مشاركة

BAB 2

مؤلف: Mikaelach09
last update تاريخ النشر: 2026-04-28 22:54:33

Suara benturan keras memecah sunyi, disusul suara perabot terjatuh. Aku terperanjat dari tidur lelapku. Jantungku berdegup liar, napasku tercekat.

“Ibu…” gumamku panik.

Tanpa pikir panjang, aku menyingkap selimut dan melompat dari ranjang. Kaki telanjangku menghantam lantai dingin saat aku berlari keluar kamar.

Cahaya lampu ruang tengah menyambutku—dan pemandangan itu menampar mataku. Ibu tersungkur di samping sofa reot, rambutnya kusut menutupi sebagian wajah, bahunya naik turun menahan sesak. Di depannya, tiga pria berbadan besar berdiri angkuh. Wajah mereka keras, sorot mata mereka liar.

Aku menghampiri Ibu, meraih tubuhnya yang bergetar. “Ibu nggak apa-apa?” tanyaku dengan suara yang setengah tercekat.

Lalu aku menatap mereka—tatapan tajam yang tak berdaya tapi penuh amarah. “Apa-apaan kalian?! Kenapa nyakitin Ibu saya?!” teriakku.

Pria yang berdiri di tengah—paling besar di antara mereka—menoleh ke kiri dan kanan, lalu tersenyum miring. Tatapannya turun perlahan ke tubuhku. Aku baru sadar, aku hanya memakai baju tidur tipis. Rasa malu dan takut menghantam bersamaan. Aku memeluk tubuhku sendiri, mundur setapak.

“Boleh juga ini perempuan,” ucapnya dengan nada rendah yang membuat bulu kudukku berdiri.

Lalu suara pria di ujung kiri berucap keras. “Ayah lo yang bego itu—tukang judi sama mabuk—punya utang sama bos gue. Dua puluh juta. Dia janji lunasin minggu ini. Jadi… di mana laki-laki brengsek itu?”

Kata-katanya seperti petir yang menyambar tepat di atas kepala. Dua puluh juta… Ya Tuhan… dari mana? Dadaku terasa sesak, mataku memanas. Ibu mulai menangis, suaranya lirih menusuk dadaku.

Pria itu melangkah mendekat. Bau tembakau dan keringat bercampur menusuk hidungku. Tangannya besar dan kasar, mencengkeram pipiku paksa. Sakitnya menusuk tulang rahang, napasku tercekat.

“Gue kasih waktu sampai hari Sabtu,” desisnya, setiap kata terdengar seperti vonis. “Kalau lo nggak bisa bayar… lo yang bakal gue bawa.”

Cengkeramannya makin kuat sebelum akhirnya dia mendorong wajahku menjauh. Aku terhuyung ke belakang, hampir jatuh. Air mataku jatuh deras, tapi matanya tak sedikit pun menunjukkan rasa kasihan.

Tanpa berkata lagi, mereka bertiga berbalik, melangkah keluar. Suara langkah sepatu mereka bergema di lantai, pintu depan dibanting keras—BRAK!

Hening kembali. Tapi udara terasa lebih berat, seperti ada bayangan gelap yang tertinggal di ruangan ini. Aku dan Ibu masih terduduk di lantai. Kami berpelukan erat, menangis dalam diam.

Ya Tuhan… dari mana aku bisa mendapatkan dua puluh juta… dalam waktu sesingkat itu?

***

Hari ini sudah memasuki hari kedua sejak malam itu—malam ketika tiga pria asing menerobos masuk ke rumah, menagih hutang ayah dengan cara yang nyaris merenggut nyawa Ibu. Sejak kejadian itu, kondisi Ibu mendadak memburuk. Penyakit jantungnya kambuh. Sekarang Ibu kembali harus dirawat di rumah sakit.

Sejak pagi, pikiranku terasa berat, seperti ada batu besar yang terus menekan. Di satu sisi, aku harus menemani Ibu, memastikan beliau tidak sendirian di bangsal yang dingin dan sunyi itu. Di sisi lain, aku masih harus bekerja sambilan sebagai pelayan di kafe untuk menutupi biaya harian, sekaligus tetap menghadiri kuliah di pagi hari. Semuanya terasa menumpuk, waktu terasa terlalu sempit, dan tubuhku mulai memberontak.

Pagi ini aku kembali terlambat masuk kelas. Sebelum ke kampus, aku sempat mampir ke apotek rumah sakit untuk menebus obat Ibu. Langkahku terburu-buru ketika memasuki gedung fakultas FKIP Bahasa Inggris. Nafasku masih belum teratur saat aku mendorong pintu kelas.

