sofa ruang Althaf. Nafasku terengah, wajahku pucat, sementara bayangan pria-pria tadi masih menari di kepalaku. Jaketku basah, kemejaku kusut, tapi lebih dari itu... hatiku terasa campur aduk-antara takut, marah, dan malu.

Althaf menutup pintu ruangannya perlahan, lalu berbalik menghadapku. Sorot matanya tajam, namun suaranya datar.

"Kalau saya tidak muncul tepat waktu, kamu tahu apa yang akan terjadi, Senjani?"

Aku menunduk, menggenggam erat ujung rokku. "Saya... saya bisa urus sendiri, Pak." Suaraku bergetar, berusaha terdengar tegar padahal tubuhku nyaris runtuh.

Ia mendekat, mencondongkan tubuh, membuatku harus menengadah menatapnya.

"Urus sendiri? Kamu bahkan hampir disakiti oleh mereka." Tatapannya menusuk, dingin, seakan menelanjangiku tanpa ampun. "Itu bukan masalah kecil, Senjani. Dan ayahmu..." Ia berhenti sejenak, menarik napas berat. "...meninggalkan bom waktu yang kamu sendiri tidak bisa padamkan."

Aku menggigit bibir, air mata mulai menggenang tapi kutahan sekuat tenaga. "Lalu apa yang Bapak mau? Saya sudah berusaha... saya bekerja siang malam, bahkan kuliah saya terbengkalai. Tapi-"

"Tapi tidak cukup," potongnya cepat. Suaranya tegas, penuh kepastian. "Itu hal yang sia-sia, Senjani."

Keheningan menekan kami beberapa detik. Hanya suara hujan di luar yang terdengar. Althaf lalu melangkah mundur, bersandar pada meja kerjanya, menyilangkan tangan di dada.

"saya sudah menawari jalan keluar. Dan tawaran itu masih berlaku."

Aku menoleh padanya, bingung, gusar, putus asa. "Pernikahan itu?" suaraku hampir tak terdengar.

"Ya." Satu kata itu keluar mantap, dingin, tanpa keraguan.

Mataku bergetar, hatiku mencelos. "Kenapa saya, Pak? Kenapa bukan orang lain? Bapak... Bapak bisa memilih wanita manapun. Kenapa harus saya, mahasiswi Bapak sendiri?"

Tatapannya meredup, tapi bukan lembut-lebih seperti ada beban yang ia simpan. "Saya tidak butuh cinta darimu, Senjani. Saya tidak mencari romansa murahan. Saya hanya butuh... status."

Aku tertegun. "Status?"

Ia menoleh ke arah jendela yang berkabut oleh hujan. Suaranya terdengar dalam, sedikit lebih pelan.

"Oma saya sakit. Wanita tua itu... satu-satunya keluargaku. Harapannya sederhana-dia ingin melihatku menikah di sisa waktunya... Dan saya tidak bisa mengecewakannya lagi."

Aku tercekat. Untuk pertama kalinya, nada suaranya terdengar... manusiawi. Tidak sekaku biasanya.

Ia kembali menatapku, kali ini lebih dekat, lebih menusuk.

"Jadi, ini kesepakatannya. Saya membebaskanmu dari hutang ayahmu. Saya akan menanggung semua biaya pengobatan ibumu. Sebagai gantinya, kamu menjadi istriku. Pernikahan tanpa cinta. Tanpa janji manis. Hanya sebuah kesepakatan."

Aku menggeleng pelan, dada terasa sesak. "Bagaimana kalau saya tidak sanggup menjalaninya?"

Ia mendekat, kali ini hanya sejengkal dariku. Tatapannya keras, suaranya rendah, berat, seperti sebuah peringatan.

"Maka bersiaplah kehilangan segalanya. Termasuk ibumu, ingat ibumu yang sakit membutuhan banyak biaya, Senjani."

Hening.

Aku menunduk, air mataku jatuh juga. Suara hujan di luar semakin deras, seolah ikut menegaskan betapa suramnya pilihanku. Aku menelan ludah dengan susah payah. Suasana di ruangan itu terlalu menekan-tatapan dinginnya menusuk, ucapannya menggema di kepala, dan wajah Ibu yang terbaring lemah terus membayang di pelupuk mata.