Begitu masuk, pandanganku langsung bertemu dengan sepasang mata cokelat tajam milik Althaf. Sorot matanya menusuk, tak banyak ekspresi, tapi cukup untuk membuat telapak tanganku berkeringat. Hari ini, ia memakai kacamata baca—kebiasaan yang selalu dilakukannya saat mengajar. Paduan celana bahan dan kemeja slim fit berwarna navy membuatnya terlihat lebih karismatik dari biasanya.

“Kamu mau terus berdiri di situ, atau ikut kelas saya, Senjani?” suaranya dingin, namun tegas. Setiap kata terdengar seolah memiliki bobotnya sendiri.

Aku terkesiap, segera memutus tatapan yang sempat terjalin. “Maaf, Pak,” jawabku singkat, suaraku kaku. Aku melangkah cepat ke kursi paling belakang, tempat Layla sudah menungguku.

“Kenapa lo telat lagi, Sen? Kayaknya sih mood si dosen ganteng kita lagi nggak bagus,” bisik Layla sambil menahan tawa kecil, matanya melirik ke depan.

“Gue berangkat dari rumah sakit. Tadi nebus obat Ibu,” balasku pelan, sambil mengeluarkan buku catatan dan pena dari tas.

Saat aku mengangkat kepala, tanpa sengaja mata kami kembali bertemu. Sorotnya kali ini berbeda—bukan lagi dingin, tapi ada sesuatu di sana yang tak bisa kutebak. Secepat mungkin aku mengalihkan pandangan, menunduk, pura-pura sibuk membuka halaman kosong di buku catatanku.

Namun entah kenapa, sorot mata itu tetap terasa melekat, seolah mengikuti gerakku… dan membuat hatiku berdesir tanpa alasan yang jelas.

Althaf kembali menunduk, jemarinya membalik halaman buku materi dengan gerakan tenang. Sorot matanya tersembunyi di balik kacamata baca, sementara suaranya memenuhi ruangan—lantang, namun terukur—membahas literary devices dalam karya sastra Inggris.

Nada suaranya dalam dan berirama, seperti gelombang yang teratur, membuatku sulit memutuskan apakah aku harus fokus pada materi… atau pada dirinya.

Aku mencoba mencatat setiap poin yang disebutkannya, namun pikiranku terus terganggu oleh rasa tak nyaman—dan, entah mengapa, rasa ingin tahu—tentang tatapan tajam yang tadi sempat menahan langkahku di pintu kelas. Tatapan yang seperti mampu menembus lapisan pertahanan yang berusaha kubangun.

“Senjani,” suaranya memanggil tiba-tiba, memecah pikiranku.

Kepalaku terangkat refleks. Semua mata di kelas kini tertuju padaku. “Define personification and give me an example,” katanya, nada suaranya terdengar netral, tapi ada sesuatu di dalamnya—sentuhan tekanan yang membuat jantungku berdebar.

Aku menelan ludah, berusaha menguasai diri.

“Personification is a figure of speech in which non-human things are given human qualities. For example… the wind whispered through the trees,” jawabku pelan, memilih kata-kata dengan hati-hati.

Ia mengangguk singkat. “Good. Next time, try to come earlier so you can follow the lesson from the start.” Kalimatnya sederhana, tapi tatapan yang menyertainya terasa seperti pesan terselubung—seolah ia sedang mengatakan sesuatu yang tak sekadar soal keterlambatan.

Kelas kembali berjalan. Aku menunduk, mencatat dengan tergesa, mencoba mengusir rasa gelisah. Tapi setiap kali aku mengangkat kepala, aku menangkap tatapan itu lagi—hangat, namun penuh penilaian—dan setiap kali, aku justru merasa sedikit kehilangan arah.

Bel tanda akhir kelas berbunyi, membuat semua orang segera berkemas. Aku ikut berdiri, hendak mengekor Layla, tapi suaranya kembali menghentikanku.

“Senjani. Stay for a moment.”

Layla melirikku sambil mengangkat alisnya, senyum nakal terbit di bibirnya. “Waduh, ada apa tuh?” bisiknya, lalu meninggalkanku sendirian di ruangan yang kini terasa jauh lebih sunyi.

Aku melangkah pelan menuju meja dosen. Detak jantungku kian keras seiring jarak di antara kami semakin berkurang.

Althaf melepas kacamatanya, meletakkannya di atas meja. Tatapannya kini lebih lembut, tapi tetap menyimpan ketegasan.

“You look exhausted. Is something going on at home?” tanyanya. Suaranya lebih rendah dari biasanya—nyaris seperti nada seorang pria yang sedang benar-benar khawatir, bukan sekadar dosen yang menegur mahasiswanya.