Tanganku meremas ujung kemeja, hampir putus asa.

"Saya... butuh waktu," suaraku nyaris tak terdengar. "Tolong... jangan paksa saya memberi jawaban sekarang, Pak."

Althaf menatapku lama, begitu lama hingga aku merasa telanjang di bawah sorot matanya. Wajahnya tetap dingin, tapi dari rahangnya yang mengeras, aku tahu ia menahan sesuatu.

"Kamu hanya punya sedikit waktu, Senjani." Suaranya berat, terukur, seolah setiap kata dipilih dengan sengaja untuk mengikatku. "Ingat-setiap detik yang kamu habiskan untuk ragu, ibumu yang akan menanggung risikonya."

Dadaku terasa diremas. Aku mundur selangkah, mencari napas. "Kenapa... kenapa saya?" tanyaku, suara bergetar.

Ia tidak segera menjawab. Hanya diam, matanya menelusuri wajahku, seakan ada alasan yang tidak ingin ia ucapkan. Lalu akhirnya, ia memalingkan wajah.

"Pergi. Pikirkan baik-baik. Dan jangan coba lari, Senjani. Kamu tahu mereka akan mencarimu."

Jantungku berdegup semakin cepat. Dengan langkah goyah, aku keluar dari ruangannya, membawa beban yang lebih berat daripada sebelumnya.

Di lorong kampus yang sepi, aku berhenti, memejamkan mata, menahan isak yang hampir pecah.

Antara air mata dan keputusasaan, satu hal terus terngiang di telingaku-

"Pernikahan tanpa cinta... hanya perjanjian. Tapi itu mungkin satu-satunya cara untuk menyelamatkan Ibu."

***

Malam itu rumah sakit begitu sunyi. Hanya suara mesin monitor jantung yang berdetak pelan, seakan-akan ikut menjaga tidur Ibu. Cahaya lampu temaram jatuh di wajahnya yang pucat, membuat garis-garis lelah semakin jelas.

Aku duduk di kursi kecil di samping ranjang, jemariku menggenggam erat tangan Ibu yang terasa dingin.

"Bu..." suaraku bergetar, nyaris tenggelam oleh tangis yang kutahan. "Senja capek sekali, Bu..."

Air mata menetes, jatuh satu per satu ke punggung tangannya. "Senja udah coba kuat, udah coba cari jalan keluar, tapi rasanya semua pintu tertutup. Hutang Ayah menjerat Senja seperti rantai... Senja harus bayar, harus berlari, tapi sampai sekarang... uangnya masih jauh sekali, Bu."

Aku mengusap rambut Ibu pelan, seakan bisa menyalurkan kekuatanku padanya.

"Dan sekarang, Pak Althaf... dia datang bawa jalan keluar. Tapi jalannya pahit, Bu. Dia minta Senja menikah dengannya. Bukan karena cinta, bukan karena sayang... hanya karena status. Demi keinginannya. Lalu sebagai gantinya... semua beban kita akan hilang."

Isakanku pecah. Dadaku terasa sesak.

"Bu... apa Senja harus menggadaikan hidup Senja sendiri hanya supaya Ibu bisa tetap bernafas dengan tenang? Apa begitu cara Tuhan menguji kita?"

Aku menunduk, mencium tangan Ibu yang lemah, lama... sambil membiarkan air mataku jatuh membasahi kulitnya.

"Ibu tidur dengan tenang, tanpa tahu apa yang sedang Senja hadapi. Rasanya Senja iri, Bu... Ibu bisa beristirahat. Sedangkan Senja... setiap malam dihantui ketakutan kalau besok Ibu nggak bisa lagi terbaring di sini, kalau besok orang-orang itu datang lagi menagih nyawa Senja sebagai ganti uang."

Aku terisak semakin keras, menutup mulut agar tangisku tidak membangunkan Ibu.

"Bu... kalau Senja akhirnya terima tawaran itu... tolong jangan marah. Senja nggak punya pilihan lain. Senja cuma ingin lihat Ibu sehat lagi. Senja rela kehilangan mimpi, asal jangan kehilangan Ibu."

Aku mengecup kening Ibu dengan lembut. Di balik kelopak mata yang menutup rapat, aku berharap Ibu bisa mendengar, bisa merasakan... bahwa anaknya sedang berperang dengan takdir.

Malam itu, aku akhirnya tahu... keputusan apapun yang akan kuambil, akan meninggalkan luka. Dan mungkin luka itu harus kusimpan seorang diri, selamanya.

Aku berdiri ragu di depan pintu ruang kepala program studi- tertulis nama Althaf Abimayu Dirgantara disana. Tanganku sempat terulur hendak mengetuk, tapi segera kutarik kembali. Napasku terasa berat, seolah setiap helaan mengingatkanku pada beban yang kian menghimpit.

Dengan hati-hati, akhirnya aku mengetuk pelan.

"Masuk," suara berat itu terdengar dari dalam. Dingin, datar, tapi cukup untuk membuat jantungku berdetak tak karuan.

Aku mendorong pintu, dan langkahku seketika terhenti.

Di sana, duduk di sofa samping meja kerja Althaf, ada seorang perempuan cantik dengan senyum menawan. Wajahnya familiar-aku pernah melihatnya di koridor fakultas, dan sering mendengar namanya dibicarakan oleh mahasiswa lain.

Yuanita Sasinka.

Dosen muda, anggun, berpenampilan rapi dengan blouse putih yang sederhana tapi elegan. Kabarnya ia dekat dengan Althaf-desas-desus yang sering terdengar di telingaku, meski tak pernah kuhiraukan.

Tapi sekarang, melihatnya duduk di ruang itu, desas-desus itu mendadak terasa begitu nyata.

"Oh... ini mahasiswa yang kamu ceritakan, ya?" suara Yuanita terdengar lembut, matanya menatapku penuh selidik. Ada kilatan yang sulit kuartikan-ramah, tapi sekaligus menusuk.

Aku menelan ludah, berusaha menjaga nada suaraku tetap tenang. "Permisi, Pak... saya-"

Althaf menatapku, sorot matanya tajam namun samar ada sesuatu di dalamnya. Ia lalu bergeser sedikit di kursinya, merapikan kertas di mejanya, sebelum membuka suara.

"Tunggu sebentar di sini." Suaranya rendah, tegas, dan entah kenapa, membuatku semakin gugup.

Yuanita tersenyum tipis padaku, lalu menoleh pada Althaf. "Kalau begitu, aku pamit dulu. Jangan lupa rapat besok pagi, ya."

Althaf hanya mengangguk singkat.

Yuanita bangkit, langkahnya anggun. Sebelum keluar, ia sempat menoleh padaku, tersenyum kecil. Senyum yang di mataku membuat wajah anggunnya semakin terlihat lembut dan cantik.

Begitu pintu tertutup dan keheningan kembali menyelimuti, aku berdiri kaku. Dadaku sesak. Ada sesuatu yang menusuk di dalam hatiku-rasa asing, cemburu mungkin? Tapi bagaimana mungkin aku merasa cemburu, pada pria yang bahkan bukan siapa-siapa bagiku?

"Duduklah, Senjani."

Nada suara Althaf kali ini lebih tenang, tapi tetap dingin. Aku melangkah pelan, duduk di kursi seberang mejanya. Kugenggam erat tas di pangkuanku, mencoba menahan segala resah yang bergejolak.

Tatapannya menusuk, membuatku sulit mengalihkan pandangan.

"Sudah saya ingatkan sebelumnya," katanya perlahan, "semakin kamu menunda keputusanmu, semakin banyak risiko yang harus kamu tanggung. Kamu lihat sendiri, mereka berani datang ke kampus mencarimu."

Aku menunduk, bibirku bergetar. "Saya... saya tahu, Pak. Tapi... tadi saya lihat ada Bu Yuanita. Kalau... kalau Bapak memang sudah dekat dengan beliau, kenapa harus melibatkan saya?"