Aku terdiam. Pertanyaan itu menelanjangiku. Haruskah aku bercerita tentang utang ayah? Tentang pria-pria yang mengancam? Tentang Ibu yang terbaring lemah di rumah sakit?

Aku menarik napas. “No, Sir. I'm … just not getting enough sleep,” jawabku singkat, menunduk untuk menyembunyikan mataku yang mulai terasa panas.

Hening sejenak. Lalu aku memberanikan diri menatapnya—dan dari matanya, aku tahu. Dia tidak percaya. Dan yang lebih berbahaya… sepertinya ia ingin tahu lebih.

“Go. Rest. And… don’t be late next time,” ujarnya sambil menatapku sekali lagi—tatapan yang entah kenapa terasa seperti janji diam-diam, bahwa ini bukan akhir dari percakapan kami.

Aku mengangguk pelan dan melangkah keluar. Namun sepanjang perjalanan menuju pintu, aku bisa merasakan tatapannya mengikuti, menempel di punggungku… dan entah kenapa, rasanya aku tidak keberatan.

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق

أحدث فصل

  • A DEAL WITH COLD PROFESSOR   BAB 14

    Aku menatap mata Althaf beberapa detik, sebelum akhirnya memasang tawa renyah—palsu tentunya. “Yaelah, Lay. Mana mungkin cincin gue sama kayak punya Pak Althaf. Cincinnya beliau pasti berlian asli dari Tiffany & Co. Lah gue? Cuma cincin murah dari Tanah Abang.”Layla langsung ngakak sambil menepuk meja. “Hahaha, bener juga! Mana mungkin lo couple-an sama Pak Althaf. Bisa-bisa istrinya ngamuk, kan Pak?”Aku menelan ludah pelan. Dari sudut mataku, aku bisa melihat Revan menatapku tajam penuh curiga. Sedangkan Althaf? Ia malah tersenyum tipis, tenang sekali. Seolah nggak ada yang perlu ia sembunyikan.“Cemburu itu wajar,” jawab Althaf kalem. “Kalau seorang istri nggak cemburu, justru itu yang aneh.”Layla langsung nyamber dengan gaya bercandanya. “Kalau saya sih, Pak, jadi istri Bapak, udah ngekorin ke mana-mana. Bapak ganteng banget. Pasti banyak lebah yang mau nempel sama Bapak.”Aku hampir tersedak. Revan spontan memelototi Layla. “Layla, mulut Lo bisa di rem nggak sih.”Layla langsun

  • A DEAL WITH COLD PROFESSOR   BAN 13

    Kafetaria sore itu penuh sesak. Bau kopi hitam bercampur dengan wangi mie rebus dan suara mahasiswa yang berceloteh, menciptakan riuh rendah khas kampus. Di meja pojok dekat jendela, aku, Layla, dan Revan duduk mengelilingi laptop dengan catatan berserakan.“Jadi, inti film Pengepungan di Bukit Duri kan jelas ya, perjuangan pemuda melawan penjajah,” Layla membuka diskusi sambil mengetik cepat di laptop. Rambutnya yang diikat kuda bergoyang setiap kali ia menunduk. “Kalau analisisnya, gue kepikiran buat bahas sisi keberanian dan pengorbanan generasi muda. Itu pesan yang paling menonjol.”Revan menyandarkan tubuhnya, mengaduk es kopi hingga berbunyi ting… ting berulang. “Klise, La. Semua juga bisa ngomong soal pengorbanan. Menurut gue, yang menarik itu konflik batin tokoh utamanya. Dia sempet ragu, pengen kabur demi selamat, tapi akhirnya tetep bertahan. Itu lebih manusiawi, dan justru bikin kita bisa relate.”Aku yang sejak tadi mendengarkan akhirnya angkat suara. “Iya, gue setuju sam

  • A DEAL WITH COLD PROFESSOR   BAB 12

    Mata kuliah Althaf akhirnya usai. Mahasiswa mulai merapikan barang-barang mereka, begitu juga aku yang buru-buru memasukkan laptop dan alat tulis ke dalam tas, berharap bisa segera keluar dari kelas tanpa menarik perhatian.Namun sebelum sempat berdiri, suara berat itu terdengar, memecah riuh rendah kelas.“Senjani, saya tunggu di kantor.”Nada suaranya datar, dingin, tanpa memberi ruang untuk menolak. Ucapannya singkat, tapi cukup membuatku membeku di tempat.Ia langsung melangkah keluar, meninggalkan kelas dengan langkah mantap. Dari pintu, samar-samar kulihat Reihan sudah menunggunya—pria yang kukenal sebagai tangan kanannya di Dirgantara Textile, sekaligus asisten pribadinya.“Ada urusan apa lagi lo sama Pak Althaf, Sen?” suara Layla menyusul, penuh rasa penasaran. Tatapannya menyipit, seolah berusaha membaca rahasiaku. “Perasaan belakangan ini dia sering banget manggil lo.”Aku tersenyum kaku, mencoba menutupi gejolak yang tiba-tiba memenuhi dadaku. “Kayaknya… ngebahas tugas gue