Kata-kata itu meluncur begitu saja, tanpa bisa kutahan. Ruangan itu mendadak hening, hanya terdengar detak jarum jam di dinding.

Althaf terdiam lama, lalu perlahan menyandarkan tubuhnya ke kursi. Tatapannya tetap dingin, tapi ada sesuatu yang bergetar samar di balik matanya.

"Apa yang kamu lihat atau dengar tentangku, itu bukan urusanmu," ujarnya akhirnya, datar. "Yang perlu kamu tahu, tawaranku masih berlaku. Dan waktumu hampir habis, Senjani."

Aku terdiam, menahan perih yang tak kumengerti.

Ruangan itu terasa lebih sempit dari biasanya. Hening, hanya terdengar detak jam dinding dan desau napasku yang tak beraturan. Bayangan Yuanita yang barusan keluar dari ruangan masih menempel di pikiranku-wajah cantiknya, caranya menyapanya dengan begitu akrab, dan tatapan ambigu yang Althaf berikan seolah... seolah ia benar-benar miliknya.

Aku berdiri kaku di hadapannya, menahan guncangan di dada. Tatapannya dingin, nyaris menusuk, membuatku sulit bernapas.

"Kalau kamu tidak siap, saya tidak akan memaksa. Kamu bebas pergi... tapi aya tidak menjanjikan apa-apa setelah itu," ucap Pak Althaf pelan, tapi setiap katanya bagai pisau.

Dadaku terasa sesak. Ibu di rumah sakit, hutang yang menjerat, dan bayangan pria-pria yang mengejarku di kampus... semua menyeruak sekaligus. Dan di hadapanku, satu-satunya pria yang mampu menarikku keluar dari jurang ini berdiri dengan jarak yang tak pernah bisa kujelaskan.

Aku mengangkat wajahku perlahan, menatap matanya dalam-dalam. Sejenak, aku melihat dingin yang pekat di sana, tapi entah kenapa, aku juga menemukan sesuatu yang tersembunyi-entah kepedulian, entah luka, aku tak tahu.

Dengan suara yang bergetar, aku berbisik, "Saya terima, Pak... saya terima tawaran pernikahan itu."

Ruangan itu hening. Althaf hanya diam, menatapku beberapa detik tanpa ekspresi. Lalu, tanpa peringatan, bibirnya melengkung samar-sebuah senyum kecil. Bukan senyum bahagia, bukan senyum kemenangan. Lebih seperti... sebuah pengakuan dingin bahwa ia berhasil mengikatku.

Dan senyum itu, entah kenapa, justru lebih menusuk daripada kemarahan sekalipun.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • A DEAL WITH COLD PROFESSOR   BAB 74

    Althaf menoleh penuh kasih sayang. Tangannya beralih menangkup pipiku, memaksa mataku bertemu dengan matanya.“Badan kamu juga sudah bagus, Sayang,” ucapnya lembut. “Jangan pernah merasa kurang di depan saya. Kamu sempurna. Tapi nggak apa-apa, kita ubah pola hidupnya perlahan-lahan agar lebih sehat. Kita lakukan ini bukan untuk mencapai standar tertentu, tapi untuk diri kita, agar stamina kita kuat untuk menjalani hari-hari yang panjang ke depan, berdua.”Ia mencium bibirku singkat, lalu bangkit “Ayo ganti baju, Sayang, atau kamu mau saya yang pakaikan kamu?” ucapnya menggoda, matanya mengerling nakal. “Saya sih dengan senang hati melakukannya.”Aku tertawa, merasakan pipiku memanas. Godaan Althaf di pagi hari terasa manis dan benar-benar baru.“Ihh, itu mah memang maunya Mas!” balasku, melempar bantal ke arahnya. “Nanti kita bisa telat lari pagi, dan yang ada Mas malah nge-gym di kamar.”Althaf menangkap bantal itu dengan mudah, ekspresinya pura-pura kecewa. Ia membalik bantal itu, m

  • A DEAL WITH COLD PROFESSOR   BAB 73

    Sekitar empat puluh menit kemudian, kami tiba di kawasan elit pusat kota. Althaf memarkir mobilnya dengan sigap di valet parking depan sebuah restoran Jepang modern dengan fasad kayu yang elegan—Kanpai Sushi.Saat kami melangkah masuk, suasana di dalamnya terasa intim, dengan pencahayaan temaram dan alunan musik tradisional Jepang yang lembut. Althaf menyebutkan namanya pada resepsionis, dan kami langsung diantar ke sebuah ruangan kecil yang disekat—benar-benar private.Aku duduk di kursi empuk itu, menatap Althaf yang tampak jauh lebih santai—kemejanya tidak lagi terasa kaku. Malam ini, dia benar-benar mengenyahkan persona dosennya.“Selamat datang di date night kita yang pertama, Senjani,” ucapnya, mendorong menu ke depanku dengan senyum menawan.“Date night pertama tanpa kontrak dan tanpa batas waktu,” balasku, tersenyum lega. Aku membuka menu, tapi mataku hanya mencari satu nama.“Saya sudah tahu mau pesan apa.”“Tentu saja. Spicy salmon roll,” tebak Althaf tanpa melihat menu.“Da

  • A DEAL WITH COLD PROFESSOR   BAB 72

    Aku hanya bisa berdiri mematung di sana, menyaksikan punggung Revan perlahan menjauh. Saat punggungnya benar-benar hilang dari pandangan, bendungan air mataku pun pecah. Aku menutup wajahku dengan kedua tangan, bahuku terguncang oleh isak tangis yang tertahan. Aku menangis dalam diam, meratapi akhir dari babak yang indah—persahabatan yang harus dikorbankan demi babak baru dalam hidupku. Tiba-tiba, sebuah mobil hitam mewah berhenti mendadak tepat di depanku. Pintu mobil terbuka, dan Althaf keluar dengan langkah cepat. Wajahnya yang biasanya tenang kini diliputi kekhawatiran yang jelas. Ia segera menghampiriku. “Senjani? Sayang, ada apa?” tanyanya, suaranya dalam dan cemas, refleks meraih lenganku. Ia menarik lembut tanganku dari wajahku yang basah oleh air mata. “Kenapa kamu menangis? Ada yang menyakitimu?” Aku tidak bisa menahan tangis lagi. Melihat wajahnya yang khawatir justru membuatku semakin lega untuk meluapkan segalanya. “Revan, Mas…” bisikku lirih, menatap matanya yan

  • A DEAL WITH COLD PROFESSOR   BAB 71

    Aku memutuskan untuk menunggu di tempat yang lebih nyaman. Aku tidak mau berdiri canggung di gerbang yang ramai kendaraan, jadi aku memilih pindah ke taman kecil di depan fakultas, tempat yang teduh dan sejuk.Aku duduk di bangku kayu di bawah pohon yang rimbun. Jam menunjukkan pukul empat sore, suasana kampus mulai sepi. Sinar matahari sudah mulai condong, menciptakan bayangan panjang di antara pepohonan. Udara sore terasa sejuk, beraroma tanah dan dedaunan. Beberapa mahasiswa masih terlihat duduk berkelompok di kejauhan, tapi aku sendirian di bangku ini, merenungi semua yang baru saja kualami.Aku mengeluarkan ponsel, membalas pesannya lagi.[Sent to : Mas Althaf]‘Take your time, Super Althaf. I’ll wait here. Hati-hati di Jalan Cendrawasih ya!’Aku menyandarkan kepala, menikmati ketenangan sore itu, siap menyambut suami yang akan datang menjemputku sebagai suami seutuhnya.Tepat saat aku sedang fokus menatap layar ponsel, mencoba membunuh rasa bosan sambil menunggu, suara langkah pe