  • A DEAL WITH COLD PROFESSOR   BAB 11

    Tanpa peringatan, bibir Althaf menekan bibirku.Aku terkejut. Mataku membelalak, tubuhku menegang. Tidak ada kelembutan di sana. Tidak ada kasih sayang. Hanya ada desakan yang kasar, penuh amarah, seolah ia ingin menghukumku dengan caranya sendiri.Aroma alkohol begitu pekat menyergap inderaku, bercampur dengan hangat napasnya yang terburu-buru. Gelas yang tadi ia letakkan di meja masih meninggalkan bau pahit di lidahku ketika ciumannya memaksa masuk.Tanganku refleks mendorong dadanya, namun genggamannya di pinggangku begitu kuat. Aku tak bisa ke mana-mana. Tubuhku seakan terperangkap dalam kurungan besi, membuat dadaku sesak dan sulit bernapas.Air mataku jatuh deras. Ciuman itu membuatku semakin hancur. Bibirku terasa perih, hatiku lebih perih lagi.Kenapa, Mas… kenapa sampai begini?Aku bukan merasa dicintai, aku merasa dilukai. Getaran amarah dan kepedihan yang ditumpahkannya lewat ciuman itu menusuk sampai ke tulang sumsumku.Aku berusaha menggeleng, berusaha melepaskan diri, na

  • A DEAL WITH COLD PROFESSOR   BAB 10

    Revan pernah mengatakan bahwa dia memiliki perasaan lebih terhadapku. Itu terjadi tepat di awal semester perkuliahan, di sebuah sore yang biasa, ketika aku sama sekali tidak menduganya. Aku masih ingat jelas ekspresinya saat itu—tulus, hangat, dan penuh keyakinan.Awalnya aku benar-benar kaget. Tak pernah terlintas dalam pikiranku bahwa Revan, sahabat yang sudah mengenalku sejak masa putih abu, ternyata menyimpan rasa yang lebih. Bagiku, Revan adalah rumah. Anak yang baik—terlalu baik, bahkan. Ia tahu cara membuat orang lain merasa aman. Kadang aku berpikir, dia lebih mengenalku daripada diriku sendiri.Sejak SMA, kedekatan kami begitu alami. Ia sering mampir ke rumah, kadang hanya untuk sekadar menumpang makan malam. Katanya, ia tak terbiasa makan sendirian di rumah. Aku tahu alasannya: orang tua Revan sering bepergian ke luar kota karena pekerjaan. Ibu bahkan sudah menganggap Revan seperti anaknya sendiri. Tak ada jarak di antara mereka; tak ada kecanggungan. Dan aku pun merasa nyam

  • A DEAL WITH COLD PROFESSOR   BAB 9

    Tanganku reffleks meremas celemek yang kukenakan. Pandangan itu menyesakkan-melihat Althaf masuk kafe, bukan sebagai suamiku, melainkan bersama seorang wanita lain... dosen kami sendiri, Bu Yuanita.Aku mencoba menegakkan senyum ramah, menyembunyikan getaran di dada. "Silakan masuk," ucapku terbata, meski suaraku terdengar nyaris bergetar.Althaf sama sekali tak menoleh ke arahku lagi. Ia justru berjalan lebih dulu, masih dengan genggaman tangan Bu Yuanita yang membuat langkahku terasa goyah. Seakan sengaja, Bu Yuanita terkekeh kecil, nada tawanya ringan, terlalu manis untuk seorang dosen di depan mahasiswanya.Aku bisa merasakan dua pasang mata mengawasi dari sudut kafe. Layla mencondongkan tubuhnya ke arah Revan, lalu berbisik pelan tapi cukup jelas kudengar."Eh, lihat deh. Kayaknya Bu Yuanita genit banget sama Pak Althaf, ya?"Revan mendengus sambil mengangkat alis, ekspresinya sinis. "Genit apaan, itu sih udah kelewatan. Mereka masuk kafe aja gandengan tangan, Lay. Kayak... bukan

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status