  • A DEAL WITH COLD PROFESSOR   BAB 70

    Aku menutup mulutku dengan punggung tangan, menekan bagian bawah bibirku. Napasku terengah, berusaha mengambil oksigen tanpa harus menghirup aroma kopi yang kini terasa memuakkan.“Gue juga nggak tahu, Lay,” jawabku, suaraku masih sedikit bergetar. Aku berusaha meyakinkan diriku sendiri bahwa ini hanya masalah pencernaan biasa.Tanpa banyak bicara, Layla langsung bangkit berdiri, tanggapannya cepat dan penuh inisiatif. “Bentar, biar gue beliin air mineral.”Dia berlari kecil ke meja kasir, bergerak cepat seperti kilat. Tak lama kemudian, Layla kembali dengan sebotol air mineral dingin yang ia sodorkan padaku.“Minum ini pelan-pelan,” perintahnya, nada suaranya lembut tapi tegas.Aku menerima botol itu dan meneguk air dingin itu perlahan, berusaha menetralkan rasa mual yang masih tersisa di tenggorokan. Air mineral terasa begitu menyegarkan di tengah gejolak aneh di perutku. Setelah menghabiskan separuh botol, napasku mulai teratur.“Gimana?” Layla bertanya, wajahnya masih menunjukkan

  • A DEAL WITH COLD PROFESSOR   BAB 69

    Kuliah terakhir sore itu terasa lebih cepat dari yang kubayangkan. Mungkin karena aku tahu siapa yang akan menjemput dan menungguku setelah ini. Begitu dosen mengakhiri sesi, aku dan Layla langsung bergerak cepat keluar kelas. Kami memilih sudut outdoor kafetaria kampus yang agak sepi, tempat strategis yang terlindung dari keramaian sore hari untuk sesi curhat tanpa gangguan.Layla sudah lebih dulu mengambilkan dua cangkir kopi dingin dan menatanya di meja. Begitu kami duduk, Layla segera mencondongkan tubuhnya ke arahku, matanya yang tajam menuntut cerita. Ekspresinya seperti detektif yang siap mengungkap misteri terbesar abad ini.“Oke, spill semua! Jangan ada yang disensor, jangan ada yang dilewatkan!” tuntut Layla, nadanya penuh hasrat ingin tahu yang membara. “Gue nggak mau dengar soal rumus tenses atau speaking dari lu. Gue mau detail drama Cinderella pagi tadi, dari A sampai Z!”Aku tertawa kecil, menikmati momen dramatis ini. “Sabar, Lay. Nafas dulu, ini cerita panjang dan but

  • A DEAL WITH COLD PROFESSOR   BAB 1

    "Senjani, saya ingin menawarkan sebuah kesepakatan pernikahan."Kalimat itu menghantam telingaku seperti petir di siang bolong. Seketika, jantungku berdebar tak terkendali. Di hadapanku, Althaf duduk di depan meja kerjanya. Meja kayu besar itu tampak rapi, hanya ada setumpuk berkas, sebuah pena per

  • A DEAL WITH COLD PROFESSOR   BAB 68

    Fajar menyambut. Sinar matahari pagi yang lembut menyusup melalui celah tirai, menerangi ruang tamu yang kini tampak seperti saksi bisu keajaiban yang terjadi pada hidupku. Aku terbangun sendirian di sofa, tapi dengan perasaan yang benar-benar berbeda. Selimut yang hangat masih melingkari tubuhku,

  • A DEAL WITH COLD PROFESSOR   BAB 67

    Gerakan-gerakan penuh hasrat itu akhirnya melambat. Setelah dorongan yang memabukkan dan lebih dari satu kali pelepasan intens yang mengguncang sofa, kelelahan total menyelimuti kami berdua. Ini adalah kelelahan yang tercipta dari kepuasan dan keintiman yang mendalam, bukan lagi karena beban pekerj

  • A DEAL WITH COLD PROFESSOR   BAB 66

    Dia menghentikan aksinya, wajahnya terangkat, matanya yang gelap bertemu mataku. Pandangannya sangat intens, mencerminkan gairah yang sudah mencapai titik didih.Tepat saat Althaf menatapku, aku tanpa sadar menggigit bibir bawahku, berusaha menahan desahan yang terasa ingin meledak keluar.Althaf m

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status